
~wanita, sebaik-baiknya mereka mau memaafkan, mereka tak mudah melupakan rasa sakit~
Manda duduk termenung di meja kerjanya. pikirannya melayang pada kejadian tadi pagi. dimana untuk yang kesekian kalinya ia merasa bersalah atas sikapnya pada sang suami.
ya, dari sejak kejadian ia menolak ajakan bulan madu dan menuduh Marva hanya menginginkan tumbuhnya, juga selalu menghindar agar tak satu ranjang dengan Marva, serta sikap dinginnya dan kadang ucapannya yang kejam pada suaminya itu, Manda menyadari jika itu salah. hanya saja ingatan akan kelakuan Marva di masalalu selalu mendoktrin dirinya untuk tak memberi harapan banyak pada pernikahan kedua mereka. ia tak bisa berpura-pura baik dikala hatinya masih saja sakit setiap bayangan kesakitannya terlintas dalam benaknya. ya, kenyataannya, dirinya belum sepenuhnya sembuh dari lukanya di masalalu.
berkeinginan memberikan keluarga utuh untuk twins, apalagi setelah melihat pengorbanan Marva, Manda membuka kesempatan kedua untuk mantan suaminya itu. namun setelah menikah Manda malah merasa salah ambil jalan. terlalu buru-buru.
perlukah ia konsultasi pada konseling pernikahan untuk membantunya mengambil jalan terbaik dalam pernikahan keduanya ini?
tlink
lamunan Manda terintrupsi dengan suara notifikasi ponselnya. wanita itu kemudian mengambil ponselnya dan membuka pesan dari lelaki yang baru saja ia pikirkan
Mr. Marva
'aku udah sampai Jakarta, baru aja keluar dari bandara, sekarang lagi otw ke kantor ini'
setiap hari selain sabtu minggu, lelaki itu selalu melaporkan segala kegiatannya di sana meski Manda tak pernah bertanya. walau Manda tak pernah membalas pesannya tapi Marva tetap saja mengirimkan kabar.
tlink
Mr. Marva
'selamat bekerja istriku. jangan terlalu lelah. jangan sampai kamu sakit sementara akunya jauh'
isi pesan kedua setelah semenit berlalu. dan Manda hanya membaca tanpa berniat membalas. lalu wanita itu kembali menyimpan ponselnya kemudian melanjutkan pekerjaannya memeriksa beberapa berkas
selang beberapa menit...
tlink
tlink
Mr. Marva
'aku udah tiba di kantor sayang. hari ini aku ada meeting diluar perusahaan nanti siang dengan ibu Suci dari perusahaan best century property'
__ADS_1
'sampai bertemu nanti malam istriku sayang'
Manda menghela napas, sisi lain dari dirinya merasa kasihan juga, sudah ratusan pesan dari Marva, terhitung sejak sebulan setelah mereka menikah tak pernah ia balas. ibu jarinya sudah bersiap mengetik balasan, namun sebuah panggilan masuk mengambil alih layar ponselnya, sebuah nama pria yang dulu setiap waktu menelponnya muncul disana. Daddy Twins
lalu ibu jari Manda segera menggeser ikon hijau hingga panggilan terhubung, melupakan niat awalnya yang hendak membalas pesan dari suaminya
"Jef?" panggil Manda
_ _ _ _ _
Marva tersenyum miris menatap layar ponsel yang menampilkan dua orang yang sangat dikenalinya. seorang wanita yang berstatus istrinya dan satu lagi seorang pria yang bersatus sebagai iparnya itu terlihat duduk berdua di sebuah restoran mewah di Bali.
terluka? tentu saja. suami mana yang baik-baik saja kala mendapati kabar dari orang lain bahwa sang istri tengah jalan berdua dengan mantan tunangan dari istrinya? yang sialnya malah menjadi adik iparnya.
apa yang tengah mereka bahas?
setidak penting itukah perannya sebagai suami sampai Manda tak memberinya kabar?
bahkan Marva akan melaporkan dengan siapa saja ia bertemu. tapi Manda? jangankan memberi laporan, balas pesannya saja tidak pernah. pikir Marva dengan hati yang sesak
lalu Marva menghapus pesan gambar juga satu video berdurasi beberapa detik dari salah satu kenalannya yang hadir di pernikahannya dengan Manda satu bulan lalu.
