
~manusia tidak akan pernah tahu caranya menghargai sebelum ia merasakan kehilangan~ Mickey
*******
"Apa?!"
"ayah nyonya sepertinya sekarang seorang buronan" jelas Jeal mengulang ucapannya akan informasi yang ia peroleh
Manda mengambil selebaran di atas mejanya yang diserahkan Jeal tadi
membaca informasi yang tertera disana, hatinya mencelos, dimana ayahnya sekarang? Bagaimana bisa sosok pria yang dikenalnya begitu baik dan penuh kasih sayang kini menjadi buronan? apa yang terjadi beberapa tahun terakhir ini? sungguh ia merasa jadi anak tak berguna karna tak tahu masalah besar yang sedang di hadapi ayahnya.
"tetap siapkan pengacara, saya akan membebaskan ayahku apapun yang terjadi" tekad Manda, meski dalam relung hatinya tak membebarkan tindakannya yang menolong orang bersalah namun ia tetap seorang anak yang mencintai bapaknya. apapun Manda akan lakukan demi ayahnya. apalagi Manda teringat kasus ayahnya dulu yang hanya jadi kambing hitam, bisa jadi yang terjadi sekarang adalah hal yang serupa bukan? ya, ia meyakinkan pada hatinya bahwa ayahnya bisa saja adalah korban yang jadi tersangka.
"siap nona!"
"sudah waktunya kita berangkat ke jakarta, nona" lanjut Jeal
"baiklah, mari kita menuntaskan semua masalah dan secepatnya balik ke Amerika" ucap Manda setelah menghela napas panjang dan beranjak dari kamar hotelnya
Sorenya, setelah Manda menyelesaikan beberapa evaluasi kinerja karyawannya, dan mengambil barangnya di hotel, ia dan Jeal berangkat menuju jakarta tanpa mengumumkan kepergiannya sebab ia tak mau lagi karyawannya bersikap lebay, lagian ia akan kembali lagi ke Bali setelah mendapatkan tanah itu
"tuan Jefry dan twins akan tiba besok pagi, apa kita mengatur agar ia landas di jakarta?" tanya Jeal setelah mengemudikan mobil meninggalkan hotel
"ya, rasanya aku sudah tak sabar memeluk mereka" Manda mendesah berat, ia sungguh merindukan buah hatinya.
"mereka juga pasti merindukanmu nona, twins dan juga tuan Jefry" ujar Jeal
Manda mendengus jengah saat otaknya menagkap akan maksud Jeal yang menggodanya
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"aku mencintaimu istriku" gumam lelaki dewasa itu dalam tidurnya
'dasar perempuan pembawa sial!'
'hiks ampun kak'
'sa-kit'
__ADS_1
Bugh
"Bila!!" Marva tersentak dari tidurnya kala mimpi itu lagi-lagi datang untuk menemani tidurnya
Mengedarkan pandangannya kesegala arah di ruang kamar yang identik akan bau seorang wanita masalalunya, netranya terhenti saat melihat jarum jam yang masih menujukan pukul 3 sore hari.
Kenapa? Kenapa mimpi itu datang lagi? Bukannya ia tidur di kamar Bila? 4 tahun ini tempat yang bisa membuatnya terbebas dari mimpi buruk itu adalah kamar Bila, ia akan merasa damai dan tenang jika berada dan menghirup aroma Bila yang masih tertinggal dalam kamar ini.
parfum, sabun sampo bahkan lotion yang bernilai murah milik Bila yang ia tinggalkan 4 tahun lalu masih ada disana dan setiap bulannya Marva akan membeli yang baru agar aroma khas Bila masih bisa ia hirup untuk mengurangi rasa rindunya.
Rindu? Ah bullshit!
