Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
Ambisi merebut kembali


__ADS_3

~mengabaikan. satu kata yang akan kulakukan jika suatu saat kita bertemu, karna kamu tidak lagi berarti apa-apa di masa depan kehidupan ku~ Manda


*************


Marva mengetatkan rahangnya menyaksikan pemandangan keluarga bahagia yang memamerkan kemesraan di tengah-tengah khakayak ramai malam ini


"4 tahun aku tersiksa merindukanmu, selama itu aku terus mengharapkanmu, tapi apa? Nyatanya kamu malah membalas ku dengan penghianatan, dasar wanita murahan" geram Marva, hatinya sungguh sakit menyaksikan bagaimana bahagianya wanita yang membuat hari-harinya berantakan selama 4 tahun ini.


Angannya perlahan menguap, dulu ia berharap rasa sakit ditinggalkan oleh Bila akan terobati kala ia bisa menemui perempuan itu dan memohon maaf atas beribu kesalahannya, Rasa sakit yang menyerang relungnya beberapa tahun belakangan nyatanya di balas dengan rasa kecewa oleh perempuan yang kini memamerkan senyumnya pada semua orang yang di jumpainya


Cantik. Marva tak bisa memungkiri bahwa senyuman itu sangat manis membuat sang empunya semakin cantik, apalagi kini wanita polos dan penurut 4 tahun lalu itu kini terlihat dewasa dan elegan.


Sayangnya, senyuman manis itu tak membuat Marva tertarik, ia malah sakit hati dan kecewa. Senyuman itu bukan untuknya!


"perempuan baik-baik heh? Tapi malah berzina sampai membuahkan 2 anak di belakang suaminya. BRENGSEK!!" monolog Marva geram. Netra tajamnya masih ia fokuskan pada keluarga bahagia yang kini hampir melewati tubuhnya


Otaknya memerintahkannya untuk melangkah mendekat ke arah objek mataya dan merebut kembali wanitanya, ingin sekali ia mencekik lelaki dan 2 bocah itu hingga tak lagi menempeli Bilanya. Hatinya sudah bergemuruh, dadanya kembang kempis, udara panas telah menyerangnya di ruangan berAc ini, namun kakinya terlalu susah untuk ia gerakan. Ia ingin wanita itu, ia ingin mengambil kembali miliknya, tapi kenapa kakinya seolah terpaku di lantai, membiarkan keluarga bahagian itu makin melangkah jauh menuju sebuah pintu yang terhubung dengan ruangan khusus untuk orang-orang penting melakukan rapat dadakan


"shs, papa, tangan ino sakit" cicit bocah lelaki berusahan menahan tangisnya karna tangan kecilnya seolah diremukan oleh tangan besar ayahnya. Meski sakit tapi ia tak ingin menangis, ia takut pada wanita paru baya yang diam-diam ia perhatikan tengah memakan hidangan dengan raut wajah muaknya, padahal beberapa menit lalu wajah tua yang masih memencarkan aura cantik itu tengah berbincang hangat menemani suaminya dengan rekan kerjanya.

__ADS_1


Jika ia menangis ia akan semakin di benci oleh wanita yang harusnya ia panggil dengan sebutan nenek. Ibu ayahnya itu membencinya, entah apa salahnya, ia juga tak tahu, tapi neneknya itu selalu saja bermuka masam jika bertemu dengannya bahkan ia sering sekali di marahi meski ia tak melakukan apa-apa, hanya bermanja dengan ayah sendiri apa salah?


"hiks-hiks" tak bisa lagi menahan rasa sakitnya, Arvino, bocah berumur 4 tahun itu akhirnya terisak, beruntung Marva segera tersadar


"hei, jagoan papa kenapa, hm?" Marva kini berjongkok di hadapan putranya, ia mengusap air mata bocah itu dengan sayang


Bukannya menjawab, Vino langsung menghambur memeluk erat leher papanya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher papanya


"ino mau pulang" cicit Vino memohon agar papanya segera membawanya keluar dari room ini


Ia takut mendongak, neneknya pasti melihatnya menangis sekarang ini


"bentar yah sayang, papa masih ada teman yang belum papa sapa" ujar Marva berusaha setenang mungkin memberi pengertian pada Vino, meski hatinya tengah di liputi rasa marah tapi ia tak mau melampiaskan pada putranya ini


"nggak mau! Ino mau pulang!" tolak bocah itu


Marva menghela napas panjang, kemudian ia sekali lagi menoleh ke arah rombongan yang kini mulai memasuki pintu ruangan meeting yang terbuka


"tak akan ku biarkan keluarga kalian bahagia!" desis Marva penuh amarah.

__ADS_1


Sedang Jefry yang merasa ada seseorang menatapnya juga menoleh kebelakang sebelum ia memasuki ruangan, menaikan alisnya kala netranya langsung menangkap tatapan tajam seorang pria di ujung sana yang ditujukan pada Manda.


Siapa dia?


Mungkinkah?


"daddy buyuan, mommy ninggalin kita nih" pekikan kecil dari bocah cantik di gendongannya menyadarkan Jefry, mengecup pipi gembul si princessnya kemudian melangkah menyusul Manda dan rekan bisnis wanita itu


"tak ada yang bisa milikin kamu selain aku, meski kau telah memiliki 2 atau 3 anakpun aku tak akan mundur, aku bisa memusnahkan mereka asal kamu bisa kembali lagi menjadi milikku" monolog Marva penuh ambisi merebut kembali Bilanya


Ya, karna terlalu fokus pada wanita yang sering menjadi mimpi buruknya tapi sekaligus obat dari stresnya, Marva mengabaikan dua bocah berjenis kelamin berbeda yang di bawa Manda. Mata buayanya terlalu fokus pada sosok wanita yang cantiknya makin bertambah itu, mengabaikan wajah bocah yang jika ditelisik memiliki kemiripan dengannya.


Bersambunggg...


#####


Pendek aja, maapin yak. Aku udah putar otak loh ini supaya kalian bisa lepas kangen dari baby twins


Salam Mickey Mouse 24

__ADS_1


Dari Dunia Halu


__ADS_2