_ _ _ _ _
Marva duduk di sofa ruang keluarga sambil mengawasi kedua buah hatinya bermain. Manda menyusul dengan membawa potongan buah sebagai cuci mulut karna mereka baru saja selesai makan malam.
"makasih sayang" ucap Marva tersenyum tulus yang dibalas senyuman tipis oleh Manda
"ada yang mau papa suapin nggak?" tanya Marva membuat atensi twins teralihkan dari mainannya. lalu kedua anak kembar itu berlomba mendekat ke arah sang papa
"makasih papa" ucap twins bergantian setelah mendapat suapan dari Marva. lalu keduanya kembali ke kegiatan mereka di atas karpet bulu
"mau aku suapin juga?" tanya Marva setengah menggoda pada sang istri
"nggak, makasih" Manda mengambil sendiri potongan buah dan memakannya
"datar banget kek tembok" gumam Marva menyindir dengan nada bercanda
__ADS_1
"kamu nyamain aku sama tembok?" tanya Manda tak terima, tatapannya tajam seolah hendak menelanjangi lawan bicaranya
"nggak! siapa bilang gitu? kamu itu wanita tercantik dan sempurna di dunia ini, setidaknya di mataku" balas Marva cepat memancing dengusan Manda
"dasar pemain" dan umpatan yang terlontar tanpa sengaja dari mulut Manda itu membuat Marva tak berkutik. seketika bibirnya tertutup rapat dengan ekspresi wajah yang berubah sendu.
sedang Manda yang baru menyadari perkataannya, menggigit bibir dalamnya. melalui lirikan matanya, ia menangkap ekpresi sedih sang suami.
'arg, mulut ini jahat sekali' batin Manda merutuk mulutnya sendiri.
pasti suaminya itu beranggapan kalau Manda menyindir kejadian lampau, padahal maksud Manda bukan mengenai masalalu itu, maksudnya tak lain adalah Marva raja gombal namun sepertinya pemilihan katanya yang salah hingga Marva mengartikan berbeda.
kenapa juga sih suaminya itu harus baperan gitu, mana coba sikap masa bodoh dan tak peduli lelaki itu?
beruntungnya, kecanggungan yang tercipta diantara sepasang suami istri itu di intrupsi oleh si bungsu
"papa aaa" Zaafira membuka mulutnya agar Marva kembali menyuapinya buah dan dengan sigap Marva langsung mengindahkan
"makasih papa" lalu anak itu hendak beranjak dari hadapan Marva namun terhenti karna pernyataan dari Manda
"cuma sama papa, mommy nggak diucapin makasih nih?"
"makasih mommy" ucap batita itu dengan nada centil
"sama-sama sayang" balas Manda
"buahnya udah mau habis, mau aku kupasin lagi?" tanya Manda memecah keheningan kala twins kembali pada mainannya. ia bertanya sambil menoleh ke samping kanannya dimana Marva duduk
"boleh, kalau nggak merepotkanmu" jawab Marva membalas tatapan Manda
"yaudah aku ke dapur dulu" ucap Manda memutus tatapan mereka, lalu wanita itu berajak ke arah dapur.
Marva menatap kepergian Manda, hingga istrinya itu hilang di balik pintu penghubung ruang makan. lelaki dengan kaos putih polos dipadukan celana kain selutut itu menghela napas panjang sebelum bergumam "aku sengaja balik lebih awal agar kita memiliki banyak waktu, aku menunggu kamu berkata jujur akan pertemuanmu dengan Jefry tadi siang, tapi sepertinya kamu tak berniat memberi tahuku"
Bersambunggg...
yang mau hujat Manda, waktu dan tempat dipersilahkan
__ADS_1