Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
S2 - masih dgn drama Zaafira


__ADS_3

".... dengan kesimpulan ini saya nyatakan rapat selesai"


tepat setelah Radit menyelesaikan kalimat penutupnya, Marva langsung berdiri dan beranjak keluar dengan langkah lebar sembari menempelkan ponsel di telinganya, pemilik perusahaan itu bahkan mengabaikan para petinggi perusahaan yang melongo karna ditinggalkan tanpa pamit oleh pemimpin mereka.


"ck! ngapain aja sih ngangkat telpon aja harus nunggu empat deringan dulu" omel lelaki berjas biru dongker itu saat panggilannya terhubung, sebelah tangannya yang terbebas dari ponsel melepas kancing jasnya yang serasa membuat perutnya sesak


"...."


"kan mas udah bilang, kamu di kamar aja, kalau mau apa-apa tinggal panggil mbok, kasihan kamunya harus turun naik tangga gitu" Marva berucap sembari terus melangkah menuju lift


"...."


"bukannya lebay sayang, mas hanya takut kamu kecapean dan mempengaruhi kandunganmu"


"...."


"kan tadi pagi udah jalan-jalan sama mas di taman komplek, itu sudah cukup, Bil"


"...."


"makin banyak alasan aja kamu ini. ingat kata dokter, kamu harus banyak istirahat" peringatnya pada sang istri dibalik telpon yang terus saja mendebat ucapannya. lelaki itu kini mulai memasuki kotak besi berjalan yang sudah terbuka setelah ia menunggu beberapa detik tadi


"...."


"jangan iya-iya aja. awas kalau ketahuan melanggar aturan mas lagi, mas juga akan melanggar aturan kamu"


"...."


"yaudah, makanya nurut sama suami, mas nggak segan-segan meninggalkan perusahaan demi menjagamu dua puluh empat jam di kamar kita"


"dih geli banget, sumpah. dulu aja disia-siain, sekarang kena karma bucin kan, rasain" dumel seseorang berhasil menyentak fokus Marva


"lo? lo ngapain ngikutin gue?" tanya Marva sinis ketika menoleh dan mendapati sang asisten di sebelahnya


"nggak ngikutin bapak kok, saya mau ke ruang kerja saya, pak" jawab Radit sembari menunjuk dengan dagunya tombol angka lift yang menandakan lift tengah bergerak naik ke lantai tertinggi dimana ruang kerja Ceo dan asisten berada. yakni ruangan Marva dan Radit.


dasarnya aja bucin sampai sekeliling pun tak disadari jika sudah menyangkut tentang istrinya. kira-kira begitulah olokan suara hati Radit

__ADS_1


"kok naik sih? saya kan maunya ke lobi" protes Marva menatap sekilas layar kecil persegi berwana hitam yang menampilkan angka lantai tiga dengan penunjuk ke atas


"lah, bapak masuk lift sibuk ngomelin istri tercinta sampai nggak pencet tombol lantai tujuan, makanya saya pencet aja lantai lima"


"ck! lo tau kan jadwalnya gue jemput anak-anak gue sekarang" semprot Marva kesal sembari memencet tak sabar tombol turun segera


"ini bukan lift khusus pak, harus mentok dulu baru bisa kembali turun"


"awas aja kalau gue telat sedetik saja jemput twins, siap-siap lo gue demosi jadi security"


"lah kok nyalahin gue?"


"ya emang salah elo Dodot" sembur Marva berhasil membuat Radit menunduk pasrah


klik


Marva tersentak, segera ia melihat layar ponselnya


"kok dimatiin sih" kesalnya kala panggilan sang istri terputus "gara-gara lo nih, ah" semburnya pada Radit


"iya siapa lagi kalau bukan lo! pasti karna dengar suara jelek lo, istri gue jadi muak sampai matiin telpon"


"yakin karna suara gue? kali aja telinga Bila kepanasan denger suaminya ngomel mulu kek ibu-ibu yang kehabisan sembako"


tak


"aduh" Radit mengelus betisnya yang baru saja mendapat tendangan dari bos sekaligus sahabatnya itu


