Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
sudah terlalu sakit


__ADS_3

Marva menatap nanar punggung Manda hingga tubuh wanita itu hilang di balik pintu, meninggalkan dirinya dengan rasa bersalah yang kian mencekiknya.


Manda langsung pergi setelah menyentak kasar tangan Marva saat mengumamkan kata maaf, Manda rupanya menyimpan begitu banyak kesakitan sampai merasa jijik saat lelaki yang pernah menikahinya 5 tahun lalu itu menyentuhnya


"maaf, Bil" lirih Marva bersamaan dengan tertutupnya pintu ruangan.


menghela napas berat guna mengurai rasa sesak di dadanya, Marva kemudian menunduk, menatap sendu wajah lelap kedua buah hatinya.


"sehat terus dan bahagia selalu anak-anak papa. papa ini orang jahat sayang, tapi tolong jangan benci papa yah, seperti mommy" mohon Marva sambil mengelus lembut pipi tembem twins, ia raih tangan mungil twins dan mengecupnya sayang


"maafin papa karna baru hadir saat kalian sudah sebesar ini. papa sayang kalian, twins adalah jantung hati papa" monolog Marva dengan mata berkaca-kaca. kesedihannya karna penolakan Manda terobati akan penerimaan twins meski kedua buah hatinya itu tak terang-terangan.


sedang diluar ruangan, lebih tepatnya di rooftop, Manda tengah mengatur napasnya, ia baru saja tiba di pijakan tertinggi gedung berlantai 27 itu, dan sepertinya langit tengah mendukung perasaannya, awan yang awalnya terang berubah mendung semendung perasaan Manda.


keberadaan Marva selalu berhasil membuat Manda tidak tenang.


memang pernyataan maaf dari mantan suaminya itu bukan kali pertama Manda dengar, di Indonesia pun saat beberapa kali mereka terlibat pertemuan para Ceo antar perusahaan, Marva selalu membisikan kata maaf setiap acara pertemuan bisnis selesai.


namun pertanyaan Manda adalah, permintaan maaf itu untuk kesakitan Bila yang mana? ah tak perlu bukan Manda sebut satu-satu perlakuan Marva dulu, lagian jika disebutkan itu akan memakan waktu sehari saking banyaknya luka yang ditorehkan oleh Marva.


mengingat bagaimana masalalu diantara mereka, tak pernah masuk di akal Manda jika Marva meminta maaf karna menyesal telah menyia-nyiakannya. lelaki itu tak memiliki hati padanya, bukan? lelaki itu sangat membencinya.


jadi tak salahkan jika Manda menganggap lelucon gila akan kegigihan Marva yang terlihat bersungguh-sungguh? lelaki itu pandai bermain peran, bukan? buktinya dihadapan kedua orang tua lelaki itu, Marva selalu berperan sebagai lelaki yang menyanyaginya saat mereka masih dalam ikatan pernikahan 4 tahun lalu.


atau mungkin,,, Marva meminta maaf untuk membuatnya luluh kemudian setelahnya merebut twins darinya?


huh, jangan mimpi!


Manda segera memutar tubuhnya kala mengingat twins. sungguh teledor sekali dirinya meninggalkan Marva dengan twins diruangannya. lelaki itu harus segera enyah dari kantornya juga dari kehidupannya.


Ceklek


Manda menelengkan kepalanya dengan pelototan siap menerkam saat membuka pintu dan langsung melihat bagaimana lancangnya Marva keluar dari kamar minimalis itu


"kurang aja sekali anda memasuki kamar itu!" desis Manda marah sambil melangkah masuk


"aku hanya membaringkan twins agar tidurnya lebih nya..."

__ADS_1


"anda pikir ini hotel atau rumah anda yang bebas anda keluar masuk dengan sesuka hati?" semprot Manda "bukan!! ini ruangan bersih tak seperti tempat yang sering anda kunjungi dengan membawa beberapa wan*ta malam" lanjut Manda mencemoh


loh, kenapa mengarah kesitu?


"Bil..."


"pergi. lebih baik anda menjalankan hobi anda jika anda kurang kerjaan. wanita-wanita Amerika tak kalah dengan wanita-wanita anda di Jakarta" potong Bila dengan seringainya


skak mat! Marva tertunduk, menyesal sekaligus malu akan kelakuannya dulu.


