Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
S2 - pernikahan dingin


__ADS_3

dengan mata terpejam, Marva meraba tempat tidur sisi kirinya, kosong nan dingin. perlahan kelopak matanya terbuka. benar saja, ia hanya seorang diri di atas ranjang. lalu kepalanya bergerak menatap jam dinding, berusaha membuka mata beratnya untuk memperjelas penglihatannya. jam 2 dini hari.


sepertinya Manda tertidur lagi di kamar twins. pikirnya


Marva menghembuskan napas panjang sebelum kembali memejamkan matanya untuk melanjutkan tidurnya


satu minggu sudah sejak mereka resmi rujuk, namun sikap Manda belum juga mengalami kemajuan perubahan. hanya jika twins bersama mereka Manda akan bersikap layaknya seorang istri untuknya namun jika hanya mereka berdua wanita itu akan bersikap dingin dan tak tersentuh.


wanita itu jelas menunjukkan jika ketersediaannya menerima kembali ajakan rujuk Marva tak lain dan tak bukan hanya untuk kebaikan twins.


_ _ _ _ _


"selamat pagi semua" sapa Marva pada ketiga orang di meja makan dimana Manda tengah menyajikan makanan di piring twins masing-masing


"pagi papa"


"pagi"


jawab twins dan Manda barengan.


"wah sepertinya enak nih" Marva berbinar melihat menu sarapan nasi goreng seafood di meja makan


"iya dong, masakan mommy kan selalu enak" jawab Zafier membanggakan Manda


"Makasih sarapannya, sayang" ucap Marva tulus sambil menatap Manda


"hm. duduk gih, aku ambilin" balas Manda lalu mengambil piring dan mengisi piring untuk Marva


Marva memerhatikan pergerakan Manda. wanita itu dengan telaten mengurus twins dan juga dirinya jika sudah berhubungan dengan dapur. ini yang membuatnya merasa sedikit berharga di mata Manda, wanita itu melayaninya dengan baik, jadi tubuh kurusnya bisa kembali pulih jika makannya terurus.


satu hal yang membuat Marva tak perlu menuntut sang istri untuk membuka hati untuknya, karna kehadiran Manda dan twins dalam hidupnya sudah cukup baginya. juga ketersediaan wanita itu ikut tinggal di Indonesia membuat Marva merasa lega. ia tak perlu lagi terbang belasan jam untuk bertemu istri dan anaknya, sekarang ia hanya perlu waktu 2 jam saja, dari Jakarta ke Bali.


ya, Manda memilih tinggal di Bali, karna ia ingin membantu Narendra menangani perusahaan cabang Ivander. Manda hanya tak ingin lepas tanggung jawab pada perusahaan Ivander, mengingat bagaimana keluarga Ivender begitu menyayanginya seperti keluarga kandung sendiri. yang telah membantu merawatnya dan twins selama hampir 5 tahun. jadi Manda tetap bersikukuh untuk mengabdi pada perusahaan keluarga angkatnya itu meski Caroline dan Aline melarangnya karna menyuruh Manda fokus pada keluarga kecilnya tapi Manda berasalan sudah nyaman bekerja membuat Caroline dan Aline tak bisa mengatakan apa-apa lagi.


"makasih" ucap Marva sambil tersenyum hangat ke arah Manda saat menerima piring dari wanita itu

__ADS_1


"ya, makanlah. pesawatmu bentar lagi take of" balas Manda yang lagi-lagi membuat sesuatu dalam dada Marva terasa perih.


Manda hanya akan berbicara banyak jika mengenai kepergiannya, itupun hanya mengingatkannya untuk segera pergi.


Marva mengulas senyum menanggapi ucapan Manda. ia memang selalu berusaha baik-baik saja apapun yang ia rasakan atas sikap Manda terhadapnya.


_ _ _ _ _


"maafin papa nggak bisa antar kalian sekolah" ucap Marva penuh sesal


"nggak apa-apa, kan ada aku yang nganter mereka" sahut Manda mengitrupsi pelukan Marva pada twins.


"kalau gitu papa berangkat sayang, belajar yang baik yah, nanti weekend kita jalan-jalan bareng" ucap Marva lalu memberikan kecupan untuk kedua buah hatinya


"aku berangkat yah" pamit Marva pada Manda


"yah hati-hati" lalu wanita itu mengambil tangan kanan Marva untuk di bawa ke keningnya.


"baik-baik yah" ucap Marva setelah mendaratkan kecupan di kening Manda.


memang apalagi yang Marva harapkan selain kehadiran Manda di sisinya? balasan cinta dari wanita itu? jawabnya iya, tapi Marva tak bisa memaksa. wajar butuh waktu lama bagi Manda untuk mempercayainya kembali. karna Marva sadar betul akan trauma gadis remaja yang dulu ia siksa dan hancurkan mentalnya itu.


