Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
S2- gagal lagi?


__ADS_3

sabar. kata itu sepertinya memang wajib distok banyak-banyak


jika tadi sore Marva harus kembali berenang 30 kali putaran untuk menidurkan kembali jagoannya yang terbangun karna imajinasi liarnya kala menyaksikan pakaian basah istrinya dan mencetak jelas pakaian dalam wanita itu maka malam ini ia harus mengumpulkan banyak kesabaran untuk menidurkan kedua buah hatinya yang tak ada hentinya berceloteh ria padahal waktu sudah menunjukan pukul 10 malam.


Marva mengumpati idenya tadi sore yang membuat anaknya ketiduran karna permainan petak umpet itu. lihatlah dua pasang mata bening itu yang tak juga menandakan tanda-tanda mengantuk. membuat Marva menggaruk kasar kepalanya. ah andai saja tadi sore Manda mau menerima ajakan mainnya, pasti ia tak sepusing sekarang ini.


"sayang tidur yuk. papa udah ngantuk ini" melas Marva dan pura-pura menguap


"papa naik sini aja" Zaafira menepuk ranjang tepat diantara dirinya dan Zafier


"nggak sayang, kalau papa tidur disini kasihan mommy tidur sendiri" Alibi Marva


"mommy biasa kok tidur sendiri" suara Zaafira terdengar ngotot


"kalau papa tidak mau temani bobo, kami tidak mau bobo"


"yaudah papa temani kalian" putus Marva lalu mengambil tempat di tengah-tengah twins untuk membaringkan tubuhnya di sana. tak apalah mengalah beberapa menit. setelah twins tertidur ia akan pindah di kamar sebelah dimana sang istri pasti sudah menunggunya.


Marva hanya berharap Manda tak tertidur duluan, sebab jika tertidur-pun Marva tetap akan membangunkan wanita itu.


meski kesal, tapi tak bisa Marva enyahkan rasa hangat di dadanya saat twins langsung memeluknya dan menjadikan perutnya sebagai guling. Memang interaksi sekecil apapun antara dirinya dan kedua anaknya akan selalu menjadi moment menakjubkan bagi Marva. karna memang twins sepenting itu di hidupnya.


"papa lanjut lagi celitanya" pinta Zafier. Marva lalu melanjutkan cerita dongeng ke tiga yang ia ceritakan malam ini untuk twins. lelaki itu bercerita sambil kedua tangannya menepuk-nepuk pelan pantat twins


beberapa saat kemudian, Marva menghela napas lega kala mendengar dengkuran halus kedua buah hatinya. menandakan bahwa balita kembar itu sudah terlelap.


dengan gerakan sangat pelan, Marva memindai kaki dan tangan twins yang melingkari tubuhnya, lalu lelaki itu beranjak turun ranjang dengan gerakan sepelan mungkin, kemudian lelaki itu memperbaiki selimut twins, mengecup kening putra dan putrinya seringan kapas dan membisikan "selamat malam dan mimpi indah anak-anak papa. papa cinta kalian"


Marva lalu berlalu ke arah pintu, menoleh sekali lagi untuk melihat twins sebelum ia menutup pintu kamar


"aman" gumam lelaki itu. lalu dengan langkah tergesa ia berlalu ke pintu kamarnya


ceklek


senyumannya langsung mengembang sempurna saat melihat wanita itu masih setia membuka mata menunggunya

__ADS_1


"mereka udah tidur?" walau terdengar santai tapi jelas Marva bisa menangkap suara gugup sang istri.


"hu'um" gumam Marva sambil memutar kunci kamar


"rasanya lelah juga menidurkan bocah yang habis tidur sore" adu Marva saat ia sudah menaiki ranjang dan berbaring di pangkuan Manda, dimana sang wanita memang tengah duduk selonjoran sambil menyanderkan punggung ditumpukan bantal


Manda hanya terkekeh mendengarnya, tangannya terangkat mengelus rambut suaminya "ide siapa coba?"


"kan pengennya berduaan sama kamu" kilah Marva, lelaki itu berucap setelah membalikan tubuhnya hingga wajahnya menghadap perut sang istri


Marva merasa sang istri kembali menegang kala tangan kanannya melingkar di pinggang Manda dan menempelkan wajahnya di perut yang terhalang kain tipis itu.


hening...


hingga beberapa saat kemudian Marva mulai mengelus disana ketika merasa istrinya sudah rileks.


