
"papa!" pekik Vino menyambut kedatangan Marva, anak itu langsung melempar asal kompres di dahinya dan beranjak turun dari ranjang, kaki kecilnya berlari menubruk tubuh jangkung sang papa yang baru saja muncul di ambang pintu kamarnya
"halo jagoan" sapa Marva dan membawa tubuh kecil Vino ke gendongannya
"papa kenapa ninggalin Vino sih? Vino nangis caliin papa tadi" omel Vino dengan mengerucutkan bibirnya
anak itu kesal karna tak mendapati papanya sewaktu bangun pagi tadi. padahal ia menahan rindu seminggu lebih dan baru bertemu papanya semalam, namun paginya ia harus disambut kesunyian lagi karna ketidak-hadiran Marva di sisinya
"maafin papa sayang, papa ada urusan mendadak di kantor" alibi Marva menjaga perasaan Vino, karna nyatanya Marva malah sibuk menguntit kegiatan kedua buah hatinya.
seketika sekelebat ucapan twins akan kehadiran Vino yang ditakuti mereka membuat Marva memejamkan matanya. ia tengah berada di situasi rumit.
konsekuensi yang harus ia pertanggung-jawabkan akan langkah yang ia ambil di masalalu dengan kepala panas
ia kini harus kehilangan orang-orang penting dalam hidupnya, istri, kedua orang tua, juga kedua darah dagingnya atas obsesi sesaatnya pada ibu dari anak angkatnya yang tengah bergelayut manja di pundaknya
menyalahkan Vino dan melempar anak itu pergi dari hidupnya? jelas tidak bisa Marva lakukan. Arvino telah menemani kesendiriannya selama 4 tahun ini, dengan kata lain kehadiran Vino bisa mengobati keterpurukannya atas kepergian Bila, walau tak sepenuhnya mengobati kelaraannya tapi setidaknya keberadaan si kecil Vino bisa membuat Marva sedikit terhibur. Marva menyayangi bayi mungil itu terlepas darah siapa yang mengaliri tubuh kecil itu
Arvino Putra Phelan, bahkan dengan suka rela ia memberikan nama belakangnya untuk anak dari mantan pacarnya setelah resmi ia adopsi. bukan tentang ia yang masih menaruh hati pada Maya sampai mau merawat bayinya, bukan. karna sebulan kepergian Bila Marva tersadar jika rasanya pada Maya bukan lagi mengenai cinta. tapi sekedar kasihan akan nasib Maya yang dihamili terus ditinggal oleh selingkuhan mantan pacarnya itu. nyatanya cintanya yang sesungguhnya telah di bawah pergi oleh gadis yang telah ia sia-siakan namun lambat ia sadari. bodoh bukan.
dua bulan kepergian Bila, membuat Marva uring-uringan, walau Marva tengah sibuk mencari istrinya yang tengah kabur tapi ia tak bisa menutup mata bahwa bayi Maya butuh uluran tangannya. Anak itu lahir dengan ibu yang koma. selain merasa kasihan karna bayi tak berdosa itu tak memiliki keluarga, Marva berpikir dengan merawat bayi kecil itu ia harap hutangnya yang pernah menjanjikan Maya sebuah pernikahan setelah wanita itu sembuh bisa terbayarkan. karna saat itu takdir sudah berkata lain, hati dan logikanya tiba-tiba menginginkan Bila untuk terus menjadi istrinya.
tak tahu diri memang. setelah menyakiti, ia dengan tak tahu malunya menginginkan kembali.
