
Marva tengah berdiri dengan kedua tangan berada disaku celananya sambil menatap keluar lewat dinding kaca yang gordennya tersingkap, memandangi langit yang sebentar lagi menyambut kegelapan. penampilan lelaki itu terlihat lebih segar dengan pakaian santainya, baju kaos putih dengan celana kain pendek diatas lutut juga rambut yang masih meninggalkan jejak basah sehabis keramas, namun sepertinya perasaan lelaki itu tak sesegar penampilannya.
terlihat tenang tapi dibalik dadanya ada berbagai rasa yang membuat pikirannya kacau terbukti dari binar matanya.
kepalanya menoleh ke arah pintu kamar mandi, namun belum juga ada tanda-tanda seseorang akan muncul dari sana padahal sudah hampir sejam ia menunggu.
"pantas aja nyuruh mandi duluan" gumam Marva. pasalnya tadi Manda tau-tau sudah menyiapkan air untuk dirinya dan menyuruhnya membersihkan diri terlebih dahulu sebelum wanita itu ke kamar twins untuk mengurusi kedua buah hati mereka
yang membuatnya heran adalah, biasanya jika mereka tiba di rumah bersamaan, Manda akan membantu twins membersihkan badan sekaligus Manda akan menumpang di kamar mandi twins untuk mandi, karna Marva pasti memakai kamar mandi di kamar mereka. tapi kali ini entah kesambet apa, Manda memilih mandi di kamarnya setelah selesai mengurus twins.
"tapi tak biasanya dia selama ini. lagi apasih di dalam" gumam Marva sambil melangkah mendekat ke arah kamar mandi. memandangi lamat-lamat pintu sebelum menempelkan telinganya disana, sunyi.
'apa dia pingsan di dalam sana?' Marva langsung cemas memikirkan hal itu
baru saja Marva mau mengetuk pintu tapi pintu terbuka lebih dulu, dan...
kedua mata Marva terpaku, tapi hanya sepersekian detik karna ia segera memutar tubuhnya membelakangi Manda, lalu perlahan menyingkir untuk memberi sang istri jalan.
"maaf" ucap Marva kemudian
Manda menatap datar punggung lelaki itu, lalu menunduk menatap tubuhnya yang hanya di bungkus handuk yang hanya bisa menutupi dada sampai setengah pahanya
"maaf, aku tidak.. tidak melihat apa-apa kok, tenang aja"
Manda kembali mendongak menatap tubuh belakang Marva setelah mendengar penuturan terbata suaminya
"aku yang salah, aku lupa bawa baju ganti, karena seingat ku kemarin kamu enggak di sini" tutur Manda
lihat, hubungan macam apa itu? bahkan sekedar perkara begitu mereka saling menyalahkan diri sendiri. batin Marva
" ya udah kamu pakaian dulu, karna ini udah mau malam sebaiknya kita bicara habis makan malam aja. aku ke kamar twins dulu" ucap Marva masih membelakangi Manda, laki-laki itu lalu mengacir keluar dari kamar
memang tadi Marva meminta waktu untuk berbicara tapi karna Manda mandinya lama jadinya Marva harus menundanya setelah makan malam. memang sebaiknya pembicaraan serius itu dilakukan setelah mengisi perut mereka. pikir Marva
lelaki itu tidak menuju kamar twins, tungkainya menuntun tubuhnya ke luar rumah, lebih tepatnya di pelataran rumah sambil memandangi taman yang lampunya sudah menyala, ia butuh udara luar untuk menenangkan dirinya.
__ADS_1
tubuhnya panas dingin dibuat akan aksi istrinya. aksi yang tak sengaja karna katanya melupakan keberadaannya akibat empat hari tak pulang.
perkataan sang istri secara tak langsung tak mengharapkan kehadirannya. pikir Marva tersenyum miris
sedang di dalam kamar, Manda masih berdiri diam di tempatnya. menatap lekat ke arah pintu dimana baru saja sang suami pergi lewat sana.
kecewa. raut wajahnya jelas menampakan kekecewaan melihat reaksi Marva, ia merasa rendah diri karena sang suami tak sudi memandangnya dan malah mengucapkan maaf karna telah melihatnya dengan penampilan beraninya itu.
kenapa meminta maaf? bukankah dirinya adalah hak Marva? apa yang ada pada tubuhnya adalah milik suaminya, bukan?
setidak menarik itukah dirinya di mata sang suami hingga suaminya tak sudi melihatnya seperti ini? pikir Manda
seketika ingatannya melayang pada saat Marva mengajaknya bulan madu dan Manda malah menuduh Marva hanya menikahinya karena tubuhnya. sungguh Manda malu sekali saat ini. dirinya terlalu percaya diri kala itu dan berhasil melukai perasaan suaminya
Manda berjalan menuju meja rias, memandangi tubuhya yang hanya ditutupi handuk tipis.
