
~jangan peringatkan aku tentang harga diri, karna untuk wanitaku dan kedua buah hatiku aku tak memiliki cara selain menebalkan muka dihadapan mereka. Sadar! iya aku tau diri, aku seorang pendosa yang tengah memperjuangan milikku yang pernah aku sia-siakan~ Marva Phelan (Buah Hatiku, Zafier dan Zaafira)
**********
Marva tersenyum lebar menyaksikan bagaimana lahapnya kedua buah hatinya menikmati makan siang mereka. lelaki itu tak peduli akan tatapan sinis dari lelaki di sampingnya yang mengaku sebagai paman dari twins
"lo jadi paman nggak becus. keponakan kelaparan bukannya dikasih makan malah ngajak main" cibir Marva melirik sekilas ke arah Mario kemudian kembali menyaksikan betapa lahapnya twins menghabiskan makanan mereka
"gue udah tawarin berkali-kali, taukan bagaimana sikap bocah yang mudah sekali berubah-ubah, kalau mau akan bilang dan kalau nggak mau ya bakal nggak mau meski di paksa. jadi jangan sok jagoan pak" sahut Mario tak mau kalah
"btw, ini beneran elo kan, si Marva Phelan yang dingin dan datar?" tanya Mario sekali lagi yang dibalas anggukan dari Marva tanpa mengalihkan atensinya dari twins
"sejak kapan lo sepeduli itu dengan bocah?" sindir Mario
"sejak gue punya anak" jawab Marva santai
"WHAT!" pekik Mario tak percaya membuat kedua batita kembar itu terjengkit kaget sampai makanan yang ada di sendok mereka terjatuh karna reaksi getaran tubuh mereka
"eh,, kaget saya angkel" ujar Zaafira sambil mengelus dadanya
"sorry, sorry twins, lanjutin lagi makan kalian" ucap Mario sambil mengelus punggung Zaafira dan Zafier bergantian "lo udah punya anak? nikahnya kapan?" lanjut Mario mencercah Marva dengan pertanyaan
"punya, dua. nikah udah empat tahun lebih"
"WHAT!"
"huaawaaa,,, angkel jahattt" pecah sudah tangis Zaafira karna suara melengking sang paman yang terus memacu kinerja jantungnya. bocah itu serasa di marahi. begitu juga dengan Zafier yang sudah berkaca-kaca. twins tak biasa mendengar suara keras
__ADS_1
Marva melemparkan tatapan membunuh ke arah Mario, baru saja tangan Marva terulur meraih tubuh kecil Zaafira tapi terhenti karna gerakan cepat dari Mario
"syut syut syut. maafin uncle sayang, uncle tidak marah sama kalian kok. uncle hanya kaget sama om ini" ucap Mario sambil menunjuk Marva yang tengah mengelus lembut kepala Zafier yang juga kaget akan suara histeris sang paman
"lo udah nikah? punya anak? kok gue nggak tahu" cercah Mario kembali setelah Zaafira diam dalam pangkuannya
"emang penting lo tau?" balik Marva bertanya
"huh, si mantan calon kakak ipar emang paling bisa bikin orang tak berkutik" dengus Mario sambil memutar bola mata malas "tapi baguslah, dengan begitu gue nggak akan merasa bersalah karna nggak memenuhi undangan lo, gue nggak mungkin datang juga saat adik dari pemilik acara membenci gue" lanjut Mario menerawang
"Rain juga nggak datang di nikahan gue" jawab Marva melirik sekilas pada lelaki dewasa yang 5 tahun lalu nasib cintanya sama menyedihkan sepertinya walau dalam konteks berbeda genre
jika kisah cinta Marva dan Maya tak mendapat restu kedua orang tuanya sedang Mario dan sang adik bungsunya, Raina Phelan bertepuk sebelah tangan. lebih tepatnya Mario yang mencintai Rain namun sang gadis yang kala itu masih duduk di bangku SMA malah membenci Mario. Marva juga bingung apa salah Mario hingga sang adik tak memberi peluang pada teman segrup bolanya itu. jangankan memberi peluang, sang adik terlihat sangat tak suka akan keberadaan Mario jika Mario datang berkunjung ke rumah mereka.
