
Manda menatap takjub lelaki tampan nan berkarisma yang tengah berbicara dengan lugas dihadapan para anggota rapat.
Tangannya terangkat untuk menyelipkan rambut di telinganya kala mata lelaki itu tertuju padanya, itu hanya alibi sebab tangan putihnya itu mengepal dengan jempol yang mengacung disana. Sebuah kode bangga untuk lelaki itu atas kerja kerasnya hari ini.
Dan tepuk tangan paling semangat kala sang pembicara selesai memaparkan materinya adalah milik Manda.
"Bangga banget sama kakak bisa memimpin rapat dengan hasil yang memuaskan" tutur Manda tulus kala dirinya juga Mario berjalan keluar ruang rapat
Mario? Ya, si dokter ahli bedah. Hari ini bukan jas putih yang melekat ditubuhnya tapi sebuah stelan jas mahal berwarna hitam dipadukannya celana kain senada membaluti tubuh atletisnya. Jika biasanya ia selalu terlihat keren dengan jas kedokterannya maka jas khas pejabat yang melekat pas ditubuhnya itu memancarkan aura sang dewa yunani pada sosoknya.
"Benarkah? Apa aku terlihat gugup?" Tanya Mario
"Dih. Pertanyaan sombong" balas Manda memutar bola matanya. Bagaimana bisa seorang Dokter ahli bedah yang sudah menjadi pemateri dibeberapa seminar internasional menanyakan hal demikian?
"Aku serius. Tadi aku gugup. Meski sering berbicara di hadapan ratusan orang dalam sekali pertemuan tapi berhadapan dengan belasan petinggi perusahaan di dalam tadi jelas situasinya berbeda, dek" tutur Mario sambil merangkul bahu Manda, lalu satu tangannya dengan nakal mengacak rambut adiknya.
"Ih kak, berantakan" Manda menyentak tangan Mario, lalu mendumel akan kelakuan Presdir barunya sambil memperbaiki tatanan rambutnya
Kelakuan adik kakak itu tak lepas dari tatapan beberapa karyawan yang mereka lewati.
"Genin banget tu mata" sindir Manda saat melihat Mario tengah mengedipkan mata pada karyawan wanita yang berpapasan dengannya, membuat si karyawan terdiam membisu di tempatnya karna kelakuan Presdir baru mereka.
"Mereka aja yang baperan" jawab Mario acuh lalu kembali merangkul bahu sang adik sambil menunggu lift terbuka
"Itu karna kelakuan kakak. Jangan tebar pesona deh. Mentang-mentang udah lama menjomblo bukan berarti kakak bisa seenak jidat membuat mereka baper. Mereka karyawan kita loh, kalau pekerjaannya terngganggu karna baper dengan kegenitan kakak gimana?"
"Ya, pecat aja" jawab Mario sekenanya sambil menarik Manda memasuki lift
Manda menelengkan kepala mendongak menatap sang kakak angkat yang memang tinggi semampai disampingnya. Menatap heran, lelaki yang tak banyak tingkah selama Manda masuk dalam keluarga Ivander kini berubah, berubah menjadi lelaki yang dominan ingin menonjol
"Kakak berubah" gumam Manda
__ADS_1
"Jika dipikir-pikir gaji menjadi seorang Presdir jauh lebih menjanjikan" ucap Mario tak nyambung
"Ini bukan persoalan seberapa angka digit transferan setiap akhir bulan, tapi ini masalah hobi dan keinginan. Aku bangga menjadi dokter bedah yang bisa menolong banyak orang dari pada menjadi pemimpin di perusahaan yang hanya tau tanda tangan saja dan gajinya 5 kali lipat" Manda menye-menye mengulang perkataan Mario yang sering kali menjadi alasan jika Caroline meminta Mario menggantikan posisi Presdir.
"menjadi pemimpin perusahaan besar seperti Ivander Corp. yang memiliki banyak cabang di berbagai negara dengan total karyawan ratusan ribu, saya rasa lebih mulia. Setiap harinya kita menolong ratusan ribu jiwa yang mencari nafkah di bawah kekuasaan kita. Bukan begitu ibu Ceo sayang?" Balas Mario tak mau kalah
"Wah selamat! Mindset dokter hebat kita sangat luar biasa" jawab Manda yang mulai jengah meladeni ocehan Mario.
