
sembuh. ya, hati yang sudah terluka sedemikian parah kemungkinan akan sembuh termakan waktu dan berbagai rangkaian pengobatan. sedalam apapun sebuah luka hati akan sembuh jika si pemilik luka memiliki kelapangan dada, akan tetapi percayalah bahwa bekasnya akan selalu abadi. luka hati nyatanya tak sepele. jadi jangan main-main dengan memberi luka pada hati seseorang.
sebab ini tentang kepercayaan. memaafkan memang perkara susah-susah muda namun kembali untuk sepenuhnya percaya itu hal yang sulit.
"sudah beres bu, kalau gitu kami permisi" pamit salah satu karyawan dari salah satu pusat perbelanjaan perabotan rumah berkualitas hight di ibu kota Jakarta itu setelah meletakan beberapa Gucci mahal di beberapa sudut rumah mewah Marva. sentuhan terakhir sebagai dekor rumah impian Manda
"makasih ya" ucap Manda menampilkan senyum cerahnya, secerah hatinya yang puas akan hasil buruannya satu minggu terakhir di berbagai tempat perbelanjaan terkenal
rasa lelahnya terbayar dengan semua perabotan rumah yang sudah lengkap dan serba impiannya. Rumah kosong yang Marva siapakan kini sudah terisi barang-barang pilihannya.
"mas, sini duduk" Manda menuntun Marva duduk di sofa ruang tamu setelah menutup pintu rumah. lalu Manda berjalan kesisi sofa lainnya dan mendudukan diri tepat di seberang Marva
"aku sekarang pengangguran, jadi aku butuh jaminan agar kelak posisiku akan tetap aman" celutuk Manda sembari bersedekap dada dan menatap lekat netra hitam pekat milik sang suami
Marva mengangguk setuju, hanya saja dalam hatinya tengah meringis miris. ia tahu maksud istrinya meminta jaminan. pembuktiannya selama ini belum mampu membuat wanitanya itu percaya akan ketulusannya
"apa hatiku tidak bisa menjadi jaminan?"
"aku butuh sesuatu yang terlihat"
"kamu minta apa?"
"apa yang bisa mas, kasih?"
"apapun yang kamu minta" jawab Marva cepat tanpa pikir panjang
"Rumah dan semua isinya, uang bulanan lima puluh juta, jajan twins masing-masing dua puluh lima juta, jadi dalam sebulan seratus juta masuk dalam rekeningku, mobil... eh mau kemana?" pekik Manda diakhir kalimatnya yang terpotong akibat Marva yang langsung beranjak pergi dari hadapannya
"Mas?" panggil Manda yang diabaikan Marva
"Apa dia marah? apa permintaanku terlalu berat? apa seratus juta terlalu banyak? tapi bukankah perusahaannya bisa menghasilkan laba bersih ratusan juta dalam satu minggu? atau ada perkataanku yang membuatnya tersinggung?" tanya Manda pada dirinya sendiri kala tubuh suaminya sudah hilang di telan ruangan kerja lelaki itu.
__ADS_1
merasa bersalah, Manda beranjak menyusul suaminya untuk meminta maaf. gerakannya terhenti ketika hendak mengetuk pintu namun pintu terbuka lebih dulu dan Marva keluar dari ruangan. lelaki itu hanya menatap datar istrinya yang menampilkan senyum kikuk. Marva meraih tangan Manda lalu menuntun kembali wanitanya itu duduk di sofa. lalu ia ikut mendudukkan dirinya tepat di sebelah sang istri
"apa ini cukup?" tanya Marva sembari memberikan satu map yang isinya cukup tebal ke tangan Manda
"apa ini?" tanya Manda menatap bergantian wajah sang suami dan map berwarna biru di pangkuannya
"milikmu. ambillah" jawab Marva sembari memberi kode dagu agar Manda sudi membukanya. Manda tanpa pikir panjang langsung membukanya dan...
"mas?" Manda cengo setelah melihat isi map, wanita itu membaca satu persatu surat-surat berharga bermaterai 10000 setiap lembarnya
yang inti isinya menyatakan;
lembar 1
pemilik Rumah 100x250 meter tingkat dua dan segala isinya juga tanah seluas 300x300 meter atas nama Nabila Amanda
lembar 2
lembar 3
menyatakan bahwa uang Marva adalah hak Nabila Amanda. segala pemasukan Marva akan dikelola oleh Nabila Amanda. Nabila Amanda adalah bendahara umum dan satu-satunya bagi keluarga Marva Phelan.
lembar 4
segala macam aset yang hendak Marva Phelan beli harus melalui persetujuan Nabila Amanda
lembar 5
jika Marva Phelan menyakiti hati Nabila Amanda, Maka Marva Phelan secara sadar dan suka rela harus menerima dihukum mati
"mas?" kali ini Manda menoleh ke arah suaminya dengan ekpresi tak habis pikir. surat pernyataan itu membuat perasaannya campur aduk, antara haru dan malu. nyatanya suaminya itu sudah menyiapkan semua apa yang Manda takutkan selama ini. iya semuanya! bukan hanya persoalan gono-gini tapi bahkan jaminan atas ketakutannya mengenai trauma masalalu.
__ADS_1
bolehkah Manda beranggapan bahwa dirinya tak sia-sia memberi kesempatan kedua buat suaminya? bolehkan? Marva layak diberi kesempatan kedua, bukan? lelaki itu hanya pernah tersesat karna sebuah janji pada wanita masalalunya. Marva sosok lelaki royal dan setia pada wanita yang dicintainya. dan Manda merasakan bahwa cinta Marva sudah ia genggam. lelaki itu telah meyerahkan semua hatinya untuknya.
"loh kok di tutup? masih banyak tuh, lanjut baca gih" suruh Marva saat Manda menutup map itu padahal masih ada beberapa lembar yang belum wanita itu lihat
"nggak ah, aku udah tahu kok kalau isinya semua tentang kekuasaan ku atasmu kan?" tolak Manda dengan percaya diri membuat Marva tercengang sesaat namun secepat kilat mengangguk setuju. Manda menghambur memeluk Marva setelah meletakan map di meja. Marva membalas pelukan Manda sembari memberi beberapa kecupan pada pucuk kepala si pemilik hatinya yang membuat Marva takluk sampai urat nadinya
katakanlah alay, tapi Marva memang secinta itu pada ibu dari anak-anaknya itu.
"makasih"
"harusnya mas yang makasih sayang. terimakasih atas kebaikan kamu yang mau kembali sama lelaki..."
"sstt diem nggak!" sentak Manda membuat Marva seketika bungkam
"oke nyonya Marva" ucap Marva lalu kembali membungkam rapat-rapat bibirnya
dag dig dug dag dig dug
sepasang suami istri itu saling menikmati detakan jatung masing-masing di ruang tamu rumah megah itu
"sayang, gimana kalau kamu memperaktekan kewajiban kamu sekarang?" celutuk Marva setelah keheningan cukup lama
"maksudnya?" tanya Manda sembari menegakan tubuhnya, pelukannya sudah terlepas.
"baca lembar dua belas" titah Marva sembari menunjuk map dengan dagunya
Manda mengikuti perintah Marva, lalu mulai mencari lembar 12 "Nabila Amanda akan siap kapan saja saat Marva Phelan pengen olahraga ranjang" setelah membaca isi lembar dua belas bermaterai itu sontak membuat Manda menoleh horor ke arah Marva
"psikopat!"
Bersambung...
__ADS_1