Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
selamat pagi luka


__ADS_3

"lo yakin dengan keputusan lo itu?" tanya Radit yang kesekian kalinya. netranya menatap sendu sang sahabat


"ya... hanya untuk sesaat" ragu, Marva menjawab


"sampai kapan?" Radit sungguh frustasi mengahadapi Marva


Radit mendesah kasar melihat respon Marva yang hanya mengendikan bahu acuh.


"kita bisa cari pendonor, Marva" lirih Radit


"kamu nggak tuli bukan? penjelasan dokter Aris jelas kamu dengar tadi" balas Marva emosi. kesal juga mendengar ocehan Radit melebihi sang ibu yang hanya bisa menangis


"sulit bukan berarti tidak bisa Marva! masih ada harapan, kamu hanya perlu bersabar. aku bahkan udah dapat donor mata untuk mu" balas Radit tak kalah emosi. berusaha memahamkan agar sahabat bodohnya itu mau bersabar menjalani pengobatan bukannya malah kabur seperti ini.


ya, nyatanya kebutaannya memang lumayan parah bahkan hampir mendekati permanen. ada beberapa syaraf yang sudah hancur dan itu tidak bisa lagi mendapatkan pertolongan. dokter perkirakan kesembuhannya hanya 3 persen dari 100 persen.


"aku lelah berharap, Dit" ucap Marva melemah, setelahnya lelaki itu menghela napas panjang. ia sudah kebal dengan pengharapan. 4 tahun berharap akan kedatangan Bila untuknya tapi nyantanya wanita itu sudah tak sudi.


"jadi kamu pasrah begitu saja?"


"ya" jawab Marva tanpa pikir panjang "lagian untuk apa aku berjuang sembuh kalau dunia aku udah nggak di genggaman aku lagi" lanjutnya tersenyum miris


"itu karna kamu yang melepasnya, bodoh!" Radit lagi-lagi bersuara tinggi. berhadapan dengan Marva nyatanya selalu membuatnya berada di dua emosi sekaligus, sedih dan kesal.


"karna aku tahu bahagianya bukan dengan ku" balas Marva santai tapi jelas hatinya terasa tercubit


"pikirin lagi deh. kamu ikhlas twins tumbuh tanpa mengenalmu?" Radit tak akan lelah untuk menghasut agar Marva tak gegabah mengambil keputusan. jika dulu Radit hanya sesekali memperingati Marva akan kelakuannya maka kali ini Radit tidak akan tenang sebelum Marva membatalkan rencananya


Marva tergelak tapi matanya menumpahkan lahar ketika mendengar pertanyaan Radit


"aku bahkan tidak pernah ada saat mereka masih berbentuk sebuah janin, kelahiran mereka tidak ku ketahui hingga mereka berumur 3 tahun, momen dimana mereka sangat membutuhkan sosok diriku tapi aku malah tidak ada disisi mereka. jadi tanpa diriku, dulu maupun sekarang twins pasti akan baik-baik saja" tutur Marva miris


"ini karmaku Dit, dulu aku sengaja membutakan mata hatiku, sekarang takdir menghukumku dengan membutakan penglihatanku. jadi biarlah aku menikmati ini semua" lanjut Marva memasrahkan diri pada takdir sang perancang alur.

__ADS_1


mendengar penuturan Marva, Radit jadi kehilangan kata-kata.


"bersabar lah dan tetap kuat, akan ada bahagia yang menantimu dikemudian hari" Radit berucap sambil menepuk-nepuk punggung Marva memberi semangat


"bahagiaku ada pada twins juga pada mommy mereka. tapi aku tak akan menantikan kebahagian itu karna aku sadar, aku bukan bahagia mereka" tegas Marva. ia hanya ingin Radit tahu bahwa ia telah menerima takdir buruknya akibat kelakuan bejatnya di masalalu


Radit bungkam, dipandanginya sekali lagi sebuah vila yang cukup sederhana itu, vila yang akan menjadi saksi bisu bagaimana Marva akan menghabiskan waktunya entah berapa lama di tempat asing nan sunyi tapi cukup sejuk ini, seorang diri dalam keadaan buta. mata Radit berkaca-kaca, hatinya sesak menyaksikan jalan takdir sahabatnya. ia akui, dulu beberapa kali merutuki sikap bodoh Marva, bahkan sering kali mengumpati kelakuan sahabatnya itu, tapi sungguh, Radit tak rela jika Marva malah berakhir menyedihkan seperti ini. sendirian dan hanya kegelapan yang menemani. ya, lelaki keras kepala itu keukeh ingin tinggal seorang diri di tempat yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota. atau bisa Radit simpulkan bahwa Marva tengah menghukum dirinya sendiri.


"bilang sama mama, jangan sering-sering mengunjungiku, aku udah dewasa" sahut Marva teringat akan sang mama yang tak mau mengantarnya karna alasan tak merestui keputusan Marva


Radit menoleh ke arah jalan, ia sedikit menundukan kepalanya saat matanya langsung bersirobok dengan mata basah milik istri tuan Phelan itu.


