Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
pelukan Rindu


__ADS_3

"papa bicala sama siapa? kenapa nggak mau melihat kita?"


Deg


bolehkah Marva berharap jika mereka memang ada disini? suaranya terdengar begitu nyata, nadanya terdengar bergetar... kali pertama dalam imajinasinya mendengar suara sedih anaknya, biasanya selalu suara tawa dan celotehan.


"Papa nggak lindu sama kita, yah?"


DEG


nyatakah ini?


Marva mencoba meraba, melambai-lambaikan tangannya mencari arah suara yang terdengar sangat nyata di telinganya


"Zaf..."


"Va?" ucapan Marva terpotong kala suara wanita memanggilnya


Marva menelengkan kepalanya ke arah suara


"mah, Marva berhalusinasi lagi twins ada disini, rasanya begitu nyata. Marva sangat merindukan mereka" adu Marva terisak membuat twins kebingungan dengan tingkah dan perkataan papa mereka sedang Reni hanya bisa memberikan pelukan hangat untuk putranya


ya, suara itu milik Reni yang muncul dari samping, Reni menggigit bibir dalamnya untuk mengurai rasa sesak melihat kekacauan putranya yang terisak dalam pelukannya, wanita baya itu kemudian menatap kedua cucunya yang berada di depan mereka, Reni juga melirik mantan menantunya yang bersembunyi di bawah pohon kurang lebih 5 meter dari mereka.


awalnya Reni mencari putranya di taman sesuai kabar Rain saat ia baru datang, namun ia menghentikan langkahnya saat melihat kedatangan Manda dan twins mendekat ke arah Marva, Reni memilih menepi dan meperhatikan mereka dari jauh, akan tetapi saat melihat kedua cucunya menangis karna tak dihiraukan Marva, Reni cepat-cepat mendekat, takut jika Marva malah melakukan kesalahan yang membuat putranya itu gila sendiri seperti kejadian di rumah sakit minggu lalu


"jika mereka ada disini apa yang akan kamu lakukan?" tanya Reni pada Marva tapi netranya tak lepas dari twins yang bungkam karna isyarat darinya. Reni mengisyaratkan mereka diam. bukan maksud menyembunyikan, hanya saja Reni merasa ini momen pas, ia ingin seseorang di bawah pohon sana bisa melihat kesungguhan Marva


"Marva akan... " jawaban spontan Marva terhenti setelah menyadari ketidakmungkinan "...tidak, tidak mungkin mereka disini, mereka ada di Amerika dan bahagia disana, Marva membutuhkan mereka tapi Marva bukan seseorang yang mereka inginkan" lanjut Marva tak percaya diri


"kamu lelah berjuang untuk mereka?" tanya Reni


"bukan lelah ma, hanya saja Marva sadar diri jika Marva tak pantas buat mereka" jawab Marva tersenyum miris sambil mengurai pelukan dari sang ibu


"Marva ingin mereka disini, sangat ingin, tapi jika mereka disini hanya akan mendapat malu karna punya papa buta sepertiku, mereka sudah memiliki penggantiku yang jauh lebih sempurna yang bisa menjadi superhero mereka, tak sepertiku yang hanya bisa merepotkan" tutur Marva kembali memancing air matanya keluar, air matanya selalu tersedia banyak jika ia membayangkan kedua buah hatinya juga wanitanya dimiliki lelaki lain.


"jujur Marva nggak rela mah, tapi Marva tak memiliki jalan lain selain ikhlas, Marva hanya disediakan satu pilihan, dan pilihannya harus merelakan wanita pemilik hatiku dan kedua buah hatiku agar bisa mengempakan sayap kebahagian mereka dengan sosok lelaki yang mereka inginkan. ini jalan karmaku" Reni kembali meraih putranya ke dalam pelukannya, curahan hati disertai tangis pilu putranya mampu membuat jantung Reni serasa diremas kuat, sesak sekali rasanya untuk pertama kalinya Reni mendengar isi hati putranya. selemah itukah sulungnya saat ini? Reni merutuk dirinya yang telah meninggalkan putranya disaat terberatnya.


"jika sakit jangan menyerah nak, Tuhan menciptakan rasa sakit untuk menguji hamba-Nya. berjuanglah sampai kamu bisa mendapatkan mereka, atau kamu bisa menyerah jika memang kesakitan itu bisa membuatmu melepas dengan ikhlas. ada banyak jalan, Va. jangan terus berkabung dengan dalih karma, tak ada orang suci di dunia ini, tapi seseorang yang berani mengakui dosanya dan menyesalinya adalah pribadi yang bijaksana, dan kamu adalah orang itu. jadikan kesalahanmu jadi pelajaran berharga, jangan jadikan sebagai penghalangmu untuk bangkit" tutur Reni sambil mengelus pundak dan kepala putranya

__ADS_1


"mereka hidup Marva mah, detakan jantung ini milik kedua buah hatiku sedang jiwa dan hatiku milik Bila. dan karna itu aku rela melalui kesakitan ini asal tak menganggu kebahagiaan mereka. Marva akan berusaha ikhlas meski rasanya setiap detiknya mencekik" racau Marva membuat Reni ikut terisak, begitu juga dengan Manda disana, wanita yang sedari tadi melihat dan mendengar pengakuan Marva tengah menutup mulutnya untuk menghalau suara tangisnya. ya, Manda menangis, hatinya perih mendengar ketulusan Marva untuknya


masih perlukah ia ragu? harusnya kemarin saat melihat Marva berlutut dihadapan kedua orang tuanya dan memohon untuk tak melibatkannya adalah bukti nyata, tapi bodohnya dengan bukti yang dibawa Jefry malah membuatnya menjadi wanita plin-plan.