"ada apa sayang? Apa kamu baik-baik saja?" lirih Marva mengusap wajah Bila dalam bingkai foto dalam gengamannya
Ceklek
Atensi Marva teralihkan ke arah pintu
"papa" panggil seorang bocah lelaki umur 4 tahun dengan wajah sedihnya
Kesadaran Marva kembali, ia melengkungkan senyum ke arah bocah lelaki itu, kemudian dengan pelan ia beranjak setelah menaruh dengan hati hati pigura yang menampilkan gambar seorang gadis muda dengan gaun pengantinya, ia adalah Bila saat menikah dengan Marva hampir 5 tahun lalu
"selamat pagi putra, papa" sapa Marva membawa anak lelaki itu ke dalam gendongannya
Siapa wanita itu? Itu bukan mamanya, tapi kenapa papanya malah sering memeluk poto itu dari pada poto mamanya? Dan kenapa papanya tak membiarkannya memasuki kamar ini? Berbagai pertanyaan dalam otak lelaki kecil itu bermunculan
"pa, ini kamal ciapa cih?" tanyanya yang tidak bisa lagi menyembunyikan rasa penasarannya.
"kamar istri papa" jawab Marva enteng
"istli papa bukannya mama? Kenapa poto itu bukan poto mama?" tanyanya lagi
"oh, i-itu..."
Ding dung
Suara bel rumah menyelamatkan Marva, bukannya tak siap mengungkapkan kebenaran pada putranya, hanya saja putranya masih terlalu kecil untuk memahami
Belum sempat Marva mengapai pintu rumah, namun pintu terkuak lebih dulu, dan di sana muncul seorang wanita paru baya yang langsung menatap tak suka,,,ke arah bocah lelaki itu
__ADS_1
"baru jam 3 dan kamu sudah berada di rumah? Mengurus parasit itu?"ujar Reni sinis setelah melihat jam tangannya yang ternyata masih jam kerja
"Mah" protes Marva
Tuduhan mamanya tak sepenuhnya benar, ia pulang lebih awal karna pekerjaannya sungguh memusingkan dan ia pulang untuk menenangkan pikirannya, meski tak memungkiri bahwa ia juga peduli akan anak lelakinya yang ia tinggal seharian pada baby sitter.
"urusi dirimu, kamu tampak seperti mayat hidup saja" Ujar Reni melihat anaknya dengat tatapan tak kalah sinis dan miris
"ne..nek" lirih bocah itu memanggil Reni
"aku bukan nenekmu!" balas Reni emosi, ia tak peduli akan perasaan bocah lelaki itu yang terus menempeli putranya
"mah, ayolah" protes Marva berusaha menenagkan anaknya yang mulai terisak di ceruk lehernya
"udahlah, Va. Mau sampai kapan sih kamu asuh anak har.."
"cukup mah, cukup!" Marva meninggikan suaranya, mamanya sudah keterlaluan. Suara tangis bocah itu sudah makin keras
Anak ini tak bersalah, kenapa mamanya tak juga paham sih.
Reni tak peduli, mau anak itu menangis kejer-kejer pun, Reni tak akan simpati, karna anak itu menjadi parasit dalam hidup putranya. Tangan tua wanita yang telah melahirkan Marva 28 tahun lalu itu melemparkan sebuah undangan di meja sofa
"besok malam jangan lupa datang" peringat Reni kemudian beranjak pergi dengan tenang, namun sebelum langkahnya menjauh ia berhenti, melirik dinding ruang tamu rumah putranya
"ngapain foto itu masih kamu pajang? Masih mengharapkannya? Kamu sungguh pria menyedihkan, dipermainkan dengan 2 wanita sekaligus" ujar Reni miris dan berhasil menyentil hati Marva.
4 tahun, sudah selama itu sikap Reni berubah padanya, dingin. Sikap lemah lembut seorang Reni tak lagi bisa Marva lihat setelah 4 tahun lalu.
Menghela napas panjang, Marva menatap nanar punggung mamanya yang makin menjauh menuju pintu
"maafkan Marva, mah" ucapnya sendu
Sungguh mamanya sudah sangat terlalu jauh untuk ia jangkau, semua karna keegoisannya sendiri yang kini ia sesali.
Namun, sampai saat ini, ia belum berani jujur akan fakta yang terjadi, sebut saja ia egois tapi ia tak mau papa dan mamanya malah makin membencinya. Cukup ia tersiksa dengan rasa bersalahnya pada wanitanya 4 tahun belakangan ini.
Bersambunggg...
#######
__ADS_1
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu