
"maaf jika saya lancang tuan Daniel, tapi seperti jawaban saya tadi, saya sudah beristri dan memiliki anak. apa pantas anda menawarkan syarat menjijikkan itu?"
"yakin anda tidak mau? model ini bayarannya mahal loh, dia model bukan sembarang model. pelayanannya sangat memuaskan, saya selalu pulang dengan perasaan bahagia. servis para istri-istri di rumah kalah jauh" tanya Daniel memastikan. pria itu berucap sembari menarawang seolah membayangkan sesuatu yang menyenangkan
namun ekspresi Daniel itu membuat Marva makin muak, ia bahkan berdecih terang-terangan. ingat, rasa sungkannya dengan seorang Daniel Prasetyo sudah tidak ada
"kadang apa yang anda nikmati adalah hal menjijikan bagi orang lain. dan asal tuan tahu, istri saya bukan sembarang istri. dia wanita terhebat dalam hidup saya, anugerah terindah dalam hidup saya, dan istri saya lebih hebat dalam segala apapun dibanding model-model bayaran tuan itu" ucap Marva menggebu dengan nada kentara mencemooh sikap lawan bicaranya.
bukannya raut marah yang Marva dapati, malah senyuman tipis terpatri di wajah Daniel itu. sungguh Marva rasanya semakin muak.
"baik. kerja sama ini saya terima" putus Daniel membuat kening Marva menyatu sempurna
"tidak ada syarat-syarat. bacakan apa saja inti dari proposal anda ini" ucap Daniel membuat Marva yang hendak membuka mulut mempertanyakan maksud ucapannya jadi bungkam kembali
Marva merotasikan matanya ke arah lelaki yang duduk di seberangnnya, mendapat kode anggukan dari sekertaris Ali membuat raut Marva berangsur membaik.
Marva lalu mulai membahas kontrak kerja, namun penjelasanya harus terhenti kala ponsel Daniel berdering. Marva tebak si penelpon adalah orang spesial sebab raut wajah dingin itu seketika berubah penuh binar saat melihat layar ponselnya
"halo sayang?"
"....."
"mas pulang sekarang. jangan coba-coba gendong baby El, nanti baby dalam perutmu terjepit" titah Daniel tak terbantahkan
"...."
"nggak, nggak boleh sayang, tubuh baby El itu berat. jangan sampai kamu kecapean. biarin aja dia nangis sampai capek. baby El harus tahu dia nggak boleh nakal kalau nggak ada daddynya. dia nggak boleh ngerepotin mommy dan calon adiknya" suara Daniel sedikit meninggi sembari berdiri. wajah lelaki itu sudah berubah panik
jika Daniel terlihat panik, berbeda dengan Marva yang tercengang mendengar ucapan Daniel, sedang Ali hanya memutar bola mata malas, sepertinya lelaki yang berprofesi sebagai sekertaris Daniel itu sudah biasa menghadapi sikap dan ucapan kejam dari tuannya. jangankan orang asing, sama anak sendiri pun Daniel tak pandang bulu.
"mas udah mau keluar perusahan sekarang, ingat jangan ambil baby El dari ranjangnya. jangan matikan telponnya, biar tetap tersambung" setelahnya Daniel beranjak pergi setelah memberi titah melalui gerakan tangannya pada Sekertaris Ali untuk meladeni Marva
__ADS_1
"maaf atas ketidaknyamanannya, bisa pak Marva lanjut sampai mana tadi?" ucap Ali mengambil alih atensi Marva dari pintu yang baru saja menenggelamkan tubuh tegap Daniel
"oh baik" jawab Marva cepat setelah menormalkan raut cengonya. tapi bukannya langsung melanjutkan ucapannya, Marva tampak menerawang
"ada yang menganggu pikiran pak Marva?" tanya Ali
"boleh saya bertanya sesuatu diluar pekerjaan?" tanya Marva sungkan
"oh maaf. tapi sungguh saya sangat penasaran" ujar Marva merasa bersalah kala mendapati raut tak bersahabat dari ekspresi sekertaris Ali akan pertanyaannya
"tuan Daniel hanya memancing bagaimana calon rekan bisnisnya bertanggung jawab pada keluarganya, jika seorang bertanggung jawab pada keluarganya maka otomatis pada pekerjaan lainnya akan bertanggung jawab juga. mengenai wanita lain atau apapun itu semua hanya jebakan. anda dengar sendiri kan bagaimana tuan saya itu sangat mencintai istrinya, bahkan tuan muda kecil yang baru berusia satu tahun kadang tersisihkan demi nyonya muda" jelas Ali panjang lebar guna membersihkan nama Daniel di pikiran Marva
Marva mengangguk setuju dengan kalimat pertama sekertaris Ali, tapi tidak dengan kalimat terakhirnya
baiklah, Daniel hanya takluk pada seorang Alicia Adara, istrinya, nyonya muda Prasetyo. tapi bagaimana mungkin putra tunggal Bagas Prasetyo itu memperlakukan anak kandungnya demikian tega? jika anak adalah prioritas bagi seorang ayah berbeda dengan Daniel yang apa-apa selalu mengutamakan kenyamanan sang istri. jika saja ada nominasi suami budak cinta istri, Daniel Prasetio pasti pulang membawa piala. pikir Marva
"tapi apa tidak terlalu kejam pada anak sendiri diperlakukan begitu? dibiarkan menangis sampai capek?" Marva tak habis pikir akan kelakuan Daniel yang kekejamannya bukan hanya bagi orang luar tapi untuk putra kandung sendiri yang masih batitapun Daniel begitu buta hati. yang benar saja! twins saja yang umur lima tahun tidak akan tega Marva dengar suaranya mengeluarkan tangis. Marva sangat mencintai Bila, tapi sungguh jika dibandingkan dengan buah hatinya Marva lebih mengutamakan twins.
