
terkadang hal yang sudah dilalui dengan beribu rintangan akan menjadi patokan kuat untuk kedepannya. maka tidak akan muda mempercayai apa yang mata lihat sebelum mencari kebenarannya. ya, yang pernah terjadi menjadi suatu pembelajaran berharga.
"mom, itu papa!"
suara yang sudah Marva hapal mati itu membuyarkan atensinya dari wanita masalalunya, kepalanya menoleh ke arah pintu masuk
Deg
istri dan kedua buah hatinya berhasil membuat mata Marva membulat sempurna, terkejut melihat kehadiran Manda dan twins disana
"Bila?" Marva spontan beranjak berdiri namun belum sempat ia melangkah, isyarat dari sang istri membuatnya berdiri mematung di tempat
bagai terhalang oleh batu besar di tenggorokan, sesusah itu Marva menelan ludahnya. situasi sulit. ia tengah dipergoki oleh sang istri berduaan dengan wanita lain. otak Marva bleng, mulutnya juga terasa kaku. ia bahkan hanya terdiam bodoh saat sang istri dan kedua anaknya sudah berada di dekatnya
"siapa?" tanya Manda pada wanita berperut buncit dibalut dres hitam itu. tatapan Manda datar, menelisik dari ujung rambut hingga ujung kaki wanita yang tengah bersama sang suami
"dia..."
"aku tanya wanita ini, sayang" potong Manda menekan setiap katanya sambil menoleh ke arah suaminya. memberi tatapan mengintimidasi pada Marva agar lelaki itu diam
"sa..sayang?" beo Marva tercengang mendengar kata itu. kali pertama ia dengar dari mulut istrinya. panggilan itu untuk dirinya kan?
mengabaikan ekpresi Marva, Manda kembali menoleh ke arah wanita hamil itu. memberikan tatapan mengintimidasi. tapi sepertinya wanita hamil itu tak merasa takut, malah dengan berani balas menatapnya
"jadi kamu..."
"saya istri Marva, dan mereka adalah buah cinta kami" sela Manda tak memberi kesempatan lawannya untuk menyebut nama suaminya
Marva mengerjab, meski rasa takut masih mendominasi dadanya tapi bibir lelaki itu menyunggingkan senyuman, ada secercah rasa hangat di hatinya mendengar pengakuan istrinya. jika saja ia tak berada disituasi tengah di pergoki mungkin perasaan Marva akan membuncah bahagia saat ini.
"saya Maya, mantan pacar suamimu" balas Maya sambil mengulurkan tangan yang hanya di balas lirikan sinis oleh Manda. mommy twins itu tak berminat sedikitpun untuk menyambut tangan wanita hamil itu. ia ingin menunjukkan bahwa disini Manda tak sudi berinteraksi dengan pemilik nomor asing yang menganggu suaminya satu minggu belakangan ini.
ternyata pepatah tentang 'firasat seorang istri kuat' benar adanya. Manda akui, karna sekarang ia merasakan hal itu. firasatnya mengenai pemilik nomor asing itu benar terbukti bahwa orangnya bukan sembarang orang. terbukti pemiliknya adalah seorang wanita yang menjadi sebab suaminya pernah menjadi pria brengsek hingga pernikahan pertama mereka hancur.
jujur hati Manda saat ini sedang ketar ketir. namun ia bisa menutupi perasaan takutnya dengan sikap intimidasinya. istri mana yang akan bersikap biasa saja saat memergoki suaminya tengah bersama wanita lain yang sialnya wanita itu tengah hamil besar. double sialnya lagi wanita itu adalah mantan pacar suaminya.
hanya ada 2 pilihan akhir, ia pulang sebagai pemenang atau kembali kalah untuk kedua kalinya. tentu saja jika anak dalam kandungan wanita itu adalah anak Marva maka Manda akan mundur tanpa pertimbangan, tapi jika bukan, tak ada alasan bagi Manda untuk mengalah.
"jadi ada perlu apa anda bertemu suami saya?" tanya Manda menekan kata suami
__ADS_1
"meminta pertanggung jawaban" jawaban Maya berhasil membuat jantung Manda mencelos
'tanggung jawab? jadi Marva adalah ayah dari bayi dalam kandungan wanita ini?' batin Manda miris
tatapan Manda tiba-tiba nanar, tapi hanya sebentar karna ia kembali menguasai diri. ia tak boleh terlihat lemah meski pada akhirnya ia harus kalah.
lalu kepala wanita itu menoleh ke arah Marva, menatap lelaki itu yang sepertinya juga terkejut mendengar penuturan mantan kekasihnya yang tiba-tiba datang setelah pergi tanpa jejak setelah melahirkan Arvino 5 tahun lalu.
_ _ _ _ _
suasana dalam mobil begitu dingin, Marva sesekali melirik ke arah sang istri yang membuang muka ke jendela mobil. beruntung celotehan twins mampu mengisi keheningan yang tercipta
Marva meringis kala Manda mengabaikan beberapa pertanyaan twins, atau jika wanita itu menyahut Manda hanya membalas ala kadarnya celotehan twins. tak seperti biasanya. Marva makin merasa bersalah.
