
Marva sudah terbangun dari pagi karna harus mengurusi kedua buah hatinya menggantikan Manda
"papa, mommy sakit?" tanya Zafier sembari memandikan dirinya sendiri, tak seperti sang adik yang tampak malas-malasan dibawah bantuan Marva
"iya, mommy lagi tidak enak badan" jawab Marva menoleh sekilas ke arah putranya
"telus kenapa tidak dibawa ke lumah sakit?"
"oh, mm ini, mommy cuman kecapean, butuh istirahat aja" tentu saja Marva gelagapan menjawab pertanyaan sulungnya
"kecapean kelja?"
Marva mengerjab, lalu mengangguk mengiyakan. memang Manda kecapean karna kerja keras mereka semalaman bukan? jadi dirinya tidak berbohong dong.
"Fira angkat tangannya sayang, nanti keteknya bau acem kalau nggak dibersihin"
"dingin papa" melas balita perempuan itu sembari memeluk dirinya sendiri dengan sengaja menggetarkan bibirnya seolah menggingil
"yaudah cepetan angkat tangannya, supaya bisa kelar mandinya" ucap Marva menahan gemas untuk tidak mengunyah si bungsu akan tingkah absurnya
setelah berbagai drama yang diciptakan si bungsu, akhirnya acara mandi ayah dan kedua anak itu selesai. kini dengan telaten Marva membantu twins bersiap memakai seragam sekolah. lalu menuntun kedua anaknya ke meja makan untuk sarapan.
"papa, boleh kita melihat mommy?"
"habis sekolah ya sayang, mommy lagi istirahat. lebih baik kalian habiskan sarapan kalian, ini udah jam tujuh loh"
"baiklah"
tidak lama kemudian sebuah mobil terparkir di depan rumah mereka.
"selamat pagi cucu-cucu opa" seru Narendra memasuki ruang makan
"selamat pagi opa" jawab twins barengan
"pagi pa. duduk pa sarapan dulu" ucap Marva mempersilahkan papa mertuanya bergabung dengan mereka
"papa udah sarapan" tutur Narendra sembari mengelus lembut kepala twins "istrimu mana?" tanya Narendra kemudian sambil celingak-celinguk
"istli papa kecapean" jawab Zaafira memberitahu membuat Marva mendengus mendengar ucapan putrinya
"mommy" koreksi Marva
"kecapean? perasaan kemarin ba...oh kacapean..." beo Narendra namun setelah otaknya menangkap sesuatu lelaki paru baya itu tersenyum geli ke arah menantunya
"iya pa. makanya hari ini Marva minta tolong sama papa untuk ngantar twins ke sekolah, soalnya Bila kurang enak badan dan aku tak bisa meninggalkannya sendiri di rumah" jawab Marva membenarkan tebakan lelaki cinta pertama istrinya itu. Marva bertutur dengan perasaan malu namun lelaki itu tak menampakkan secara gamblang.
"tapi anak aku baik-baik aja kan?" todong Narendra dengan mata memicing
__ADS_1
"i..iya pa, Bila hanya kelelahan"
"kamu sih mainnya nggak kira-kira"
"Bila yang minta pa" jawab Marva sekenanya memancing dengusan Narendra
"ternyata menantuku menelpon pagi-pagi hanya untuk dijadikan sopir untuk cucuku" gumam Narendra yang masih bisa Marva dengar
"oh iya pa, sekalian jemput pulang sekolah ya" beritahu Marva seenak jidat
_ _ _ _ _
setelah twins berangkat sekolah di antar Narendra, Marva melangkahkan kakinya menuju dapur untuk menyiapkan sarapan buat istri tercintanya lalu membawanya ke kamar
entah Marva harus sedih atau bahagia ketika membuka pintu kamar ia melihat sang istri masih terlelap damai di balik selimut. Marva melangkah masuk dan menutup kembali pintu dengan pelan. meletakkan nampan berisi menu sarapan di atas nakas, lalu lelaki itu duduk di sebelah sang istri. Tangannya terulur untuk menyingkirkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajah cantik wanitanya
Terusik dengan gerakan di wajahnya, Manda melenguh lal pemilik mata berbulu lentik itu perlahan terbuka. Awalnya tatapan sayu namun setelah nyawanya sudah terkumpul sepenuhnya, tatapan itu langsung berubah sengit melihat lelaki yang tersenyum manis padanya
"pagi sayang" sapa Marva
"Jahat" geram wanita itu. Sebenarnya Manda sempat bangun tepat saat Marva keluar dari kamar, tapi dirasa badannya sakit untuk di gerakan dan kakinya pun sulit untuk menopang tubuhnya jadi ia hanya berdiam diri di ranjang, terlalu lama menunggu kedatangan Marva membuat Manda kembali terlelap. selain tubuhnya yang terasa berat matanya juga sangat berat apalagi wanita itu baru tertidur jam 3 subuh akibat kelakuan suami tampannya itu
"Itu hukuman buatmu sayang. Sekarang aku bantu kamu mandi yah, terus sarapan" ucap Marva terkekeh lalu menunduk memberi kecupan cukup lama di kening sang istri
"Twin gimana?"
