
ada banyak sekali makna kehadiran ayah di dunia ini. sebagai seorang pria yang mempunyai andil besar dalam kehidupan anak-anaknya, seorang ayah pasti selalu mendapat tempat tersendiri dihati sang anak.
ayah adalah superhero,
ayah adalah guru terbaik,
ayah adalah segala-galanya.
dan semua itu adalah arti seorang Marva di hati Arvino.
kehilangan sosok ibu sejak ia lahir, Vino tumbuh hanya ditemani oleh sang ayah. segala sesuatunya ia dapatkan dari sang ayah. Marva adalah orang tua terbaik yang Vino punya. terlepas dari fakta yang tidak ia tahu akan hubungan mereka, yang Vino tahu, Marva adalah papanya.
"kamu datang sama siapa?" tanya Marva sambil membalas memeluk putra angkatnya yang tengah menangis.
"hiks hiks... sendili, hiks" terlalu rindu membuat Vino sesegukan di pelukan sang ayah
Marva mengurai pelukannya, lalu memegang kedua pundak kecil Vino, ekspresi wajah itu terlihat terkejut "bagaimana bisa orang rumah membiarkan kamu tanpa pengawasan!" suara lelaki itu sidikit meninggi, bukan marah pada Vino tapi pada orang-orang yang tak becus menjaga Vino hingga anak usia 4 tahun bisa sampai di rumah sakit seorang diri, dengan jarak dari rumah puluhan kilo.
entah lupa atau memang Marva menganggap semua wajar. saat ini, ia fokus menenangkan Vino, tanpa menyadari di sebuah sofa panjang, baik Manda maupun twins menatap lekat interaksinya dan putra angkatnya.
twins yang tadinya asik bermain bersama Marva sambil menunggu Manda harus menyingkir setelah kedatangan Vino, karna merasa kasihan akan tangisan anak angkat papanya itu twins berbesar hati untuk memberi ruang untuk Vino, lalu kedua anak kembar itu beranjak dan menyusul sang mommy duduk di sofa sambil menonton interaksi sang papa dan Vino
"tak ada yang peduli sama Ino, nenek kakek dan semua olang sibuk ngulusin pelnikahan tante Lain, jadinya Ino kabul aja kesini kalna lindu banget sama papa" ucap Vino sambil menunduk, takut jika kenekatannya membuat sang papa marah
"apa? pernikahan siapa?" tanya Marva memastikan
"tante Laina"
"Raina nikah?" pertanyaan itu sontak membuat Marva menolehkan kepala ke arah sumber suara meski dengan tatapan kosong
"aku juga nggak tahu" balas Marva, lalu kembali melayangkan tanya pada si pemberi kabar "tante Raina nikah sama siapa, Vino?"
"mmmm" Vino tampak berpikir "nggak tahu papa, tapi om itu kalau bicala sepelti Fiya dan Api, libet, Ino ndak ngelti" lanjut Vino teringat bahasa calon suami Raina yang menggunakan bahasa asing. dan kadang dicampur bahasa Indonesia dengan aksen yang tentu belepotan.
"Jefry" tebak Marva dan Manda bersamaan dengan nada lirih masing-masing
"oh iya, Ino ingat. om itu pelnah ngantal dan jemput Fiya dan Api di sekolah. om itu daddy mereka" sahut Vino sambil melirik sinis ke arah twins. mereka punya ayah dan ibu lalu kenapa masih mau merebut ayah Marva? dasar anak-anak nakal. pikir Vino
"kamu yakin nggak tahu kabar ini?" tanya Marva yang ditujukan untuk Manda
"nggak. terakhir kami berbicara itu seminggu lalu" jawaban Manda membuat Marva mengangguk kecil lalu lelaki itu meraba tempat dimana ponselnya biasa berada. Zafier yang gercap segera berlari ke arah sang papa dan memberikan ponselnya
"papa cari ponsel?" tanya Zafier sambil menyerahkan benda kecil nan canggih itu di tangan Marva, mengabaikan tatapan tak suka dari Vino
__ADS_1
"makasih sayang" ucap Marva setelah menerima ponsel dari Zafier. lalu lelaki itu langsung menyalakan benda canggih itu, membuka kontak yang sudah ia hapal diluar kepala dan menekan tombol 1, memanggil orang kepercayaannya sekaligus orang yang selalu ada untuknya selama ini
Raditya
Calling
"ke ruangan gue, sekarang!" titahnya, lalu ia mematikan panggilan secara sepihak tanpa mau tahu balasan dari sang asisten.
Marva menarik napas panjang, napasnya tiba-tiba terasa berat. bagaimana bisa orang-orang menyembunyikan kabar pernikahan Raina darinya? sang adik satu-satunya akan dilepas dengan lelaki lain tanpa melibatkan dirinya? apa dirinya sungguh menyedihkan hingga tak mau dilibatkan?
berbeda dengan Marva yang menahan kecewa sekaligus emosi pada keluarganya, Manda malah menghela napas kesal karna melihat ekspresi kedua buah hatinya yang saling lempar tatapan sengit dengan anak lelaki yang bergelayut manja di lengan mantan suaminya
"aku bawa twins pulang dulu" sahut Manda membuat Marva menelengkan kepala ke arahnya
"kamu baik-baik saja?" tanya Marva
"ya" balas Manda datar
"maaf" Manda menghela napas mendengar lirihan Marva
"jangan padaku tapi sama.."
