
entah sudah berapa lama ia berdiri diam di sana, entah sudah berapa kali helaan napas panjang ia lakukan, tapi ia masih setia mematung di ambang pintu sebuah rumah yang lumayan mewah, yang katanya sebulan lalu baru berpindah tangan menjadi milik seorang wanita cantik, pemilik hatinya
tok tok tok
setelah hampir 30 menit berdiri bodoh ia akhirnya mengetuk pintu. saking bodohnya ia melupakan keberadaan bel pintu yang berada dekat daun pintu itu
tok tok tok
sekali lagi ia ketuk kala tak ada respon dari pemilik rumah setelah ia menunggu 5 menit
baru saja ia kembali mengangkat tangan hendak mengetuk kembali, namun pintu dengan cepat terbuka membuat kepalan tangannya mengantung di udara, lebih tepatnya mengantung di depan wajah seseorang yang berhasil membuat Marva menegang. sontak ia turunkan tangannya
"kamu!" tatapan membunuh disertai suara tinggi pria di hadapannya membuat Marva tak bisa berkutik.
"siapa, pah?" sahut Manda dari dalam, tidak lama setelahnya wanita cantik itu berdiri di samping ayahnya. dan sama seperti pria baru baya itu, Manda juga menatapnya tak kalah tajam setelah menyadari siapa tamunya yang menganggu waktu pagi mereka
"oh, sepertinya orang salah alamat, pah" ucap Manda datar membuat hati Marva mencelos.
pernyataan Manda membuat sesuatu dalam dadanya berdenyut nyeri. segitu asingnya kah dirinya di mata Bila? dia tidak salah alamat. dia datang untuk bertemu ibu dari kedua buah hatinya itu, untuk memperjuangkan maaf dari wanita yang pernah membuatnya gila
"Bil..."
Bugh
Bugh
__ADS_1
lirihan Marva teredam kala bogeman mentah mendarat di wajah sendu nan tirusnya
"jangan berani-beraninya memanggil nama putriku dengan mulut kotor si*lan mu itu!!" teriak Narendra setelah berhasil membuat Marva berakhir tersungkur di lantai
"lelaki brengsek, BUGH. kurang ajar, BUGH!!" kembali papa kandung Bila itu menghadiahi kepalan tangan bertubi-tubi di wajah, tidak, lebih tepat di hidung mantan menantunya
"pah, sudah pah. ntar papa kembali di laporin karna menghajar lelaki itu" ujar Manda sambil meraih kepalan tangan Narendra saat lelaki baya itu hampir melayangkan bogemannya lagi. Manda membantu sang Papa untuk beranjak dari lantai setelah Narendra menghempas kasar pegangannya pada kerah baju Marva
sedang Marva, lelaki yang tengah tersenyum miris itu terkulai di lantai dengan d*rah yang keluar dari hidungnya. sekarang dan 3 tahun lalu ia tetap tak melawan saat pria yang telah menghadirkan sang pujaan hati lahir ke dunia menghajarnya dengan membabi buta. ia sadar jika ia pantas mendapatkannya. tapi sampai kapan? alih-alih menyerah atas semua perjuangannya yang selalu bersambut luka dan kekerasa, Marva tetap bertahan demi menebus dosanya pada Bila terutama pada twins. menahan sakit, lelaki dengan alis tebal itu beranjak berdiri. ya, ia punya twins sebagai prioritasnya saat ini. akan ia hadapi bagaimana kejamnya karma membalasnya
"pergilah. anggap masalah ini impas. papa saya memukul anda karna anda menganggu ketenangan kami pagi ini. jika anda melaporkan papa saya seperti beberapa tahun lalu karna menghajar anda, saya akan balik menuntut anda mengganggu ketenangan kami di pagi hari ini" ujar Manda datar sarat akan sindiran dan ancaman
Marva menggeleng kecil, ia tak memiliki niat itu. sekarang maupun tiga tahun lalu ia tak pernah berniat sedikitpun melaporkan Narendra. kejadian tiga tahun lalu bukan ia yang melaporkan Narendra setelah ia di hajar sampai masuk rumah sakit kala itu, tapi mamanya. ia bahkan sampai meminta orang tuanya untuk mencabut tuntutan itu, tapi Reni bersikukuh untuk menjadikan Narendra buronan karna hampir membunuhnya
"Bila.."
terlalu muak mendengar suara Marva, Narendra mebungkamnya dengan tamparan. rasanya Narendra tidak akan puas jika tak membalaskan kesakitan putrinya di masalalu. memang ia tak mengetahui secara detai bagaimana Marva memperlakukan Bila selama pernikahan yang di atur oleh adik Narendra dan tuan Phelan saat ia di penjara dulu, tapi saat ia keluar penjara dan mengetahui bahwa Bila kabur dan keluarga Phelan tidak ada yang mengetahui keberadaan putrinya membuat Narendra marah luar biasa. apalagi dengan kehadiran twins yang baru di ketahui Narendra 2 hari lalu saat Bila menjemputnya di tempat persembunyiannya.
Marva menelantarkan putrinya dan kedua cucunya. pikir Narendra. dan ia tak memiliki toleransi akan perbuatan Marva itu.
Manda sedikit meringis melihat wajah lebab dengan lelehan dar*h di bagian hidung itu kembali mendapatkan serangan dari tangan kekar sang ayah, tak ingin mengasihani, Manda menarik lengan papanya untuk memasuki rumah mereka
Dugh
"shs" ringis Marva kala kaki Narendra mendarat keras di tulang kering betisnya sebelum lelaki baya itu mengikuti langkah Bila memasuki rumah
__ADS_1
"Bila, Bil, tunggu" Marva menyeret kakinya mencoba mencegah Manda menutup pintu rumah namun malah debuman keras pintu yang ia dapatkan.
"BILA!! BUKA BIL!" teriak Marva tak mau menyerah
"AKU INGIN KETEMU ANAK-ANAKKU"
"BIAR BAGAIMANAPUN AKU TETAP AYAH KANDUNG ZAFIER DAN ZAAFIRA"
"BILA BUKA!!"
"NABILA AMANDA!! TOLONG BERI AKU KESEMPATAN, SETIDAKNYA BIAR TWINS TAHU KALAU AKU ADALAH PAPA YANG MEMBUAT MEREKA LAHIR KE DUNIA, BUKAN PRIA LAIN. AKU PAPA KANDUNG MEREKA!!" teriak Marva frustasi, beruntung wilayah rumah Bila memiliki pakarangan luas sehingga lumayan jauh dari rumah tetangga
"Bila..." lirihnya pilu dengan suara serak
"Bil, maafkan aku. aku salah" lelaki yang baru saja teriak-teriak itu meluruh ke lantai dengan punggung bersandar di daun pintu.
sementara itu, 4 pasang mata dan 4 pasang telinga melihat dan mendengar racauan Marva lewat celah-celah jendela kamar mereka di lantai 2 rumah mewah itu.
mata bulat nan bening mereka mengerjap, kemudian menoleh dan saling berpandangan
"papa?" lirih keduanya bersamaan dengan raut wajah terkejut
Besambunggg...
######
__ADS_1
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu