Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
pendekatan


__ADS_3

"Kedip Bil, kedip" Manda tersentak saat lelaki disampingnya menegur aksinya "apa aku setampan itu?" lanjut Marva bertanya membuat Manda mendengus lalu memalingkan wajahnya dari Marva. malu ketangkap basah tengah memerhatikan lelaki itu.


"Nggak usah ngelak" goda Marva "aku memang tampan" lanjutnya bangga


"dih, percaya diri sekali anda" balas Manda dengan ekspresi muak


"tuh buktinya 2 bocah di belakang, nurun darimana paras mereka kalau bukan karna papanya yang tampan" ucap Marva memancing Manda merotasikan bola matanya


satu hal lagi yang Manda ketahui dari si mantan suami, lelaki itu cukup narsis. mungkin karna lelaki itu sudah bisa melihat makanya rasa rendah diri itu tak ada lagi seperti setiap kali mereka berinteraksi empat bulan terakhir ini.


"tanya aja apa yang ada dipikiranmu, aku akan berusaha jawab" tutur Marva setelah keheningan cukup lama


"ini nyata?" tanya Manda cepat tanpa mengalihkan atensinya dari lelaki yang tengah fokus mengemudi di sebelahnya


"eh?" Marva hanya melirik sekilas sebab pandangannya harus kembali fokus ke depan


"maksud aku, kamu Marva? bagaimana bisa?" tanya Manda mengulang maksud pertanyaannya


"kalau bukan Marva siapa lagi? masa iya Marva jadi-jadian" balas Marva santai


berbeda dengan Manda yang melayangkan tatapan datar karna jawaban Marva, twins malah bersedakap dada di kursi belakang sambil mengangguk setuju akan jawab sang papa.


"dia benalan papa, mommy" sahut Zafier membuat Manda menorehkan badannya ke belekang

__ADS_1


"mommy ish, dia tu benalan papa Malva. papanya Fiya sama Api" si bungsu tak mau kalah membela papanya.


"bagaimana, maksudnya apa yang terjadi satu bulan ini?" tanya Manda yang sudah kembali menatap Marva. satu bulan adalah waktu yang mustahil untuk kasus penyakit yang diderita Marva, mengingat bagaimana selama 4 bulan menjalani terapi tapi tak membuahkan hasil. bahkan lelaki itu pernah ingin menyerah dan kembali hidup sendiri di pedesaan.


"ceritanya panjang, kalau kamu mau tahu, kamu harus lebih lama bersamaku untuk mendengar ceritanya, atau mungkin kita bisa hidup berasama lagi..."


"kan bisa cerita yang intinya saja. nggak usah modus" ucap Manda memotong perkataan Marva


Marva menipiskan bibir. bungkam. jika bukan suara twins yang berceloteh sesama saudara di belakang sana, pasti suasana mobil akan hening.


"intinya aku sembuh untuk twins dan juga wanita yang kucintai" sahut Marva setelah menginjak pedal rem, lalu menoleh ke samping dan kembali berucap "jadi tolong sampaikan pada Bila-ku untuk mempersiapkan diri. karna kali ini aku tak akan mundur sebesar apapun badai menghalang" Marva menjeda kalimatnya sambil menatap intens wajah wanita yang 4 bulan ini hanya bisa ia dengar suaranya "jika dia meremehkan ucapanku, bilang padanya kalau aku sudah berhasil melewati badai terdahsyat dalam hidupku. dua kali. dan aku pastikan tak ada ketiga kali" lanjut Marva dengan penuh keseriusan, dan Manda bisa melihat itu melalui pancaran mata lelaki itu


"papa nanti belok kili ya" sahut Zafier yang sedari tadi menjadi penunjuk jalan untuk sang papa karna mengira papanya belum paham seluk beluk jalanan Amerika