"papa, Vino mau ketemu mama" suara lirih Vino menyentak lamunan Marva
\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
setumpuk berkas yang ia bawa pulang dari perusahaan kini tengah ia geluti di ruang kerjanya. bola matanya dengan lincah bergerak mengikuti tiap sederet kata yang tertuang pada kertas yang bersampul map warna merah di tangan kirinya sedang tangan kanannya memainkan pena yang terselip di jarinya. dirasa beberapa lembar kertas dengan noda tinta membentuk sebuah abjad yang merangkap jadi sebuah proposal itu bisa menguntungkan perusahaannya, kembali Marva bibuhi tanda tangannya. kemudian ia beralih lagi ke map berikutnya yang tentu milik dari perusahaan lain yang juga tengah mengajukan kerja sama dengan perusahaannya
ketukan pada daun pintu membuatnya tersentak dari fokusnya, padahal susah payah ia bisa memfokuskan diri dan pikiran pada beberapa lembar kertas bernilai miliaran itu. berdecak malas ia kemudian berseru mempersilahkan orang itu
"masuk"
ceklek
"ini kopinya, tuan" ucap bik Ina, pembantu rumah tangga yang telah bekerja padanya sejak kepergian Bila, wanita 50 tahunan itulah yang mengurus rumahnya dan membuatkannya hidangan untuk menyumpal lambungnya, sekaligus jadi suster putra angkatnya.
"permisi tuan" pamit bik Ina setelah menaruh secangkir kopi panas di meja Marva, yang kemudian kopi itulah yang akan membantu Marva melek hingga dini hari untuk merampungkan pekerjaan rumah anak sulung Phelan itu
"hm" gumam Marva sebagai jawaban
"apa demamnya udah turun?" tanya Marva membuat pergerakan bik Imah terhenti
"udah mendingan, den Vino juga belum terbangun setelah di tinggal tuan tadi" jawab bik Imah, setelahnya wanita baya itu meninggalakan ruang kerja majikannya
"argh brengsek!!" makinya yang ditujukan untuk dirinya sendiri, ia melampiaskan dengan menjambak rambutnya hingga beberapa helai rambutnya rontok akibat tarikan kerasnya
dengan menyakiti dirinya ia berharap dapat melampiaskan rasa sakit jiwanya dengan kesakitan raganya, namun nyatanya tak berefek apa-apa. di dalam sana malah semakin terasa dihimpit batu besar sehingga membuat dadanya kembang kempis dengan gerakan cepat
ah, ia butuh penenang. obat, ya, ia butuh obat. segera ia beranjak dan berlari memasuki kamar Bila yang juga sudah menjadi kamarnya, tangannya tak sabar membuka laci nakas, nihil. ia memejamkan mata kuat-kuat setelah menghempaskan bokongnya di ranjang, ia baru ingat jika obat yang selama 2 tahun menemaninya itu sudah tak lagi ia konsumsi sejak dinyatakan mulai sehat satu tahun lalu dari kekurang-warasannya. beberapa bulan kepergian Bila, ia sempat gila, namun karna dukungan kedua orang tuanya juga keluarganya ia bisa pulih setelah 2 tahun bergelut dengan dunia fantasinya akan Bila. ya, ia gila karna perempuan si*lan itu.
perempuan yang tadi sore mengabaikannya demi seorang pria lain, bahkan dengan kurang ajarnya wanita itu bermesraan dengan pria yang kata twins adalah seorang dokter, cih, mereka bahkan dengan tak tahu malunya saling merangkul saat memasuki rumah. istrinya satu atap dengan lelaki asing dan memerkannya padanya.
lalu jika Bila si*lan jadi dia apa?
__ADS_1
oh ayolah, jangan buta akan masalalu
sesungging senyuman miris tercetak di bibir pucatnya kala dengan jelas otaknya memerintahkanya menengok ke masalalu. ia seorang penjahat kelamin.
"ternyata rasanya sesakit ini. hahahahah... hiks Bila, maafkan aku"
"maaf"
"tolong ampuni aku"
"aku kotor tapi aku menginginkanmu"
"jangan membalas ku sesakit ini lagi, tolong..."
racau Marva dengan mata yang sudah dibanjiri air hingga terjun bebas membasahi lututnya yang ia tekuk dalam pelukannya
si mantan suami yang menyesal
si mantan br*ngsek yang bertaubat
si mantan baj*ngan yang mengaduh
si mantan pecundang yang menangis tersedu
si mantan pendosa yang memohon ampunan
si mantan gila yang mulai kembali gila
__ADS_1
si mantan apalagi?
bersambungggg.....