Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
S2- kecewa


__ADS_3

Seperti lirik lagi ~ bahagia aku bila bersamamu tenang hatiku dalam pelukanmu~


percayalah cinta yang tepat tidak akan datang dengan cepat... menemukan cinta sejati tidak semudah dalam khayalan. semua butuh proses, proses pendewasaan diri misalnya.


seperti yang terjadi pada kisah cinta Marva Phelan dan Nabila Amanda yang pernah gagal berlayar karna nahkodanya tak serius menjalani perannya karna sebuah perjodohan paksa. dan setelah beberapa tahun berlalu saat mereka sudah banyak menemukan pelajaran hidup dan mendewasakan diri, keduanya bisa berdamai dengan masalalu. mereka kembali mencoba memberi kesempatan pada kisah mereka yang pernah gagal. yang awalnya hanya atas dasar tanggung jawab sebagai orang tua untuk memberikan keluarga utuh pada kedua buah hati mereka hingga akhirnya mereka berada di titik dimana mereka menyadari hati keduanya saling terikat satu sama lainnya, mereka saling membutuhkan, bukan hanya mengenai twins tapi untuk hati mereka sendiri.


memang benar bahwa jodoh, sejauh apapun berjarak pasti akan menemukan jalan untuk kembali pada pemiliknya.


"mas..."


"hm" gumam lelaki itu seolah mengabaikan peringatan sang istri


"mas ih!!"


"apa?" tanya lelaki itu disela-sela kegiatan yang selalu menjadi rutinitasnya setelah kegiatan proses pembuahan bersama sang istri selesai


"ish, geli mas" protes Manda yang sedari tadi memegang kepala suaminya agar menjauhkan bibir lelaki itu dari perut telanj*ngnya


"cepat tumbuh nak, papa udah nggak sabar menunggu mu" bisik Marva sembari mengelus lembut perut rata Manda


sudah lima bulan Marva menunggu hasil kerja kerasnya bersama sang istri, lelaki itu sangat menantikan kehadiran tangis seorang bayi di rumah mereka, ia ingin merasakan bagaimana mengurus bayi, membantu sang istri menjaganya, dan merasakan bagaimana rasanya membimbing bayinya untuk merangkak, berjalan, dan untuk mengajarinya mengeja nama papa.


"kok ini lama yah, perasaan twins dulu sekali cetak langsung jadi" gumam Marva sendu


tangan Manda beralih mengelus kepala Marva yang kembali memberi sejuta kecupan lembut di perutnya, ia merasa sangat bersalah tapi menurutnya twins masih butuh perhatian lebih dari mereka.


Manda menyingkirkan kepala Marva, lalu beranjak dari tempat tidur, wanita itu memungut pakaiannya dan memakainya lalu keluar kamar tanpa mengatakan apapun membuat Marva heran pada istrinya itu. karna setiap Marva menyinggung soal anak wajah Manda selalu murung. Marva pun beranjak dan menyusul sang istri dengan langkah pelan.

__ADS_1


dari jauh Marva menaikan sebelah alisnya merasa janggal dengan apa yang dilakukan Manda di dapur. wanita itu tampak mengambil gelas dan mengisinya air, lalu Manda mengambil sesuatu dari rak bumbu, lalu menuangkan isinya pada tangannya kemudian wanita itu teguk bersama air putih. bersamaan dengan itu Marva sudah berada di dekat Manda dan meraih botol obat yang baru saja Manda minum. sontak kehadiran Marva membuat Manda terkejut


"m...Mas?"


"jadi karna ini?" tanya Marva dengan sorot mata kecewa. ia tidak menyangka istrinya melakukan hal yang ia larang


"kenapa? apa karna kamu tak mau mengandung anak-anak ku lagi? hah?" tanya Marva lagi dengan mata memerah, ia terlalu kecewa istrinya tidak pernah bilang padanya terlebih dahulu, membiarkannya berharap terus menerus akan kehadiran buah cinta mereka yang ternyata wanita itu matikan dengan sengaja.


"kalau tidak sudi kenapa tidak bilang? kenapa membiarkan ku terlihat bodoh dengan terus meminta? hah?!" racau Marva dengan geraman tertahan. untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan pernikahan mereka, Marva lepas kontrol pada wanita itu.


