Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
S2- ajakan Reuni


__ADS_3

seperti lirik lagu ~Seandainya jarak tiada berarti, Akan ku arungi ruang dan waktu dalam sekejap saja~


berbicara soal jarak, Marva masih terjebak di dalamnya. selama sepuluh bulan kembali menyandang status sebagai suami seorang Nabila Amanda di pernikahan kedua ini, Marva masih harus menyetok tenaga super untuk mendukung fisiknya pulang balik Jakarta-Bali setiap hari tentu terkecuali weekend atau ada hal urgen yang memaksanya harus stay di Jakarta. jangan tanyakan perkara berapa juta rupiah yang habis akibat biaya transportasi udara itu dalam sehari, sebab itu tak ada bandingannya dari bayaran ketika ia bisa mendekap nyata kedua buah hatinya dan juga istri tercintanya disaat membuka mata di pagi hari.


selain menyetok tenaga super agar ia tak mudah down, Marva juga menyetok rasa sabar. sabar menanti sampai sang istri siap ikut tinggal bersamanya di Jakarta.


lihatlah keadaannya yang dirasa sangat menyedihkan, saat-saat begini ia ingin sekali ikut bergabung makan siang bersama ketiga orang terkasihnya di seberang pulau sana.


"makanan ku belum datang, sayang" ucap Marva menjawab ajakan makan sang istri yang nampak memulai meyuap makan siangnya. dan semua itu hanya bisa Marva lihat melalui virtual.


"kenapa nggak ikut keluar makan bareng Radit aja tadi?"


"malas makan di luar kalau tidak bareng kalian" jawabnya sembari menopang dagu dengan sebelah tangannya yang bertumpu di meja kerjanya, mengamati baik-baik wajah cantik istrinya yang dirindukannya


"widiihh,,, lahap banget sih makannya putri papa, awas keselek loh, nak" gemas Marva saat Manda mengarahkan kamera ke arah Zaafira yang tampak asik dengan sepiring nasi dan ayam gorengnya


"Fiya pengen cepat besal sepelti mommy supaya bisa nikah sama angkel Mayo" jawab si bungsu dengan polosnya


jelas saja Marva tersedak ludahnya sendiri mendengar balasan putrinya yang masih saja cadel diusianya yang dua minggu lalu memasuki lima tahun. bukan, bukan perkara cadelnya yang membuat Marva seketika merubah ekpresinya menjadi datar tapi karna ucapan putrinya itu. berbeda reaksi dengan Manda, Marva dapat mendengar kekehan gemas wanita itu di belakang kamera


"heh Fira, istigfar kamu nak, lulus TK aja kamu belum" geram Marva tertahan. alih-alih gemas, Marva malah kesal, lebih tepatnya tidak rela akan ucapan sang putri


tak tahukah Twin kalau Marva sering berdoa agar waktu tak cepat berlalu, agar anak-anak itu tak cepat dewasa dan memilih jalan mereka sendiri-sendiri. tidak, Marva bahkan tidak siap membayangkan hari dimana ia akan menyerahkan anak perempuannya pada seorang lelaki, juga putranya yang mulai sibuk dengan wanita.


"tapi bental lagi kan masuk SD, papa"


"itu satu tahun lagi anak centil"


"kata angkel Mayo kalau Fiya banyak makan, Fiya bisa cepat besal dan bisa nikah sama angkel Mayo"


si*lan si Mario! umpat Marva dalam hati


beraninya ngeracunin otak polos Zaafira


"Nggak. pokoknya Fira baru papa lepas kalau umur 30 tahun"


"kata angkel Mayo, kalau Fiya udah setinggi mama udah boleh nikah sama angkel Mayo, mmm 10 tahun lagi" balas balita itu sembari menunjukan kesepuluh jarinya "katanya kalau kelamaan nanti angkel Mayo jadi opa-opa" lanjut anak itu dengan nada polosnya


astaga Mario si pedofil gila! dada Marva sudah kembang kempis saking kesalnya pada kakak angkat istrinya itu.


"Bil, sayang?" panggil Marva yang kemudian langsung diindahkan Manda dengan menghadapkan kamera kearahnya

__ADS_1


"kalau Mario telepon lagi jangan angkat kalau mas nggak ada, atau kamu boleh bicara sama dia tapi jangan libatkan twins kalau mas nggak ada di dekat mereka. oh Afi nggak papa deh, ini khusus berlaku untuk Fira. kakakmu membuat otak putriku jadi ternoda" titah Marva panjang lebar dengan ekpresi berapi-apinya. sungguh Marva kebakaran akan kedekatan Mario dan Zaafira. Marva tak mau diduakan oleh putri kesayangannya itu dalam waktu dekat, tidak untuk sepuluh tahun atau dua puluh tahun kedepan. titik.


Marva serius. sepertinya ia harus memberi batasan pada pria yang tak laku-laku itu diusianya yang sudah diakhir kepala dua agar tak merecoki kepolosan Zaafira. meski ia tahu Zaafira masih kecil dan tak tahu apa-apa, namun Marva tetap harus mewanti-wanti agar putrinya tak digosting bahkan diusinya yang baru menginjak angka lima.


"oh yah, jagoan papa mana? kok nggak bersuara dari tadi?" tanya Marva saat Manda hanya menanggapi perintahnya dengan kekehan geli


"nih dia, lagi asik main kubik" beritahu Manda sembari mengarahkan kamera ke arah Zafier yang tengah fokus mengobrak abrik keenam warna terang pada kotak kecil di tangan mungilnya


"loh kok malah main rubik nak? kenapa nggak makan?"


