
suasana ruang keluarga rumah Marva mendadak jadi suasana persidangan. tentunya Manda dan Marva sebagai hakim sedang Mario sebagai terdakwa. twins masih asik dengan dunia mereka di layar tv
"ka', ini serius?" tanya Manda sembari membaca surat undangan yang jelas tertera nama Mario sebagai mempelai pria
"serius dong. ngapain aku bercanda sama kalian" jawab Mario enteng
"lo mau nikah?" kali ini Marva yang angkat bicara
"umur gue sudah matang" Mario dengan santai menjawab sambil mengunyah cemilan twins
"lo udah move on dari Rain?"
"bukankah harusnya demikian?"
Marva mendesah pendek mendengar pertanyaannya di balas pertanyaan
"nggak usah memaksakan diri. tapi nggak ada salahnya kalau lo memang sudah siap tanggung jawab. perkara cinta, rasa itu bisa datang seiring waktu" nasihat Marva pada lelaki yang belakangan berhasil membuatnya cemburu akan kedekatannya dengan sang putri. Marva masih lah menghargai Mario, sebagai teman juga sebagai kakak dari sang istri, sikap kesalnya selama ini saat berhadapan dengan Mario tentulah karna lelaki yang pernah menaruh hati pada Raina itu selalu merebut perhatian dari putri kecilnya.
"kami akan segera memiliki bayi"
Marva mengerjab, begitu juga dengan Manda, keduanya mencoba mencerna perkataan... lebih tepatnya pengakuan dari Mario
"dia...hamil?"
"ya"
"anak kak Mario?"
"sepertinya"
"kok jawabannya nggak yakin gitu"
"katanya, bayi itu bayi aku"
"kak Mario tidur sama wanita?!"
"hanya sama dia"
"kak?"
__ADS_1
"nggak sengaja minum kebanyakan, teler, terus lupa segalanya, bangun-bangun eh udah ada cewe cantik dekat gue" aku Mario masih dengan nada santainya
"minum sebanyak apa lo sampai kalah sama alkohol?" Marva lagi-lagi angkat bicara saat pengakuan Marva tak masuk di akalnya. Mario tahan dengan alkohol. hal itu yang Marva tahu mengenai Mario saat berhubungan dengan minuman keras
"entahlah" jawaban Mario jelas tak membuat rasa penasaran Manda begitu juga dengan Marva terjawab.
keduanya hanya bisa menyimpulkan bahwa lelaki berumur diakhir kepala dua itu sepertinya tak betah juga menjomblo diusianya yang sudah sangat matang.
"jadi, kapan lo balik?"
"lo nggak bosan ngusir gue mulu"
"kali ini gue nanya serius bambang"
"nama gue Mario, Maemunah"
"gue laki-laki, saroh"
"ck! mulai lagi" protes Manda sembari menatap tajam kedua lelaki dewasa di hadapannya bergantian
"dia duluan, sayang"
"heh!" sergah Marva memberi tatapan membunuhnya pada Mario
"apa? salah kalau gue mau bobo bareng keponakan gue?"
"nggak salah kalau pamannya bukan lo. apalagi lo itu udah sama cewe...."
"heh! gue bukan pedofil gila anj!r!"
"jaga-jaga. lo aja yang susah jatuh cinta selain sama Rain bisa hamilin cewe lain"
telak. Mario bungkam dan langsung beranjak. memang di hati lelaki itu nama Rain masihlah bertahta. cinta dalam diam selama bertahun-tahunnya itu masih mengakar di sudut hatinya
"yaudahlah gue bobo sendiri aja"
"angkel kok tinggalin Fiya?" panggil Zaafira menyadari keberadaan Mario yang menjauh "angkel kan udah ajak Fiya bobo baleng" lanjut anak perempuan itu dengan bibir maju
"biarin Angkel bobo sendiri. Fira sama Afi bobo sendiri di kamar kalian" ujar Marva yang langsung dijawab gelengan kepala oleh sang putri
__ADS_1
"tapi Fiya mau sama angkel"
"nggak boleh nak. ntar calon istri angkel marah"
Mario melotot tajam ke arah Marva mendengar ucapan menggelitik itu.
"kan calon istli angkel Fiya" Zaafira berucap sambil menatap Marva
"nggak, angkel udah punya calon istri yang bentar lagi punya bayi" balas Marva
"adik bayi? Fiya akan punya adik bayi lagi? jadi Fiya akan punya adik bayi tiga?" antusias dengan jari terangkat tiga. raut wajah anak itu begitu antusias mendengar kalau dirinya akan mendapat adik baru lagi.
"iya, Fira senang nggak?"
"iya. tapi adik Lily jauh, jadi nggak bisa ketemu telus sama Fiya"
Emely anak dari Jefry dan Raina
"jadi, kapan Fiya bisa ketemu adik bayinya angkel? soalnya adik bayi di pelut mommy masih lama kelualnya kalna tidul telus" tanya Zaafira dengan nada sedih diakhir kalimatnya
"masih lama sayang, mungkin bersamaan sama adik bayi di perut mommy" jawab Manda
"ah lama juga. yaudah deh bial adik bayinya di pelut Fiya aja supaya bisa cepat kelual"
"heh!!" Marva dan Manda sontak terkejut dengan ucapan ngawur sang putri sedang Mario hanya terkekeh gemas
"kalau gitu Fira harus jadi istri angkel dulu baru bisa adik bayinya ada di pelut Fiya"
"kak Mario!"
"Mario!"
seru Marva dan Manda barengan. Zaafira langsung beranjak mendekat ke arah Mario dan menengadahkan tangannya
"siniin ponsel angkel, Fiya mau minta ijin sama istli angkel kalau Fiya mau nikah juga sama angkel supaya bisa buat adik bayi"
"Zaafira astagfirullah!!"
Bersambung...
__ADS_1