Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
S2- balas dendam???


__ADS_3

bukan perkara takut melepaskan tapi ini mengenai tanggung jawab. apalagi ada buah hati yang menjadi prioritasnya agar bisa memberikan kebahagiaan utuh.


"jadi hari ini kita mau kemana?" tanya Marva pada twins sambil memakaikan pakaian pada putra dan putrinya itu. hari ini adalah hari sabtu, sabtu dan minggu adalah dua hari libur dalam satu minggu Marva manfaatkan sebaik mungkin untuk quality time bersama kedua buah hatinya dan istrinya


"di lumah aja, kita main lobot" ucap Zafier atusias yang tengah duduk di tepi ranjang menunggu sang papa menyelesaikan pekerjaannya mengikat rambut Zaafira


"tidak! kita main boneka aja" celetuk Zaafira tak terima.


"nggak boleh teriak-teriak sayang" peringat Marva lembut "sini, jadi berantakan lagikan rambutnya" Marva meraih pundak Zaafira dan membawanya mendekat, rambut anaknya yang susah payah ia sisir untuk diikat kembali berantakan


"kenapa kalau Bila melakukan ini terlihat enteng sekali" batin Marva merasakan tangannya mulai pegal hanya karna mengikat rambut putrinya. ia sudah menghabiskan 10 menitan lebih, tapi hasilnya masih saja tak sebagus hasil olahan tangan Manda yang tak butuh waktu 2 menit sudah selesai menyisir dan mengikat rambut putri mereka.


"bukannya kalian pengen jalan-jalan pagi di taman?" tanya Marva sambil membereskan peralatan rambut putrinya lalu kemudian di simpan di nakas.


"kan udah kemalin" jawab Zaafira


"kemarin?" beo Marva. sebab ia ingat betul 3 hari yang lalu putra dan putrinya meminta ditemani ke taman jika Marva sudah libur kerja. dan perasaan ia belum mewujudkan permintaan twins yang satu itu.


"iya, kemalin kami dali taman sama mommy sama daddy Jef, jalan sole sih, tapi pasti sama aja kalau pagi" jelas Zaafira sukses membuat Marva tercekat dengan dada yang bergemuruh, lagi-lagi informasi mengenai dua orang itu membuatnya terluka.


sebenarnya sudah berapa kali Manda bertemu Jefry tanpa ia tahu? empat hari yang lalu andai bukan dari temannya ia tak akan mengetahui bahwa istrinya diam-diam menemui adik iparnya dan makan siang bersama di sebuah restoran mewah. dan hari ini jika bukan karna twins, Marva juga tak akan tahu jika kemarin terjadi lagi pertemuan antara Manda dan Jefry bahkan jalan-jalan sore di taman dan membawa twins. Manda mewujudkan keinginan twins tanpa mengikut sertakan dirinya dan malah bersama lelaki lain. memikirkan itu membuat mata Marva berkaca-kaca. sungguh sakit rasanya diperlakukan demikian.


beginikah yang Manda rasakan dulu? ternyata sakit sekali. Marva tak tahu mana yang lebih menyakitkan, dirinya yang terang-terangan atau Manda yang diam-diam. intinya ia sadar jika ternyata luka yang ia beri untuk Manda di masalalu memang bukan luka sembarang luka. rasa sakitnya nggak ngotak!


apakah Manda kembali padanya hanya untuk balas dendam?


Marva menggeleng, menyangkal sendiri pikiran buruknya mengenai sang istri.


istrinya adalah wanita terhormat, Manda tak mungkin melakukan sesuatu yang menyeret kedua buah hatinya menjadi korban. pikir Marva.


lalu lelaki itu menoleh ke arah twins, ekspresi sedihnya sudah ia sembunyikan dalam topeng senyumnya "gimana kalau kita berkunjung ke rumah opa Rendra saja?" usul Marva yang spontan di angguki oleh twins


"Fiya Mau"


"Afi mau"


jawab twins barengan membuat Marva terkekeh melihat antusias kedua anaknya. lalu ketiga orang itu bertos tanda sepakat untuk berkunjung ke rumah Narendra.

__ADS_1


tak lama setelahnya, Manda muncul di pintu "aduh genteng dan cantik sekali twinsnya mommy"


"iya dong, papa yang sisilkan lambut Afi" ucap Zafier sambil meraba pelan rambutnya.


"pantas aja putra mommy pagi ini ganteng sekali" puji Manda membuat Zafier tersenyum malu


"Fiya, Fiya gimana mom? papa juga yang ikat lambut Fiya loh, cantik gak mom?"


