Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
Teror DNA


__ADS_3

"kakek!" lirih suara bocah mengalihkan atensi guntur dari twins


"kakek kesini mau jemput Ino?" tanya Vino dengan binar antusias, pasalnya ini kali pertama kakeknya datang ke sekolahnya


"oh, ini, mm tidak, eh iya. Tapi sebenarnya saya hanya mampir sebentar karna ada urusan, setelah ini saya masih ada perlu diluar" jawab guntur tak enak pada anak asuh putranya itu


Ya, jika di bandingkan dengan sikap Reni, Guntur bisa dibilang masih menghargai keberadaan Arvino, walau tak mencerminkan bagaimana sikap seorang kakek pada cucunya tapi setidaknya Guntur masih sudi mengajak anak kecil itu berbicara.


Lagian jika dipikir, Arvino tak memiliki salah apapun, hanya nasibnya yang lahir dari perempuan murahan macam Maya.


"oh yaudah. Nggak papa, Ino tunggu papa saja" ujar Vino sendu


Guntur menggangguk kaku, merasa tak enak dengan Vino, tapi ia memang masih memiliki urusan penting saat ini, sebelum benar-benar meninggalkan halaman sekolah, kakek biologis twins itu kembali menatap ke arah pintu kelas yang baru saja dimasuki 2 tubuh kecil cucunya. Kemudian ayah kandung Marva itu menunduk dan mengacak rambut Vino dengan menampilkan senyumnya


"saya pulang dulu, kamu belajar yang rajin, Nanti saya hubungi papa kamu untuk jemput kamu, yah" pamitnya yang di angguki kecil oleh Vino


\=\=\=\=\=\=


Marva membeku di tempatnya dengan detakan jantung yang berdetak tak karuan. Di antara tumpukan belasan berkas yang tengah ia periksa di atas meja kerjanya, ada satu map yang tengah berada di tangannya menjadi pemicu napasnya tercekat


"kecocokan dna adalah 99,999%. Zafier dan Zaafira, umur 3 tahun adalah anak biologis dari Marva Phelan" keterangan yang tertulis dengan bold itulah pemicunya sampai lelaki itu memucat di tempatnya layaknya mayat duduk


Ia pernah menjadi pria brengsek dengan meniduri puluhan wanita 4 tahun silam, tapi ia tak bodoh dengan menyebar benihnya sembarangan. Ia selalu menggunakan pengaman. Jadi siapa Zafier dan Zaafira ini?


Siapa yang berani menerornya dengan bukti DNA?


"Brengsek!" gerutu Marva marah


Segera ia raih ponselnya dan memanggil sekertarisnya


"Siapa yang memberikanmu berkas ini" todong Marva sesaat pintu terbuka


"berkas apa?"


Mendengar suara mamanya, Marva segera mendongak dan segera menormalkan ekspresi wajahnya menyambut kedatangan Reni


"mama? Silahkan masuk mah" ujar Marva, ia berdiri setelah menyimpan berkas itu di laci mejanya


"berkas apa yang kamu pertanyakan sampai membuat wajahmu memerah seperti tadi, Va" Reni mengulang pertanyaannya. Ia yakin putranya tengah marah tadi, ia sempat menangkap raut wajah keras Marva

__ADS_1


"oh bukan apa-apa ma" sahut Marva berusaha terlihat biasa saja


"yakin?" Reni memastikan, matanya memicing menatap Marva yang kini berjalan menuju sofa, istri guntur itu baru bernapas lega kala melihat anggukan dari putranya


"ada apa mama berkunjung?" tanya Marva setelah mendudukan bokongnya


"hanya sekedar singgah" sahut Reni ringan kemudian ia menyusul Marva duduk di sofa


Marva mengeryit curiga, tak biasanya mamanya ini meluangkan waktu hanya sekedar singgah jika tak memiliki tujuan di balik kunjungannya


"ck! Gitu amat ekpresinya" decak Reni malas saat menyadari kecurigaan putranya


"mama bawa ini. dia perempuan baik-baik, berpendidikan, lulusan luar negeri. Temui dia nanti malam yah?" ujar Reni menyerahkan satu buah foto seorang wanita cantikbdi hadapan Marva, yang membuat Marva menghela napas lelah


Apalagi ini? Bolehkan ia lari dari kenyataan hidup sekarang? Sungguh kepalanya rasanya hendak meledak sekarang. Ia masih dilanda keterkejutan atas fakta mengenai dna dan ibunya malah datang menambah beban pikirannya dengan mengatur perjodohan


"ma, please. Marva ingin berjuang mengembalikan Bila pada pelukan Marva, ma. Tolong berhenti mengatur para wanita-wanita diluaran sana untuk Marva, Marva nggak tertarik, ma" Marva berucap dengan memelas berharap mamanya paham akan perasaannya


Selain Bila, ia tak akan menikah dengan wanita manapun, karna hati, jiwa dan raganya sudah tercuri oleh wanita yang dinikahinya 4 tahun lalu itu.


"mau sampai kapan kamu seperti ini Marva, move on nak, Bila sudah berpaling. Kamu butuh keturunan dari darahmu sendiri untuk mengurusmu kelak" tutur Reni berusaha memahami keadaan


Matanya melirik meja kerjanya, dibawah sana ada sebuah berkas yang belum bisa ia nilai apakah itu asli atau palsu, tapi jelas ia tadi sempat melihat stempel rumah sakit swasta terbaik di jakarta ini.


Lalu, jika berkas dna itu asli, itu berarti ia memiliki anak kandungnya sendiri. Tapi siapa Zafier dan Zaafira yang tertera dalam surat itu? Nama ibu kandung dari kedua anak itu tidak tertera disana. Jadi bagaimana ia bisa tahu?


