
Marva mengeratkan jabat tangannya pada Narendra, lalu dengan lantang berucap "saya terima nikah dan kawinnya Nabila Amanda binti Narendra Gunawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" Marva mengucapkan ijab kabulnya dengan satu tarikan nafas dan suara yang tegas.
semua saksi bersorak mengatakan SAH membuat Marva tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca. hari ini adalah pencapaian yang luar biasa dalam hidupnya, terwujudnya mimpi untuk menikahi sang pemilik hati, menjadi keluarga utuh untuk kedua buah hatinya. sedang Manda yang duduk di sebelah Marva menghembuskan napas lega. untung saja Marva tak salah menyebut namanya, seperti 5 tahun lalu. hal itu yang sejak tadi membuat Manda khawatir.
Marva terlihat sangat girang, ia bahkan melakukan tos dengan Phelan yang duduk disebelahnya karna terlalu senang berhasil mempersunting kembali wanitanya, kali ini menikah dengan cinta. para tamu maupun Narendra yang bertugas menjadi penghulu khusus untuk melepas putrinya untuk Marva tertawa melihat tingkah girang mempelai lelaki yang seperti memenangkan sesuatu yang besar.
berbeda dengan Manda yang justru terlihat malu melihat tingkah Marva. Reni yang menyadari itu sampai mengingatkan Marva untuk menjaga sikapnya karna putranya itu terlihat seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru yang sangat diinginkannya.
layaknya twins yang kegirangan mendapatkan mainan baru, seperti itulah tingkah Marva di mata Manda. dasar bapak- bapak tak tahu umur. anak udah dua masih aja nggak bisa jaga sikap.
lalu acara dilanjutkan dengan pemasangan cincin, Manda mencium tangan Marva lalu berganti Marva mencium kening Manda, lama. lelaki itu memejamkan matanya, menyampaikan segala kesyukuran dan cintanya disana, ia merapalkan berbagai doa dalam ciumannya. "till jannah istriku" bisiknya lalu melepas ciumannya
jujur, Manda pun terharu akan proses ijab kabul kali ini. apa yang tidak ia dapatkan saat ijab kabul 5 tahun lalu hari ini ia mendapatkannya. didampingi sang papa dan tatap cinta dari sang suami. Manda berharap, semoga saja keputusannya kembali pada Marva adalah pilihan terbaik, baik untuk kedua buah hatinya, baik untuk Marva juga baik untuknya.
_ _ _ _ _
pesta berlanjut, acara Resepsi dihadiri ribuan tamu undangan untuk mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Manda terlihat sangat cantik, bak putri negeri dongeng dengan gaun pink yang berkilau melekat indah membungkus tubuh rampingnya. Marva tak kalah tampan, dengan warna jas dan celana senada.
"capek?" tanya Marva ketika mereka masih berdiri menyalami tamu yang seperti tidak berhenti datang.
Manda menggangguk kecil menanggapi.
"ini salah satu yang menjadi alasanku kenapa dulu aku nggak mau ada resepsi" bisik Marva memancing Manda menoleh padanya
"bukannya dulu memang terpaksa meni..."
"ya salah satunya itu, tapi memang aku nggak suka acara ramai dan lama seperti ini" potong Marva cepat, masih dengan nada berbisik
"lalu kenapa kamu mengadakan resepsi mewah?" tanya Manda berbisik setelah selesai menyalami tamu lainnya
__ADS_1
"karna ini impianmu. jadi aku mewujudkannya demi kamu"
"kamu terpaksa mengadakan resepsi ini?" kali ini Manda kembali menoleh dengan wajah masamnya
"nggak juga. karna kamu suka, aku jadi suka juga. yah meskipun harusnya kita udah di kamar malah masih berdiri disini" jawab Marva santai lalu mengeringkan matanya diakhir kalimatnya
Manda merotasikan bola matanya, tahu persis apa maksud dari perkataan lelaki yang beberapa jam lalu resmi menjadi suaminya itu.