"aku memang tak bisa melihat, tapi aku masih memiliki naluri merasakan kehadiran wanita pemilik surgaku itu" gumam Marva membuat Radit menoleh


"nyonya Reni hanya tak setuju akan keputusanmu ini, Va"


"aku tahu, aku sudah mengecewakannya beberapa kali" setelah berucap Marva menghela napas. berat rasanya kembali membuat sang mama kecewa akan tindakannya namun Marva hanya ingin menyendiri untuk saat ini. ia butuh ketenangan untuk menata kembali kepingan hati dan jiwanya.


"oh ya, besok adalah hari pernikahan Manda dan dokter Jefry, tolong kirim kado pernikahan untuk mereka" titah Marva datar


dengan mengandalkan ingatannya akan setiap sudut dan tata letak barang-barang vila yang memang setahun sekali ia kunjungi ini, Marva tak terlalu kesulitan. disini ia ditemani dengan sepasang penjaga vila, hanya saja penjaga tinggal di bangunan samping vila utama. bik sri akan datang di vila utama jika akan membuat makanan dan membersihkan rumah.


setelah ditinggal oleh Radit, juga Reni yang tadinya diam-diam ikut mengantar Marva, namun pada akhirnya wanita baya itu keluar juga dari persembunyiannya dan ngotot ingin tinggal menemani Marva tapi Marva tolak tegas membuat Reni dengan berat hati mengalah dan ikut pulang dengan Radit, kini Marva tengah menikmati malamnya yang gelap nan sunyi, seorang diri


Marva menyandarkan punggungnya di dasboard ranjang, malam kian larut tapi ia masih gelisah membuatnya tak bisa tertidur. apa karna kepikiran esok adalah hari bahagia sang pemilik hati yang akan diperistri oleh lelaki lain?


"ikhlas, Va, ikhlas, bahagia mereka bukan karnamu" peringatnya pada diri sendiri


dengan helaan napas panjang nan kasar, Marva merebahkan diri, meringkuk, kemudian menarik selimut dan menenggelamkan dirinya dibalik kain tebal nan empuk itu


saatnya tidur oh mata, usah kenang yang tiada, pejamkan mata hingga mata terlelap, usah diingat bayangnya hanya menyiksa...


kicauan burung yang memasuki indra pendengarannya membuat tidur Marva terusik

__ADS_1


malam telah berganti pagi


menyingkap selimut kemudian beranjak duduk, ia meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku akibat semalaman tidur meringkuk


dengan bantuan ingatan akan tata letak barang-barang dalam kamarnya, Marva berjalan dibantu sebuah tongkat elektronik pintar menuju kamar Mandi.


sejam kemudian, lelaki buta itu keluar dan menuju balkon kamarnya yang langsung berhadapan dengan mentari pagi


"selamat berbahagia. semoga pernikahan impianmu bisa kamu gapai dengannya. doaku menyertai kalian" gumam Marva diperuntukan untuk seorang wanita yang terus menampakan diri dalam pikirannya


Marva mendongakkan wajahnya tepat pada sang mentari, cukup hangat dan lama kelamaan terasa panas.


"aku ikhlas. sang surya tolong ikut bakar bayangnya di hati" mohon Marva pada sinar panas mentari yang serasa membakar kulit


"kumohon, tolong bebaskan rasa rindu di dada karena sesungguhnya aku tak mau lagi terluka"


"disini aku kesakitan dengan deritaku sedang disana dirinya bahagia dengan suka citanya" Marva memukul-mukul dadanya yang terasa sesak, menderita sendirian, "tak ada yang tahu apa yang aku rasa" lanjutnya dengan air meluncur deras dari mata yang tak bisa melihat apa-apa selain kegelapan yang mencekam


"raasanya tak sanggup bila selalu begini" monolognya


"selamat pagi luka. sembuhlah jangan berdarah lagi, ku ingin bahagia seperti yang lain, akhiri derita di jiwa" (sepenggal lirik dari lagu Arif-selamat pagi luka) yang mewakili perasaan Marva saat ini.


Bersambunggg...


memohon lah padaku Marva, maka aku akan mempertimbangkan untuk memberimu ending bahagia. hahahah, autor ketawa jahat.


bagaimana? cukup kah penderitaan Marva?


ini demi request kalian loh reders! mana yang di part-part sebelumnya minta Marva dibalas dengan penderitaan berdarah-darah, komen sini! jangan mudah berubah pikiran kalian yah, jejak jari kalian jadi alasan kenapa autor belum puas kasih si pendosa hukuman.


oh iya, cuman mau bilang mungkin akhir-akhir ini aku kembali uploadnya nggak setiap hari soalnya ada kegiatan lain di dunia nyata yang cukup penting dan menguras tenaga dan pikiran.


oke tengkyuuu

__ADS_1


Yang baca tapi nggak komen fix saudaranya Dody!!!!!


__ADS_2