Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
pengusiran?


__ADS_3

keheningan mendinginkan suasana dalam ruangan itu, hanya suara deru napas yang terdengar di telinga masing-masing. penunjuk waktu digital telah menampilkan angka 23.27 tapi kelopak mata kedua orang dewasa itu masih terbuka lebar.


"udah jam berapa?"


Manda tersentak dari lamunan lalu menoleh ke arah sumber suara, menatap lelaki berpiyama pasien warna biru di atas ranjang yang diapit kedua buah hatinya "setengah dua belas" jawabnya setelah beralih menatap mesin waktu digital di atas tv


"sudah sangat larut, kenapa belum pulang?"


"hah?"


"ini sudah larut. apa tidak sebaiknya kamu pulang? twins sudah nyenyak, besok kamu bisa kesini lagi" jelas Marva dengan nada pelan


"kamu ngusir?"


"nggak" jawab Marva cepat, tentu saja tidak. karna keinginan hatinya menginginkan wanita itu selalu berada disisinya. jika saja Manda mau menginap akan sangat Marva syukuri, tapi malam-malam sebelumnya Manda selalu pulang, itu berarti wanita itu tak berniat menginap di ruang perawatannya, bukan?


"tapi nanti makin lar..."


"aku nggak mau twins bangun dan merepotkanmu" sela Manda. memang ini kali pertama juga bagi twins menginap. Manda selalu membawa putra dan putrinya pulang setelah makan malam bersama usai, kemudian esok dipagi hari Manda kembali mengantar twins untuk menjenguk papanya dan menjaganya hingga malam kembali datang. sudah 3 hari rutinitas itu berjalan namun sepertinya kali ini twins tak mau meninggalkan papa mereka.


"maaf"


"untuk?" Manda mengangkat alisnya, kali ini Marva meminta maaf untuk apa lagi? hari ini lelaki itu sudah lebih dari 10 kali meminta maaf padanya perihal hal-hal sepele. dan telinganya sudah jemu mendengarnya apalagi 3 hari ini tak seharipun terlewat tanpa Marva berucap maaf jika lelaki itu melakukan sesuatu di hadapan Manda.


ah, jika saja boleh berandai, Manda akan sangat kesenangan akan permintaan maaf Marva jika dilakukan saat ia masih menjadi istri lelaki itu. dulu, harapan terbesar seorang Bila yang malang tak lain hanya ingin mendengar kata maaf dari suaminya saat sang suami menyakitinya.


"aku selalu merepotkanmu" jawab Marva lirih


Manda terdiam. keheningan kembali mengambil alih. Manda memang tak berniat membalas perkataan si mantan suami.


"aku ngantuk" sebuah pernyataan dari Manda setelah keheningan yang cukup lama, wanita itu lalu melayangkan pertanyaan sebelum ia merebahkan diri di sofa panjang nan empuk yang tengah ia duduki "kamu butuh bantuan?"


Manda menawarkan bantuan pada lelaki itu yang masih dalam posisi duduk dengan kepala menyander pada tumpukan bantal, kali aja Marva kesulitan untuk merebahkan diri karna twins sudah mengambil alih sebagian tempat tidurnya.

__ADS_1


bukannya menjawab, Marva malah bertanya balik "kamu mau tidur bareng.. ehem, maksud aku, apa kamu mau bergabung bareng kami disini? tidur di ranjang jauh lebih enak dari pada sofa" ucap Marva terbata, takut disalah pahami oleh Manda akan maksudnya menawarkan tempat tidur yang nyaman agar wanita itu tak tidur di tempat sempit. lagian Marva tak mungkin macam-macam juga. meski ia tak lagi menggunakan infus tapi ada twins diantara mereka ditambah ia tak bisa melihat.


Fyi: tadi pagi Marva sudah terbebas dari selang infus, hanya saja setiap 3 jam sekali dokter selalu datang dan memasang alat di kepalanya sekitar 30 menit setelahnya di lepas lagi.


Manda menatap lekat ekspresi sang mantan, menarik bibir ke atas melihat Marva yang salah tingkah. Manda baru tahu lelaki itu memiliki sisi lucu seperti ini. ah jadi gemaskan dia.


_ _ _ _ _


langkah kaki seorang pria terlihat buru-buru menulusuri lorong, kemudian langkahnya terhenti di sebuah kamar VIP. lelaki yang masih menggunakan pakaian tidur dan rambut yang tak rapi seperti biasanya itu menarik napas panjang sebelum membuka pintu ruang perawatan bosnya


klik


Radit mengerjab dengan tangannya tak terlepas dari daun pintu yang sudah terbuka, lalu setelah memastikan jika ia tak berkhayal sontak bola matanya terbuka lebar menyaksikan keadaan di dalam ruang perawatan bosnya yang berbeda dari pagi sebelumnya. pemandangan langka yang tak terduga.