"mommy capek sayang, tanya ke papa aja" ucap Marva agar kedua buah hatinya tak terus-terusan mengganggu sang istri
"ah, mommy nggak asik" keluh Zaafira menghempaskan punggungnya ke sandaran jok penumpang belakang.
"sayang, Fira ngambek tuh" dengan nada pelan nyaris berbisik Marva menegur sang istri
Manda sejenak melirik tajam ke arah Marva lalu beralih memutar tubuhnya ke belakang menatap putrinya
"kita singgah di restoran depan" titah Manda saat mendapati anggukan dari Zaafira
"loh, katanya mau makan di rum..." ucapan Marva terhenti kala menyadari tatapan maut istrinya
jadi beginikah rasanya suami takut istri? dulu Marva selalu menganggap remeh para lelaki yang ketakutan ketika seorang istri marah, dan saat mengalaminya Marva baru paham rasanya. tak enak banget. rasanya ia ingin mengulang waktu dan tak memancing amarah istrinya. ah, andai saja ia tak melakukan kesalahan pasti ia tak akan berada di situasi mencekam seperti ini.
Marva hanya mampu melangitkan doa dalam hati agar tak terjadi perang dingin berkepanjangan dengan istrinya. masa baru seminggu saling mengungkapkan perasaan kini harus terjadi lagi peperangan. belum juga malam pertama. keluh Marva dalam hati
"ada restoran di depan yang menyediakan makanan favorit kamu, kita makan disa..."
"bukan aku yang laper" potong Manda membuat Marva lagi-lagi hanya bisa menelan ludah kasar
"disana juga menyediakan makanan favorit twins" gumam Marva lirih
_ _ _ _ _
bibir Marva berkedut menahan tawa melihat betapa lahap sang istri memakan makanannya. tadi siapa yang bilang tidak lapar? lihat bahkan makanan Fira yang tak mampu anak itu habisi dilahap sampai bersih oleh Manda.
__ADS_1
"wanita kalau marah memang makan banyak. lebih baik makan makanan dari pada makan orang" suara Manda mengudara setelah menandaskan minumnya
"sayang, tapikan aku tid... yaudah lah aku salah. iya aku salah" hendak mengutarakan pembelaan tapi sadar berhadapan dengan wanita yang selalu benar membuat Marva menerima kesalahan. toh jika dipikir memang dirinya bersalah karna tak jujur pada istrinya sejak awal.
_ _ _ _ _
setelah menidurkan twins di kamar khusus yang memang sudah di siapkan Reni untuk kedua cucunya itu, Marva keluar dari sana lalu menuju kamar miliknya sewaktu masih belum menikah, kamar yang kini menjadi kamar dirinya dan sang istri selama berkunjung ke rumah kedua orang tuanya.
melihat sang istri tak berada di ranjang, Marva melangkah menuju balkon, pasti istrinya berada disana melihat pintu balkon yang terbuka.
"sayang" Marva langsung memeluk istrinya dari belakang
"kenapa belum tidur hm?" tanya Marva sambil menyurukkan wajahnya pada leher Manda
"dari mana dia dapat kontakmu?" tanya Manda masih mempertahankan nada datarnya
"aku juga nggak tahu sayang" jawab Marva lalu mendesah
"jadi apa yang akan kamu lakukan?" tanya Manda
"menurutmu?"
"kenapa malah tanya sama aku. itu urusan kamu" nada bicara istri Marva itu terdengar sewot "dari awal kamu tidak mau melibatkanku bukan, jadi yaudah, aku nggak mau tau" lanjut wanita itu
"maaf sayang. aku hanya tak mau pikiran kamu terbebani" ucap Marva lalu mendaratkan kecupan di kepala belakang Manda
seminggu lalu Marva mendapat panggilan nomor asing, dan ternyata pemiliknya adalah Maya. jujur awalnya Marva tak menggubrisnya, hingga 2 hari lalu Maya mengabarkan berita yang berhasil membuat Marva merasa bersalah.
Arvino, putra angkat Marva itu hilang. dari cerita Maya Vino diasingkan ke panti asuhan di sebuah desa terpencil oleh istri Adji, ibu tiri Vino. dan beberapa minggu kemudian anak itu hilang tanpa jejak. Maya kecewa pada Marva karna tak menjaga putranya baik-baik. wanita itu meminta pertanggung jawaban Marva akan hilangnya Arvino
jujur, awalnya Marva ingin memberitahukan masalah itu pada sang istri, tapi mengingat kala itu Marva sendiri masih bersitegang dengan Jefry mengenai pemindahan Raina dan bayinya membuat Marva melupakan niatnya. selain tak mau menganggu kenyamanan Manda, Marva juga ingin menyelesaikan sendiri masalah Vino dan Maya agar tak lagi di teror oleh mantan kekasih yang kini telah hamil lagi tanpa sosok suami.
Bersambung...
kenapaaa ngungkit vino lagi?
selain sebagai bumbu perjalanan rumah tangga Marva dan Manda, lumayan juga tambah chap untuk menaikan level karya...
tapi....
__ADS_1
alasan utamanya adalah.....karna sejak awal aku memunculkan karakter Vino aku udah menempatkan dia akan menjadi pemeran utama pada salah satu kehaluan ku yang belum berjudul... bukan pada cerita ini tapi pada judul lain yang entah kapan bisa aku wujudkan untuk publis...