Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
tak menyerah


__ADS_3

iklas bukan berarti lupa. ikhlas itu berarti menerima kenyataan. belajar menerima ketentuan Allah yang sudah pasti baik untuk seorang hamba. jelas melupakan dan mengikhlaskan itu berbeda. sebab sebuah kenangan, entah kenangan buruk maupun kenangan baik akan selalu menjadi memori abadi dalam diri manusia, entah sebuah rasa cinta atau rasa sakit sekali pun.


dan yang pernah mengalami trauma seperti dirinya, pasti membentengi diri dan hatinya agar tak lagi mengalami hal yang sama, mencintai dengan tulus yang malah dibalas dengan perlakuan menyakitkan.


lalu bagaimana ia menanggapi ajakan lelaki yang pernah menorehkan luka untuk memulai lagi?


ia tahu, lelaki itu berubah, tahu jika lelaki itu menyesal bahkan tahu jika lelaki itu juga sama menderitanya seperti dirinya, mereka sama-sama terluka, baik di masalalu maupun masa sekarang. sama-sama pernah depresi karna kehilangan dan perpisahan mereka. sama-sama pernah memiliki cinta satu sama lainnya meski cinta lelaki itu datang terlambat akibat terlalu setia akan janji yang terlanjur terucap pada seorang wanita yang dulu berstatus sebagai pacar suaminya sebelum dirinya hadir dalam kehidupan lelaki itu.


pernah memiliki cinta? ya, karna cinta yang Manda punya untuk mantan suaminya sudah tak lagi tersisa. berbeda dengan Marva yang baru mengagung-angungkan cintanya saat ini.


tapi kilas balik akan komitmen seorang Marva, seorang lelaki yang akan melakukan segala cara untuk tak mengingkari janjinya pada wanita yang dicintainya. bukankah itu bisa Manda jadikan pegangan untuk mempercayakan kembali hatinya pada lelaki itu? Marva mencintainya.


harusnya setelah melihat kesungguhan perjuangan lelaki itu, hati Manda tak lagi meragu, akan tetapi, lagi-lagi kenangan 4 tahun lalu sungguh sukar untuk berdamai dengan jiwanya yang terlanjur luka. kekhilafan Marva di masalalu telah menghancurkan semua kepercayaannya walau bagaimana Marva terlihat berubah sekarang ini. ia hanya wanita biasa yang terlalu takut akan kisah yang kembali terulang.


salahkah dirinya yang sulit untuk melupakan semua kenangan? atau haruskah ia mengabaikan ketakutannya dan memulai lagi seperti apa yang mantan suaminya tawarkan?


apakah jika menerima kembali lelaki ini untuk menjadi pemimpin hidupnya akan baik-baik saja? siapkah ia menjalani sebuah ikatan lagi tanpa cinta?


tlingk


Manda tersentak dari lamunan akan suara pesan masuk di ponsel yang tengah ia pegang


Mr Marva


bagaimana?

__ADS_1


satu kata yang identik dengan kata tanya menuntut Manda dapatkan dari lelaki yang baru saja ia pikirkan. tanpa basa-basi, tanpa tanya kabar dan kegiatannya. dasar lelaki datar. rutuk Manda dalam hati


baru saja Manda ingin mengetik balasan namun ia urungkan kala melihat typing di bawah nama Mr Marva


Mr Marva


"jangan dijawab sekarang kalau jawabanmu masih sama seperti kemarin-kemarin. aku akan menunggu sampai kamu sudah siap mengatakan bersedia rujuk"


menunggu katanya? sejak 5 hari yang lalu Marva pulang ke Indonesia, setiap malam Manda mendapatkan pertanyaan yang sama dari pria yang mengajaknya kembali membina rumah tangga dan memperbaiki hubungan mereka. dengan penuh kesungguhan dan kesadaran, Marva memintanya untuk menjadi istri dan memberikan keluarga utuh untuk twins


ya, terlepas bagaimana perasaannya, ini menyangkut tentang kedua buah hatinya. ia ingin memberikan yang terbaik untuk putra dan putrinya. twins adalah tujuan hidupnya. akan ia lakukan apapun demi twins, bukan? twins adalah cinta sesungguhnya.