"selamat pagi tuan Radit" terlonjak akan sapaan dari belakang, Radit segera menoleh dan mendapati seorang dokter didampingi seorang suster tepat di belakangnya


"eh dok, selamat pagi"


"sepertinya pagi ini tuan Radit tidak dibutuhkan lagi mendampingi tuan Marva" ucap si dokter yang mengerti keterkejutan Radit akan keadaan di dalam sana


tidur wanita itu terusik kala indra pendengarannya samar mendengar langkah beberapa kaki memasuki ruangan, alas kaki yang beradu dengan marmer yang kian mendekat membuat mata yang semalam tak tidur nyenyak itu langsung terbuka, dan Manda langsung beranjak dari baringnya saat mendapati dokter yang 3 jam sekali memasuki ruangan Marva untuk melakukan pemeriksaan


"jangan putus asa, teruslah berdoa. semoga pengobatan selanjutnya ada perkembangan" jelas sang dokter setelah melakukan serangkaian pemeriksaan. dari nadanya dapat disimpulkan bahwa pengobatan yang dilakukan Marva sejauh ini belum ada kemajuan.


"papa pasti sembuh kok, kalna Fiya dan kak Api selalu berdoa sama Tuhan" celotehan penyemangat dari Zaafira membuat Marva tersenyum. namun berbeda dengan Manda begitu juga Radit, raut wajah keduanya terlihat sendu membaca berkas pemeriksaan dokter, lalu menatap Marva dan twins bergantian


"papa akan kuat untuk twins" ucap Marva mengelus kepala kedua buah hatinya yang semalam setia terjaga jika dokter datang memeriksanya.


meski rasanya sungguh mustahil untuk menyembuhkan syaraf-syaraf rusak itu, dengan pemeriksaan yang menganggu setiap 3 jam sekali, ditambah alat yang dipasang di kepalanya itu sungguh sangat menyiksa tapi Marva akan kuat dan tetap optimis menjalaninya, semua karna Twins. ia ingin menjadi sosok ayah yang berguna dan sempurna untuk kedua buah hatinya itu.


"lo butuh bantuan?" tanya Radit pada Marva setelah dokter keluar dari ruangan


"nggak" jawab Marva

__ADS_1


"lo boleh pergi" sahut Marva datar


"baiklah, twins ayok sayang, kita pul..."


"ada twins dan Bila yang menjagaku, jadi lo boleh pulang, Radit" sahut Marva memotong ucapan Bila. wanita itu sepertinya salah paham. pikir Marva


"gue nih yang di usir?" tanya Radit memastikan


"sejak kapan lo tuli?" sindir Marva berhasil membungkam Radit


"nggak ada harga diri banget gue" dumel Radit. tak tahukah Marva jika ia datang kesini dengan penampilan acakan khas orang baru bangun tidur? lihat penampilannya, celana piyama dipadukan kaos oblong warna putih, rambut yang acakan, dan mungkin saja saat ini ia memiliki belek mata karna hanya mencuci mukanya asal akibat buru-buru. ia bangun telat membuatnya harus Rela tampil kusut di sebuah rumah sakit mewah karna takut si tuan bos menunggunya terlalu lama.


berangkat dari apartemen setengah enam pagi, waktu yang harusnya masih ia gunakan untuk melanjutkan bunga tidurnya. tapi sampai di tempat tujuan malah mendapat pengusiran. ck, Radit pengen jadi bos aja kalau nasibnya gini amat.


"yaudah gue cabut. selamat pagi tuan Marva Phelan dan keluarga tercinta" pamit Radit sedikit menyindir


sebelum Radit keluar dari ruangan, ia melirik ke arah mantan istri bosnya, Manda mengangguk kecil sebagai respon paham akan arti tatapan Radit, ia kemudian ikut menyusul Radit keluar ruangan.


"terimakasih" ucap Radit setelah Manda menyusulnya duduk di sebuah kursi taman


"kehadiran twins sangat berpengaruh untuk kesehatan Marva, baik secara psikis maupun harapannya untuk sembuh" jelas Radit saat Manda hanya meresponnya dengan alis terangkat sebelah


"dia pernah hilang harapan karna merasa tak berguna lagi, dia merasa tak pantas mendapatkan kesembuhan saat mengetahui ketiga orang terkasihnya telah bahagia bersama lelaki lain yang lebih sempurna"


"terlepas dari kesalahan di masalalu, tapi aku pastikan lelaki itu sangat mencintai wanita yang pernah ia nikahi 4 tahun lalu, dan itu kamu"


"dia hanya memiliki satu mantan dimasalalunya, tapi dia tidak pernah berkorban sejauh ini seperti saat memperjuangkanmu, rela di pukuli, di tendang, hingga berlutut di depan semua keluargamu. meski memang harusnya ia mendapat balasan karna perbuatannya di masalalu, tapi 27 tahun kami hidup bersama, aku baru melihat sosok Marva yang angkuh rela menepikan harga diri demi mendapatkan kesempatan"


_ _ _ _ _ _


Manda berjalan pelan sambil menenteng beberapa kotak berisikan sarapan yang baru saja ia beli di kantin rumah sakit untuk twins, Marva juga dirinya. hingga saat ia hendak membuka pintu ruang perawatan, seorang anak lelaki menahan tangannya


"tante ngapain masuk di kamal papa?"

__ADS_1


Bersambunggg...


__ADS_2