Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
S2- jodoh Mario


__ADS_3

kedua bola mata itu menyorot tajam pemandangan yang membuat dadanya terasa panas. sepasang tangannya terlipat di depan dada, raut wajahnya jelas menunjukkan ketidaksukaan akan apa yang ia lihat


"tapi Fira juga harus jaga jarak sama uncle Mario. kalau uncle Mario datang Fira juga lupain papa tuh"


"oke, Fiya janji"


janji itu bahkan belum cukup satu minggu tapi perempuan cilik bernama Zaafira itu sudah mengingkari. dan lihat sekarang, twins selalu menomor duakannya jika lelaki yang pernah menjadi sahabatnya yang kini menjadi kakak dari sang istri datang ke rumahnya. sungguh Marva tak menyukai kehadiran Mario. Mario merebut perhatian twins darinya. ia merasa seperti anak tiri, eh maksudnya papa tiri.


"mas kok malah bengong disitu sih, ayuk gabung sama mereka" tegur Manda ketika melewati tubuh sang suami di ambang pintu belakang yang menghubungkan langsung dengan taman yang terdapat gazebo cukup besar disana. wanita itu tak memerhatikan wajah kesal suaminya dan malah melangkah pergi sembari membawa nampan berisi beberapa gelas jus buah segar


tambah dongkol sudah suasana hati Marva


"papa!" panggil Zaafira heboh ketika manangkap sang papa berjalan ke arah Gazebo "pa, lihat deh aku selalu menang lawan angkel sama Afi, loh" anak kedua Marva itu dengan gembira menunjukan permainan ular tangga ke arah papanya


"yah" keluh Mario bersamaan protesan dari Zafier


"Fira kok diangkat sih, kan jatuh kudanya"


"oh, hehehe maaf, nggak sengaja" Zaafira segera meletakkan kembali papan ular tangga ke lantai Gazebo


"ck. malas main ah, padahalkan kuda aku bentar lagi win" keluh Zafier dengan wajah melasnya. momen dimana kudanya paling di atas pertanda akan menang harus pupus karna sang adik. padahal ia akan mengalahkan kesombongan Zaafira yang selalu menang karna bantuan dari paman Mario. Zafier tahu itu tapi ia tetap diam, ia hanya berusaha ingin membuktikan jika ia bisa menang melawan kecurangan adik dan pamannya


"lo kok nggak balik kantor? baru jam dua ini" tanya Mario sembari melihat petunjuk waktu mini yang melingkar di pergelangan tangannya. jelas pertanyaan itu ditujukan pada seorang lelaki bucin yang berdiri di samping Manda


Manda mendongak, lalu menggeser duduknya memberi ruang pada Marva agar duduk di sampingnya


"sayang, bulu kuduk mas merinding nih, mas dengar suara-suara sumbang tapi wujudnya nggak ada, kamu dengar juga nggak sih?" Marva bergidik sembari mengusap lengan atasnya, bola matanya memindai sekitar tentu menghindari menatap ke arah Mario


"mas..." tatapan maut sang istri tentu membuat nyali Marva menciut


"eh ada angkel Mayonaise disini. kapan pulangnya?" lihat, mulut suami Manda itu sepertinya tak bakalan puas jika tak mencari gara-gara. alih-alih tanya kapan datang pada tamunya malah nanya kapan pergi.


"kok angkel Mayonaise sih pa. angkel Mayo, just Mayo no Mayonaise!" koreksi Zaafira tak terima nama angkel kesayangannya berubah jadi salah satu saus berwarna putih itu

__ADS_1


"angkel Mario" sahut Zafier tanpa mengalihkan perhatiannya dari menara uno yang dibuatnya, ya anak itu pindah haluan bermain uno


"iya angkel Malyo" ucap Zaafira kembali duduk tenang memerhatikan sang kakak menyusun permainan balok berwarna itu


"angkel Mario, Fira"