"ini masih kantor, saya bos kamu yah, yang sopan kamu bicara sama saya"


"ck! selalu seperti ini, kalau kalah debat pasti ujung-ujungnya bawa jabatan" gumam Radit sepelan mungkin yang entah di dengar atau tidak oleh pria yang sibuk mendial ulang nomor istrinya


_ _ _ _ _


"papa singgah di supelmalket yah"


"supermarket?" beo Marva yang diangguki oleh si bungsu

__ADS_1


"oke deh. emang Fira mau beli apa?" tanya Marva sembari memakaikan sealbelt pada putrinya


"mau beli buah, banyak" jawab anak itu antusias


"siap tuan putri" ucap Marva sebelum menutup pintu mobil. lalu lelaki itu memutari mobil ke arah si sulung


"waw, pintar baget sih anak gantengnya papa, udah bisa pasang beal sendiri" puji Marva saat memeriksa sealbelt Zafier yang anak itu kenakan sendiri. mengecup kening putranya sebelum menutup pintu mobil. Marva lalu memasuki mobil bagian kursi kemudi untuk melajukan kuda besinya di jalan yang hampir setiap hari ia lalui, pergi dan kembali pulang ke rumah. namun sebelum ke rumah tentu Marva menuruti permintaan sang putri yang ingin belanja buah di supermarket yang mereka lewati


"mau beli buah apa nak?" tanya Marva pada sang putri yang sibuk membuka tasnya. terlihat anak itu membuka sebuah buku berwarna yang berisikan beberapa gambar buah


"buah nanas, buah dulian, buah nangka" tunjuk Zaafira pada buah yang menyerupai gambar pada buku buahnya


"hah?" beo Marva dengan kening mengkerut


"buah buat siapa nak?" tanya Marva kemudian


"buat Fiya lah. buat kak Afi juga, buat papa sama mommy"


"yakin mau beli buah nanas sama durian? bukannya Fira nggak suka?" Marva masih nggak percaya jika putrinya yang pemilih makanan itu kini meminta buah yang anak itu tak sukai selama ini


"ya..ya... emang nggak suka tapi kata bu gulu...eh...maksudnya Fiya mau coba, bukannya semua buah itu sehat? Fiya bosen makan apel, anggul, pisang sama melon mulu" jelas anak itu luwes walau diawal ia sempat grogi, entah grogi karna apa.


"yaudah kita beli buah durian, nanas sama nangka-nya, tapi janji yah Fira harus makan" putus Marva menuruti kemauan putrinya


"janji?" tanya ulang Marva ketika melihat putrinya malah menelan ludah kasar


"i..iya papa" jawab Zaafira tak bersemangat membuat Marva tersenyum geli melihat tingkah putrinya.


dibalik senyuman geli lelaki dewasa itu terbesit rasa miris dalam dadanya. curiga? iya Marva menaruh curiga akan maksud sang putri. hanya saja Marva berusaha menuruti Zaafira walau sebenarnya hatinya bergemuruh sedih.


entah darimana sang putri memiliki ide itu, ide yang dengan tega menggerogoti otak suci putrinya.


Dan Marva menyimpulkan bahwa putrinya belum bisa menerima kenyataan bahwa ia akan segera menjadi seorang kakak. memang tiga hari ini sejak kejadian putrinya menangis di gazebo, anak perempuan itu terlihat baik-baik saja bahkan cenderung lebih manja padanya juga pada Manda, Zaafira juga tak pernah lagi menyinggung persoalan calon keluarga baru mereka tapi nyatanya anak perempuan berusia lima tahun itu tengah memikirkan hal diluar nalar Marva


meski demikian, Marva masih menaruh banyak harapan jika putrinya memang semata-mata ingin mencoba buah-buahan yang menurut banyak situs sangat tidak dianjurkan dikonsumsi bagi ibu hamil muda. Marva percaya bahwa putrinya tak mungkin setega itu berusaha melenyapkan calon adiknya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2