'aku hanya mencari pelarian kesibukan yang menantang' batin Mario tersenyum miris
Kemarin pagi, dengan tegas dan tanpa keraguan sedikitpun ia mengutarakan keinginannya untuk bekerja di perusahaan. Semua keluarga tentu tercengang akan keputusannya, namun mereka bahagia akan kabar itu. Mario melakukan itu bukan karna memang keinginan hatinya namun karna lain hal yang membuatnya membelokkan tujuan. sang dokter ingin keluar dari zona nyamannya, ia ingin mencari kesibukan baru yang membuatnya tertantang hingga melupakan kenyataan itu. sebuah berita mengejutkan yang ia dengar tanpa sengaja dari pembicaraan seseorang di rumah sakit satu minggu lalu.
Mario seperti kehilangan harapan saat itu, hingga selang beberapa hari berpikir ia memutuskan untuk bekerja di perusahaan milik sang kakek untuk mencari suasana baru.
_ _ _ _ _
terkadang perpisahan akan mengajarkan arti seseorang di hati. sebab karena perpisahan bisa membuat perasaan mengambang menjadi pasti. bahwa kamu menginginkan dirinya atau malah bahagia dengan perpisahan itu.
hari ini entah sudah berapa kali ia mengecek ponsel, bahkan dalam rapat-pun ia curi-curi waktu untuk mengecek benda cangih itu, namun hingga sore hari kabar yang ia tunggu tak juga ia dapatkan. Menghela napas kesal, ia meletakan asal telpon genggam itu di atas meja kerjanya, ia lelah menunggu.
"Bodo amat lah" gumamnya lalu mulai fokus membaca beberapa berkas dan menandatangi yang dinilai layak.
ceklek
Manda mendongak, mendapati Mario yang terlihat lesu di ambang pintu ruangannya
"kenapa?"
"gila. otakku nggak mampu lagi dek" adu Mario dengan wajah melasnya
"katanya enak, tinggal tanda tangan?" goda Manda
__ADS_1
"tenyata jadi pemimpin perusahaan itu nggak segampang yang ada di pikiranku selama ini" keluh Mario sambil merebahkan tubuhnya di sofa "pen jadi pengangguran aja kalau gini" lanjutnya bergumam
"terus yang ngurus perusahaan siapa? jangan aneh-aneh deh" dumel Manda kembali melanjutkan pekerjaannya.
"kan ada kamu" balas Mario tanpa beban
"kakak tau kan kalau akhir-akhir ini perusahaan banyak terbengkalai karna aku sering bolak balik Indonesia, karna itu momma minta kakak bantu aku disini" tutur Manda mengingatkan jika 4 bulan belakangan ia sering melakukan perjalanan keluar negeri, bukan karna urusan bisnis tapi karna menjenguk papa dari kedua buah hatinya yang hingga sekarang masih menjalani terapi penyembuhan syaraf mata.
"oh ya, gimana kabarnya?" tanya Mario sambil berbaring miring menghadap ke arah meja kerja Manda. terlepas dari sakit hatinya karna adik dari lelaki itu tapi Marva tetaplah salah satu orang yang pernah menjadi sahabatnya.
"ntahlah" Manda mengangkat bahunya. bagaimana bisa ia tahu kalau sudah hampir sebulan ia tak mengunjungi lelaki itu. Manda juga tak mendapat kabar lagi sejak ia kembali dari kunjungannya 3 minggu lalu. padahal biasanya seminggu sekali ia selalu update kabar perkembangan mantan suaminya itu jika ia tak berada di Indonesia.
"lusa aku akan mengunjunginya" ucap Manda memberitahu
"kamu merindukannya?" goda Jefry dengan senyuman mengejek
"tidak. bukan aku tapi twins. aku hanya mengantar twins" elak Manda memancing gelak tawa Mario
"jangan terlalu lama menggantungnya, diembat orang tahu rasa" ucap Mario, sialnya ia merasa tersentil sendiri dengan ucapannya
_ _ _ _ _
tubuh lelah, pikiran letih, wajah kusut, seketika berganti dengan satu ekpresi, terkejut bukan main. mata bulat itu terbuka sempurna, ia terperangah di tempatnya, tepat diambang pintu mansion.
"mommy ayok" Manda tersadar saat kedua tangannya di tarik oleh twins untuk melanjutkan langkahnya memasuki rumah. jadi ini yang membuat anaknya kesenangan hingga berlari menjeputnya di mobil?
"Hai" sapa lelaki itu membuat Manda mebekap mulutnya. sebab netra yang sudah lama berpendar kosong itu kini tepat menatap matanya dan menyapanya
"kak... Marva"
Bersambunggg
__ADS_1