Marva telah belajar banyak hal sebelum mereka berangkat bulan madu. dengan bantuan buku dan internet, lelaki itu mencari tahu cara memperlakukan wanita yang pernah mengalami guncangan akibat trauma ****. mengingat dirinya yang pernah memberi trauma itu pada Manda maka Marva harus memberikan kesan baik hingga sang istri melupakan kesalahan fatal yang pernah dilakukannya saat mengambil mahkota wanitanya itu secara paksa lima tahun lalu.


maka dari itu Marva tak mau terburu-buru. jika merasakan istrinya kembali menengang maka pergerakan Marva terhenti sejenak. memberi waktu pada sang wanita untuk kembali rilex


"aku mencintaimu, Bila. sangat"


selepas mengatakan itu, Marva langsung menundukan kepalanya dan meraup bibir sang istri. dari ciuman lembut berubah jadi ******* kasar nan menuntut. Marva mengerang tertahan kala tanpa diduganya sang istri membalas lumatannya. lidah mereka saling membelit. saat merasa pasokan oksigen mulai habis, mereka baru melepas pangutan tanpa memisahkan bibir mereka. berlomba menghirup udara dengan bibir masih saling menempel.


"aku menginginkanmu sayang" serak nan parau Marva berucap tepat diatas bibir sang istri


tak menyia-nyiakan waktu kala mendapat anggukan persetujuan sang wanita, Marva kembali memangut bibir manis sang istri, tangan besarnya kini juga mengambil perannya untuk menjelajah di bukit kembar kesukaannya setelah ia melepas tali gaun wanitanya. ciuman yang tadinya diatas kini turun perlahan beralih ke bawah, menyusuri dagu, leher dan berakhir di dua bulatan kenyal yang sudah terpampang di hadapannya tanpa penutup.


ini nyata! Marva berbinar melihat kenyataan yang tersaji dihadapannya. betapa indah milik sang istri. Marva mencoba menekan rem*sannya untuk memastikan jika ini bukan lagi khayalan.


"Shs" Marva mendongak menatap wajah istrinya. mendapati wajah memerah sang wanita membuat Marva tersadar jika ini benar kenyataan


"sakit?" tanya Marva beralih mencium dahi Manda


"enggak..."

__ADS_1


"bilang yah kalau sakit, aku akan..."


"nggak kok, aku cuman malu..." potong Manda dengan melirihkan kalimat terakhirnya


"kenapa malu hm?" bisik Marva sambil mendaratkan kecupan-kecupan ringan di seluruh wajah sang istri


tak mendapati jawaban dari Manda, Marva lalu beranjak membuat Manda merasa kehilangan perlakuan Marva pada tubuhnya. Manda meperhatikan pergerakan lelaki yang berada di samping ranjang dan seketika matanya membola kala satu persatu Marva melepas pakaian. refleks Manda memalingkan wajahnya saat lelakinya hendak melepas kain terakhir ditubuh lelaki itu.


jantung Manda serasa lepas dari tempatnya kala ranjang bergerak menandakan Marva kembali pada posisi semula, menindih tubuhya


meski ada twins yang menandakan jika ini bukan kali pertama dirinya akan melakukan penyatuan dengan sang suami namun Manda tetap saja gugup setengah mati.


"hei" Marva menarik lembut dagu sang istri agar melihatnya


"are you oke?" tanya Marva saat Manda tak berani menatap matanya. sekali lagi Manda malu. dan Marva melihat itu.


"nggak usah malu sayang, lihat aku. hanya aku disini" tutur Marva lembut. memang niatnya melepas pakaian lebih dulu sebelum melepas pakaian Manda agar wanita itu tak lagi merasa malu


lalu tanpa di duga, Manda malah menarik kepala suaminya dan menyatukan bibir mereka.


"jangan menatapku. jangan memaksaku menatapmu, aku masih malu" gumam Manda disela-sela ciumannya membuat Marva terkekeh gemas


"baiklah, jadi bolehkah aku melanjutkan kegiatan kita, sayang?" tanya Marva yang dijawab anggukan malu-malu oleh sang wanita


Marva kembali mencium, mel*mat dan menj*lat setiap jengkal kulit putih mulus kesukaannya itu. memberi rangsangan agar wanitanya rilex dan menikmati percintaan mereka, hingga saat nafas keduanya memburu menandakan nafsu sudah menguasai Marva sudah mengambil posisi sempurna tapi tiba-tiba...


Dugh Dugh Dugh


"PAPA! MOMMY BUKA PINTUNYA!!"


Bersambung...


wkwkwk puas banget gue ngetik pas kalimat terakhir. HAHAHAHAH


hayo tebak, kira-kira pasutri yang sudah dilanda nafsu itu memilih melanjutkan kegiatan mereka atau membukakan pintu untuk twins?

__ADS_1


__ADS_2