
Marva mengemudikan mobilnya bak orang kesetanan, mulutnya terus meracau berharap apa yang Radit bilang hanyalah omong kosong semata.
Beban hati dan pikirannya sudah banyak. Ia tak mau rasa bersalah semakin menyerangnya
Dengan langkah lebar hampir berlari, Marva memasuki rumahnya dan langsung menuju kamar tamu, kamar yang 4 tahun lalu adalah kamar Bila, istri yang tak dianggapnya
Mencari ke segala sudut, setiap tempat, setiap laci namun Marva tak menemukan diari pink itu, bahkan tempat sampah dalam kamar itu tak luput dari jamahannya demi menemukan catatan harian Bila. Ia ingat beberapa kali pernah membuang benda itu di tong sampah karna setiap ia membuka dan membaca isinya hanya ada kesakitan yang ia dapat dari curahan kesakitan sang istri atas kelakuan bejatnya
"oh ayolah, dimana buku itu? Itu tidak boleh hilang, Bila bisa memarahiku jika benda kesayangannya aku hilangkan" racau Marva frustasi, ia takut jika Bila megetahuinya, wanita itu akan marah padanya.
Hei, curuk! Bila bukan lagi marah, tapi benci setengah mati. Bukan, bukan tentang perkara diari hilang, karna ingatannya tak akan pernah terhapuskan atas kelakuan Bejatmu yang tak termaafkan! ih kesel deh lama-lama sama si Marva eh tapikan yang buat karkternya dia aku yah.. eh apasih autor satu ini. ck! aulah gelap, lanjut deh ngarang 🌪
Marva butuh buku itu untuk mengetahui alasan Bila meninggalkannya. Benarkah Bila menghianatinya dan memilih pergi? atau kepergian Bila karna dirinya sendiri? Sama seperti yang Radit bilang?
"Argh" Marva menjambak rambutnya melampiaskan keresahan hatinya
Tidak, ia tidak boleh hanya berfokus mencari buku itu. buku ping yang saat ini tengah bertengger manis di sebuah laci dalam kamar yang penuh motif spiderman itu. sekarang ia harus memastikan lainnya.
Dan disinilah ia berada sekarang, sebuah sekolah taman kanak-kanak.
Walau sebagian kejiwaannya sudah hilang karna rasa bersalahnya yang menggerogoti setiap aliran darahnya tapi Marva masih bisa menjalankan pikirannya
Dengan pakaian santai. tidak, bisa dibilang kelewat santai, celana kain selutut dengan baju kaos overzise, dipadukan kaca mata hitam serta topi di kepalanya untuk menutupi sebagian wajahnya, menjadi pilihan busananya di pagi beranjak siang ini. Ia menyamar agar keberadaannya tak diketahui oleh orang-orang termasuk putranya, Vino dan baby sitter kedua anak Bila, yang mungkin juga adalah anak kandungnya. Pikir Marva tersenyum miris
Dan targetnya ada disana, 2 batita itu tengah asik belajar sambil bermain bersama puluhan teman seusianya di pakarangan yang dijaga oleh 3 orang guru.
Dan baru Marva sadari, jika kelas Arvino dengan 2 batita kembar itu berbeda karna ia tak melihat ada Vino ikut dalam kelas autdor itu. Ia bernapas lega, setidaknya penyamaranya akan lancar jika Vino tak berada didekat 2 batita itu. merasa aman, ia melepas kaca mata hitamnya agar tak menghalangi penglihatannya untuk memyaksikan setiap gerak-gerik lincah kedua bocah itu dari kejauhan
"bahagia banget kelihatannya" monolog Marva yang sedari tadi tak lepas memandangi 2 bocil itu, bola matanya berputar searah pergerakan sikembar yang sangat aktif
Lagi-lagi rasa sesak menghantam dadanya kala menyadari jika garis wajah mereka memiliki garis wajah sepertinya. Marva melihat dirinya sewaktu kecil pada 2 sosok mungil itu, apalagi dengan batita lelaki itu. walau tak sepenuhnya mirip, tapi jika ditelisik mereka tak perlu diragukan jika tercipta dari dirinya. Kemana saja otaknya selama ini? Ia diberi kesempatan beberapa kali bertemu keduanya tapi Marva seolah buta tak bisa melihat kesamaan itu, harga dirinya selalu menang melawan nuraninya kala mengetahui jika kedua batita itu milik Bila yang meninggalkannya 4 tahun lalu membuat Marva menaruh benci pada 2 batita itu karna mengira hasil dari buah penghianatan Bila.