"kamu pasti bersedih dengan kabar ini, tapi jujur akupun sangat terkejut. maaf kalau kabar pernikahan Raina membuatmu bersedih" ucap Marva memotong ucapan Manda. lelaki itu berucap penuh penyesalan. lagi-lagi merasa bersalah karna Manda harus bersedih akan kabar pernikahan Jefry dan sang adik
hah?
"twins ayok pulang sayang, nanti kita jenguk papa lagi" ajak Manda dengan ekspresi menahan kesal
Manda meraih tangan twins setelah berpamitan pada Marva
"kamu akan ngantar twins kesini lagi?" tanya Marva memastikan ucapan Manda
"iya, tapi ajari dulu putramu untuk menerima kedua buah hatiku" sindir Manda membuat Marva tersadar akan sesuatu. setelah berucap Manda pergi membawa twins tanpa peduli wajah Marva yang pias.
Manda tak masalah dengan kehadiran anak dari mantan pacar mantan suaminya itu, hanya saja jika menganggu kenyamanan twins Manda tak akan berkompromi. kenyataan bahwa Manda membuka kesempatan untuk seorang pria yang telah membekaskan luka di relungnya semata-mata semua demi kebahagiaan dua buah hatinya. tapi kehadiran Vino yang terlihat ingin menguasai Marva dan membuat twins merasa disisihkan membuat Manda kesal pada mantan suaminya itu.
_ _ _ _ _
klik
bola mata tak berfungsi itu hanya bergerak saat mendengar suara pintu terbuka dan tertutup. ekspresinya datar tanpa berniat berbasa basi menyambut siapa yang memasuki ruangannya.
namun saat indra penciumannya menangkap sesuatu, ia bereaksi. ia mengendus ke arah datanganya si pengunjung
__ADS_1
"twins, Bila?" panggil Marva semangat sambil beranjak bangun. ekspresi wajahnya langsung berseri mencium aroma pemilik 3 orang tercintanya yang sejak tadi ditungguinya namun tak kunjung datang
"papa sendili?" tanya Zafier saat mendapati ruang perawatan ayahnya tak di jaga siapapun
"hu'um karna kalian datangnya lama jadinya papa tak ada yang menemani" tutur Marva menampilkan ekspresi sedihnya. "papa butuh pelukan nih" lanjut Marva merentangkan tangannya
cup
cup
Marva memeluk hangat kedua anaknya dan mendaratkan beberapa kecupan di kepala masing-masing. tadi, ia sempat berfikir bahwa ia ditinggal lagi oleh twins juga Manda karna ketidakpekaannya. setiap pintu terbuka, ia selalu bersemangat memanggil Bila dan twins namun selalu saja salah alamat. jika bukan dokter pasti suster yang mengantar vitamin. hingga sampai malam menyambut ketiga orang yang ditunggunya tak kunjung datang membuat Marva berhenti berharap. ia terus merenung, merasa bersalah sekaligus ketakutan jika Bila kecewa akan kehadiran Vino dan membawa pergi kedua buah hatinya kembali ke Amerika.
sumpah demi apapun Marva rela meninggalkan semuanya demi twins. bagaimanapun Marva menyayangi Arvino yang telah ia rawat sejak lahir tapi Marva tak akan bisa hidup jika harus kehilangan twins lagi dalam hidupnya.
"papa udah makan?" tanya Zaafira menghapus air mata sang papa yang tau-tau sudah menetes, Marva menggeleng menjawab pertanyaan sang putri "papa nangis karna lapar ya. xixixi" simpul Zaafira terkikik
"kamu belum makan? bagaimana bisa jam segi.."
"makanan rumah sakit tak sesuai sama lidahku, hanya sesuap eh tiga suap deh" tutur Marva memotong ucapan Manda
"ck, mau sesuap, dua suap, yang penting kalau lewat tenggorokan ya udah makan itu" dumel Manda
"kamu bawa makan malam kan?"
"iya, twins maunya makan malam bareng kamu. tapi karna lagi-lagi macet makanya telat sampai" jawab Manda lalu beranjak menuju meja sofa untuk menata masakannya di sana.
"kenapa baru datang?" tanya Marva setelah duduk di sofa yang tadinya dituntun oleh twins
"kan tadi aku udah bilang macet" jawab Manda sekenanya
"maksud aku, kenapa malam? aku nunggu kalian dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam disini, seorang diri"
"kan ada Vino, juga tadi pagi kamu manggil Radit bukan? jadi aku pikir lebih baik malam datangnya"
"kamu tidak suka kehadiran Vino?" tanya Marva pelan
"bukan..."
"aku manggil Radit untuk bawa Vino sekaligus mencari tahu kabar pernikahan Raina" potong Marva cepat. hatinya sedikit gelisah untuk mendengar penolakan Manda terhadap Vino. biar bagaimanapun Vino tetap anaknya, dan Marva menyayangi anak itu walau hanya anak angkat. tapi sekali lagi jika Manda dan twins tak ridho maka Marva akan melakukan apapun asalkan ketiga orang tercintanya bisa bahagia dan nyaman bersamanya.
"Nabila Amanda, ayok menikah"
Bersambungg...
__ADS_1
follow ig @penulishalu_
jan lupa like, komen, folow, dan vote