ya, Mario dan Marva pernah berteman selama 3 tahun saat mereka masih berada di universitas, meski universitas mereka berbeda negara tapi grub bola-lah yang mempertemukan mereka hingga ke akraban tercipta selama grup itu aktif hingga dimana Marva tiba-tiba mengundurkan diri dan tak lagi terlibat pada grup itu
"lo nikah diam-diam?" tebak Mario lagi kembali di angguki Marva
"sudah gue duga. nilai plus buat lo sih, lo orangnya level setianya udah tingkat tinggi sampai bucin banget sama si Maya itu. gue ingat, bahkan lo tak berani menatap gadis lain selain Maya karna lo takut tertarik dan mengecewakan pacar lo itu. jadi tak heran lagi gue, lo nikahin dia secara diam-diam tanpa restu om dan tante" tutur Mario sok tau
Marva tersenyum miris mendengar serentetan ucapan Mario yang kalimat awal lelaki itu memang benar adanya, dulu. ya, ia orangnya memegang teguh kesetiaan, apalagi dengan orang yang sangat ia cintai. banyak gadis mendekatinya yang jauh lebih dari Maya, entah dari segi fisik, latar belakang keluarga, kekayaan, namun Marva hempaskan semua tanpa niat memberi peluang karna tak mau menghianati Maya. termasuk sang istri yang dengan tega ia hempas pergi dengan kejam
"lo kesini bareng istri dan anak lo?"
"dia lebih dulu berada disini. dan gue kesini akan menjemput mereka kembali ke pelukan gue" ucap Marva dengan kesungguhan sambil menatap twins bergantian
"dih, ucapan lo seoalah istri lo itu tengah kabur saja" cibir Marva
__ADS_1
"dia memang kabur membawa kedua anak gue. dan gue pastikan akan membawa pulang mereka bertiga secepat mungkin" balas Marva penuh tekad
"dia punya anak lain lagi?" batin twins yang memang mencuri-curi fokus akan pembahasan dua lelaki dewasa di samping mereka
uhuk uhuk uhuk
secepat kilat Marva berdiri di samping Zafier, ia mengambilkan anak itu minum dan setelahnya menepuk lembut punggung kecilnya
"pelan-pelan nak" ucap Marva lembut
"anak-anak lo pasti bahagia banget punya ayah kayak lo, Va. anak orang aja lo bisa perlakuin seperhatian ini apalagi jika dengan anak kandung lo sendiri. beda sekali dengan nasib twins yang bahkan tak di inginkan oleh ayah mereka. andai aja aku di beri kesempatan untuk bertemu lelaki brengsek itu akan ku kirim dia langsung ke neraka' batin Mario takjub akan sikap Marva pada anak kecil yang begitu lembut dan perhatian walau bukan anak kandungnya. Mario menatap iba pada gadis kecil yang masih berada dalam pangkuannya juga Zafier yang tengah dibantu minum oleh Marva
"gue nggak habis pikir sama istri lo itu, kurangnya lo apa sih? udah kaya, cinta mati, setia, kebapakan, kok bisa sih berpikiran kabur dari lo?"
"gue punya salah yang bahkan tak bisa dimaafkan. gue aja nggak bisa memaafkan diri gue sendiri apalagi Bila. dan mungkin lo juga akan sama setelah tahu kebenarannya" batin Marva
"gue ada salah yang nggak mudah dimaafkan" jawab Marva sembari duduk
"salah?" beo Mario
"hm, gue selingkuh"
"eh bangs*t juga lo!" umpat Mario yang spontan mendapat tabokan tangan mungil di bibirnya
plak
"mulut angkel kotol" ucap Zaafira kemudian berusaha turun dari pangkuan sang paman
__ADS_1
Bersambungggg...