
Manda membuka pintu sepelan mungkin, niat hati ingin diam-diam menyaksikan kegiatan apa yang dilakukan ayah dan dua anak kembarnya di dalam sana sambil menunggu kedatangannya. bukan seperti harapannya, dua batita dan pasien itu malah terlelap dengan saling memeluk alih-alih melakukan kegiatan lain untuk menunggunya datang. menghela nafas panjang, kemudian Manda langkahkan tungkainya menuju nakas untuk meletakan dua paper bag yang dibawanya lalu beranjak menuju ranjang queen zise pengganti brangkar pasien dalam ruang perawatan VIP itu.
perasaan kecewa karna twins tak menunggunya seperti janji kedua batita kembar itu melayang begitu saja saat Manda melihat wajah damai kedua buah hatinya. seulas senyum tercipta di bibir wanita itu kala kaki dan tangan twins bersamaan bergerak di atas guling yang tak lain adalah perut Marva. setelah mempererat dekapan pada sang papa twins kembali terlelap bahkan sampai mendengkur
"udah dari tadi?" Manda tersentak dari kegiatannya mengelus lembut kepala Zafier karna suara serak itu. Marva mengetahui keberadaannya?
"eh, udah bangun? nggak, baru aja" tanya Manda spontan saat melihat kelopak mata Marva terbuka. kemudian menjawab pertanyaan Marva
"lengan kamu nggak pegal?"
"nggak kok, tubuh mereka ringan" jawab Marva santai. bahkan jika twins akan menjadikan lengannya sebagai bantal untuk waktu yang lama, kedua lengan Marva akan selalu siap.
"aku udah bangun sejak kamu membuka pintu" tutur Marva menjawab pertanyaan Manda sebelumnya "hanya dengan wangi yang menyeruak memasuki indra penciumanku mampu menyadarkan aku akan keberadaanmu" lanjut Marva. meski terdengar gombal tapi sejujurnya itulah yang terjadi. wangi Manda mampu menyadarkannya di banding suara decitan kecil daun pintu saat tertutup tadi
Manda mengangkat lengannya dan mengendus disana, perasaan wangi parfumnya tak setajam itu, bahkan sangat lembut. apa lelaki buta itu tengah membual?
"apa tidak apa-apa membangunkan mereka?" tanya Marva mengenai twins yang dengkurannya bagaikan alunan musik terindah di telinganya. Zafier dan Zaafira tampak nyaman dengan posisi tidurnya yang menjadikan lengan kanan dan kiri sang ayah sebagai bantal sementara badan sang ayah jadi guling
"kram?" ejek Manda
"nggak. mereka belum makan. ketiduran karna kelamaan nunggu mommynya datang bawa makanan"
Manda menipiskan bibir sambil menatap putra dan putrinya bergantian, memang ia tadinya ijin pulang untuk mengambil beberapa barang twins sekaligus membuat makan malam untuk mereka makan bersama namun karna macet parah membuatnya harus terjebak hampir 2 jam di perjalanan.
meski tak tega mengganggu tidur lelap mereka, tapi Manda lebih tak tega jika kedua buah hatinya melewati makan malamnya
_ _ _ _ _
"aaaaaa" Marva membuka mulutnya dan menerima suapan dari anak perempuannya
__ADS_1
"bagus, papa halus makan banyak supaya kuat" ucap Zaafira memancing dengusan sang mommy sementara Marva hanya mengangguk-angguk patuh
"papa makan banyak karna emang makanannya enak nak" sahut Marva setelah menelan makanannya
"hu'um, memang masakan mommy paling enak. daddy Jef juga bilang gitu, masakan lestolan kalah sama masakan mommy" Zafier menyetujui ucapan sang papa sambil menikmati beberapa menu masakan sang mommy di hadapannya
"daddy kok nggak pernah kesini?" gumam Zaafira tak seceria tadi membuat Zafier berpikir sejenak, lalu menoleh ke sang mommy meminta jawaban. kenapa sang daddy yang datang bersama mereka tak pernah muncul?
ekspresi Marva juga ikut murung, bukan karna Jefry tak pernah menjenguknya tapi kenyataan bahwa pengaruh lelaki itu sangat besar bagi kedua buah hatinya, melalui nada suara sang putri, Marva tebak anaknya tengah bersedih karna seorang lelaki yang telah ikut membesarkan twins selama tiga tahun ini.
sedang Manda menatap sendu kedua buah hatinya bergantian. ia memang belum mengatakan jika daddy mereka telah balik ke Amerika tiga hari lalu. sejak perbincangan mereka sore itu Jefry memilih balik ke Amerika malam itu juga
"Jefry datang bersama kalian?"
