
tak ada manusia yang sempurna. akan ada titik dimana suatu kejadian membuat seseorang akan belajar makna kehidupan sesungguhnya, dan setelah memahami arti dari peristiwa itu, maka seseorang baru sadar, lalu menyerukan kalimat tak akan menyia-nyiakan lagi satu buah kata yang mengandung ribuan misteri, kesempatan. termasuk mencintai dan kehilangan.
menunggu memang pekerjaan melelahkan apalagi menunggu sesuatu yang tak pasti. kedua mata wanita itu mulai lelah, terkatup perlahan bersamaan dengan tubuhnya yang terjatuh ke sofa. sudah jam 01:27 dan suaminya belum juga menampakkan diri.
tak ada lagi tenaganya untuk beranjak ke kamar, sebab tubuhnya lelah apalagi kesadarannya sudah sebagian berada di alam mimpi.
tlingk
mata berat itu spontan terbuka kala notifikasi ponsel yang masih berada di genggaman mengitrupsi tidur ayam-ayamnya
Mr. Marva
"selamat mimpi indah sayang"
Manda mengerjabkan matanya untuk mempertajam penglihatannya. apa maksud isi pesan suaminya? selamat mimpi indah? hanya itu? dimana lelaki itu sekarang? sedang apa dan dengan siapa? kenapa nggak pulang?
tak tenang, Manda tak lagi memikirkan gengsinya untuk menelpon Marva. ia tanpa pikir panjang langsung menekan ikon telpon untuk menghubungi suaminya.
dan sambungan langsung terhubung selang beberapa detik saja
"halo sayang? Bila, ini benaran kamu?"
lihat, yang menelpon siapa yang menggebu siapa
"hm" jawab Manda bergumam
"ada apa? kamu baik-baik saja kan? twins aman?" Manda menghela napas, pertanyaan suaminya adalah pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada lelaki itu, mengenai keberadaannya dan kenapa tidak pulang.
"maaf yah, aku sibuk banget hari ini. maaf nggak ngabarin kalau aku nggak bisa pulang ke Bali. aku baru pegang hp beberapa detik lalu dan langsung mengirimkanmu pesan" Manda bisa dengar suara sesal laki-laki itu
"kenapa belum tidur?" pertanyaan Marva setelah hening beberapa saat
"kamu.. kamu dimana?" tanya Manda mengabaikan pertanyaan Marva
"di rumah... di rumah papa" Manda menaikan alisnya mendengarkan nada suara suaminya yang terbata
"ada apa?" tanya Manda
__ADS_1
"nggak ada apa-apa" Manda menghela napas, tak puas dengan jawaban suaminya itu
"tidur sayang, nggak baik begadang. besok kamu harus masuk kerja" suruh Marva mengingatkan, namun Manda malah mengira Marva tak mau lama-lama berbicara padanya.
sedang Marva di seberang sana memang benar-benar tak mau terjadi apa-apa dengan sang istri. karna jika boleh memilih ia ingin mendengar lebih lama suara istri tercintanya tetapi ia tak boleh mengabaikan kesehatan Manda.
"terus kamu kenapa belum tidur"
"tadinya aku hendak tidur setelah mengirimkan mu pesan"
"oh yaudah. aku tutup"
"selamat malam, istriku"
"hm" lalu Manda mematikan sambungan telponnya.
_ _ _ _ _
nyatanya, bukan hanya sehari, tapi sudah 3 hari Marva tak pulang ke Bali. lelaki itu hanya mengabari Manda lewat chat atau sesekali mereka melakukan panggilan video bareng twins.
seperti sekarang ini, Marva hanya bisa menemani mereka sarapan pagi lewat virtual, panggilan video.
"maafin papa yah sayang, papa janji weekend papa akan temani kalian bermain boneka sama robot"
"weekend? masih lama papa, masih 2 hali lagi" balas Zaafira setelah berpikir sejenak
"gimana kalau kami yang ke Jakalta? Afi lindu sama oma Leni, opa Lan sama aunty Lain" sahut Zafier penuh harap
"apa mommy tak masalah?" tanya Marva membuat twins menoleh ke arah Manda
"mommy, boleh tidak?" tanya Zafier dengan ekpresi memohonnya, dan Zaafira ikut membantu kakak tujuh menitnya untuk meminta persetujuan dari mommynya dengan memasang puppy eyesnya "kami lindu papa tau mom" ucap Batita perempuan itu
"hari ini nggak bisa sayang, mommy ada meeting penting dengan rekan bisnis dari luar negeri. besok mommy usahakan untuk mengosongkan jadwal, yah" bujuk Manda, sebenarnya tak tega melihat kedua buah hatinya menatap dirinya dengan ekpresi memohon itu, tapi mau bagaimana lagi, hari ini terlalu mendadak dan jadwalnya full tak bisa seenaknya di cancel.