_ _ _ _ _


ceklek


dengan penampilan yang sudah tak rapi lagi, wajah lesu dan letih, Marva membuka pintu rumah yang sudah satu bulan ini menjadi tempatnya pulang.


gelap. selalu seperti ini. berangkat pagi pulang malam. dan malam ini ia baru tiba di rumah tepat pukul 11 malam akibat penerbangannya harus tertunda karna cuaca yang tak mendukung. jadi wajar hanya kegelapan yang menyambutnya, sebab ketiga orang tercintanya pasti sudah berdamai dengan mimpi indah masing-masing. inilah sebabnya ia memegang kunci rumah sendiri, sebab tak ingin menganggu tidur sang istri.


melangkah gontai memasuki rumah, Marva menuju dapur untuk menghilangkan dahaganya. meneguk segelas air, setelahnya ia beranjak menuju kamar milik kedua buah hatinya.


membuka pintu dengan pelan, senyumnya langsung merekah melihat di keremangan cahaya lampu tidur, putra dan putrinya begitu damai dalam lelapnya. melihat pemandangan itu membuat rasa lelahnya terbayar konstan. karna satu-satunya obat ampuh baginya hanya dengan melihat secara nyata kedua buah hatinya di depan matanya.


mengendap agar bunyi langkahnya tak mengganggu, Marva mendekat ke ranjang twins, menggeleng kecil kala melihat selimut putrinya sudah tak lagi membungkus tubuh mungil itu.

__ADS_1


Marva memperbaiki selimut sang putri "selamat tidur dan mimpi indah putri cantiknya papa" ucap Marva lalu mengecup kening Zaafira.


lalu lelaki dua anak itu beralih ke ranjang Zafier. si Zafier yang kalem. lihat saja, bukan hanya dalam keseharian, tapi dalam ketidaksadaran pun putranya itu tetap kalem.


"jagoannya papa. papa sayang banget sama Afi. selamat mimpi indah nak" ucap Marva sambil membelai pelan rambut putranya lalu mengecup kening Zafier diakhir kalimatnya


Marva terdiam sejenak, di mana istrinya? apakah ada di kamar mereka? mungkinkah?


Marva melangkah keluar kamar twins setelah puas mengurangi rasa rindunya, ia melangkah lebar menuju kamarnya dan sang istri untuk memastikan keberadaan sang istri


ceklek


"Bil?"


Marva memastikan penglihatannya baik-baik saja. jika tadi hanya keremangan yang menyambutnya di kamar twins berbeda di kamarnya yang terang benderang. dan yang membuat Marva terkejut karna sang istri masih melek, duduk di sofa sambil membaca buku.


"baru pulang?" tanya Manda mendongak menatap Marva


"kenapa belum tidur?" tanya Marva mengabaikan pertanyaan Manda, lalu kepala lelaki itu menoleh menatap jam, pukul 11:23 tengah malam


"sudah makan?" dan sesi tanya tanpa jawab dari pasangan suami istri itu terhenti kala Manda menanyakan sang suami sudah makan?


"belum kan? kamu mandi dulu, aku udah siapin kamu baju ganti di kasur. aku tunggu di dapur, mau panasin dulu makanannya" setelah berucap Manda segera beranjak keluar meninggalkan Marva yang masih terdiam bodoh akan perintah sang istri


_ _ _ _ _


"lama banget, mandi doang" dumel Manda kala Marva sudah tiba di meja makan dengan pekaian rumahan yang terlihat segar


"maaf" ucap Marva pelan sambil menggaruk tengkuknya. meski merasa ia sudah sangat cepat hingga mandinya hanya 5 menitan, ia mandi tergesa-gesa demi tak membuat Manda menunggu lama. tapi jika sang istri mengatakan lama, maka Marva tak bisa membela diri, sebab istrinya tak pernah salah dimatanya alih-alih semua salahnya. ya, se budak itu Marva di hadapan seorang Nabila Amanda


"nggak papa kan makan sendiri? aku udah makan sama twins tadi" tanya Manda setelah menyajikan makanan di piring lalu diletakan di depan Marva


"oh iya nggak papa. makasih makanannya" ucap Marva tulus


sungguh perasaan Marva membuncah haru, diperlakukan seperti ini saja oleh sang istri sudah sangat membuat Marva bahagia luar biasa. bolehkah Marva beranggapan bahwa Manda rela tak tidur duluan demi menunggunya pulang karna ingin memastikan dirinya makan atau tidak? jika kenyataan tidak demikian, tapi Marva tetap menilai seperti itu demi tak menghempaskan rasa bahagia luar biasa di dadanya.

__ADS_1


Bersambunggg


__ADS_2