
Marva mengemudikan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata membelah jalanan siang hari yang cukup lenggang. tepat saat di perempatan jalan, lampu merah berhasil membuatnya menginjak pedal rem. ketika teringat sesuatu Marva segera merogoh ponselnya dan mendial nomor seseorang
"ke lapangan sekarang, saya sedang ada urusan mendadak" titahnya ketika panggilannya terjawab. tak menunggu balasan dari seberang Marva langsung mematikan sambungan lalu ia kembali mendial nomor lainnya.
"ck! angkat Bil" erang Marva ketika panggilannya tak juga mendapat jawaban dari istrinya yang beberapa saat lalu menghubungi dirinya dan berhasil membuatnya tanpa pikir panjang langsung meninggalkan agendanya meninjau proyek bersama rekan bisnisnya
Bip
Marva tersentak kala sahutan klakson beberapa kendaraan di belakang mobilnya. Marva melempar ponselnya di kursi penumpang sebelahnya lalu mengijak pedal gas saat menyadari lampu merah berpindah ke hijau
sedangkan di tempat lain, perasaan Bila campur aduk menatap seorang wanita dewasa yang nampak perutnya sedikit menonjol di balik pakaian seksi nan ketat membalut tubuh putih itu, manda tebak wanita bergincu merah terang itu tengah berbadan dua
"maaf, cari siapa?" tanya wanita itu untuk kedua kalinya
"anda siapa?" bukannya menjawab Manda malah melempar pertanyaan balik dengan nada intimidasi
"saya,, saya istri pemilik rumah ini"
Deg
inikah arti dari mimpinya?
"istri?" beo Manda menahan geram "istri ke berapa?" tanya Manda lagi dengan kilatan mata meremehkan
gemuruh dadanya tak juga bisa terobati saat melihat lawan bicaranya tampak jelas kesusahan menelan ludah serta wajah pucat mendapati pertanyaan darinya
sakit? jelas. kecewa? jangan ditanya. sesak? sudah pasti. Manda ingin sekali berlari pergi jauh dari sini sekarang juga, hanya saja kakinya tak bisa ia ajak kompromi. pijakannya terpaku rapat tepat di ambang pintu rumah yang tengah ia datangi
"kenapa diam?! jawab saya!!" bentak Manda membuat wanita dengan pakaian kurang bahan itu terjengkit kaget.
__ADS_1
bukan hanya wanita itu yang terkejut akan suara keras Manda, twins juga yang berada di belakang Manda ikut terkejut mendengar suara keras sang mommy untuk pertama kalinya
"kurang ajar!" maki Manda kala lawan bicaranya malah melangkah mundur dan menutup pintu namun dengan kekuatan emak-emaknya, Manda berhasil mencegahnya dengan mendorong keras daun pintu itu hingga si istri ketiga kalah tarung
Manda tersenyum remeh melihat wanita itu tampak gemetar di tempatnya. jangan harap Manda mau berbelas kasih pada wanita yang dengan lancang berada di rumah suaminya dan malah mengaku sebagai istri dari pemilik rumah itu
posisinya saat ini Manda selaku istri sah tengah melabrak selingkuhan suaminya. jika saja Manda adalah wanita yang ringan tangan sudah pasti rambut pirang si istri ketiga sudah rontok dan wajah mulus karna polesan dempul make up itu pasti sudah berdarah-darah akibat cakarannya.
"saya tanya sekali lagi, kapan suami saya menikahi anda?" tanya Manda dengan menekan setiap katanya
"li...lima bulan lalu"
Deg
lima bulan lalu? bukankah lima bulan lalu hubungannya dengan Marva baru baikan? baikan dalam artian saling menerima satu sama lainnya. jadi yang mana duluan? menikahi simpanannya atau Marva mengajaknya berbulan madu? segelintir pertanyaan menyesakan dadanya itu berseliweran di otaknya
apa karna dirinya yang terlalu tenggelam dalam trauma hingga Marva mencari lagi kesenangan di luar? berselingkuh dengan dalih bekerja? dalih proyek ternyata malah proyek membuat anak? uh darah Manda makin mendidih memikirkan kelakuan Marva yang tak berubah.
"anda tidak tahu kalau dia sudah memiliki istri dan anak?"