tlingk


tlingk


Mr Marva


Mr Marva


"yaudahlah. aku kembali chat besok yah. selamat malam mommy-nya anak-anakku, selamat istirahat dan mimpi indah calon istriku"


calon istri?


refleks tangan Manda yang terbebas dari ponsel memegang pipinya, kenapa tiba-tiba terasa panas padahal ia tengah berada di balkon kamar dengan udara yang lumayan dingin. apa suhu tubuhnya bisa melawan dinginnya malam hanya karna dua kata itu? calon istri.

__ADS_1


_ _ _ _ _


sepasang mata dengan kelopak mata yang sudah menunjukan keriput itu menatap tajam seorang lelaki dewasa di hadapannya


"saya tidak punya waktu" tegas Narendra lalu melanjutkan langkahnya, meninggalkan mantan menantunya yang hanya mengangguk mengerti sambil tersenyum kecut akan responnya


"saya akan tunggu bapak disini sampai urusan bapak semua selesai" sahut Marva membuat langkah Narendra terhenti, lalu papa Bila itu membalikan tubuhnya, kembali menatap lelaki yang 3 hari ini selalu mendatangi kantornya hanya untuk berbicara padanya namun selalu Narendra abaikan


"apa kamu sekarang menjadi lelaki pengangguran?" tanya Narendra mengejek


"tidak. saya ini memiliki perusahaan saya sendiri" ucap Marva memberitahu. berhadapan dengan ayah dari wanita yang ingin ia nikahi memang harus menyebut apa yang ia punya agar sang calon mertua mempercayai anaknya tidak akan terlantar jika bersama dirinya, bukan?


Narendra mendengus remeh mendengar jawaban Marva, kaki lelaki paruh baya itu melangkah mendekat


"well, saya tidak yakin perusahanmu masih berprofit mengingat empat bulan ini pemiliknya buta" bisik Narendra mencondongkan kepalanya di dekat telinga Marva, lalu kepalanya kembali ia tegakan sebelum melanjutkan kalimatnya "dan melihat kehadiranmu yang sungguh sangat menganggu pemandangan saya beberapa hari ini membuktikan bahwa kamu hanya seorang pecundang. saya tebak, karna kamu sudah bisa melihat apa kamu kemari untuk mencari pekerjaan pada mantan ayah mertuamu ini?"


bukan raut tersinggung yang Marva ekspresikan, papa twins itu malah membalasnya dengan senyuman meski dalam hatinya ingin sekali membungkam mulut lelaki tua itu.


"yang pertama, perusahaan saya masih berprofit gede karna saya memiliki orang setia dibawah saya, dan yang kedua, mohon maaf jika kehadiran saya tiga hari ini menganggu bapak, tapi saya melakukan ini karna saya memiliki tujuan lainnya yang jauh lebih penting dari sebuah meminta pekerjaan yang bapak tebak" jawab Marva tenang "jadi apakah bapak memiliki waktu untuk berbincang dengan papa dari kedua cucumu ini?" lanjut Marva bertanya sambil memegang dadanya, gerakan tangan yang menandakan menunjuk dirinya sendiri.


Narendra menaikan sebelah alisnya, masih dengan tatapan tajam ia hunuskan untuk mantan suami putrinya itu. lalu tanpa berucap apapun lagi Narendra membalikan tubuhnya dan beranjak dari sana.


seulas seringai muncul kala Narendra menyadari Marva mengikuti langkahnya


"mari kita lihat sebesar apa perjuanganmu untuk mendapatkan kembali putriku yang berharga" batinnya

__ADS_1


Bersambunggg...


__ADS_2