"aku berharap jika kalian memang lahir dari benih ku, tapi aku tak siap untuk menanggung rasa bersalahku pada kalian juga mama kalian" monolog Marva tersenyum pedih, nadanya penuh harap namun ia ingin sekali lari dari sini dan menenggelamkan dirinya di dasar laut. Ia tak siap menanggung semua kenyataan yang harusnya berjalan indah namun berkat dirinya yang brengsek. semua hancur berantakan
Kenapa ia bisa sebuta itu selama ini? Kenapa baru sekarang ia menemukan jawaban atas pertanyaannya saat pertama kali bersitatap mata dengan bola mata bening milik batita lelaki itu. Kepingan jiwanya yang entah menguar kemana sejak ditinggal pergi oleh Bila ia temukan saat itu, dan juga hati yang telah lama mati itu ia rasa kembali bereaksi saat berdekatan dengan gadis kecil itu, namun kembali kosong saat 2 batita itu pergi dari hadapannya saat ia tengah memeluk erat tubuh Arvino
"sudihkah kalian memiliki papa sepertiku?" tanyanya seolah kedua bocah yang tengah menjadi fokusnya bisa mendengar ucapannya
Deg
__ADS_1
Marva tersentak saat anak perempuan yang berseragam putih ping kotak-kotak itu melihat ke arahnya. anak perempuan yang ia dorong hingga terjatuh di pusat perbelanjaan hari itu, demi membela Vino, ia dengan kejam meringankan tangan pada bocah cantik itu
Ingin sekali ia berlari meraih tubuh kecil itu dan membawa kepelukan hangatnya, pelukan seorang ayah pada anak perempuannya. memohon ampun atas pengabaian serta pikiran liciknya yang pernah ingin ia singkirkan demi melancarkan rencananya merebut Bila kembali kepelukannya
"kak" panggil Zaafira setelah mendekati tubuh kakanya yang sedang asik bermain bola sesama teman lelakinya.
"ada apa, Fila?" tanya Zafier melihat gelagat ketakutan dari ekpresi adik 7 menitnya
"ada olang di bawah pohon, sepeltinya olang itu memelahatikan kita deh. Fiya atut" lapor Zaafira dengan berbisik di telinga Zafier, sontak Zafier menoleh dan tak mendapati siapa-siapa disana
"nggak ada siapa-siapa, Fila" mendengar ucapan Zafier, kepala kecil Zaafira menoleh ke arah pohon.
"kok ilang. tadi Fiya lihat ada"
"nggak ada Fila cantik. jangan takut. Ada kakak yang akan jagain Fila" ujar zafier bijak berusaha menenagkan adiknya. Tentu Zaafira akan selalu merasa aman jika sang kakak ada bersamanya. Bocah perempuan itu akhirnya mengangguk dan kembali bermain bersama teman lainnya dengan wajah tersipu karna habis dipuji cantik oleh kakaknya.
sementara Zafier juga kembali asik dengan kegiatan bermain sambil belajarnya
"yah Api! Kok tendanannya tencang banet tcih" dumel salah satu batita lelaki cadel pada Zafier karna Zafier menendang keras bola yang mereka mainkan hingga mengelinding jauh dari garis
"heheh maapin. Kakinya Api tellalu semangat" balas Zafier dengan cengiran lucunya
"jangan bu, bial Api aja. itu salahnya Api jadi halus Api yang tanggung jawab" seru Zafier melarang gurunya yang hendak mengambil bola.