Kecelakaan Raina dan Jefry adalah murni jebakan Anggela, dan Marva sama sekali tak terlibat, lelaki itu bahkan mempertaruhkan segalanya demi membuatnya bahagia meski tak bersama. nyatanya lelaki yang ia benci adalah lelaki yang akan melakukan apapun asalkan dirinya juga twins bahagia.


"kenapa takdir kita harus serumit ini, kak" monolog Manda dengan berderai air mata. 'kak' adalah panggilannya untuk Marva dimasa ia masih menjadi istri lelaki itu kembali ia sebut untuk Marva


"aku ingin mereka selalu bahagia, dan bahagia mereka tidak ada aku di dalamnya" ucap Marva masih dalam pelukan sang ibu


Marva tersentak kala ia merasakan sentuhan pada pahanya, karna jelas kedua tangan ibunya tengah memeluknya di pundak, dan tunggu...


Marva tercengang saat tangannya meraba dan mendapati tangan kecil disana, bukan hanya sepasang tapi dua pasang


"papa" suara lirih itu sontak membuat Marva melepas pelukan dari Reni


"mah?" tanya Marva meminta petunjuk


tangan kecil dalam genggaman tangannya itu menepuk nepuk pahanya "papa jangan nangis lagi, Fiya sedih kak Api juga, hiks hiks" ucap suara batita perempuan disertai isakan mampu membuat jantung Marva berhenti sepersekian detik


"mereka kedua buah hatimu" sahut Reni lirih


melihat tatapan sang papa yang hanya lurus ke depan dengan bola mata kesana kemari membuat twins tercengang


"papa udah lupa sama kita? kenapa papa nggak mau lihat Afi dan Fila?" pertanyaan Zafier membuat Marva segera meraih kedua anaknya kepangkuan dan memeluknya. ia rindu, ia butuh pelukan kedua buah hatinya, masalah twins akan kecewa karna dirinya yang tak bisa melihat nanti saja, yang penting Marva bisa memeluk untuk mengobati rasa rindu di dadanya


"hingga papa kehabisan nyawapun, kalian akan selalu papa ingat nak, maafin papa" gumam Marva disela-sela kegiatannya mengecupi pucuk kepala twins bergantian


"Cup. Api lindu sekali sama papa, hiks hiks" ucap Zafier tersedu setelah mendaratkan kecupan di pipi kiri sang papa, batita laki-laki berumur 3 tahun itu memeluk tubuh sang papa begitu erat seolah ia akan terpisah jika pelukannnya melonggar


"Cup. Fiya juga lindu sekali sama papa..." Zaafira ikut memberikan kecupan di pipi kanan Marva "tapi kalna kata kak Api papa masih sakit dan tidak mau diganggu jadinya Fiya nahan lindu sampai Fiya pusing kalna mikilin papa telus..." tutur Zaafira mengencangkan pelukannya. ucapan polos Zaafira membuat tiga orang dewasa itu merasa tersentil terutama Manda dan Marva. terlebih Marva yang lagi-lagi menyalahkan diri akibat perbuatan bejatnya dimasalalu kedua buah hatinya menjadi korban anak broken home.


"...Fiya juga nggak nangis loh waktu papa suluh pelgi, kalna Fiya ngelti kalau olang sakit butuh istilahat banyak" lanjut Zaafira membuat tangis Marva pecah. tangis haru bercampur rindu dan penyesalan. kedua buah hatinya adalah karunia terindah dalam hidupnya, kebesaran hati twins adalah plus untuknya. oh betapa baiknya Tuhan pada seorang pendosa sepertinya telah menghadiahinya twins dalam hidupnya.


"maaf,, maafin papa nak, maafin papa" banyak hal yang ingin Marva ucapkan untuk kedua buah hatinya tapi ia hanya bisa mengeluarkan kata maaf berulang karna sesak dalam dadanya membuat lidahnya kelu.


E


N

__ADS_1


D


.


.


.


guys jadi gini,,, hiks aku tuh nggak tega tapi gimana yak,, aku nggak punya jalan lain, gimana yah, aku mau ngomongnya nggak enak, tapi jujur harus banget ngomongin ini sama kalian... huhuhu mengsedih aku tuh...


jadi aku stop episode sampai disini aja... maafin autor yang nggak bisa maksimal.


Autor baru bisa balik up lagi tahun depan. semoga kita diberkahi umur panjang...


sampai berjumpa di tahun 2022, para reders yang sudah setia dari awal maupun yang baru. terimakasih atas semangatnya dan masukannya.


AILOVYU Buanyakk buaaaanykk untuk kalian semua


baybay Readers! semoga tahun depan kita semua bisa lebih baik lagi, segala cita-cita bisa diwujudkan, kesalahan ditahun ini mari jadikan pelajaran untuk terus belajar di tahun yang sudah siap 365 harinya dilalui. sukses, berbaik hati, berjiwa besar dan sehat terus untuk kita semua...


doa terbaik untuk kita semua...


yang pengen punya usaha semoga segera terwujud,


yang udah punya usaha semoga makin maju,


yang pacaran segera dibawa ke pelaminan,


yang jomblo semoga secepatnya bisa bertemu jodohnya.


yang sudah menikah semoga bisa saling setia hingga akhir hayat,


yang pengen punya anak semoga bisa diberi kepercayaan oleh Tuhan Yang Maha Esa,


yang sudah punya anak semoga menjadi orang tua yang bisa jadi teladan untuk buah hatinya.


yang paling utama, semoga keimanan kita untuk agama masing-masing makin kuat hingga kita tak mudah tumbang.


Aamiin ya Allah.

__ADS_1


__ADS_2