"iya iya Fiya tahu kok, angkel Malyo, Malrlyo... ah susah, sama kek nama Fiya susah sebutnya" anak perempuan Manda itu mencebik kesal tapi tatapaannya masih tak lepas dari tangan Zafier yang lihai menyusun menara uno


"itu tandanya Fiya memang jodohnya angkel Mayo" bukan, itu bukan suara Zaafira melainkan suara Mario yang dibuat-buat layaknya cadel. lelaki itu menyahut setelah menyeruput jus alpukatnya. lalu susah payah mengulum senyumnya kala ekor matanya menatap tangan Marva yang terkepal di dalam genggaman kedua tangan mungil Manda


"mas, dia cuman bercanda" bisik Manda yang masih bisa di dengar Mario


_ _ _ _ _


keluarga kecil itu baru saja menyelesaikan makan malamnya, tentu dengan kehadiran tamu yang tak kunjung pulang walau sudah beberapa kali diusir secara terang-terangan oleh kepala keluarga.


kini tersisa dua orang yang ada di dapur, siapa lagi kalau bukan Manda dan Marva. Manda yang sibuk mencuci bekas piring mereka, sedang Marva yang sibuk memeluk sang istri dari belakang dengan hidung sibuk membaui pundak, leher dan pelipis sang istri


"sayang, ini bukan pekerjaan kamu loh, taruh aja biar mbok besok yang cuci"


"mas lebih nggak tega lihat kamu berdiri lama gini"


'taunya memprotes tapi nggak mau bantuin' tentu saja suara hati itu hanya bisa menyeru dalam batin


"eh eh mau apa?" kaget Manda ketika Marva langsung mengangkat kedua tangan Manda dan mencucinya dengan air bersih.


"kita gantian, aku yang cuci piring kamu yang meluk aku" Marva mengatur posisinya, bahkan mengarahkan kedua tangan Manda agar memeluknya dari belakang


"dih apaan sih mas, modus banget deh" bukannya pelukan yang Marva terima malah tabokan pelan di pundaknya


"sini biar aku aja yang selesain, ini sisa di bilas" Manda kembali mengambil alih posisi semula


"tapi mas mau bantuain, sayang"

__ADS_1


"udah nggak papa, mendingan mas keluar deh nemenin twins di ruang tv"


"males, ada si bujang lapuk"


"ck! gimana anaknya nggak betah sama gue kalau papanya sibuk ngebucin mulu" suara dari arah belakang sontak mengalihkan atensi kedua pasangan suami istri itu


"ini" dengan santai Mario meletakan piring kosong di wastafel yang tadinya berisi beberapa potongan buah di sana, lalu Ceo utama Ivander Corp itu melenggang pergi


"ya! lo pikir istri gue tukang cuci piring!" seru Marva tak terima


"itu piring bekas buah twins" sahut Mario enteng tanpa menghentikan langkahnya


"ck! si Mario sia..."


"maaaaassss"


_ _ _ _ _


"jangan di elus papa" protes Zaafira sembari menyingkirkan tangan Marva dari kepalanya


"kenapa?"


"Nanti Fiya ngantuk. Fiya belum mau bobo, masih mau nonton Upin" tutur anak perempuan itu memperbaiki posisinya dalam pangkuan sang papa


"mau kemana dia?" tanya Marva pelan ketika Mario tiba-tiba beranjak dari sofa


"tidur kali" jawab Manda sembari bermain ponsel di sofa tepat di belakang tubuh Marva


tak lama kemudian Mario kembali muncul dan duduk di lantai yang beralaskan karpet tebal dekat Zafier


Marva menaikan alisnya sebelah ketika Mario menyodorkan sebuah kertas tebal yang terlipat berpola di hadapannya. jelas ia tahu jika itu adalah sampul undangan...eh tunggu, undangan pernikahan?


"gue harap kalian nggak usah datang" ucap Mario setelah menyerahkan amplop yang tertera nama Mario Ivander dan seorang nama wanita asing di sana. raut wajah Ceo sekaligus dokter bedah itu tampak datar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2