
Marva menatap nanar kedua batita kembar tak identik darah dagingnya yang baru di ketahuinya hari ini. Dadanya masih sesak akibat hantaman fakta itu. Tak lagi menahan laju air mataya, ia biarkan tumpah untuk melampiaskan penyesalannya yang mungkin tiada akhir.
ya, lelaki dewasa itu menangis. jika selama ini ia bisa menahan tangisnya kala rasa rindu pada sang istri menderanya namun kali ini tidak. ia tidak bisa dan tak mampu menahannya lagi. rasa sesak di dadanya tak ada lagi obatnya
Harus bagaimana ia kedepannya menjalani hidup dengan fakta menyakitkan ini? Masih bisakah ia bernapas lancar setelahnya? Setelah sadar jika bukan hanya wanita yang dicintainya ia buat menderita tapi juga 2 sosok malaikat kecil yang harus terlahir tanpa sosoknya yang notabenenya adalah anak kandungnya.
"Brengsek kau Marva" desisnya memukul dadanya
Kedua anak Bila yang sangat dibencinya nyatanya adalah darah dagingnya. Sikembar cilik yang mahir bahasa ingris itu adalah keturunannya. 2 batita tampan dan cantik berusia tiga tahun itu tercipta dari benihnya. Kenapa ia bisa sebuta dan sebodoh itu?
Arghh!!
Menghidupi anak orang dan menelantarkan anak sendiri? Sungguh kejam nan brengsek! namun itulah yang tengah Marva lakukan selama 4 tahun ini.
"maafkan papa nak" lirihnya dengan nada pilu
Sakit pernah kehilangan cintanya nyatanya jauh lebih sakit saat mengetahui jika ia sudah menjadi seorang ayah dari 2 anak yang telah dilahirkan oleh seorang wanita yang pernah sangat dibencinya kala menjadi istri namun kini dicintainya dengan segenap jiwa setelah menjadi mantan
Sakitnya makin bertambah saat Marva memeluk kedua tubuh kecil twins tapi mereka memberontak karna kedua anak itu beralasan tidak ingin Vino memarahi mereka karna berdekatan dengan papa kakak tingkatnya itu.
Miris. Hidup Marva memag miris sejak 4 tahun lalu setelah sang istri kabur darinya. Dan sekarang dua anak kandungnya menjaga jarak dengannya demi menjaga perasaan anak angkatnya. Marva rasanya ingin di tembak mati saat ini juga.
Lelaki itu masih disana, duduk bersimpuh di tanah, fokusnya ajek memerhatikan 2 darah dagingnya dengan mata kian buram akibat laju air mata yang tak berhenti, hingga waktu kelas autdor usai
"belajar yang rajin anak-anak papa. Maafkan papa yang pecundang ini" monolog Marva tersenyum mengejek dirinya sendiri
Taman yang tadinya ramai akan anak-anak kini hening, berganti suara bising berasal dari beberapa ruang kelas berjejeran yang pintunya tertutup rapat. Namun bayangan keaktifan Zafier dan Zaafira bermain masih berputar-putar di otak Marva
"makasih sudah terlahir nak. makasih sudah sudi melahirkan mereka Bil. Mereka bisa tumbuh sehat dan pintar berkat kehebatanmu" monolog Marva sendu
Teringat akan Bila, Marva mendapakan tenaganya. Ya, ia harus menemui wanita itu. Meminta penjelasan atas semua ini sekaligus memohon ampun pada ibu anak-anaknya itu. Marva mulai beranjak, dan ia langkahkan tungkainya yang terasa berat menuju mobilnya. setiap langkahnya kini dibayangi akan dosanya.
Walau lunglai ia tetap mengayun kakinya, hingga kadang ia sempoyongan layaknya orang mabuk.
__ADS_1
Marva memang mabuk. Mabuk karma. Hahaha.. Ketawa jahat yuk readers
Brugh
Tubuh Marva ambruk. Hanya sebuah tubrukan bahu seseorang membuatnya hilang keseimbangan dan harus tersungkur ke tanah
"****!" umpat seseorang yang baru saja bertubrukan dengan Marva. Ia menyentuh bahunya sembari menoleh ke arah Marva, lelaki berparawakan menyeramkan itu tersenyum mengejek melihat lelaki dewasa berakhir ditanah hanya dengan menyenggol bahunya. Lemah! Olok orang itu dan tersenyum bangga akan kemampuannya yang mampu melumpuhkan seseorang hanya dengan bahunya walau tak sengaja
"banc.." umpatan lelaki seram itu tertelan kala menelisik wajah Marva
"bos?" panggil Black memastikan
Marva sontak mendongak, ingatannya akan suara itu seperti tak asing, dan yah, alisnya terangkat sebelah melihat seseorang yang pernah beberapa kali membantunya di masalalu ada di hadapannya saat ini
"astaga, bos Marva" pekik Black kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Marva berdiri. Black juga memungut kacamata serta topi
milik Marva yang terjatuh di tanah dan menyerahkannya pada mantan bosnya itu
"apa kabar bos? Lama tak berjumpa" tanya Black. Memang terakhir mereka bertemu 4 tahun lalu sebelum Black dipenjara
"apa ada yang ingin bos singkirkan? Atau buat menderita mungkin? Saya siap membantu asalakan ada ini" ujar Black mengisiratkan bayaran melalui gerakan tangannya
"tapi untuk bos kali ini tak masalah. Saya kasih penawaran bayar sesuka bos aja, atau mungkin jika bos tak memiliki uang bos tak perlu bayar" melihat penampilan Marva yang terlihat seperti pengangguran membuat Black menerka jika Marva tak lagi sekaya dulu. "saya siap membantu cuma-cuma mengingat misi terakhir saya gagal untuk memperkosa istri bos 4 tahun lalu" lanjut Black yang berhasil membuat Marva membelalakan mata
Duarr, deg deg deg
Apalagi ini?
