Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
kedekatan


__ADS_3

baru saja dua langkah Marva langkahkan kakinya ke arah perosotan saat melihat Zaafira terburu-buru menaiki tangga perosotan karna mengejar Zafier di atas namun secapat kilat Zaafira tergelincir membuat tubuh kecil itu terpelanting ke tanah


"AAAAUUUU"


"ZAAFIRA" teriak Marva panik, dengan langkah lebar Marva mendekat dan meraih Zaafira yang tengah tengkurap di tanah, lalu membawa tubuh putrinya ke pangkuannya


"sayang, apa yang sakit hm?" tanya Marva gusar, apalagi melihat ekspresi putrinya yang seperti menahan kesakitan.


"kalian kembali ke kelas yah, om mau ngantar Zaafira ke rumah sakit" ucap Marva pada teman-teman twins


"di klinik aja om, kalau lumah sakit kita ndak bisa liat Fila" usul salah satu bocah yang juga bersedih melihat Zaafira terjatuh sambil menunjuk sebuah klinik khusus sekolah mereka


"iya, Fiya mau di tlinit caja. lagian tanan dan lutut Fiya cuma berdalah cedikit" cicit Zaafira. Marva sungguh takjub akan ketahanan fisik putrinya. alih-alih menangis Fira malah terlihat kuat walau mata anak itu sudah berkaca-kaca.


"klinik peralatannya tidak banyak. Fira harus ditangani oleh dokter" ucap Marva selembut mungkin, jelas ia ingin penanganan terbaik untuk anaknya


setelah mengucapkan itu, Marva beranjak berdiri dengan Zaafira dalam gendongannya. ia menoleh ke arah Zafier


"Zafier mau ikut?" tanyanya pada Zafier yang ikut berdiri dengan mata yang sudah banjir. anak lelaki itu menangis melihat adiknya terluka. membuat hati Marva makin tercubit akan kenyataan itu. Zafier yang ditanya hanya mengangguk tipis tanpa mengalihkan atensinya dari sang adik.


Zafier tahu Zaafira kesakitan tapi adik nakalnya itu malah menahan tangisnya


si Zaafira dengan kepribadian sok kuatnya jika berada dilingkungan luar keluarganya


Sesampainya di rumah sakit, Zaafira langsung di tangani oleh dokter anak


"bagaimana dok?" tanya Marva dengan nada kentara khawatir


"hanya luka luar pak. lutut dan telapak tangannya lecet. namun untuk kulit anak kecil pasti terasa perih walau hanya sebatas goresan. hebatnya putri bapak tidak cengeng hingga pengobatan berjalan lancar. beberapa jam kedepan insyaAllah luka goresnya akan kering" jelas si dokter


putri bapak. dua kata yang terselip dalam penjelasan sang dokter mampu menumbuhkan semangat baru di hati Marva. ya, ia bahagia ada orang yang menyebut dirinya papa dari twins.


"bapak sepertinya juga luka?" tanya si dokter melihat sudut bibir Marva sedikit retak yang jelas terlihat sebab disana tercetak lebam bekas pukulan.


"bapak mau saya beri salep?" lanjut si dokter


"tidak usah dok, saya sudah kompres tadi. terima kasih sudah memberikan pengobatan terbaik untuk putri saya" ucap Marva tulus yang diangguki oleh dokter


setelah dokter keluar ruangan Marva mendekati twins di brangkar dengan senyuman mengembangnya. ia sedih dan bahagia dalam waktu bersamaan. sedih karna putri cantiknya harus terluka di depan matanya tanpa bisa ia cegah, ia juga bahagia bisa berada dekat dengan twins seperti sekarang ini membuat sesuatu dalam hatinya membuncah bahagia. tangan kanannya terangkat mengelus kepala keduanya bergantian dengan mata yang mulai memanas.

__ADS_1


ini adalah moment pertamanya sedekat ini dengan twins, bisa menggendong putrinya dan memeluk putranya saat Zaafira di beri salep tadi. keadaan itu menamparnya bertubi-tubi. ia adalah sosok papa tak berguna. berapa lama ia tekantarkan kedua buah hatinya itu


'maafkan papa nak' batin Marva


"Fiya mau pulang" cicit Zaafira menyadarkan Marva dari penyesalannya


"iya kita pulang. tunggu disini dulu yah, pap.. om mau urus administrasi dulu" tutur Marva lembut


"Api jaga adek yah, om keluar dulu" pesannya pada putranya yang duduk di samping Zaafira, kedua batita itu saling berpegangan tangan seolah tak mau terpisahkan


anggukan kecil Zafier berikan sebagai jawaban


setelahnya, lelaki dengan wajah bernoda lebam itu keluar dari ruangan. selang beberapa saat setelah proses administrasi selesai, Marva melangkah lebar menuju ruangan rawat putrinya agar kedua buah hatinya tak menunggunya terlalu lama


