
Kebahagiaan itu bukan hadiah yang turun dari langit. Tapi, sebuah perjuangan yang harus terus diperjuangkan sampai kita menggapainya, dan jika kebahagiaan sudah berada dalam genggaman jangan berpuas diri, tapi tetap berjuang untuk tak menyia-nyiakan karena bertahan, memperjuangkan, dan menunggu, adalah bukti seseorang yang serius dengan hubungannya, bersama orang yang dia cinta.
1 bulan. selama itu Marva menjadi kaki tangan seorang Narendra. menjabat sebagai asisten tak kasat mata pria paru baya itu sebagai bentuk pembuktiannya akan keseriusannya ingin memperjuangkan Bila-nya. meski ada beberapa hal yang membuatnya muak akan Narendra tapi Marva berusaha tenang demi mendapat restu dari mantan mertuanya agar merestuinya mempersunting kembali sang pujaan hati.
memang hal ini harus Marva lakukan, mengingat dulu ia mendapatkan Bila dalam hidupnya bagai mendapat durian runtuh.
benar kata papanya, Phelan beberapa hari lalu saat ia mengeluh lelah menghadapi tantangan Narendra. dulu kedua orang tuanya begitu baiknya memberinya seorang Bila, istri cantik, baik hati dan tulus namun malah ia sia-siakan. Marva tak mau berandai-andai karna semua sudah terjadi. yang perlu ia lakukan saat ini adalah bagaimana membuktikan kepada Narendra, kepada kedua orangtuanya juga Bila bahwa ia benar-benar menyesal akan kelakuannya di masalalu dan ingin memperbaiki, menebus semua dosanya serta memperjuangkan restu dari semua pihak agar ia bisa menikahi Bila kali ini dengan usahanya sendiri.
"bagaimana?" tanya Narendra yang tengah berdiri menyaksikan pemandangan sore hari di tanah Bali melalui dinding kaca ruangan kerjanya, lelaki itu bertanya pada seseorang di balik telpon
"hanya menatap jijik, tak tergoda sedikitpun" balas suara perempuan di sana
masih sama. beo Narendra dalam hati
bukannya kesal karna umpannya yang sudah puluhan kali ia lempar tak pernah berhasil dimakan oleh targetnya, lelaki baya itu malah tersenyum dan bernapas lega.
"oke terimakasih. saya akan mentransfer sisanya sekarang" lalu Narendra mematikan panggilan dan mentransfer sisa upah wanita bayaran yang ia sewa untuk menggoda Marva.
sejak satu bulan lalu, Narendra menantang Marva untuk membantunya menyelesaikan beberapa proyek yang tengah ia tangani di beberapa kota dalam negeri, menjadikan asisten pribadi tanpa kontrak kerja. toh ia hanya ingin mengerjai mantan menantunya saja. menyuruhnya kapan saja sesuka hati. namun masih dalam tahapan manusiawi, mengingat kesehatan Marva yang butuh banyak istirahat karna baru saja pulih dari operasi yang sempat membuatnya koma selama satu minggu.
dan saat mengirim Marva untuk mengurus proyek di luar kota, Narendra mengetes kesungguhan dan kesetiaan Marva pada putrinya dengan menyewa wanita bayaran untuk menggoda Marva namun tak satupun Marva pernah tergoda. dari belasan wanita yang Narendra bayar tak satupun membuat mantan menantunya itu tertarik, bahkan putri seorang bupati-pun yang seorang model tak Marva hiraukan.
_ _ _ _ _
Narendra beranjak menuju pintu rumahnya saat suara bel mengintrupsi kegiatannya yang tengah menatap poto putri dan kedua cucunya tengah tersenyum lebar di ponselnya
"masuk" ucapnya datar pada lelaki dewasa yang terlihat pucat dan berpenampilan cukup kusut
__ADS_1
"duduk" titahnya saat sudah berada di ruang makan. Marva langsung mengindahkan ucapan Narendra sebab ia memang lapar
"bapak baru makan juga?" tanya Marva menyadari jika jam sudah menunjukan pukul 9 malam dan Narendra baru juga akan makan malam. atau pria tua itu menunggunya?
