Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
S2- Selingkuh


__ADS_3

dalam sebuah hubungan, komunikasi adalah hal wajib. terkadang persoalan kecil akan jadi masalah besar jika tak melibatkan komunikasi di dalamnya, apalagi jika masalahnya memang sudah diluar batas. jika tak renggang ya menjadi hambar


seperti yang tengah terjadi pada hubungan Manda dan sang suami, sejak kejadian dua minggu lalu dimana ia kedapatan meminum pil oleh suaminya, lelaki itu berlaku dingin padanya


kecewa, Manda tahu suaminya kecewa padanya hingga lelaki itu terkesan mengambil jarak jika tak ada twins diantara mereka. meski lelaki itu mengatakan telah memaafkannya setiap saat Manda meminta maaf tapi sikap Marva menunjukkan kalau lelaki itu tidak sepenuhnya memaafkannya, lelaki itu hanya tak mau membuat dirinya terus-terusan memohon maaf.


Manda menatap sendu foto pernikahannya yang tercetak besar menggantung di dinding kamar, jelas pada foto itu ekpresi suaminya terpancar jelas jika lelaki itu dikelilingi dengan euforia, tak seperti dirinya yang nampak tersenyum palsu.


seketika ingatan Manda terlempar pada potret pernikahannya yang pertama. berbanding terbalik dengan foto pernikahannya yang sekarang. lima tahun lalu, Manda tersenyum haru bahagia sedang Marva hanya berwajah datar saat kamera berhasil mengabadikan moment itu.


ah, takdir memang seluar biasa ini membolak-balikan keadaan.


Klek


Manda tersentak dari lamunannya kala pintu kamar terbuka. sontak ia menoleh dan mendapati sang suami muncul di sana dengan pakaian lengkap namun tak serapi tadi pagi


"loh, Mas udah pulang? bukannya tadi bilangnya lembur?" tanya Manda sembari melangkah mendekati suaminya yang juga berjalan memasuki kamar. Manda meraih tas suaminya lalu meraih tangan lelaki itu untuk di ciumnya. Manda mendesah kecewa dalam hati kala Marva tak mengecup keningnya seperti biasa


"lembur tapi cuman sampai jam 7" jawab Marva membiarkan Manda membantunya membuka jas lalu dasinya yang sudah ia longgarkan setelah memasuki taksi dari bandara tadi


Manda tampak berpikir sejanak lalu mengangguk sembari mengatakan "aa" pertanda mengerti. memang tadi ia menelpon Marva menanyakan kegiatan lelaki itu di Jakarta dan Marva memberitahunya akan lembur namun Manda tak menanyakan lembur sampai jam berapa sebab lelaki itu biasanya kalau lembur akan tiba di Bali jam 10 atau jam 11 malam, dan sekarang baru jam 9 malam.


"mau makan dulu atau mandi?"


"aku udah makan" jawab Marva membuat Manda mengerjab. wanita itu merasa sedih tapi masih mampu menutupinya dengan senyuman


"yaudah, mas mandi gih" dengan cekatan Manda membantu melepas pakaian suaminya lalu menyuruh lelaki itu untuk membersihkan diri


Marva menatap bersalah pada punggung wanita yang kini menjauh menuju walk in closet untuk menyimpan pakaian kotornya di keranjang


'maaf' batin lelaki itu merasa sesak melihat kesedihan sang istri yang selalu bisa Marva baca. hanya saja ia ingin memberi sedikit efek jera pada wanita pemilik hatinya itu agar kedepannya tak lagi bertindak tanpa melibatkannya. Marva ingin dihargai, bagaimanapun ia adalah kepala rumah tangga dalam istana mereka


_ _ _ _ _


Marva keluar kamar mandi hanya dengan sebuah handuk yang melilit di pinggangnya, lelaki itu langsung mengambil pakaian yang sudah Manda siapakan di atas ranjang tanpa melirik wanita itu


"loh, mas mau kemana?" tanya Manda saat Marva berlalu ke walk in closet dengan membawa pakaiannya

__ADS_1


"pakai baju" jawab Marva sembari berlalu


"kenapa harus pakainya di sana" guman Manda yang masih mampu menembus indra pendengaran Marva.


biasanya juga Marva dengan tak tahu malu memakai pakaiannya di depan Manda.


hap


Marva tak terkejut dengan pelukan tiba-tiba yang ia dapat setelah selesai memakai pakaiannya, sebab ia menyadari kehadiran pemilik tangan yang melingkar di perutnya itu sejak ia mengancingkan piyamanya


"mas belum maafin aku kan?" tuduh wanita itu dengan suara bergetar


"apasih, aku capek..." Marva melepas tangan Manda di perutnya lalu lelaki itu berbalik "tidur yuk" ajaknya langsung menarik tangan Manda keluar walk in closet, sebab jika Marva meninggalkan Manda di sana, dapat Marva pastikan istrinya itu akan menangis di sana


"mas aku udah bersih loh" beritahu Manda setelah mereka menaiki ranjang


"iya" jawab Marva sembari memperbaiki letak bantalnya lalu berbaring membelakangi Manda


