Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
S2- Kekesalan Marva


__ADS_3

"gemes banget lihat perut kamu" ucap Marva sembari terus mengecup perut bulat istrinya


"sayang, dia... dia gerak sayang!" Marva heboh sendiri merasakan gerakan di dalam perut sang istri


"Bil, mas nggak bohong, mas merasakan dia gerak, kamu nggak ngerasa?" tanya Marva ketika Manda hanya tersenyum kecil alih-alih heboh seperti dirinya yang terlalu bahagia merasakan pergerakan sang anak di dalam perut Manda untuk pertama kalinya


"ngerasa lah mas, apa yang mas rasa itu hanya sebagian kecil dari yang aku rasa. aku bahkan bisa merasakan kalau dia sedang jungkir balik" jawab Manda yang terdengar berlebihan di telinga Marva


"dia masih janin 6 bulan mana bisa jungkir balik sih, ada-ada aja kamu ini" ujar Marva sembari terkekeh merasa sang istri tengah melucu


Manda hanya mendesah pelan menanggapi jawaban suaminya. Marva seperti baru saja keluar dari hutan belantara. jangankan masalah berhubungan saat hamil yang di tentang keras karna takut menyakiti calon anaknya, lelaki itu sekarang tak percaya kalau janin bisa berputar di dalam perutnya. bahkan terlihat seperti orang baru kejatuhan jutaan dolar dari langit ketika merasakan pergerakan si jabang bayi dalam perutnya. hei, padahal janinnya sudah sering antraksi di dalam perutnya sejak kandungannya memasuki lima bulan. pantaslah Marva baru merasakan, sebab lelaki itu selalu menghindar membuat keintiman dengannya, bahkan lelaki itu lebih memilih tidur di kamar twins atau bahkan di sofa demi menghindari keintiman dengannya agar bisa menekan nafsunya.


pertanyaan Manda adalah, kemana fokus Marva ketika lelaki itu menemaninya cek kandungan? apa Marva tak mendengar saran dokter bahwa sebaiknya berhubungan agar jalan keluar bayi tak sempit. jika begini bisa menyusahkan Manda kelak jika melahirkan normal. Manda ingin merasakan melahirkan normal, ia tak ingin perutnya kembali di bedah untuk kedua kalinya.


Manda selalu memancing, tapi Marva selalu menghindar, kadang Manda frustasi sendiri tapi malu juga meminta duluan. ah, nasib punya suami yang terlalu cinta sama anaknya, alhasil hormonnya yang kadang kepengen harus terpendam karna didera rasa malu. karna Marva sudah pernah menolaknya dengan alasan... tak ingin menganggu si janin di dalam sana.


memang Marva tak bisa mengendalikan diri ketika mereka bercinta, dari pada mainnya hanya sebentar lebih baik tidak main sama sekali. mungkin begitu pikir suaminya itu


dug dug dug


suara gedoran pintu sontak membuat sepasang suami istri yang tengah bersantai di atas ranjang itu menoleh ke arah pintu


"mommy, papa!"


Marva dengan gerakan cepat langsung menuruni ranjang ketika mendengar teriakan melengking sang putri, lalu kemudian membuka pintu


"hai my twin, siapa yang antar kalian?" tanya Marva setelah mendapati dua bocah yang lahir dari benihnya di depan kamarnya dengan pakain yang sudah tak serapi tadi pagi


"daddy jef" jawab Zafier sedang Zaafira langsung melongos masuk setelah menerobos paksa tubuh sang papa


"mommy lihat, Fiya sama Api di kasih ole-ole mainan sama daddy Jef, loh" beritahu anak perempuan itu sembari memperlihatkan mainannya setelah berada di dekat sang ibu


bukannya menangapi sang anak Manda malah menoleh dan langsung bersirobok dengan netra suamianya


"Rain sama Jefry ada di Jakarta?" tanya Manda pada Marva yang dijawab kendikan bahu lelaki itu pertanda tak tahu


"daddy Jef saja yang datang, kalau aunty Rain sama adek Emely tidak datang" itu suara Zafier yang menyahut menjawab pertanyaan Manda


"daddy Jef ada di luar?" tanya Manda pada putranya


"daddy Jef udah balik lagi ke rumah opa" jawab Zafier sembari berusaha menaiki ranjang


"kok bisa paman Jef ngantar kalian pulang?" tanya Marva menyebut nama paman untuk Jefry di hadapan anak-anaknya agar bisa mengubah panggilan daddy untuk mantan tunangan Manda itu

__ADS_1


"Daddy Jef kan ada di Rumah opa Phelan, tadinya oma Reni yang mau antar tapi Daddy Jef juga mau antar jadinya di antar daddy Jef deh" beritahu Zafier. memang setiap kali weekend Marva selalu memboyong twins ke rumah orangtuanya karna permintaan Reni dan Phelan. kunjungan twins wajib setiap weekend di rumah kedua orang tua Marva dan Raina itu. hanya saja tadinya Marva buru-buru pulang karna Manda tidak bisa ikut.


