Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
S2- perkara jalan lahir


__ADS_3

"bayinya sehat ya bu, pak" beritahu dokter Rina sembari memerhatikan layar monitor dimana memperlihatkan kondisi janin di dalam perut Manda


Marva tersenyum tipis menanggapi ucapan sang dokter, berbeda dengan Marva yang meringis melihat keadaan sang jabang bayi


'beneran jungkir balik' batin Marva syok, lalu ia menunduk menatap sang istri dengan wajah sedihnya


"kuat banget kamu, sayang" bisiknya setelah mendaratkan kecupan di pelipis sang istri. cek kandungan sebulan lalu, kepala bayinya masih berada di atas, kini posisi itu berada di bawah. hebat banget calon bayinya bisa seaktif itu di ruang geraknya yang terbatas, tapi lebih hebat istrinya yang tak pernah mengeluh akan itu.


tiba-tiba jantung Marva mencelos ketika terbayang bagaimana twins dulu di dalam perut istrinya.


"jenis kelaminnya udah bisa di cek, bapak dan ibu mau lihat?"


"iya dok"


"tidak dok"


jawaban serentak yang berbeda itu membuat dokter Rina menatap bergantian sepasang suami istri yang rutin mengunjunginya lima bulan belakangan ini. sedang Manda dan Marva juga saling bertatapan..


"mas nggak mau tahu dia perempuan atau laki-laki?" tanya Manda heran akan jawaban suaminya. selama ini Marva selalu antusias mengenai apapun tentang si jabang bayi. namun anggukan menjadi jawaban dari suaminya


"yang penting dia sehat cukup buat mas, sayang"


"lagian mas nggak mau patahin harapan twins, pasti salah satu dari mereka akan bersedih. biarkanlah mereka berangan-angan setidaknya tiga bulan lagi" lanjut Marva menyampaikan pikirannya, kedua anak kembarnya yang berbeda gender itu menginginkan adik mereka sesuai gender masing-masing, sebab pengen diajak main katanya.


Manda bukannya mengerti akan alasan sang suami malah menggeleng samar tak habis pikir akan jalan pikiran putra sulung mertuanya itu.


_ _ _ _ _


"memasuki trimester ketiga ini, bapak sudah boleh sering-sering melakukan penyatuan ya pak, maksudnya boleh lebih sering dari pada di trimester awal atau kedua, yang penting tetap hati-hati ya, pak. ini berguna untuk merangsang jalan keluar bayinya"


Manda menoleh pada sang suaminya, berharap lelaki itu memasang telinganya baik-baik, dan menghilangkan prasangka-prasangka buruk yang mampir di sel-sel otaknya


"tapi dok, apa tidak akan menganggu ketenangan bayi kami? nanti dia terguncang gimana?" Marva berusaha mengutarakan ketakutannya selama ini

__ADS_1


"makanya bapak mainnya hati-hati saja pak, dengan gaya yang aman itu tidak jadi masalah" Dokter Rina tersenyum tulus ke arah Marva, beliau cukup paham akan kedaan suami pasiennya saat ini


_ _ _ _ _


sudah menjelang dua tahun usia pernikahan mereka, memiliki dua orang anak yang sudah memasuki pendidikan sekolah dasar, ditambah calon bayi yang sudah memasuki trimester ketiga di dalam perut si istri, tentu melakukan ibadah suami istri sudah menjadi hal biasa bahkan candu bagi mereka, namun malam ini sepertinya aura kecanggungan layaknya pengantin baru yang akan melepas keperjakaan dan keperawanan menyelimuti kedua insan dalam kamar bernuansa elegan kalasik itu


si perempuan dengan gaun tidur malamnya terduduk di bibir ranjang sembari menunggu aksi suaminya yang tampak gelisah di hadapannya


"sayang... emang benaran nggak papa?" tanya Marva membuat Manda semakin kesal


"mas dengar kata dokter Rina tadi kan?"


"sayang, tapi mas takut tidak bisa mengendalikan diri, kamu tahukan bagaimana tubuh kamu bisa membuat mas kehilangan akal?"