"saya sibuk mengerjakan beberapa dokumen penting" dusta Narendra
Marva mengangguk mengerti, lalu kedua lelaki beda usia itu dengan lahap menikmati makanannya
"bersihkan dirimu dan temui saya di ruang kerja" ucap Narendra setelah mereka selesai menyantap makan malam
_ _ _ _ _
menggunakan celana pendek dan kaos putih polos, Marva terlihat segar berjalan menuju ruang kerja pemilik rumah yang ia tinggali satu bulan terakhir ini.
setelah mengetuk pintu dan mendapatkan sahutan dari Narendra, Marva membuka pintu lalu berjalan dan menyerahkan berkas laporan proyek yang 2 hari ini ia tangani di Jakarta.
"pergilah" ucap Narendra tanpa membuka laporan itu
"baik, saya permisi" ucap Marva tanpa ekspresi sama seperti Narendra
"pulang ke Jakarta. urus perusahanmu sendiri. jangan sampai putri dan kedua cucu saya mendapatkan uang bulanan yang pas-pasan" baru saja Marva ingin beranjak membalikan tubuhnya namun ucapan Narendra membuatnya mematung. ia mengerjab, otaknya mencoba mencerna kalimat pengusiran penuh makna dari lelaki baya di hadapannya
"terimakasih telah mencintai putri saya, saya percayakan mereka padamu. bahagiakan mereka" lanjut Narendra yang kini sudah berdiri dari duduknya dengan ekspresi tulus. melihat perjuangan Marva yang rela melakukan apapun demi mendapatkan restunya membuat Narendra tak memiliki celah untuk tak memberi mantan menantunya itu kesempatan kedua.
"ba..bapak serius?" tanya Marva terbata. sudah saatnya kah?
"hm. saya berucap dengan sadar. jadi pergilah, raih kembali cinta dari putriku. jaga mereka dan bahagiakan mereka. berilah keluarga utuh untuk kedua cucuku"
__ADS_1
"pasti. terimakasih banyak atas restu dan dukungan bapak" ucap Marva tulus dengan mata yang sudah berkaca-kaca. sungguh ia sangat bahagia.
"kalau begitu saya beres-beres dulu" ucap Marva lalu beranjak pergi
"perginya besok pagi. ini sudah malam, Jakarta Bali bukan perjalan dekat. kamu butuh istirahat" sahut Narendra berhasil mengehentikan langkah Marva
lelaki baya itu diam-diam tersenyum melihat antusias mantan menantunya eh salah, maksudnya calon menantunya
"oh ya, aku ada pertanyaan" ucap Narendra membuat Marva kembali membalikan badannya lalu mendekat
"Arvino, dia anak kamu?" tanya Narendra membuat Marva menelan ludah
"dia anak yang saya angkat 4 tahun lalu" jawab Marva memberitahu
Narendra mengangguk kecil, lalu berucap "dia anak dari mantan pacarmu bukan?" tanya Narendra membuat Marva tak bisa berkutik
"jika saya minta kamu menyingkirkan semua hal yang berkaitan dengan masalalu mu, termasuk anak itu, apakah kamu akan menurutinya?" tanya Narendra lagi
"saya tidak mau anak dan kedua cucuku terganggu akan kehadiran orang lain dalam rumah mereka" lanjut Narendra memberi Marva pengertian akan maksudnya
"Arvino sudah saya serahkan pada keluarga dari pihak ayah kandungnya" jawab Marva membuat Narendra lega
2 hari lalu, saat ia menjalankan proyek di Jakarta, sang mama, Reni mengabari jika sudah menemukan dan berbicara dengan keluarga ayah kandung dari Vino. meski berat Marva akhirnya mengembalikan Arvino pada keluarga anak angkatnya itu, toh ia memikirkan perasaan ayah dari Vino. Marva memosisikan dirinya dan twins.
twins adalah anugrah terindah untuknya. pasti begitu juga dengan ayah kandung Arvino bukan?
apalagi mantan pacar Maya yang bernama Adji itu tak memiliki anak dari pernikahan setelah istri Adji keguguran beberapa tahun lalu.
__ADS_1
semoga saja Adji beserta istrinya bisa menyayangi Arvino sama seperti dia menyayangi anak itu. walau sebenarnya Marva tak terlalu yakin sebab waktu ia menyerahkan Vino, Adji dan Istrinya tak ikut hadir.
Bersambunggg..