"mas, aku udah selesai datang bulan" beritahu Manda lagi sembari menggoyangkan pelan pundak Marva


"iya" jawab Marva datar, namun dilihat dari dekat lelaki itu tampak tengah tersenyum geli


"aku ngantuk" jawab Marva lagi membuat Manda langsung membaringkan tubuhnya membelakangi Marva. wanita itu malu sekaligus sedih akan penolakan Marva.


seminggu setelah kejadian pil itu Marva tak pernah meminta jatah padanya, lalu satu minggu ini Manda datang bulan. dan terhitung dua minggu Marva tak pernah meminta itu padanya.


apakah suaminya jajan di luar?


isakan Manda berhasil meruntuhkan kejailan Marva, sontak lelaki itu berbalik dan mendapati punggung istrinya bergetar


"hei, kenapa menangis?" tanya Marva membalikan tubuh Manda mengahadapnya


"mas nggak selingkuh kan?" tanya Manda disela-sela isakannya, wajah wanita itu sudah banjir air mata membuat Marva kelabakan sendiri


"astaga! ngomong apasih Bil" Bantah Marva sembari menghapus air mata wanitanya.


melihat istrinya menangis dan berpikiran negatif padanya membuat Marva merutuk diri akan tindakannya. pasti istrinya akan berpikiran demikian karna sikap cuek Marva padanya. Marva sadar betul jika istrinya tak salah menuduhnya demikian mengingat masalalunya yang brengsek. tapi sumpah demi apapun Marva tak pernah berpikiran menapaki jalan kotor itu bagaimanapun sikap Manda padanya. tak tahu kah Manda jika sampai detik inipun Marva masih dibayang-bayangi rasa penyesalan akan kelakuannya di masalalu. jujur Marva jijik sendiri pada dirinya dimasa lalu. namun nasi telah menjadi bubur, Marva tak bisa mengembalikan waktu dan ia hanya bisa hidup dengan bayang-bayang penyesalan.

__ADS_1


pernahkan Marva bilang kembalinya Manda padanya adalah hal terindah dalam hidupnya. ya, kebaikan hati Manda yang mau kembali pada lelaki kotor seperti dirinya membuat Marva memiliki harapan untuk memperbaiki diri lebih baik lagi.


"mas udah nggak peduli sama aku" gumaman sang istri membuat dada Marva sesak. niat hati ingin memberi pelajaran malah tanpa sadar Marva melukai perasaan wanitanya. Marva menarik Manda dalam dekapannya


"mas peduli sayang. hanya kamu. tolong jangan berpikir aneh-aneh" tutur Marva selembut mungkin


"tapi mas nggak pernah lagi sentuh aku" Marva mendesah mendengar gumaman sang istri


jujur, Marva sekuat tenaga menahan diri dua minggu ini hanya untuk menyampaikan rasa kecewanya pada Manda. apalagi tadi, sejak Marva keluar kamar mandi dan mendapati sang istri telah mengganti piyama tidurnya dengan lingerie berwarna merah terang membuat jagoan Marva langsung menggeliat dan bangun. Makanya ia mengganti pakaian di walk in closet untuk menyembunyikan itu dari Manda.


"mas hanya tak mau kerja keras kita sia-sia" jawab Marva membuat Manda langsung mendongak menatap tepat di mata Marva


"aku udah nggak minum pil itu lagi mas, aku udah membuangnya. gimana mau jadi kalau mas nggak mau kerja lagi"


jika saja Marva tak menghargai perasaan sedih istrinya mungkin Marva akan tergelak melihat wajah lucu Manda yang berusaha keras meyakinkannya.


"aku juga baru aja selesai datang bulan, kali aja..."


ucapan Manda langsung terpotong kala bibir Marva langsung membungkamnya. ah Marva merindukan rasa bibir ini. gara-gara pil sialan itu membuatnya harus berpuasa tak menyentuh benda-benda kesukaannya pada tubuh istrinya karna dalih kecewa.


"kalau begitu siap bermain sampai pagi sayang?" tanya Marva dengan napas memburu sembari menyeka air liurnya di bibir sang istri yang membengkak akibat lum*tan kasarnya


"tapi kan mas capek"sarkas Manda membuat Marva tergelak


"berdoa dulu yuk" peringat Marva yang diangguki Manda


lalu setelahnya, lelaki itu langsung menyerbu istrinya


"mas kok di robek sih, aku baru beli tadi loh" protes Manda saat linggerinya sudah teronggok di lantai setelah Marva merobeknya dan membuangnya asal


"siapa suruh tipis jadi mudah robek" ucap Marva acuh


"tapi sukakan model itu?" goda Manda


"lebih suka yang begini" ucap Marva sembari menatap lapar tubuh lenj*ng sang istri


sesuai perkataan Marva, lelaki itu tanpa lelah mengisi rahim istrinya dengan jutaan calon anaknya, sampai membuat sang istri terkulai lemas, beranjak dari tempat tidurpun wanita itu kesusahan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2