
Mengalah, Marva hanya bisa menatap nanar mobil yang tengah membawa Manda juga twins yang disopiri oleh Jefry melaju meninggalkan pakarangan mansion Ivander.
Marva tersenyum miris mengejek diri sendiri, ia kalah oleh Jefry. nyatanya Manda dan twins lebih memilih pria itu tanpa memikirkan bagaimana hatinya dilanda kehancuran saat menyadari bahwa Jefry seolah lebih berhak atas mereka dari pada dirinya. siapalah dirinya jika dibandingkan lelaki itu yang telah menemani Manda disaat terpuruk sedang dia dengan tega membuang wanita itu, Jefry yang ada sejak Twins masih berproses tumbuh di rahim Manda hingga sekarang sedang dia hanya membuat dan tak tahu apa-apa mengenai twins, bahkan ia sempat memiliki niat jahat untuk merebut Manda dari twins sebelum mengetahui kebenaran akan twins yang ternyata adalah darah dagingnya hasil kebejatan-nya memerk*sa istrinya. jadi sangat wajar jika Jefry akan selalu unggul dibanding dirinya dimata Manda dan twins, bukan?
haruskah ia menyerah agar ketiga orang tercintanya bisa bahagia? karna bahagia mereka bukan bersamanya.
"gue berangkat juga yah, makasih undangan sarapannya" pamit Marva pada Mario "momma, mami, Marva pamit" lanjut Marva berpamitan pada 2 wanita tua beda generasi itu. meski ia berusaha terlihat baik-baik saja tapi jelas raut wajah Marva tak bisa berbohong, lelaki itu jelas terlihat sendu.
"semoga istri dan anakmu bisa segera kembali padamu nak, agar kamu bisa menyusul kebahagiaan Manda dan Jefry" ucap Aline menyemangati Marva.
Marva memberikan senyum tipis, mengaminkan dengan keras dalam hatinya kalimat pertama Aline namun pada kalimat terakhir ia mengutuk kalimat mengenai kebahagiaan Manda dan Jefri.
tidak. Marva tidak akan merestui hubungan mereka.
Setelah meninggalkan mansion Ivander, Marva langsung melajukan mobilnya menyusul mobil Jefry. ya, ia tak bisa menyerah begitu saja. perjuangannya belum seberapa. pikir Marva
roda berputar. ya, jika dulu ia melakukan segala cara untuk menyingkirkan Manda maka sekarang saatnya ia melakukan segala cara untuk membuat wanita itu kembali padanya. egois, ya ia akui itu, namun salah kah jika ia ingin memperjuangan bahagianya setelah terkubang dilubang penyesalan dan ketidakwarasan selama 4 tahun ini? ia pernah merasa asing akan makna bahagia tapi setelah mulai mengenal kembali kenapa ia harus dihempas pergi?
"dokter modus!" rutuknya saat mendapati mobil Jefry di jalan melaju lambat meski jalanan cukup lengang, lancar. pasti si jep-jep itu sengaja melaju pelan karna ingin lama-lama bersama Manda. jika bukan modus namanya apalagi. dasar dokter otak bucin. kesal Marva membatin
mendumel, merutuk terus menerus sang saingan berat, rasanya terlalu lama ia berada di jalan karna mengikuti mobil Jefry bak seorang intel mengawasi mobil tersangkanya.
"bisa lebih cepat, anak-anak saya akan telat dan saya memiliki pekerjaan yang menunggu" Marva berucap menye-menye mengulang ucapan Manda saat ia memelankan laju mobil kala mengantar Manda dan twins beberapa hari lalu. wanita itu selalu terburu-buru jika Marva yang mengantarnya. lebih tepatnya tak ingin berada lebih lama bersamanya sedang Marva sendiri sengaja mengambil kesempatan karna ingin memiliki banyak waktu bersama wanitanya dan juga kedua buah hatinya
"Dasar dokter pebinor. istri aku itu woi!" istri?lalu kenapa ia tak memiliki hak atas pilihan wanita itu? ah masa bodoh, anggap saja wanitanya itu sedang khilaf dan Marva telah memaafkannya. pikirnya mulai gila
__ADS_1
lebih gilanya lagi saat ia hanya bisa meninju udara di dalam mobil kala melihat Jefry menggandeng tangan Manda memasuki sekolah twins. beruntung sekali si jep itu, sedang dirinya sangat menyedihkan.