"Shs"
"Sakit banget yah?" Tanya Marva ikut meringis tanpa suara mendengar desisan Manda saat tubuh wanita itu sudah berada dalam gendongannya
"Maaf sayang" ucap Marva saat Manda meresponnya dengan anggukan
"Mas pikir kamu kuat seperti pertama kali kita ehm di ubud" goda Marva membuat Manda menghadiahinya pukulan bertubi-tubi di dadanya
"Semalam mas kek monster pengen nelan aku hidup-hidup" semprot Manda pada lelaki yang berhasil membuat seluruh persendiannya melemah. saking lemahnya, Manda bahkan tak peduli dengan keadaannya yang berada dalam gendongan Marva tanpa sehelai benangpun menempeli tubuhnya yang dipenuhi corak kemerahan hasil karya bibir prianya
"Ya habisnya mas puasanya lama banget sayang, dua minggu loh ini" jawab Marva sekenanya "bisa tolong bukain pintu"
Manda melepas satu tangannya di leher suaminya lalu membuka pintu kamar mandi, lalu wanita itu kembali mendongak menatap suaminya dengan tatapan sengit
"salah siapa? kamu aja yang nggak mau. seminggu lalu sebelum aku datang bulan aku gencar tuh kasih kode, kamu aja yang nggak mau"
"mas, sayang, mas" koreksi Marva
"sikap dingin mas buat aku takut kalau mas sudah nggak tertarik lagi sama tub..."
Cup
__ADS_1
Cup
Cup
gemas sekaligus kesal akan pemikiran Manda, Marba bungkam mulut wanitanya itu dengan kecupan-kecupan agar wanita itu berhenti mengucapkan sesuatu yang sia-sia
"Mandi, kalau perlu mandikan juga itu otak kamu supaya bersih" Marva dengan hati-hati menurunkan istrinya dalam bathup yang sudah terisi air hangat
Marva menghela napas panjang melihat tatapan istrinya seolah meminta kejelasan padanya. Marva lalu berjongkok di samping bathub sembari meraih kedua tangan istrinya. dikecupnya lembut jemari lentik itu.
"kamu itu candu buat mas, sayang. Rasanya hampir setiap waktu mas ingin menempelimu. Terus, menurut kamu dua minggu ini mas baik-baik saja setelah perang dingin kita? Nggak. Mas juga tersiksa. Hanya saja mas berusaha memberi jarak agar kamu menghargai mas jika ingin mengambil tindakan" tutur Marva selembut mungkin "Kamu pikir mas tidak mati-matian berusaha menutup mata akan kode nakalmu itu? mas hampir gila, sayang. Makanya malam tadi mas lepas kendali. Kalau tidak mau kejadian seperti ini terjadi lagi, yaudah jangan macam-macam sama mas" lanjut Marva dengan nada ancaman di akhir kalimatnya
Manda meresponnya dengan anggukan cepat tanpa pikir panjang
_ _ _ _ _
Manda selesai dengan ritual berendamnya setelah 30 menit. dan disinilah ia sekarang, duduk di tepi ranjang seperti anak kecil yang menurut ketika dipakaikan baju oleh Marva.
"selesai" ucap Marva setelah selesai menyisir rambut sang istri
"seperti ngerawat Fira besar tau nggak" gumam Marva tersenyum geli melihat puas penampilan sang istri yang sudah kembali segar. sedangkan Manda hanya meresponnya dengan dengusan
"okey bayi besarku, sekarang waktunya sarapan ya" layaknya mengasuh twins, Marva dengan cekatan menyuapkan nasi goreng buatannya pada sang istri sesekali juga menyuapkan untuk dirinya sendiri. setelah isi piring tandas, Marva menyodorkan obat serta segelas air putih ke arah Manda
"ini obat apa?" tanya Manda curiga
"itu vitamin. cepatlah minum agar kamu cepat baikan" ucap Marva sesantai mungkin. Manda yang percaya langsung meminumnya tanpa bertanya lagi
Marva mengulum senyum kemenangan sebab obat yang sudah masuk di lambung istrinya itu adalah obat penyubur kandungan
"mas mau balik Jakarta?"
"nggak sayang, mas kerja di rumah saja. mana mungkin mas ninggalin kamu saat mas sendiri yang buat kamu kelelahan seperti ini" ucap Marva sembari mengendipkan sebelah matanya ke arah Marva
"istirahatlah" lanjut Marva menyuruh Manda istirahat sendangkan ia membereskan peralatan makan Manda
Manda menggeleng lalu meraih tangan suaminya
"ada apa?" tanya Marva kebingungan
"temenin, aku nggak mau sendiri" ucap Manda sembari menggeser tubuhnya untuk Marva
dengan senang hati, Marva menuruti permintaan istrinya, membantu membaringkan tubuh Manda lalu ia menyusul di sebelah wanita itu. tangan Marva terulur mengelus perut Manda lalu melangitkan doa agar perut kesayangannya itu segera mengandung bayinya.
Bersambung...
nggak bakalan muak kan sama kisah mereka?
__ADS_1