"Jawab Bila!" Marva menggoyang-goyangkan pundak Manda meminta jawaban pada wanita dengan mata berkaca-kaca itu


"maaf.. aku..." ucap Manda lemah nan terbata


"jahat kamu, aku kecewa sama kamu!" tutur Marva begitu dalam sembari meraih tangan Manda dan menyerahkan botol pil itu. lalu Marva pergi mengabaikan Manda yang menangisi kesalahannya. wanita itu hanya mampu menatap bersalah pada punggung suaminya yang makin menjauh. Manda menopang dirinya di meja dapur dengan tubuh lunglai


dengan gerakan pelan Manda membuka pintu, dengan cahaya temaram lampu tidur, Manda menatap sendu sang suami yang telah tidur membelakanginya. Manda menghela napas berat untuk mengurai rasa sesak di dada kala mengingat wajah kecewa Marva padanya tadi.


"maafkan aku, aku salah, maafkan aku, mas" bisik Manda yang sudah bergabung di atas ranjang dan memeluk suaminya dari belakang. wanita itu terisak dipunggung Marva sembari berulang kali mengucapkan kata maaf dan penyesalan


Marva yang sedari tadi belum tertidur melepaskan tangan Manda yang melingkar di perutnya, tapi lagi-lagi Manda kembali memeluknya tanpa jera, wanita itu terus mengumamkan maaf


"maafkan aku, aku mencintaimu. jangan marah sama aku, hiks.." Marva mengerjab mendengar kalimat istrinya 'aku mencintaimu' pertama kalinya sang istri mengungkapkan kata cinta untuknya selama mereka menikah. Marva tahu wanita itu memang mencintainya tapi Manda tak pernah dengan gamblang mengucapkannya secara langsung seperti Marva yang setiap waktu mengucapkan cinta pada sang istri.


dan pengakuan cinta itu membuat rasa kecewanya sedikit terobati


yah, selemah itu Marva pada sosok Bila-nya

__ADS_1


tak tega mendengar isakan istrinya, Marva akhirnya berbalik menghadap sang istri yang sesegukan, tatapan datar lelaki itu lemparkan pada sang istri


"maaf, aku janji tidak lagi meminumnya" tutur Manda sungguh-sungguh, wanita itu lalu mengambil napas di sela-sela sesegukannya sebelum melanjutkan ucapannya "aku bukannya tidak mau mengandung anak kamu lagi mas, hanya saja... hanya saja aku berpikir untuk menundanya sedikit lagi karna twins masih butuh perhatian penuh dari kita, mereka baru mau lima tahun... aku takutkan kalau kita punya bayi, waktu kita makin berkurang untuk mereka apalagi kita sama-sama kerja"


'karna itu aku ingin kamu hamil supaya kamu berhenti bekerja dan fokus sama twins dan aku juga kandungan kamu' batin Marva menyerukan kata hatinya yang terdengar manipulatif.


ya, memang Marva sudah beberapa kali menyuruh Manda untuk berhenti kerja dan menyerahkan semuanya pada Narendra yang siap mengelola cabang perusahaan Ivander Corp tanpa melibatkan Manda, hanya saja Manda beralasan tak enak pada Caroline padahal sedari awal Caroline tidak masalah jika Manda fokus pada keluarganya saja. makanya Marva ingin sekali membuat wanita itu hamil sehingga wanita itu bisa fokus pada kandungannya dan berhenti bekerja. dengan begitu Marva bisa membawa Manda dan twins ke Jakarta. jujur Marva lelah harus bolak balik Jakarta-Bali. namun ia lebih menderita jika tak bertemu kedua buah hatinya juga istrinya dalam sehari.


tidak, Marva tidak memanfaatkan kehadiran bayi dalam rencananya, memang ia sangat menginginkan sang istri hamil lagi hingga Marva bisa merasakan menjaga wanita hamil dan seorang bayi. dan dengan Manda hamil dua keinginannya bisa tercapai sekaligus. memiliki bayi lagi, dan Manda berhenti bekerja. dengan begitu Marva bisa memboyong keluarga kecilnya ke Jakarta dimana ia sudah menyiapkan istana untuk mereka


"mas.."


"tidurlah" jawab Marva sembari memejamkan matanya


"aku minta maaf, jangan marah, aku sedih..."


"tidur Bila. ini sudah larut malam" tekan Marva sembari meraih tubuh Manda untuk di peluknya. tak tega mendengar wanitanya terus-terusan memohon maaf padanya padahal Marva sudah tak sekecewa tadi.


"mau tidur sekarang atau tidak sama sekali?" tanya Marva mengancam Manda yang malah terisak di dadanya


"kalau kamu mau, aku siap kok" jawab Manda menantang. namun Marva menanggapinya dengan senyuman miris


"percuma, obat sialan itu akan menghancurkan calon anakku"


Bersambung...


pengen tamatin story ini dan melanjutkan cerita lainnya tapi imajinasi ku masih berputar-putar di kisah ini. hahahah

__ADS_1


__ADS_2