
"molning mom, molning opa" sahutan suara bocah dari arah tangga mengalihkan atensi Manda yang tengah menenangkan sang papa dari amarahnya
begitu juga dengan Narendra, nafasnya perlahan teratur setelah melihat kedua cucunya menuruni tangga
"morning twins"
"selamat pagi juga cucu ganteng dan cantiknya opa"
balas anak dan ayah itu pada twins dengan senyuman ceria
"sarapan yuk" ajak Manda pada semuanya, ia kemudian berjalan lebih dulu ke arah meja makan setelah memberikan senyuman tipis pada papanya, memberitahu jika semua akan baik-baik saja.
Manda dan Narendra sedikit bernapas lega kala suara memuakan di luar pintu utama telah hilang
sesaat setelah twins turun dari lantai atas
"ayok" ajak Narendra dan menuntun kedua cucunya mengikuti Manda. namun tanpa di sadari oleh Narendra, mata ke dua batita itu mencuri lirik ke arah tangan kakeknya yang memegang tangan mereka. tangan yang mereka lihat begitu keras menghajar papanya Vino
kepala kecil Zaafira mendongak menatap wajah kakeknya, yang di balas senyuman oleh lelaki baya itu
"opa?" tanya Fira akhirnya
"kenapa princess?"
"kalau Fiya nacal, opa mukul Fiya ndak?" tanya Zaafira serius membuat Narendra menghentikan langkahnya
"emang Fira nakal?" tanya balik Narendra dengan lembut yang di balas gelengan kecil si bungsu Manda itu
"cucu-cucu opa ini kan pada pintar-pintar, jadi nggak mungkin nakal" jawab Narendra membuat twins makin gamang
"nakal-pun opa nggak mungkin memukul cucu-cucu kesayangan opa ini" lanjut Narendra mengelus lembut kepala kedua cucunya membuat yang di elus bernapas lega walau masih ada keraguan di benak mereka.
__ADS_1
mereka melihat dengan kepala mata mereka bagaimana kakeknya menghajar bertubi-tubi seseorang tadi. mata twins kompak melirik ke bahu mereka yang tengah dielus lembut oleh tangan kasar milik sang opa yang kini berada di tengah mereka, tangan kasar namun memberi kehangatan setiap sentuhan di tubuh mereka itu beberapa menit lalu membuat papa Vino yang mengaku papa mereka juga sampai tumbang ke lantai.
"sekarang yuk kita sarapan, terus opa yang nganterin ke sekolah, maukan?" tanya Narendra yang di angguki twins. Narendra sudah berani berkeliaran di ibu kota, setelah setahun terakhir hidup sebagai petani sawah di perkampungan terpencil di salah satu desa kota Sengkang, sebab kini kasusnya sudah ditutup akibat kekuasaan putrinya. lebih tepatnya sebenarnya tuntutannya sudah dihapus beberapa hari lalu oleh si penuntut jadi Manda tak terlalu kerepotan mengembalikan nama baik dirinya
"pelan-pelan nak. kalian udah nggak sabar berangkat yah?" goda Manda pada twins yang terlihat buru-buru memakan sarapan mereka
"hu'um" kompak keduanya mengangguk karna mulut mereka penuh makanan
membuat Narendra dan Manda terkekeh gemas melihat bagaimana twins dengan lahap menghabiskan makanannya
"Fiya tunggu di depan mom, opa" pamit Zaafira setelah menandaskan susu hangatnya
"Api juga" sahut Zafier menyusul adiknya, meninggalkan Manda dan Narendra di sana
"semangat sekali mereka" ucap Narendra bangga sambil memerhatikan punggung kecil Zafier hingga hilang di balik dinding ruang makan
"ya, katanya mereka suka sekolah karna memiliki teman yang menyenangkan" jawab Manda sekenanya
tanpa mereka sadari jika kedua batita itu terburu-buru karna ingin memastikan sesuatu di luar sana.
"dia udah pergi" suara lirih dari belakang tubuhnya membuat Zaafira menoleh dan mendapati kakak 7 menitnya di sana. ya, mereka mencari keberadaan sosok lelaki itu. tanpa sadar, mereka berharap jika lelaki dewasa itu masih berada di sana ,namun kenyataannya tidak. mereka kecewa.
"kita ndak punya papa lain celain daddy Jef kan, Api?" entah itu sebuah pertanyaan atau pernyataan yang Fira lontarkan namun batita perempuan itu mencoba menepis jika apa yang papanya Vino teriakan tadi bukan kenyataan.