setelah beberapa bujukan dari Manda yang dibantu oleh Marva, twins akhirnya mengalah. panggilan pun berakhir kala Manda dan twins sudah saatnya berangkat ke sekolah
_ _ _ _ _
__ADS_1
Marva meremas ponselnya hingga urat-urat tangannya terlihat jelas. rahangnya mengeras dan giginya beradu saat membuka pesan gambar yang lagi-lagi membuat darahnya mendidih. tidak, jika kemarin ia hanya mendidih maka saat ini ia berasa di tenggelamkan di bara api.
sakit dan ingin memberontak!
"mau mereka apa sih?" geram Marva tertahan
lalu lelaki itu menoleh, menatap miris sekaligus kasihan pada seorang wanita yang berseragam biru muda diatas brangkar. dan wanita itu adalah sang adik yang tengah terbaring lemah tak sadarkan diri. sudah 3 hari Raina koma setelah berhasil menjadi seorang ibu. ya, Marva sudah menjadi seorang paman sekarang.
disini, Raina tengah berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan keturunan pria sialan itu, tapi Jefry malah sibuk menganggu istri orang lain. dan sialnya yang di ganggu adalah kakak ipar lelaki itu sendiri, istri Marva.
rasa-rasanya Marva ingin mengajar ipar tak tahu dirinya itu.
meski ia sadar jika ia pernah menempatkan Bila-nya pada situasi seperti Raina, berjuang melahirkan twins tanpa sosoknya tapi tetap saja Marva tak terima jika adiknya mendapat karmanya itu. oh lagi-lagi mungkinkah karmanya?
tapi Marva sudah lama mendapatkan karma itu, 2 bulan sejak kepergian Manda 5 tahun lalu sudah mulai ia rasakan, puncaknya beberapa bulan kemudian, jiwanya ikut terguncang hingga hilang kewarasan. dan sejak mengetahui keberadaan twins, Marva menemukan jawabannya, kelahiran twins berkaitan dengan rasa bersalah bercampur rasa rindunya yang tak lagi terbendung hingga menghancurkan jiwanya. ya, dari awal batin mereka sudah sangat kuat. twins seolah protes lahir tanpa dirinya hingga Marva mendapat penyakit g!la itu.
tapi melihat Jefry baik-baik saja disana membuat Marva terbakar luar biasa. bukan hanya mengenai kedekatan Manda dan Jefry tapi karna Raina tengah menderita disini. bagaimana mungkin Jefry masih bisa tersenyum bahagia menatap penuh kagum pada Manda sementara anak dan istrinya disini membutuhkannya?
"gue harus bertindak, memastikan semuanya dan mengakhiri apa yang pantas berakhir" gumam Marva dengan air muka kesakitan
_ _ _ _ _
"Afi, Fira, hati-hati baby" teriak Manda kala melihat kedua anaknya berlomba turun dari mobil. bukan tanpa sebab twins terlalu semangat turun dari mobil, disana, di teras rumah seorang lelaki yang 4 hari tak pulang berdiri menyambut kedatangan mereka
"baru datang?" tanya Manda saat sudah berada di dekat lelaki itu. bibirnya meringis kecil melihat penampilan suaminya yang cukup kusut
"ya, baru saja" balas lelaki itu mendongak menatap sang istri sambil tersenyum tipis. lelaki itu lalu beralih pada twins yang berada dalam pelukannya
"papa kangen banget sama kalian my baby twins" gumam Marva sambil mencium kepala twins bergantian
"masuk yuk" ajak Manda. lalu wanita itu beranjak membuka pintu, Marva ikut beranjak dari jongkoknya dan meraih tangan twins kemudian mereka beriringan mengikuti Manda memasuki rumah mereka.
"haruskah aku melepaskanmu? aku ingin kamu bahagia Bil, dan kamu tidak bahagia denganku. aku akan iklas, toh sejauh ini kamu masih berhubungan dengan Jefry. selain menyelamatkanmu dari hubungan ini, aku juga ingin menyelamatkan adik dan keponakanku. mengenai twins, mereka tetap menjadi prioritasku. aku janji akan selalu ada untuk twins, membuatnya tak kehilangan sosok papa atau mommynya dalam hidup mereka, walau kamu dan aku berpisah" monolog Marva dalam hati sambil menatap sendu punggung sang istri
Bersambung...
2-3 part lagi extra part ending!
__ADS_1
tim happy ending Marva-Bila?
tim happy ending Marva-Rain?