"benar. tapi memang tuan muda kecil memiliki tubuh montok. saya saja yang menggendongnya lima menit sudah capek, apalagi nyonya muda yang bertubuh kecil mana tengah hamil besar"
"pengasuh tuan muda kecil selain tuan dan nyonya muda ya tuan besar dan nyonya besar. Tuan Daniel sangat protektif pada putranya, bahkan kakak iparnya saja tak dibiarkan menyentuh tuan muda kecil. hanya saya dan istri yang beruntung bisa menyentuhnya dari pihak luar keluarga Prasetyo"
setelah menyelesaikan kalimatnya Sekertaris Ali mengerjab. ada apa dengannya? kenapa ia begitu antusias membalas pertanyaan yang melenceng jauh dari pembahasan bisnis. kenapa ia seperti seorang wanita yang dengan legowo membahas sesuatu yang tak penting? sial! pasti ini efek keseringan mendengar pembahasan si Filda dan nyonya mudanya.
tak beda jauh dari ekpresi Ali, Marva juga tiba-tiba tersadar.. kenapa malah kepo dengan kehidupan rumah tangga orang lain sih?! astagaa bahaya ini...
"maaf terlalu banyak bicara. boleh saya lanjutkan membahas kontrak kerja?" tanya Marva canggung yang dibalas anggukan cepat oleh Ali
"silahkan"
namun baru saja Marva membuka mulut untuk membahas proyek,, tiba-tiba pintu terbuka membuat Marva dan Ali sontak menoleh.
__ADS_1
"apa ada yang ketinggalan tuan?" tanya Ali sembari berdiri saat melihat Daniel di ambang pintu dengan napas memburu. tanpa berkata apa-apa Daniel maju dan langsung mengacak kasar rambut Ali
"Daraku ngidam pengen jambakin rambut jelekmu" ucap Daniel setalah berhasil mengacak rambut rapi Ali
"sudah sayang, misi selesai. mas pulang" lapor Daniel sembari menatap bangga hasil jamahannya. lalu dengan tak berperasaan pemimpin Prasetyo Corp itu melangkah pergi, mengabaikan ekspresi kedua orang di dalam sana. Marva yang melongo sedang Ali yang hanya berwajah pasrah
"anda baik-baik saja?" tanya Marva dengan nada pelan, tapi ketahuilah Marva tengah menahan tawa melihat adengan dramatis tadi.
"baik. jauh lebih baik dari pada berhadapan langsung dengan nyonya muda" jawab Ali lemah. jujur Ali merasa harga dirinya sudah tak bersisa sejak Alicia mengidam baby El dan setelah tujuh bulan terbebas calon adik baby El hadir dan dirinya lagi-lagi harus menjadi pelampiasan ngidam anti-mainstream si nyonya muda
semoga saja jika nanti istrinya ngidam bisa membalaskan dendamnya pada tuan mudanya. eh?
"silahkan lanjut pak Marva" ujar Ali mengalihkan pikirannya
belum juga Marva menyelesaikan kalimat pertamanya kembali terintrupsi oleh suara getar ponsel Ali
'kualat sama istri nih, nggak salah lagi. harusnya tadi aku minta restunya sebelum berjuang disini. lihat, waktuku sudah banyak terbuang sia-sia' batin Marva. restu istri adalah pembuka jalan mulus bagi seorang suami untuk mencari rezeki, dan Marva melupakan hal itu tadi pagi hingga ia harus melewati pagi ini dengan banyak gangguan
"nggak diangkat pak?" tanya Marva kala Ali hanya mendiamkan ponselnya lalu meletakan di atas meja
"nanti saja. silahkan"
Marva melirik ponsel Ali yang kembali bergetar
"sebaiknya angkat dulu pak, takutnya istrinya ngambek, kasihan ntar malam nggak di kasih jatah" ucap Marva ketika netranya dengan nakal membaca nama si pemanggil
Bini Mesum 🐊
ada-ada saja si kaki tangan Daniel ini, kasihan amat si wanita yang menjadi istri Ali. pikir Marva tak habis pikir dengan nama kontak menggelikan itu. hei, jangan lupakan emotnya. buaya bro.
"saya malah akan sujud syukur jika begitu" jawab Ali tak menutupi ekpresi gelinya
__ADS_1
Bersambung...
sekalian promosi, yang penasaran karakter Daniel dan Ali, silahkan mampir di cerita TUAN SUAMI YANG KEJAM. cari penulisnya aku yah (Mickey Mouse24) soalnya udah ada novel lain yang pake judul sama