"udah papa" jawab anak lelaki itu sembari mendongak sejenak melihat wajah papanya di layar ponsel sang mommy


"kok nggak makan banyak seperti adek? nanti kalah besar loh"


"Afi nggak mau cepat besar. jadi orang besar susah. nggak punya waktu banyak buat main seperti papa dan mommy. sibuk kerja terus"


glek


sontak kedua orang dewasa terhalang jarak itu menelan ludah. penuturan si sulung mengenai pekerjaannya menampar keduanya secara tak kasat mata.


"maafin papa nak, besok papa usahin pulang. doain yah semoga proyek papa segera beres" sahut Marva setelah keheningan tercipta sepersekian menit.


sudah dua hari Marva di ibu kota. proyek besar yang tengah ditanganinya tidak bisa ia alihkan seenak jidat pada Radit. biar bagaimanapun ia adalah pemimpin sekaligus pemilik perusahaan yang memiliki lebih dari 80 orang karyawan. Marva tidak bisa lari-larian terus dengan dalih rindu pada istri dan anak-anaknya. ia harus profesional, ada puluhan orang yang menggantungkan nasib pada perusahaan miliknya, padanya.


tepat saat panggilan video call berakhir setelah Manda pamit untuk meeting, pintu Marva dengan lancang terbuka tanpa aba-aba. maksudnya ketukan.


"hay bro?"


"nggak lupa kan kenapa pintu diciptakan?" sarkas Marva sembari manatap tajam tamu tak diundangnya


sontak ketiga lelaki dewasa itu berhamburan keluar lalu menutup pintu, kemudian


tok tok tok


klek


"selamat siang bapak Marva, boleh minta waktu anda sebentar?"


Marva mendengus keras melihat tingkah mereka.


"maaf lambat pak, saya tadi ditahan sama si duda" Radit maju ke hadapan Marva sembari menyerahkan makan siang pesanan bosnya

__ADS_1


menghiraukan keberadaan mereka, dengan santai Marva melahap makanannya yang telah disajikan Radit di meja sofa khusus tamunya


"udah kenyang?" tanya salah satu lelaki yang bernama Ciko. si duda keren.


"saya sibuk. kalian boleh keluar. udah puaskan menikmati keempukan sofaku?" ucap Marva setelah menandaskan sebotol air sebagai akhir dari makan siangnya


"gini nih, kalau lupa daratan. saat terpuruk sahabat selalu ada, saat sudah mendapatkan apa yang diinginkan sahabat terlupakan" dumel Ciko menyindir. pasalnya hanya dia yang berani berkata demikian saat berada di ruangan Marva, sebab ia bukan karyawan disana, berbeda dengan Aksa dan Radit, mana berani mereka mendumeli orang yang memberi mereka makan walau itu sahabatnya sekaligus.


"dunia gue hanya untuk istri, anak-anaku dan perusahaanku"


"dih, bucin" olok Ciko


"sudah waktunya jam kerja, saya sibuk" ucap Marva mengusir secara halus


"lo sekarang nggak asik ah. gue juga dulu punya bini nggak sekaku lo tuh"


"ya tapi ceraikan?" balas Marva telak membuat Radit dan Aksa tak bisa menahan tawanya


"iya-iya yang mantan duda" balas Ciko tak mau kalah


"tapi istri gue setia tuh. empat tahun menjanda masih nunggu gue. lah mantan bini lo? baru aja sebulan cerai udah sebar undangan aja"


"nggak asik lo, nyerangnya psikis" ucap Ciko dengan wajah dibuat pura-pura sedih. namun ketiga temannya tahu jika lelaki itu memang tengah mengalami guncangan batin akan permasalahan hidupnya


"to the poin deh supaya gue bisa cepat keluar dari ruangan lo yang sesak ini. lo kenapa keluar dari undangan grup reuni?"


"nggak minat datang" jawab Marva sekenanya


"sok sibuk banget bapak..."


"emang sibuk" potong Marva.


"heh kalian berdua, bantuin gue dong. percuma gue narik lo temanin gue kesini kalau kalian cuman jadi pendengar bod*h" omel Ciko pada Radit dan Aksa yang hanya diam memainkan ponsel. asisten dan kepala divisi keuangan Marva itu hanya mengendikan bahu acuh. sebab mereka sudah tahu alasan kenapa Marva tak mau ikut bergabung memeriahkan acara reuni. alasannya tentu saja Nabila Amanda.


"percuma, gue nggak niat datang acara-acara gituan"


"demi gue please... mumpung lo nggak balik ke Bali, bantu gue lah malam ini" melas Ciko. tak apalah merendahkan diri demi misinya "si Rita katanya datang. kali aja bisa gue ajak clbk terus bisa gue ajak ke acara nikahan mantan istri supaya gue bisa nunjukin kalau gue juga udah move on. gue butuh bantuan kalian bertiga ntar malam" lanjut Ciko mengutarakan rencanaya


"heh gila! lo cuman mau jadikan si Rita pelampiasan?!" ucapan kesal Marva itu juga dibarengi toyoran di kepala duda baru itu


"nggak juga sih, memang gue masih ada rasa dikit sama dia. dia mantan terlama gue. lo juga pasti begitukan sama si Maya?"

__ADS_1


Bersambung...


ini yang Marva hindari ikut makan siang dengan Radit, malas


__ADS_2