Mengingat sepak terjangnya 4 tahun lalu yang pernah meniduri puluhan wanita malam, tentu ia tak bisa menebak siapa diantara mereka


Tidak! Marva yakin ia tidak melakukan kesalahan itu. ia selalu menggunakan pengaman. Ia tidak bodoh dan tak gila dengan menyebar benihnya di rahim murahan para wanita bayarannya. Ia akui dirinya sangat bersalah dan berdosa telah melakukan itu semua, namun semua ia lakukan semata-mata hanya sebagai bentuk pemberontakan atas pernikahan yang tak diinginkannya. Ia melakukan itu hanya untuk membuat sang istri jijik dan benci padanya dan meninggalkannya, dengan begitu Marva bisa kembali pada mantan kekasihnya yang kala itu masih sangat dicintainya namun terhalang restu


Dan yah, penyesalan tinggal penyesalan. Nyatanya setelah berhasil membuat istri kecilnya menderita dengan penghianatannya dan melakukan kekerasan fisik, setiap ia melihat Bila muda menangis diam diam, Marva sering merasa kasihan, hendak merengkuh gadis malang itu namun bayangan bahwa Maya pergi meninggalkannya karna pernikahannya dengan Bila membuat Marva tutup mata.


Dan puncaknya saat Bila pergi dari hidupnya, Marva baru menyadari jika harta berharganya, istrinya yang tanpa sadar ia cintai dibalik rasa bencinya berhasil membuat Marva hampir hilang kewarasan karna menyesal lambat menyadari perasaannya.


"Marva! Kamu dengar mama nggak sih?" suara Reni yang sedikit keras menarik kesadaran Marva dari rasa penyesalannya


"ma, kita bicara lain kali, Marva sedang banyak kerjaan" usir Marva secara halus. Ia harus menyelidiki siapa di balik teror DNA itu


"kamu ngusir mama?" tanya Reni tak terima

__ADS_1


"ma, ayolah. Marva akan temui mama di rumah nanti" ujar Marva melembut


"di rumah yah, awas aja kamu nggak datang" ancam Reni sebelum ia beranjak dari duduknya


"iya mah, Marva akan berkunjung ke rumah mama nanti, tapi sekarang tolong, Marva lagi banyak kerjaan"


"ya udah, mama tunggu di rumah" Reni yang melihat raut wajah lelah anaknya akhirnya mengalah


"oh iya, datang seorang diri" peringat Reni sekali lagi sebelum dirinya keluar ruangan membuat Marva mendesah, tak habis pikir akan ketidaksukaan mamanya pada anak kecil seperti Vino


Setelah Reni keluar, Marva kembali ke meja kerjanya, mengeluarkan selebaran kertas Dna itu dan kembali membacanya teliti. berharap ia bisa menemukan kepalsuan pada kertas itu


*ZAAFIRA* tiba-tiba sebuah memori terlintas di memorinya. Ia memiringkan kepalanya berusaha mengingat kejadian itu, tapi nihil ingatannya hanya sekedar sebuah pekikan memanggil nama Zaafira, nama yang sama tertera di kertas selebaran yang tengah dipegangnya


"sial!" umpatnya


Marva menggeleng, ia ingin menghancurkan bukti ini. Tapi jika benar kedua anak itu adalah anak kandungnya, Marva akan bertanggung jawab, bertanggung jawab hanya pada kedua anak itu, karna sampai kapanpun ia tak akan pernah sudi mengantikan posisi Bila di hidupnya.


Sekejam-kejamnya ia di masalalu, ia tak mungkin menelantarkan darah dagingnya walau anak itu tak pernah ia harapkan sekalipun.


"Zafier, Zaafira, dari rahim mana kamu lahir" racau Marva mengetatkan rahangnya. Sungguh Marva tak ingin memiliki anak dari perempuan lain selain dari Bila. Tapi fakta ini memaksanya menerima kenyataan.


Kemudiam ingatan menghantam kepalanya, ia ingat ia pernah menyentuh Bila tanpa pengaman dan mereka melakukannya berkali kali kala itu. Ya, hanya pada Bila ia pernah menyemburkan benihnya di rahim seorang wanita. Kemudian ingatan Marva membawanya pada 2 anak Bila yang berusia sekitar 3 tahunan


Perasaan kalut berganti rasa haru, dadanya yang sedari tadi sesak berganti membuncah bahagia, ia bahkan merasakan banyak kupu-kupu yang bertebaran di perutnya membayangkan jika ia adalah ayah dari 2 anak Bila


"mungkinkah mereka..." ucapan Marva mengantung, perasaan yang tadinya bahagia kembali diliputi emosi kala fakta lainnya berdatangan di otaknya


Ia bukan yang pertama kali bagi Bila kala itu. Dan ia pernah memergoki Bila pulang tengah malam bersama seorang lelaki asing dengan pakaian Bila yang acak-acakan bahkan sampai robek di bagian-bagian tertentu.


"bukan! Mereka bukan anak-anakku. mereka anak haram Bila. Bila pergi karna memiliki pria lain. Wanita jahat itu membalas penghianatanku dengan pemghianatan" gerutu Marva dengan wajah marah, tangannya sudah meremas bukti DNA itu


Bersambunggg...


######


Hayo dong, vote komen dan likenya. Ajak teman-teman kalian baca cerita autor yang satu ini agar autor semangat ngehalunya untuk lanjut cerita ini


Salam Mickey Mouse 24

__ADS_1


Dari Dunia Halu


__ADS_2