"ya. daddy kita hanya daddy Jef. papanya Vino tetap papanya Vino" jawab Zafier mendudukan bokong kecilnya di kursi yang terletak di pelataran rumah mereka.
Fira ikut duduk di kursi sebelahnya sambil menunggu mommy dan kakek mereka selesai sarapan.
\=\=\=\=\=\=\=
"have fun my twins. opa nyusul mommy kerja dulu" ucap Narendra setelah membantu twins turun dari mobil dan memberikan mereka kecupan di pipi masing-masing
__ADS_1
"oke opa. hati-hati" sahut twins sambil membalas mencium pipi opanya bersamaan
setelah memastikan kedua batita menggemaskan itu memasuki pakarangan sekolah, Narendra melajukan mobilnya ke perusahaan. ia ingin membantu anaknya meng-clearkan masalah perusahaan Sucipto dalam dekat ini agar Manda dan twins bisa menjauh segera dari jangkauan pria brengsek macam Marva.
"Api, Fira!" panggil seseorang menghentikan langkah kedua batita kembar itu, sontak Afi dan Fira langsung antusias mengetahui siapa yang menghampiri mereka
kesedihan yang merayap di hati mereka setelah kejadian tadi pagi hilang setelah bertemu beberapa teman-teman mereka. ya, yang memanggil mereka adalah 3 batita yang memang adalah teman sefrekuensi mereka di sekolah taman kanak-kanak itu
ke 5 batita itu tampak riang berjalan sambil saling merangkul menuju kelas mereka di selingi celotehan khas anak-anak.
tak jauh dari mereka, seorang lelaki memandangi mereka dengan tatapan sendu
"maafkan papa yang egois ini nak. papa tahu kalian bahagia tanpa papa, tapi papa tidak rela. papa ingin kalian menghadirkan papa sebagai salah satu sumber senyuman kalian" gumamnya tak tahu diri. Marva menunduk setelah air mata lolos begitu saja dari pelupuk matanya
ya, dia adalah lelaki yang di amuk oleh Narendra beberapa menit lalu. walau bogeman tangan kasar Narendra meninggalkan bekas biru beberapa titik di wajahnya tapi itu tak membuat Marva menyerah begitu saja. dia tidak menyerah, dan tidak akan pernah. tujuannya saat ini adalah menunjukan diri sebagai papa kandung di hadapan twins. ia ingin dikenali sebagai pendonor gen oleh kedua buah hatinya itu
jika saja Marva tak memikirkan mental twins saat melihat keadaannya yang berantakan dengan wajah berdarah berada di rumah mereka, Marva ingin sekali bertahan untuk menunggu twins keluar dari rumah itu. dan alasan lainnya ia memilih beranjak dari rumah Bila karna ia ingin menghindari amarah dari kakek dari kedua buah hatinya itu.
tidak, ia tidak takut berhadapan dengan Narendra hanya saja ia tak ingin kedua anaknya melihat pertengkaran mereka.
Marva memilih jalan aman, ia memilih menunggu twins di sekolah demi memperjuangakan maaf dari kedua malaikat kecilnya itu. Marva rela menunggu diam selama hampir sejam hingga kelas anak-anak istirahat di jam pertama mereka. urusan perusahaannya sudah Marva alihkan untuk di handel oleh Radit sampai ia datang ke perusahaan.
dan disinilah Marva sekarang, berdiri menjulang di hadapan ke 5 anak batita yang tengah asik bermain perosotan. Marva meringis kala dadanya serasa tercubit melihat reaksi kedua buah hatinya. si twins mengabaikannya bahkan cenderung buang muka seolah muak melihat kehadirannya. bukankah kemarin mereka sudah dekat saat ia mentraktir mereka es krim?
Marva merasa kikuk. sapaannya di abaikan dengan sengaja oleh twins. dan ia memilih menepi memberi ruang twins untuk bermain. biarlah ia menunggu lagi sampai twins lelah bermain. setidaknya ia bisa menikmati pemandangan paling indah semasa hidupnya saat melihat anak-anaknya tertawa renyah walau sekali lagi dadanya terasa nyeri kala menyadari jika bukan ia yang menjadi sumber tawa mereka.
hingga pekikan kesakitan keluar dari mulut kecil putrinya membuat Marva gelagapan
"Aaaauuuu"
bersambungggg...
__ADS_1
########
kehaluanku untuk cerita ini down guys. butuh waktu berhari-hari sampai bisa up. ngetiknya sebait dua bait hilang lagi mood nulis. makanya part ini gaje. maafkan diriku ku ya readers membuat kalian menunggu