Fakta ini?
Oh tuhan. Cabut saja jiwa dari raganya saat ini juga. Marva siap bertemu kegelapan, karna hidup-pun dia tak akan menemukan lagi cahaya, hidupnya terlalu gelap karna perbuatannya sendiri
"apa wanita itu ada hubungannya dengan keadaan bos hari ini? Bos Mau saya menyingkirkan wanita itu lagi?" tanya Black namun Marva tetap dengan kebungkamannya dan tatapan kosongnya. dadanya bergumuruh hebat akan fakta itu. ia tak beradaya hanya sekedar untuk berucap
__ADS_1
"oh ****!" umpat Black melihat 3 orang berpakain serba hitam tengah sibuk mencari, dan yang dicari mereka adalah dirinya
"bos saya pergi dulu, jika bos menginginkan jasa saya, lain kali. Jika berjodoh kita akan ketemu lagi" setelah berucap Black langsung berlari menghindari para intel yang berjalan menuju ke arah Marva
"permisi pak, apakah anda melihat orang ini" ucap salah satu diantara pria berjaket kulit warna hitam dengan menunjukan sebuah foto di hadapan Marva
Sedetik dua detik hingga detik ke sepuluh Marva masih membisu, membuat para intel saling bertatapan
"sepertinya orang tak waras" bisik salah satu diantara mereka yang diangguki lainnya
Marva tak tuli, namun ia hanya bisa tersenyum pedih dalam hati mendengar cemoohan para lelaki di depannya. Mau marah? Tidak, karna ia sadar diri jika saat ini bahkan 4 tahun lalu dirinya sudah tidak waras. Ia pria gila yang rela menyuruh pria lain menyentuh istrinya. Ia pria sakit jiwa yang dengan bangga menyentuh wanita lain dihadapan istrinya sendiri. Ya, ia memang pria kurang waras.
Mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah perginya Black, setelahnya Marva beranjak memasuki mobilnya dan menacap gas pergi dari sana. sementara ketiga intel itu kembali bersitatap sebelum mengikuti arah tunjuk Marva.
Ck, yang kurang waras sebenarnya siapa coba? Si Intel yang mengatai Marva kurang waras namun mengikuti juga petunjuk dari pria yang mereka katai kurang waras. Ah tau deh.
Marva mengemudikan mobilnya tak tentu arah karna pikirannya kalut. Terungkapnya fakta dari Black yang sempat dilupakannya karna teredam emosi kala dimana ia sekarat di rumah sakit, Bila tak pernah mengunjunginya, amarah dan bencinya semakin membutakannya setelah pulang dari rumah sakit ia malah mendapati surat cerai yang telah ditanda-tangani oleh Bila. Awalnya ia kegirangan karna sudah terbebas dari pernikahan perjodohan itu, namun perlahan rasa leganya berubah menjadi rasa gelisa karna terus dihantui akan sosok Bila yang menangis meminta ampun karna perlakuan buruknya. Kini ia mengingat dan menyadari kesalahn fatalnya itu sebelum kecelakaan terjadi
Ia menyuruh seorang brandalan untuk memperkosa istrinya, yang mungkin kala itu janin kembarnya berusaha untuk meraih kehidupan di rahim Bila setelah ia memperkosa istrinya itu semalaman tanpa pengaman. Bahkan mungkin benihnya sudah tumbuh mengingat perkataan Radit yang mengatakan ia pernah memperkosa Bila saat tengah mabuk dan mengambil paksa mahkota istrinya? Entahlah yang mana dua diantara kejadian pemerkosaan yang ia lakukan pada Bila hingga bisa menciptakan 2 kehidupan baru. Marva senang akan kehadiran darah dagingnya itu tapi ia juga hancur sekaligus mengingat bagaimana bejatnya ia saat proses penciptaan itu terjadi.
Jadi salah siapa Bila pergi? Mana ada seorang wanita rela bertahan disisi pria jahannam sepertinya?
"Argh!!" Marva memukul keras stir sehingga stir bergerak membuat mobil oleng kekanan dan...
Brukkk
Bagai dejavu, Marva harus berakhir berdarah dijalanan dengan mobil terpelanting jauh karna sebuah tubrukan mobil lainnya.
"Bila, Zafier, Zaafira maafkan aku, maafkan papa nak" gumamnya sebelum kesadaran meninggalkan raganya
Bersambunggg....
#####
__ADS_1
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia halu