\=\=\=\=\=\=\=


3 hari sudah sejak kejadian di ruangan Manda, Marva benar-benar tak muncul lagi di hadapan Manda namun ia tetap mengunjugi twins di playgrup


pengecut? ya, ia terlalu pengecut untuk muncul setelah sindiran yang Manda lemparkan padanya. ucapan Manda itu bagaikan ia tengah dilempari kotoran anj*ng tepat di wajahnya.


mau bagaimana pun ia menyesal dan berusaha memperbaiki diri, tetap itu adalah masalalunya, masalalu yang pernah membuatnya depresi, bahkan sempat gila karna rasa bersalahnya pada Manda.


baru saja disindir udah down, gimana dengan perlakuan kasar dan kurang ajarnya dulu pada Bila? wanita itu meski tersiksa lahir batin tetap memberikan senyum dan tetap bertahan disisinya, bukan?


dan disinilah ia sekarang, tak lagi memanfaatkan keberadaan twins Marva berhadapan langsung dengan wanita cantik itu setelah menunggu hampir 5 jam. ia pantang pulang sebelum bertemu dengan Manda walau ia sudah beberapa kali diusir


"hai?" sapa Marva sesantai mungkin


"jadi urusan bisnis apa yang hendak ada bicarakan, Mr. Marva?" tanya Manda to the poin.


"duduk dulu aja gimana?" ucap Marva mempersilahkan sambil menarik kursi untuk Manda


"saya tanya, urusan apa? jangan main-main dengan waktu saya" desis Manda mengabaikan penawaran Marva. entah kenapa ia tak yakin jika Marva benar-benar hendak membicarakan bisnis dengannya seperti yang lelaki itu bilang pada sekertarisnya. entahlah Manda juga bingung akan dirinya, meski sudah tahu tapi ia tetap menemui Marva yang rela membuang-buang waktu demi menunggunya. dan sekarang ia baru menyesal karna menuruti kata hantinya yang tak tegaan.


"Bila..."


"Amanda" koreksi Manda


"maju selangkah, saya pergi" ancam Manda saat Marva melangkah mendekat


Marva tak peduli, ia tetap melanjutkan langkahnya membuat Manda segera memutar tubuhnya hendak pergi

__ADS_1


Hap


Marva meraih tangan Manda dan langsung memeluk wanita itu dari belakang


Marva memejamkan mata, ia mengghirup dalam-dalam wangi tubuh sang wanita yang ternyata asing di indra penciumannya


"aku lebih menyukai wangimu yang dulu, Bil.." bisik Marva


Deg


pelukan ini? jadi begini rasanya dipeluk oleh lelaki itu? jadi begini yang wanita-wanita Marva rasakan dulu? ia pernah mengharapkan pelukan ini tapi ia malah di beri pukulan dan tamparan.


mengingat masalalu, seketika trauma Manda kambuh. pelukan hangat yang dirasakannya untuk pertama kalinya dari Marva tak berarti lagi. dengan sekuat tenaga ia melepas belitan tangan Marva di perutnya, dan secepat kilat ia mendaratkan sebuah tamparan di wajah lelaki yang sedari tadi ia tahan


Plak


"jangan kurang ajar anda?" desis Manda sambil menepuk kedua lengannya menyingkirkan bekas pelukan Marva


Marva tersenyum miris, kali kedua ia mendapat tamparan dari tangan lembut wanitanya, pipinya yang kena tamparan tapi hatinya yang kebas


ingat Marva, perlakuanmu di masalalu jauh lebih sadis. peringat Marva pada dirinya sendiri


"aku minta maaf" lirih Marva


maaf? maaf untuk yang mana? Manda menaikan alisnya menantang, namun ia tak mengungkapkan isi pikirannya


"maaf atas semua perlakuanku di masalalu, aku menyesal" lanjut Marva saat tak mendapati respon dari Manda


bersambunggg...


haloooo semuaaaa....


jangan lupa vote komen, like dan favoritkan kalau kalian suka cerita ini yah...


kemarin aku sempat baca ada reders yang mau nyogok. nggak usah nyogok-nyogok, cukup doakan saja agar autor selalu sehat, halunya jalan dan mood untuk ngetiknya bagus supaya aku bisa up. okey


see you next chapt

__ADS_1


__ADS_2