
Manda ternganga mendengar panggilan wanita di depannya, pelakor? siapa, dirinya? dia merebut siapa dari siapa?
seketika ingatan Manda terbang pada kejadian beberapa bulan lalu saat ia dan twins salah alamat dan meneriaki istri ketiga bapak polisi sebagai wanita simpanan Marva. Manda mengulum senyum mengingat kejadian memalukan itu. sepertinya kali ini ia juga mengalami hal yang sama.
"ada yang lucu?" pertanyaan dengan nada sinis wanita itu membuat Manda tersadar dari nostalgianya
"sepertinya anda salah alamat"
"salah alamat katamu?" beo sang tamu dengan menekan kalimatnya, wanita itu menghela nafas panjang sebelum kembali berucap "tidak. kamu adalah wanita itu, wanita yang merebut pacarku menjadi suamimu, wanita egois yang membuat seorang papa tega membuang anaknya demi anak-anak kamu itu"
hah? ocehan wanita dihadapannya membuat Manda ternganga. otaknya mencoba memahami setiap kalimat wanita di hadapannya, ia menghela napas pendek sebelum akhirnya menyuarakan kebingungannya akan kalimat ngawur sang tamu
"siapa yang anda maksud?"
"siapa lagi kalau bukan Marva dan anak kami, Vino"
ah... Marva dan Vino, eh tunggu? apa katanya, anak kami? maksudnya anak wanita itu dan Marva?
lagi kejadian masa lampau menari di memorinya, ia menelisik wanita di hadapannya, sepertinya pernah ketemu. ah iya, ia ingat waktu berkunjung ke Jakarta beberapa bulan lalu saat Raina melahirkan, Manda memergoki Marva dan wanita ini di sebuah restoran dekat rumah sakit. wanita yang dulunya berperut buncit itu meminta pertanggung jawaban Marva karena anak yang pernah diadopsi suaminya itu menghilang setelah kembali pada ayah kandung dan ibu tiri.
"Vino hanya anak angkat Marva, itu pun dulu sebelum ayah kandungnya mengambil alih tanggung jawab pada anak itu" ujar Manda mengingatkan mantan pacar terindah suaminya itu
"so tau kamu. Arvino Putra Phelan. ada nama keluarga Phelan di belakang nama Vino, itu artinya Vino adalah anak kandung Marva"
yang namanya anak angkat kan sah-sah saja kalau diberi nama belakang keluarga dari pengadopsi. hanya sekedar nama tak harus terikat darah bukan? twins aja pernah pakai nama belakang Ivander. wanita di depannya ini sehatkan? pikir Manda
"dan karna kamu dan kedua anak sok pintar kamu itu membuat Marva melupakan Vino dan membuangnya. kamu dan anak kamu itu adalah iblis yang jahat!" pekik Maya membuat Manda tersentak kaget
jika kemarin-kemarin Maya ingin bermain kucing-kucingan kini tidak lagi, ia sudah tak sabar menghancurkan hubungan Marva dan istrinya. ia tak rela Marva bahagia diatas penderitaannya. jika dirinya hancur Marva juga harus merasakan hal yang sama. sebab lelaki itu telah ingkar akan janjinya yang akan merawat Vino layaknya anak kandung. namun kini Marva membuang Vino dan kini anak lelaki itu berakhir menderita disebuah panti asuhan pinggiran kota yang jauh dari kata layak.
awalnya ia ingin meracuni otak twin agar twin membenci kedua orang tuanya, namun belum sempat rencananya berjalan lancar ia harus menerima kenyataan harus keluar dari sekolah karna di pecat. Maya murka atas pemecatan sepihak itu, padahal ia mengorbankan banyak hal agar bisa masuk di sekolah itu demi menuntaskan hasratnya untuk membuat hidup Marva tak tenang. segalanya ia korbankan termasuk mengorbankan harga dirinya. ia harus rela menjadi pembantu salah satu pemilik rumah pada perumahan elit disana agar bisa menembus dinding yang Marva buat untuk menjaga keamanan keluarga kecil lelaki itu.
__ADS_1
ah, andai saja dulu ia wanita yang sabar menunggu restu tanpa tergiur dengan janji manis si bajing*n Adji mungkin saat ini dirinya yang menjadi nyonya kesayangan seorang Marva Phelan
tatapan Maya beralih ke perut Manda, seingatnya anak perempuan bernama Zaafira pernah mengatakan jika mamanya hamil. dan melihat perut Manda belum menonjol di balik daster rumahannya, Maya tebak kandungan istri dari mantan pacarnya itu masih sangat muda dan... pastinya rentan. bibir Maya sontak membentuk lengkungan, senyum licik yang bisa jelas Manda lihat. apa perlu Maya menggunkan tangannya sendiri untuk melenyapkan cikal bakal kebahagiaan Marva itu?