"cantik sayang" jawab Manda


"maaf nggak serapih dirimu" gumam Marva membuat Manda menoleh ke arahnya lalu menatap bergantian kedua anaknya


"bagus kok" puji Manda. memang benar pekerjaan Marva sudah terbilang cukup bagus. Manda saja butuh waktu berbulan-bulan untuk belajar mengikat rapi rambut putrinya


"mommy hali ini kita mau ke lumah opa Lendla loh" beritahu Zafier akan rencana mereka pada Manda


"oh yah? mommy diajak nggak?" tanya Manda sambil melirik ke arah Marva


"diajak dong" balas Zafier membuat Manda menampilkan wajah sumringahnya bagai anak kecil yang diajak main oleh temannya


"oke deh. sebelum berangkat kita sarapan dulu yuk" ajak Manda


"apa itu bi?" tanya Marva pada asisten rumah tangga yang membawa sebuah kotak berukuran sedang dari arah pintu utama


"nggak tahu tuan. ini paket atas nama nyonya" jawab bik Sri membuat Marva mengangguk


"hah?" suara dari belakang membuat Marva menoleh.


"paket kamu katanya" ucap Marva memberitahu


"aku nggak pesan apa-apa perasaan" gumam Manda bingung, pasalnya ia tak memesan apapun.


mendengar ucapan istrinya, tentu Marva merasa awas. jangan sampai ada orang iseng yang meneror keluarganya. lalu lelaki itu mengambil kotak itu dari tangan bik Sri. namun rahangnya tiba-tiba mengeras kala membaca siapa nama pengirim yang tertera


"ini memang paket kamu" ucap Marva sembari menyerahkan kotak itu di tangan Manda


"tapi aku ng..." ucapan Manda terhenti kala melihat nama Jefry tertera sebagai pengirim di sana

__ADS_1


"paket kamu kan?" sindir Marva dengan ekspresi datar


"iya. kalian duluan aja ke meja makan, aku taro ini dulu" jawab Manda tak kalah datar yang sukses membuat Marva tersenyum miris. namun Manda tak menyadari itu karna dirinya sudah berlalu pergi membawa kotak itu.


_ _ _ _ _


Narendra menyambut bahagia kehadiran anak, menantu serta cucunya.


"apa kabar pa?" tanya Marva setelah mencium punggung tangan mertuanya


"baik. kamu gimana?"


"semakin sehat sejak sebulan lalu" balas Marva membuat Narendra mengangguk setuju, tubuh Marva memang tak sekurus dulu, sekarang tubuhnya sudah ideal.


"naik berapa kilo nih" goda Narendra


"salahkan anak papa yang selalu melayani Marva dengan baik"


Marva dan Narendra terbahak, berbeda dengan Manda yang hanya memutar bola mata malas


"kalau gitu papa tidak akan kaget kalau mendengar kabar twins akan mendapat seorang adik dalam waktu dekat" goda Narendra berhasil membuat Marva dan Manda terdiam. dan Narendra menyadari perubahan raut wajah keduanya.


"nggak di persilahkan duduk nih" sarkas Manda membuat Narendra tersadar kalau mereka masih berada di ambang pintu saking antusiasnya dijenguk oleh keluarga kecil putrinya.


memang dengan Manda, Narendra hampir bertemu setiap hari karena berada di perusahaan yang sama, tapi dengan Marva mereka jarang bertemu. Narendra memilih hidup sendiri karna ingin memberi privasi untuk anak dan menantunya kembali membangun rumah tangga tanpa canggung akan kehadirannya.


"rumah papa rumah kalian juga, nggak usah dipersilahkan seperti tamu" ucap Narendra menanggapi sarkas putrinya, lalu kakek dua cucu itu menuntun twins menuju ruang keluarga


_ _ _ _ _


"apa putriku merepotkanmu?" tanya Narendra pada Marva yang duduk di sampingnya, sementara matanya menatap lurus ke depan dimana ada twins sedang main di taman belakang rumah


"tidak. Bila adalah istri dan ibu terbaik. aku saja yang dulu terlalu buta sampai menyia-nyiakannya" balas Marva, ia mengambil napas sejenak sebelum kembali melanjutkan kalimatnya "terkadang aku merasa tak pantas mendapatkan Bila kembali, dia terlalu berharga untuk pria sepertiku"


"jika sudah berubah janganlah mengungkit kisah silam. teruslah memperbaiki diri dan jangan merasa rendah diri" tutur Narendra agar menantunya tak terus-terusan berkubang dengan masalalu.


"jangan mudah menyerah menghadapinya, mungkin saja dia hanya menguji kesabaranmu" lanjut Narendra. meski sang putri tak pernah menceritakan masalah rumah tangganya tapi interaksi Manda dan Marva tadi jelas membuat Narendra yakin kalau hubungan mereka tak mulus, dan Narendra lihat cenderung Manda-lah yang bertingkah.

__ADS_1


"pasti pa, Bila mampu bertahan 5 bulan dengan perlakuanku di masalalu, maka tak ada alasan bagiku untuk menyerah, 5 tahun bahkan hingga 50 tahun lagi, jika dia baik-baik saja dengan pernikahan yang seperti ini aku akan tetap bertahan"


Bersambung...


__ADS_2