Manda menoleh menatap Marva, wajah lelaki itu menghadap ke arahnya tapi bola mata yang kehilangan fungsi itu hanya lurus menembus pundaknya "aku datang lebih dulu, sehari sebelum twins, Jefry dan mami menyusul" jawab Manda membuat Marva mengangguk, tipis.
_ _ _ _ _
sementara di negara lain, Jefry tengah berbicara 6 mata dengan pasangan paru baya yang membuatnya hadir di dunia ini
"kamu yakin itu anak kamu?" tanya mommy Jefry yang bernama Kate
"kita bisa lakukan tes DNA. tapi Jefry tetap akan menikahinya, mom, dad" ucap Jefry meyakinkan
"kalau daddy terserah kamu. memang baiknya kamu bertanggung jawab kalau itu anak kamu..." sahut Charles, netranya menatap netra putranya sebelum melanjutkan kalimatnya "tapi bagaimana Amanda? maksud daddy apa dia akan baik-baik saja, pernikahan kalian belum lama batal dan ternyata..."
"Manda sudah tahu. alasan batalnya pernikahan kami karna accident itu" jelas Jefry memotong ucapan sang ayah memancing kedua orang tuanya melotot, syok.
memang Manda dan Jefry sama-sama diam akan alasan dibalik batalnya pernikahan mereka. hanya alasan ketidak cocokan yang mereka katakan pada keluarga masing-masing.
__ADS_1
"la..lalu bagaimana perasaan Amanda?" tanya Kate kasihan. kasihan akan nasib perjalanan cinta Manda yang tak pernah berjalan mulus, selalu saja di pertemukan dengan pria yang harus berakhir dengan wanita lain. jujur Kate sendiri pun merasa kecewa pada Jefry meski semua itu karna jebakan.
'kami masing-masing tersakiti, tapi karna ini permintaan Manda aku akan mengabulkanny**a' batin Jefry, ia memilih menunduk dari pada menjawab pertanyaan sang mommy
"bagaimana dengan keluarga Mrs Caroline, apa mereka tahu semua ini?"
"tidak. dan Jefry mohon jangan beritahu mereka. pernikahan ini akan berlangsung tertutup" tegas Jefry 'karna dengan begitu keluarga Ivander tak menilaiku buruk, karna dimasa depan aku akan tetap memperjuangkan Manda sampai dia menjadi istri aku' Lanjut Jefry dalam hati
"lalu setelah menikah kamu akan menetap dimana?" tanya Charles, mengingat calon istri putranya adalah orang Indonesia. apakah Jefry akan ikut menetap di Indonesia? jika tak ingin keluarga Ivander tahu tak mungkin bukan Jefry memboyong istrinya ke negara ini.
"entahlah, Jefry akan memikirkannya setelah pernikahan terjadi" jawab Jefry cuek sambil merebahkan punggungnya di sandaran sofa
'dimana Manda dan twins menetap Jefry akan menetap juga disana. karna tujuanku melakukan semua ini hanya karna mereka bertiga. aku akan tetap mengawasi mereka, persetan dengan status pernikahan itu' Jefry tersenyum miring dengan mata terpejam
_ _ _ _ _
Phelan tak tahu harus bereaksi bagaimana, sebenarnya ia ingin menghajar lelaki yang membuat masa depan putrinya hancur tapi mengingat jika mereka hanya dijebak Phelan merasa tak berhak menghakimi, apalagi Jefry kini datang untuk pertama kali menyapa dirinya dan sang istri dengan membawa kedua orang tua lelaki itu
"saya akan menikahi anak om dan tante" ucap Jefry tanpa basa basi dengan wajah datar menatap kedua pasangan paru baya yang duduk di seberangnnya.
sedang Charles dan Kate menyerahkan semua pada sang putra. mereka hanya datang menemani Jefry sesuai permintaan putra tunggal mereka itu
"bukankah memang harusnya kamu bertanggung jawab pada Rain mengingat ada anak kamu yang tengah ia kandung" celutuk Reni tak kalah datar
"ya, karna anak itu saya datang kemari" balas Jefry
'aku melakukan ini karna kamu Manda'
Bersambunggg...
__ADS_1