_ _ _ _ _


"capek?" tanya Marva mendapati Manda menghela napas panjang sambil merebahkan punggungnya di sandaran sofa sebuah restoran. Marva sebenarnya tak tega mengajak Manda keluar malam dimana harusnya wanita itu beristirahat karna tenaga dan pikirannya habis terforsir bekerja di perusahaan seharian, tetapi baik Marva maupun Manda tak memiliki pilihan karna semua ini permintaan kedua buah hatinya yang tiba-tiba pengen makan malam di restoran kesukaan mereka


Manda menggeleng kecil menanggapi pertanyaan Marva, meski tubuhnya lelah, tapi melihat bagaimana antusias twins sibuk memilih makanan kesukaan mereka membuat lelah Manda tersamarkan akan wajah bahagia kedua buah hatinya itu


"papa mau makan apa?" tanya Zaafira setelah selesai menyebutkan beberapa makanan kesukaannya, kesukaan Zafier dan sang mommy pada pelayan


"samain aja sama pesanan mommy" jawab Marva yang langsung diindahkan oleh Zaafira, anak itu dengan cadel menyebut ulang pesanan sang mommy untuk kemudian dicatat oleh pelayan

__ADS_1


_ _ _ _ _


"sandar sini" bisik Marva sambil menepuk bahunya yang dibungkus kameja navi. Manda menoleh, ia menggeleng sebagai bentuk penolakan. "nggak usah malu" goda Marva memancing lirikan tajam ibu dari kedua buah hatinya itu


"nggak" jawab singkat Manda lalu memfokuskan pandangannya pada tayangan film kartun di layar lebar dalam ruangan yang memiliki 100 kursi merah berjejer itu.


entah twins yang mulai menomor duakan perasaan sang mommy karna ingin berlama-lama bersama sang papa, ataukah memang kedua batita itu hanya ingin menikmati suasana keluarga lengkap. keluarga lengkap dalam artian yang sebenarnya, menikmati momen bersama kedua orang yang telah melahirkan mereka. bagaimanapun mereka bahagia selama ini jika mereka di temani sang daddy atau sang paman tapi bersama Marva kebahagiaan itu benar-benar lengkap. mereka tak bisa mengungkapkan sebesar dan semembuncah apa perasaan mereka saat ini.


dan seolah melupakan kelelahan sang mommy yang seharian bekerja di kantor dan juga sang papa yang baru melakukan penerbangan jauh, twins mengajak mereka untuk bermain setelah makan malam, tidak sampai disitu sekarang mereka berada di dalam bioskop menonton serial kesukaan mereka. Film kartun. Manda berada disisi kanan Marva, si Zafier disisi kiri, sedang Zaafira berada dipangkuan Marva, jadi kursi si bungsu terbayar sia-sia.


_ _ _ _ _


"makasih sudah membuat mereka bahagia hari ini" ucap Manda sambil menoleh ke samping dimana sang lawan bicara duduk sambil memangku tubuh sang putri yang terlelap


"yang aku lakukan hari ini tidak ada apa-apa dari 4 tahunmu menjaga mereka" balas Marva menjulurkan tangan kirinya membelai kepala sang putra yang juga tengah terlelap menyembunyikan wajah di dada Manda.


mereka saat ini berada di mobil yang melaju membela jalanan Washington menuju mansion pukul 10 malam. karna tak tega dengan twins yang sudah tertidur bahkan sebelum film selesai, jadinya mereka memutuskan untuk menyewa sopir agar mereka bisa memangku kedua buah hati mereka di kursi penumpang belakang sehingga tidur twins bisa nyaman


"tapi tetap saja terimakasih. kehadiranmu membuat senyum mereka kembali hidup" balas Manda dengan mengulas senyum tulus


" jika begitu, bagaimana kalau kita mewujudkan kebahagiaan sesungguhnya untuk mereka?" tanya Marva terlihat serius, meski hati lelaki itu tengah teler akibat terlena akan senyuman yang sudah sangat lama ia rindukan. senyum tulus Bila-nya yang pernah menghilangkan kewarasannya.


"kebahagiaan twins adalah kewajibanku. bagaimana denganmu?" lanjut Marva saat Manda hanya termangu di tempatnya

__ADS_1


Bersambunggg...


__ADS_2