Deg


pergerakan tangan Marva yang hendak membuka pintu terhenti. jantungnya serasa diremas sesuatu tak kasat mata hingga membuatnya sesak. sesak mendengar dan melihat pemandangan di dalam sana melalui kaca kecil di daun pintu


"huaaaa... tanan Fiya cama lutut Fiya cakit cekali" adu Zaafira di sela-sela tangis kesakitannya


"maafin kakak tidak bisa jaga Fila dengan benal" ucap Zafier penuh penyesalan sambil mengelus pundak sang adik yang berada dalam pelukannya


"iya dek, habis ini kita pulang" jawab Zafier


"tapi hiks, utut dan tanan Fiya cakit kak... Huaaa" kembali batita perempuan itu menjerit kesakitan


sedang di luar pintu, Marva menepuk-nepuk dadanya menghalau rasa sesaknya. kakinya terasa lemas, bukannya masuk menenangkan putrinya, Marva malah terdiam batu di daun pintu. ia membiarkan Zaafira melepas kesakitannya pada Zafier karna merasa kehadirannya malah membuat anak kecil itu berpura-pura kuat.


tahu apa Marva mengenai twins. nyatanya mereka sama seperti anak-anak lainnya. rapuh dan mudah menangis. bedanya, putrinya itu tidak sembarangan menunjukan kelemahannya di hadapan orang-orang asing. ya, ia asing di hadapan kedua buah hatinya sendiri


lima menit menunggu namun tangis Zaafira tak juga reda, Marva akhirnya memilih masuk. ia tak tega mendengar tangis pilu putrinya terlalu lama. namun lagi-lagi hatinya berdenyut nyeri kala tangis putrinya seketika berhenti sesaat ia membuka pintu. bahkan anak itu gelagapan menghapus air matanya dan kembali berekpresi datar.


sakit mana lagi yang melebihi sakit hati Marva kala anaknya pura-pura kuat seolah tak sudi berbagi rasa dengannya. sekali lagi ia hanya orang asing di mata kedua buah hatinya itu


tapi memang pantas kan dirinya di perlakukan demikian? ya, Marva sadar diri


"pulang sekarang?" tanya Marva berusaha menormalkan hatinya. ia bertanya lembut setelah sampai di dekat brangkar yang di duduki twins


"hu'um" jawab Zaafira dengan gumaman. datar nan dingin

__ADS_1


"sebelum pulang pap.. om boleh minta sesuatu?" tanya Marva penuh harap


"apa?" sahut anak lelaki itu menatap Marva mewakilkan saudarinya


"boleh minta pelukan kalian?" ketahuilah Marva berucap dengan mata berkaca-kaca menatap kedua buah hatinya bergantian


semenit


dua menit


tiga menit


mendapati keterdiaman kedua anaknya Marva lagi-lagi tersenyum miris dengan hati remuk redam. sesakit inikah yang namanya penolakan?


oh Bila, maafkan aku. jerit hati Marva


baiklah, Marva tak akan memaksa harapannya terkabul.


"sepertinya kalian kecapean deh. ayo om langsung antar..."


"boleh kok peluk kami" potong Zafier cepat membuat Marva terharu luar biasa. segera ia membungkukan badannya dan membawa kedua buah hatinya kedalam pelukannya. ini adalah moment pertamanya menyatukan detak jantung mereka yang saling berirama dalam rengkuhannya. oh sungguh nikmat Tuhan yang luar biasa.


Marva terus mengucap syukur, betapa baiknya sang pencipta memberinya kesempatan ini.


'ampuni hamba dan terima kasih ya Allah' batinnya


'maafkan papa nak, maafkan papa yang lambat hadir di hidup kalian, maafkan kebrengsekan papa pada mama kalian' dan Marva hanya bisa bermonolog dalam hati, takutnya jika ia berkata jujur moment ini akan segera berakhir. ia sangat nyaman delam pelukan ini, ia mengecupi kepala twins bergantian dengan linangan air mata, terharu. sungguh jiwanya langsung terisi penuh. kedua buah hatinya membalas pelukannya.


"hiks hiks hiks"


"hiks hiks hiks"


isak tangis twins yang terdengar lirih membuat Marvar mengurai pelukan. merutuki diri karna lupa akan luka putrinya


"hey sayang, apa yang sakit, oh maafkan om" sesal Marva menghapus air mata Zaafira dan berganti menghapus air mata Zafier "maafkan om, om melukai adiknya Zafier" lanjutnya


"kalau om papanya kami, telus telama ini om kemana? kenapa balu muncul tekalang?"


Deg

__ADS_1


Bersambungggg...


__ADS_2