_ _ _ _ _


setelah melewati berbagai pertimbangan, akhirnya sepasang suami istri itu sudah bergulat di atas ranjang mereka dengan tubuh sama-sama polos, Manda duduk di pangkuan sang suami yang sibuk mengeksplor tubuhnya menggunkan lidah lelaki itu...


"mas aku udah nggak tahan" cicit Manda


"mas masuk yah, sayang" ucap Marva di angguki cepat oleh Manda


namun... saat Marva ingin menyatu, seketika terlintas dipikirannya mengenai posisi bayinya, kepala anaknya menghadap ke bawah, bagaimana jika miliknya menodai tubuh suci sang bayi? bagaimana jika miliknya menyundul kepala sang bayi? bagaimana jika ia tak bisa tahan mengeluarkan cairan di milik istrinya dan meracuni anaknya? tidak! Marva sontak mundur dan segera meraih pakaiannya yang tergeletak di lantai membuat Manda kebingungan melihat tingkah suaminya


"mas?" panggil Manda yang terbaikan


"mau kemana mas?" tanya Manda lagi ketika Marva hendak beranjak dari sana


"tidur di kamar twins, kamu juga tidur ya" jawab Marva membuat Manda menatap kesal sang suami. bagaimana tidak, ia yang sudah diambang batas gairah kini ditinggalkan oleh suaminya


jujur Manda ingin sekali menangis


"tidur sayang" ucap Marva sembari menutup tubuh telanjang istrinya dengan selimut, lelaki itu memberi kecupan di dahi istrinya sebelum beranjak pergi

__ADS_1


bukannya berajak ke arah pintu penghubung kamar twins Marva malah menuju kamar Mandi


Manda hanya menatap datar kepergian suaminya, setelah beberapa menit berlalu dan Marva tak kunjung keluar dari kamar Mandi, Manda beranjak setelah menormalkan juga kekesalannya


"mas kamu ngapain?" tanya Manda ketika membuka pintu kamar mandi yang memang tak Marva kunci dari dalam


mendengar suara istrinya, sontak Marva membuka mata, lalu menelan ludah kasar sebelum memunculkan senyuman kakunya


"kamu lebih milih berbuat kek gitu dari pada sama aku yang jelas-jelas butuh itu?" tanya Manda tak habis pikir akan suaminya yang menghabiskan banyak busa ditangannya untuk menidurkan peliharaan lelaki itu


"mas nggak bisa sayang, mas takut milik mas mengenai kepa.."


"mas pikir burung mas sepanjang apa?!" pekik Manda memotong ucapan Marva, wanita itu benar-benar kehilangan kesabarannya..


Marva dengan otak kolotnya memang luar biasa! luar biasa membuat Manda kesal, marah, kecewa, bahkan merasa tak berguna karna suaminya memilih bermain sendiri untuk memuaskan hasrat dari pada bercinta dengannya


"bisa sampai mulut rahim kamu, kamu sendiri yang sering bilang kalau kita bercinta kan?" jawab Marva dengan tenang


"mas..." Manda kehilangan kata-kata akan respon suami bodohnya itu


"maaf sayang, mas beneran nggak bisa, mas takut melukai..."


"mas keterlaluan, mas nggak mikirin gimana jadi aku?" potong Manda lagi dengan mata yang sudah berkaca-kaca


"tau gini mending aku pesan se*s toys aja" imbuh wanita hamil itu


"nggak!"


"kenapa nggak? aku butuh itu mas, aku harus mancing jalan keluar bayi ini agar bisa bersalin dengan normal"


"mas bantu aku plis..." lirih Manda akhirnya dengan nada penuh permohonan


Bersambung...

__ADS_1


jadi yang tanya cerita Raina itu akan ada judul lain yah, tapi autor belum tahu pasti kapan bisa up. soalnya mungkin habis ini mau kelarin cerita DENDAM MU TAK BERTUAN dulu


__ADS_2