tak berselang lama, dua pasangan yang katanya akan menikah itu terlihat berjalan keluar dari gerbang playgrup
"kesandung-kesandung. ya tuhan tolong hadirkan batu di antara mereka" doa Marva dengan tatapannya tak lepas dari Manda dan Jefry
"sepertinya doa orang jahat tidak akan dijabah" monolog Marva sambil menghela napas berat melihat tak terjadi apa-apa dengan Jefri yang tinggal beberapa langkah lagi dari mobil
"gotcha" seru Marva tertawa sambil mengangkat tangannya pertanda harapannya terkabul, Jefri tiba-tiba kebelitan dengan kakinya sendiri saat berari ke arah pintu kemudi mobil setelah membukakan pintu untuk Manda
"rasain, sukanya sama punya orang sih" rutuk Marva
"anda nggak lihat kantor saya hanya beberapa langkah dari sini. buang-buang waktu harus naik mobil lagi" kembali Marva menye-menye mengulang penolakan Manda kala ia menawarkan untuk mengantar wanita itu sampai didepan lobi perusahaan yang memakan waktu 3 menit dari gerbang playgrup twins
"sama aku buang-buang waktu, giliran sama si Jep buang-buang waktu kalau nggak memanfaatkan waktu berduaan" lanjut Marva mendumel.
ya, harusnya memang begitu kan, dua orang itu memiliki pekerjaannya masing-masing. jadi harusnya mereka bertanggung jawab akan pekerjaan mereka. Marva akui jika memang pekerjaan tidak boleh terabaikan apalagi ada banyak orang yang mengantungkan hidupnya dengan mereka, sama sepertinya yang seorang Ceo, hanya saja untuk saat ini ia alihkan pekerjaannya untuk beberapa waktu kedepan pada sekertarisnya, Radit, karna ia tengah memperjuangkan hak anaknya yang kehilangan sosok ayah kandung sejak lahir, benar begitu bukan? ya, itu adalah tujuannya namun ia juga memiliki tujuan lain yang tak lain adalah ingin memperbaiki kesalahannya dimasalalu pada sang pujaan hati. ia ingin meminta kesempatan pada Manda untuk membuktikan kesungguhannya.
sungguh ia mencintai kedua buah hatinya beserta ibu dari kedua anaknya itu, jadi wajarkan jika ia berjuang mendapatkan mereka sementara ia tepikan pekerjaannya yang menaungi ratusan orang itu. tolong setuju saja sama pikirannya, ia butuh dukungan lebih saat ini.
\=\=\=\=\=\=\=
Manda berjalan memasuki lobi, wanita itu memberikan senyuman pada karyawan yang menyapanya disana. langkahnya dengan wibawa menuntunnya ke arah lift khusus para petinggi perusahaan. segera ia memasuki lift saat pintu kotak besi itu terbuka setelah ia menunggu beberapa detik tadi. dan betapa syoknya ia saat lift hendak tertutup seseorang yang dulu selalu menjadi dalang dari mimpi buruknya menyusul masuk.
hap
__ADS_1
Marva langsung mencegat tangan Manda saat Manda hendak memencet tombol terbuka, hingga lift bergerak ke atas
"mau apa anda, hah?" sentak Manda menyembunyikan ketakutannya, jelas tarauma akan lelaki ini masih membekas. apalagi mereka hanya berdua di dalam ruang sempit ini
"mengunjungi ibu dari anak-anakku" jawab Marva santai. ia memasukan kedua tangannya yang di hempas kasar oleh Manda ke saku celana, menyembunyikan salah satu anggota badannya yang paling sering melukai wanitanya itu. ah jika mengingat segala perbuatannya, Marva juga sangat malu muncul dihadapan Manda, hanya saja ia memilih menulikan telinga, mengabaikan ingatan, menebalkan muka, dan menguatkan tekad demi mendapat maaf dari wanita tercintanya.
"jaga kelakuan anda, Mr. saya ini calon istri orang" desis Manda memperingati
"kamu yang harusnya jaga sikap Bila. kamu itu istri aku, kenapa dengan teganya kamu malah menerima lamaran pria lain? mau bersuami dua kamu, heh?" cercah Marva tak mau kalah
Manda membulatkan matanya mendengar ucapan ngawur Marva
"pria gila" rutuk Manda tak habis pikir akan kegialaan Marva
"ya, Aku gila karna istriku meninggalkanku disaat aku tengah terbaring koma di rumah sakit sehabis kecelakaan" balas Marva mengeluarkan apa yang ia rasa dan memilih abai akan fakta yang sebenarnya alasan kepergian Bila
"kamu istri aku, masih istri aku dan akan selalu menjadi istri aku 4 tahun lalu maupun sekarang" ucap Marva membuat Manda semakin melongo
"jangan mimpi, tuan. bukan kah tuan sendiri yang memberikan surat cerai pada saya, dan sebelum pergi saya sudah menandatangani surat pemberian dari anda, surat pertama yang saya dapat dari anda beberapa jam setelah ijab kabul" Manda tersenyum miring saat melihat binar Marva meredup akan ucapannya. telak.
"saya menyesal. surat itu tidak pernah saya proses" tutur Marva
"maksud anda?"
"secara negara kamu masih berada dibawah nama aku" jelas Marva akan fakta yang membuat Manda syok. bukan hanya Manda tapi seseorang wanita tua yang berada di luar lift yang pintunya tengah terbuka lebar tapi Marva dan Manda tak menyadari sebab perang dingin tengah terjadi diantara mereka
__ADS_1
Bersambunggg...