"kasihan sekali kamu" ucapnya miris pada pantulan dirinya
demi memperbaiki hubungannya dengan sang suami, Manda membuang rasa malunya, menuruti nasihat konselor untuk terbuka pada sang suami, bukan hanya terbuka mengenai hati tapi juga semuanya, termasuk memberi hak pada suaminya akan tubuhnya.
namun respon suaminya membuat asa Manda putus, puluhan menit ia menimbang di dalam kamar mandi, antara takut dan malu keluar dengan hanya memakai handuk padahal jubah mandi selalu tersedia di dalam kamar mandi mereka.
dan reaksi Marva yang malah membalikan tubuh membelakanginya rasanya seperti Manda ditampar berkali-kali.
_ _ _ _ _
kedua pasangan yang belum cukup dua bulan menikah itu duduk diam di sofa ruang keluarga.
"twins udah tidur?" tanya Marva memecah keheningan
"ya" jawab Manda sambil mengangguk. Manda menyusul Marva di ruang keluarga setelah memastikan kedua buah hati mereka tertidur
keduanya kembali diam hingga Marva memberanikan diri menyentuh tangan sang istri dan beranjak bersimpuh di hadapan wanita itu
"apa yang ka.." pertanyaan Manda terpotong kala tatapan mereka bertemu. ia bisa menangkap tatapan suaminya menyiratkan banyak luka
__ADS_1
"dengarkan aku baik-baik" ucap Marva, lelaki itu mendongak menatap lekat mata sang istri, kedua tangan Manda berada dalam genggaman tangan besarnya, Marva menghela napas panjang sebelum kembali membuka suara "aku mencintaimu, tulus dari lubuk hati terdalam. aku akan melakukan apapun demi bisa membuatmu bahagia. Maaf kalau selama ini aku egois, maaf kalau aku menuntutmu untuk kembali padahal di masa lalu aku adalah pria brengsek dalam hidupmu yang telah menorehkan luka" ucap Marva dengan mata berkaca-kaca
"aku mencintaimu. kamu telah sampai di terjauh jiwaku dan aku mencintaimu sedalam-dalamnya. terimakasih sudah kembali bersedia menjadi istriku walau aku tahu kamu terpaksa" lanjut Marva berusaha menahan bendungan air matanya.
"aku tahu di hatimu tidak aku di sana" lirih Marva saat melihat bibir sang istri hendak mengucapkan sesuatu.
"itu berarti hubungan ini akan membuatmu makin sengsara bukanya bahagia seperti yang aku tawarkan" kali ini air matanya meluncur bebas mengaliri pipinya. bukan hanya Marva tapi Manda pun meneteskan air mata
"maka dari itu aku menyerahkan keputusan sama kamu karena kebahagiaanmu adalah tujuanku"
"belakangan aku sadar bahwa memberi keluarga bahagia untuk Twins, kita tidak perlu bersama dan terikat, karna kamu tidak bahagia di dalamnya"
"maaf juga karna lagi lagi pernikahan kedua ini harus gagal, maaf selalu menjadi pria brengsek yang tak bisa mengabulkan pernikahan impianmu"
"Maksud kamu apa?" sela Manda dengan nada penuh tekanan, tatapannya yang sedari tadi menatap bersalah pada sang suami kini berganti tatapan kecewa dan sakit hati
"kamu mau berpisah denganku? kenapa?" suara Manda tersedat, nyeri di dadanya membuat tenggorokannya kering
"demi kebahagiaanmu" balas Marva
"bulshit!" lalu wanita itu menepis tangan Marva dan berlari menaiki tangga menuju kamar mereka
apa-apaan suaminya itu? setelah ia sudah mulai tenang dan telah berdamai dengan masalalu mereka, kenapa suaminya malah menawarkan perpisahan? demi kebahagiaan dirinya katanya?
kenapa suaminya cepat sekali menyerah? atau...
dirinya yang lambat bereaksi?
Bersambung...
maapin yak baru muncul lagi, habisnya kemarin itu aku ujian proposal guys, dan alhmadulillah otak dibuat babak belur oleh penguji
baca komenan kalian banyak yang nggak mau cepat kelar...
aku sih nurut aja.. asal... kalian mau menunggu.. karna aku akan sibuk revisi dan penelitian guys, jadi kemungkinan apdatenya makin jarang..
__ADS_1
gimana? mau kelarin cepat, 2 episode lagi atau sampai bosan melihat mereka bucin?