setelah pamitan, anak sulung Manda itu berlari ke arah mengelindingnya bola
tersadar kakaknya menjauh, Zaafira menoleh dan mendapati kakaknya berjalan menjauh, batita perempuan itu ikut berdiri meninggalkan permainan susun baloknya dan mengikuti langkah Zafier
"dasar twins" gumam gurunya melihat Zaafira mengekor dibelakang kakaknya
"kak Api tunggu Fiya!!" teriak Zaafira berlari menyusul membuat langkah Zafier terhenti dan menoleh
"kamu kenapa ikut?" tanya Zafier saat tubuh kecil Zaafira sudah di dekatnya
"Piya mau jagain Api, talau ada yang jahatin Api bial Piya yang hadapi. tidat ada yang boleh menyentuh Api dan nyatitin Api, nanti tidat ada yang jagain Fiya talau Api tenapa-tenapa" ujar Zaafira menggebu-gebu dengan raut memelas
seseorang dibalik pohon merasa tertusuk tepat di jantungnya mendengar mereka. betapa kedua anak itu saling menyayangi membuatnya merasa kerdil untuk muncul
Marva menggigit bibirnya menyalurkan sesak di dadanya. pantaskah ia hadir dikehidupan kedua anak baik itu? beratikah dirinya untuk keduanya?
__ADS_1
memejamkan mata kala telinganya mendengar langkah dua pasang kaki kecil itu menjauh dan melewati pohon tempatnya bersembunyi.
"tidak. aku tak boleh rendah diri. aku harus menemui mereka. milikku akan selalu menjadi milikku" monolog Marva meyakinkan diri, ia kemudian keluar dari balik pohon, ia langkahkan kakinya menghalangi langkah kedua batita itu
"hai, kalian cari ini?" sahut Marva memperlihatkan bola ditangannya
Zafier berbinar melihat bola itu, berbeda dengan Zaafira yang menatap curiga orang itu
*diakan orang yang tadi liatin Fira terus. kan beneran ada, Fira tidak salah liat. apa om ini orang jahat? eh tapi tunggu, sepertinya...* batin Fira menebak-nebak
"om papanya ino kan?" tanya Zaafira setelah tebakannya mengarah ke satu orang yang beberapa kali pernah ditemuinya
"kalian mengenali pa.. Om?" tanya Marva hampir keceplosan. antara bahagia dan sedih. bahagia karna anak ini mengenalinya walau sebagian wajahnya tertutupi, dan sedihnya yah, penyamarannya nyatanya tak sebagus pemikirannya, buktinya anak kecil ini saja bisa mengenalinya. pikirnya
"iya lah om, Fiya tenal, hanya liat mata om saja, Fiya langsung tahu talau om ini papanya Ino" sahut Zaafira ringan, wajah takutnya perlahan hilang digantikan cuek
Deg
Bagai di bogemi godam, jantung serasa diremas, semua organ dalamnya serasa disirami kuah cabe, pedisnya nggak ketulung lagi, rasanya ingin mati saja. Seperti itulah kira-kira yang tengah Marva alami
Batita cantik ini mengenalinya hanya lewat matanya, sedang dirinya yang seorang pria dewasa tak bisa melihat kebenaran. Ia diperbudak dengan hawa ***** egonya
"ini papa nak" tentu ucapan itu hanya bisa terucap dalam hatinya sebab saat ini Marva merasa pita suaranya tak lagi bisa bekerja dengan baik karna didesak rasa sesak efek menahan tangis. Kepercayaan dirinya hilang seketika untuk mengaku siapa dirinya
"nama kalian siapa?" tanya Marva, walau suaranya bergetar tapi ia harus mengetahui siapa nama anak-anak cerdas Nabila ini
"Zafiel, dan ini adik saya Zaafila, kami lahil kembal" jawab Zafier ringan
Marva rasanya ingin terjun bebas ke dasar jurang saat ini juga. sungguh ia merasa benci pada dirinya sendiri.
Jadi teror DNA itu? Jadi kedua batita ini adalah jawabannya? oh tuhan!!! jerit Marva dalam hati
Bersambunggg...
#####
halo aku balik nih. makasih yang masih sudi melanjutkan membaca lanjutannya
yang suka silahkan like, komen dan vote yah.
__ADS_1
Salam Mickey Mouse
dari Dunia Halu