"daddy Jef tinggal di rumah opa Phelan?" tanya Marva memastikan ucapan si sulung yang terlihat mengelus pelan perut sang mommy dibalik daster corak bunga itu


"iya, baru datang tadi subuh" beritahu Zafier tanpa mengalihkan atensinya dari perut buncit Manda "halo adek" sapanya kemudian


"iya papa, katanya mau jemput aunti Lain sama ade Lily tapi aunty Lain sama ade Lilynya kan nggak ada di lumah opa...eh ups" sudah berkata panjang lebar putri Marva itu baru sadar tengah keceplosan, anak perempuan itu menutup mulutnya dan menatap Zafier dengan mata membulat, terkejut dengan ucapannya sendiri


"ya, bibil Fiya keceplosan" aku anak itu "ya, gimana nih, ntal daddy Jef malah sama Fiya kalna melanggal janji" lanjut anak itu panik sendiri


"ah, Fira memang nggak bisa jaga rahasia" sahut Zafier terlihat kesal karna merasa Zaafira membongkar rahasia daddy Jefry, padahal mereka sudah janji tidak akan mengatakan pada siapa-siapa akan curhatan Daddy Jefry tadi


"nggak papa sayang, Fira nggak salah kok" Marva mendekat dan menenangkan sang putri


"yaudah kalian mandi dulu gih" ucap Manda pada kedua anaknya


_ _ _ _ _


"mas?"


"hm?"


"mas nggak mau bilang sesuatu?"


"ck! bukan itu ih. dalam konteks seorang kakak yang tahu adiknya tengah dicari suaminya, mas kok tenang sekali? mas nggak khawatir Rain pergi kemana sampai suaminya mencari ke rumah papa?"


"nggak usah mikirin itu, Rain sama Emely baik-baik aja kok"


"mas tahu mereka di mana?"


"hm"


"mas yang nyembunyiin mereka" Manda memajukan kepalanya untuk melihat kesibukan Marva di ponselnya


"apaan, Rain sendiri ko yang mau sembunyi"


"mas...!"


"Rain lagi nenangin diri, dia pengen sendiri dulu, eh berdua sama anaknya" jawab Marva sembari menoleh ke arah sang istri


"dimana?"


"di vila puncak"

__ADS_1


"vila puncak tempat mas bersembunyi juga?"


eh


Marva menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal, ia ingin membantah kalau dulu dirinya tidak bersembunyi tapi memang kenyataannya begitu, ia bersembunyi karna tak mau membuat twins dan juga Manda mengetahui ke adaannya yang tak bisa melihat.


"iya" jawab Marva akhirnya


"sayang, jangan berani-berani bilang sama Jefry yah" titah Marva dengan raut serius


"mas, Jefry tengah mencari anak istrinya, dia pasti bersedih ditinggal mereka"


"biarin aja, dia pantas menerima itu, siapa suruh jadi lelaki pengecut" Marva hanya ingin melindungi adik kesayangannya.


"Dih kayak bapak tidak pernah salah di masalalu"


"kamu belain Jefry?"


"nggak mas, tapi kalau memang Jefry mau berjuang untuk Rain kenapa nggak di kasih kesempatan?"


"Rain nggak cinta sama Jefry"


"ada anak diantara mereka, setidaknya Raina bisa belajar mencintai Jefry demi Emely"


"kamu nggak tahu Bil, Rain udah berusaha belajar mencintai suaminya, tapi Jefry tak menghargai usahanya, jadi yaudah, giliran Rain pergi baru di cari"


Marva menatap heran sang istri saat wanitanya itu malah terkekeh akan perkataannya


"kenapa? ada yang lucu?"


"nggak lucu sih, tapi menggelikan, mendengar cerita mereka berasa mengulang masalalu"


"bedalah, kita kan..."


"apa?"


"pokoknya biarin Jefry usaha lah. mas aja pernah gila, setidaknya Jefry harus lebih menderita"


"ini demi Rain atau ada dendam yang belum kelar?"


"dua-duanya, puas!"


Bersambung...

__ADS_1


sedikit gambaran mengenai cerita Raina dan Jefry


__ADS_2