Manda menunduk mengikuti arah tatapan Maya, jika saja Manda tak bisa mengontrol ketakutannya melihat senyum licik Maya mungkin Manda akan memeluk perutnya sekarang dan segera menutup pintu, tapi Manda tak mau terlihat tertindas, Maya bisa besar kepala dan akan melakukan hal tak terduga lainnya. melihat Maya bisa sampai di depan rumahnya bisa jadi wanita itu memiliki akses kuat untuk bisa keluar masuk melalui pos keamanan yang penjagaannya super ketat. dibalik rasa takutnya akan keselamatan kandungnya, Manda malah membalas senyuman Maya dengan tangan bersedekap dada
"bukankah yang memiliki hubungan darah lebih kuat dari hanya sekedar rasa kasihan? jadi sudah pasti suamiku memilih mengurus anak kandungnya dan mengenyahkan anak angkat yang masih memiliki orang tua lengkap tapi malah membebani orang lain untuk mengurus anak itu" sindir Manda telak membuat Maya meradang
"kamu!"
Brugh!!
ringisan keras muncul dari seorang wanita yang kini jatuh mencium lantai pelataran rumah
"ops maaf, kakiku refleks mengayun, maaf yah" ucap Manda dengan wajah bersalahnya, lebih tepatnya pura-pura
untung saja kakinya sigap menendang punggung betis Maya hingga kepalan tinju Maya tak mendarat di perutnya.
hei, Manda pernah mengikuti latihan bela diri saat akan menjabat sebagai Ceo Ivander Corp demi menjaga diri dari segala macam ancaman atau bahkan segala godaan para pria hidung belang yang berlindung di balik kerjasama.
"Bila!!"
suara menggema itu sontak memakukan pergerakan Maya. sial! bukannya Marva sudah ke kantor?
"sayang kamu kenapa? apa yang sakit? perut kamu gimana?"
Maya mengeratkan rahangnya melihat perhatian Marva yang begitu besar pada Manda. jujur Maya merasakan cemburu, tak bisa terlekan bahwa nama Marva mengisi sebagian besar hatinya.
"mas? kok kamu kembali?"
"perasaan mas nggak enak, mas terus kepikiran kamu, makanya habis ngantar twins mas balik kesini untuk mengajak kamu ikut ke kantor" jelas Marva
__ADS_1
"mas, ada orang yang mencari kamu" tunjuk Manda pada Maya
Marva mengikuti arah tunjuk istrinya, sontak tatapan khawatir di bola matanya berubah tatapan tajam yang siap menghunus
Maya yang ditatap demikian membuat tubuhnya gemetaran, takut akan ancaman Marva beberapa hari lalu akan terealisasi mengingat kala itu adalah peringatan terakhir dari Marva agar menjauhi anak istri dari lelaki itu
Marva beralih menatap Manda dengan tatapannya yang melembut, lelaki itu lalu membawa sang istri ke gendongannya ala bridal style
"kenapa? kamu masih menuntut nasib Vino? satu hal yang harus kamu tahu, saya menyesal pernah menolongmu dan mengasuh anak haram kamu itu!"
bukan hanya Maya yang terbelalak, Manda pun tak kalah terkejut.
Marva sudah sangat muak akan kehadiran Maya yang terus menuntutnya akan kehidupan Vino padahal Vino berakhir demikian karna ulah ayah kandungnya. Marva sudah pernah ingin mengeluarkan Vino dari sana tapi ancaman dari pihak ibu tiri Vino membuat Marva berhenti. Marva tentu lebih mengutamakan keselamatan twins dan istrinya dari pada mencampuri urusan orang lain
"sepertinya kamu sudah tak sabar bernapas di balik jeruji ya? yaudah saya kabulkan"
Marva sudah memberi peringatan terakhir saat wanita itu meracuni otak putrinya tapi sepertinya Maya tak jera juga. tak punya pilihan selain membuat wanita itu mendekam di penjara agar anak istrinya terbebas dari gangguan mantan pacarnya yang penghianat itu
"pak, serahkan dia pada pihak berwajib, saya akan segera memberi keterangan mengenai tuntutan yang harus ia terima" perintah Marva pada penjaga keamanan yang datang menyusul setelah mendengar teriakan Marva tadi
"Marva, kamu tega menjarain aku?"
"aku lakuin ini semua karna kamu tau nggak!"
"aku ingin kembali sama kamu Marva"
"tujuanku menghancurkan rumah tanggamu agar aku bisa masuk untuk mengisinya" racau Maya mencoba melepas diri dari kedua penjaga keamanan
"wanita gila" desis Marva sembari berbalik memasuki rumahnya
"aku nggak gila!" teriak Maya tak terima
__ADS_1
"bawa dia pak" seru Marva sebelum menutup pintunya
Bersambung...