"sa..saya tahu, tapi saya mencintainya, menerima dia apa adanya, saya bahkan rela jadi istri ketiga"
"ketiga?" beo Manda dengan mata melotot sempurna, bola matanya seolah siap keluar menerkam wanita yang mengaku istri ketiga dari suaminya. jika ada ketiga berarti ada kedua? pikir Manda
Marva sialan!!
"jangan menyuruh saya mundur, karna kami saling mencintai. bayi ini buktinya" tutur wanita itu sembari mengelus perut buncitnya
saling mencintai? bayi?
__ADS_1
Marva Bajing*n!!
tolong siapapun bawa Manda pergi sekarang juga mencari dukun untuk mengirim santet pada Marva. karna umpatan-umpatan sepertinya tak cukup untuk lelaki sial*n macam Marva tak tahu diri itu
"mom, papa mana? katanya kita mau ke rumah papa tapi kok papa nggak ada?" pertanyaan dari Zafier menyadarkan Manda dari amarahnya. Manda menoleh, menatap kasihan pada kedua buah hatinya yang tampak kecapean sehabis perjalan jauh. harusnya twins dan dirinya beristirahat tapi siapa sangka kalau dirinya harus berhadapan dengan fakta menyesakkan tentang suaminya yang gil*. ya Marva si Anj*ng g*la!!
wanita dengan dres berwarna merah maroon itu juga ikut melongokan kepalanya melihat ke belakang punggung Manda
'anak-anak tiriku ternyata lebih manis dari foto yang ditunjukkan suamiku' batinnya menatap twins bergantian
"hai sayang, sini masuk. ini mama" sahutnya dengan wajah seramah mungkin, berlagak layaknya ibu tiri baik. namun ekspresinya seketika datar ketika Manda berbalik ke arahnya dan memberinya tatapan tajam menghunus
"sekali lagi anda berucap, saya robek mulut anda itu" geram Manda. tentu tak terima dengan perkataan simpanan suaminya yang kelewat percaya diri
jadi begini selera Marva yang sesungguhnya? seksi dan terkesan layaknya wanita penggoda. congor merah cerah, bedak dua belas lapis, pipi merona akibat bantuan pemerah pipi, alis hitam simetris akibat bantuan tenaga ahli alias sulam, bulu mata lentik nan panjang akibat bantuan bulu mata palsu dan dagu lancip yang sepertinya juga terbentuk akibat peralatan canggih. Manda tebak wanita ini tak percaya diri akan wajahnya hingga membuat banyak gambar palsu di sana.
lalu kenapa jika bersamanya Marva seolah tak pernah merasa cukup jika di luar lelaki itu mendapat jatah dari simpanannya? pikir Manda memandangi dari ujung kaki hingga ujung kepala wanita yang Manda tebak berusia jauh lebih tua darinya
Antensi keduanya teralihkan ketika sebuah mobil memasuki pakarangan rumah dan berhenti mendadak tepat di depan pelataran rumah.
"papa!" seru twins ketika seseorang yang mereka rindukan selama seminggu ini keluar dari mobil. keduanya sontak berlari menghambur ke pelukan Marva
"papa rindu banget sama kalian" tutur Marva sembari mencium gemas kedua pipi bulat anaknya yang sudah berada dalam gendongannya
berbeda ekspresi dengan twins yang lega dan berbinar bahagia ketika sudah bertemu sang papa, Manda malah tersenyum miris melihat kehadiran Marva. jika tadi ia bisa menahan diri untuk tetap kuat dan tak menangis menghadapi si simpanan sekarang air matanya meluruh deras tanpa mampu ia cegah ketika suami yang sudah kembali ia percayai dengan berbagai bantuan terapi malah kembali menorehkan luka itu melangkah mendekat
Manda menyesal menyusul Marva ke Jakarta. menyesal dengan keputusannya yang siap tinggal bersama Marva di Jakarta agar suaminya tak kecapean bolak balik lagi. menyesal karna telah memutuskan mengundurkan diri sebagai Ceo di perusahaan Ivander demi menjadi istri terbaik untuk Marva. menyesal karna memberi kesempatan dan berakhir dikhianati lagi oleh lelaki yang sama. Manda menyesal berada di tempat ini, rumah yang enam tahun lalu maupun saat ini menjadi saksi bisu kesakitannya atas penghianatan Marva.
"sayang? kenapa menangis?"
__ADS_1
Bersambung...