"setelah ini tolong pijitin badan aku yah. pegel banget ini" bisik Marva
"aku juga pegel kali" sewot Manda menanggapi
"yaudah kita sama-sama saling mijit aja, gimana?"
belum sempat Manda menanggapi kalimat Marva, mereka diinterupsi oleh kehadiran Radit
"wahhh bahagia sekali pasangan pengantin baru cover lama ini, bisikin apaan sih?" goda Radit mengerlingkan mata pada keduanya membuat Manda tersenyum masam, menyembunyikan rona wajahnya yang tiba-tiba terasa panas.
"selamat yah bro" Radit memeluk sahabatnya itu
"kisah kalian membuat gue percaya akan papatah jika cinta tahu jalan pulang" ucap Radit setelah melepas pelukannya
"ankel!!" pekik Zafier kala melihat sang paman berjalan menuju panggung. Lalu Zafier disusul Zaafira beranjak menghampiri Mario
"kok angkel balu datang sih?" protes Zaafira dengan wajah kesal
"maafin uncle sayang, tadi macet banget" dusta Mario. ya, sebenarnya butuh waktu lama untuknya berfikir datang diacara resepsi sang adik yang menikah dengan teman lamanya karna menghindari dua orang yang membuatnya kecewa beberapa bulan lalu.
"sini angkel, Api punya kue enak" lalu Zafier menarik tangan Mario menuju meja yang tadi mereka duduki
Deg
kedua pemilik jantung itu mencelos ketika tatapan keduanya bertemu
"hai" sapa Mario santai padahal hatinya tak baik-baik saja melihat wanita yang telah lama ia sukai tengah mengandung anak dari sahabatnya sendiri, Jefry
__ADS_1
"ha..hai" berbeda dengan Rania, wanita berdres putih senada dengan pendamping mempelai pengantin itu terlihat gugup. tentu saja, setelah sekian lama tak bertemu dengan lelaki yang pernah menjadi motivasinya menggapai cita-citanya menjadi seorang dokter kini mereka tengah duduk berdampingan
"suami kamu mana?" tanya Mario basa basi
"hah?"
Mario mengendikan dagunya ke arah perut besar Raina, membuat Raina segera memegang perutnya dan menyadari keadaannya. seketika wajahnya berubah pucat. bagaimana bisa ia lupa jika dirinya tengah hamil besar. dan sekarang Mario tahu keadaannya?
"berapa bulan?" tanya Mario lagi mengabaikan wajah bersalah Raina
"de.. delapan" Mario mengangguk santai dengan jawaban terbata Raina
"selamat yah" ucap Mario terlihat tulus membuat Raina mengangguk tipis dengan wajah menunduk.
"pasti kamu nggak nyamankan aku duduk disini, takut suamimu cemburu?" tebak Mario membuat Raina mengangkat kepalanya. namun baru saja ia hendak menjawab Mario sudah berdiri
"twins, uncle ke mommy dulu yah, mau foto bareng" pamit Mario pada kedua ponakannya
"mau foto? kami ikut" pekik twins ikut berdiri lalu mengapit kedua tangan Mario, ketiganya kemudian beranjak meninggalkan Raina yang hanya mampu menatap kepergian mereka dengan sendu
"suami Rain tidak akan peduli dengan siapa Rain duduk kak. dia tidak peduli, bahkan pernikahan iparnya saja dia nggak datang" monolog Rain dengan mata berkaca-kaca kaca memandangi punggung Mario yang semakin menjauh
lelaki itu, suaminya, entah kemana. dua bulan terakhir tak pernah memberi kabar apalagi pulang ke rumah mereka. Jefry seolah hilang di telan bumi
Bersambunggg...
kalian dapat undangan tidak?
apa?
tidak?
__ADS_1
huh kasihan?
autor juga nggak dapat sih