Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
S2-tidak pulang


__ADS_3

seperti lirik lagu ~ku tetap di sini menantimu


berharap kau kembali pulang untukku~


Manda membawa tangan kanan suaminya ke dahinya, lalu setelah melepaskan tangan itu ia berucap "hati-hati"


lalu bergantian dahinya mendapat kecupan dari bibir sang suami, Manda memejamkan mata sejenak merasakan benda kenyal itu bersarang cukup lama di dahinya.


"aku berangkat sayang. sampai ketemu nanti malam" dan kalimat pamit itu membuat Manda membuka mata, lalu wanita itu menanggapi dengan anggukan tipis.


"papa berangkat ya twins" pamit Marva sekali lagi pada kadua buah hatinya. kemudian lelaki itu beranjak ke taxi yang akan membawanya ke bandara


Manda masih berdiri di tempatnya, menatap jejak kepergian suaminya walau mobil yang membawa Marva sudah tak terlihat.


5 minggu sudah rutinitas itu mereka lakukan. berpisah di pagi hari dan baru bertemu di malam hari. kadang-kadang Marva berangkat subuh jika ada rapat pagi, juga lelaki itu kadang sampai rumah larut malam kalau ada pekerjaan yang harus terselesaikan hari itu. Manda tahu karna Marva selalu memberinya kabar. Manda menghela napas panjang, memikirkan bagaimana lelahnya jadi Marva. ya, ini bukan tentang dirinya, tapi tentang Marva yang harus menempuh perjalanan dua jam-an setelah tenaga dan pikirannya terkuras habis seharian di perusahaan. harusnya, pulang kerja lelaki itu bisa langsung istirahat, tapi lelaki itu malah harus ke bandara dan menunggu keberangkatan untuk pulang padanya dan twins.


"mommy ayok siap-siap, kita belangkat juga ke sekolah" celutuk Zafier menyadarkan Manda dari lamunannya


_ _ _ _ _


tok tok tok


"masuk!" seru Manda pada seseorang dibalik pintu


"kamu sibuk?" Manda mendongak menatap pemilik suara di ambang pintu


"papa? enggak kok, masuk pa" Manda meminggirkan berkas yang tengah ia geluti, lalu atensinya berfokus pada sang papa yang sepertinya mengunjungi ruangannya bukan untuk masalah pekerjaan


"apa papa mengganggu waktumu?"

__ADS_1


Manda melirik sesaat pekerjaannya, lalu kembali manatap papanya "tidak, ada apa, pa?"


melihat Narendra melangkah menuju sofa, Manda ikut beranjak dari kursinya dan menyusul sang papa


"ada apa sih pa, Bila jadi aneh sama ekpresi papa" tanya Manda menyebut dirinya Bila. memang selain Marva, Narendra tetap memanggil Bila padanya.


"emang kentara banget yah ekspresi papa?"


"hu'um. Bila kek merasa hendak di hakimi" balas Manda jujur


"bukan mau menghakimi tapi papa mau minta bantuan"


"bantuan apa pa? bilang aja, nggak usah sungkan, kalau Bila bisa pasti Bila bantu"


"papa mau pinjam uang"


"hah?"


melihat tawa Narendra, Manda berdecak karna merasa dikerjai


"serius dong pa" ucap Manda jengah


"oke, ini serius" ucap Narendra dengan air muka sudah kembali serius. lelaki paru baya itu menatap lamat-lamat putrinya


"kamu tahu kenapa mama selingkuh?" tanya Narendra membuat Manda tersentak. ya, ia memiliki seorang ibu yang entah dimana rimbanya sekarang. mamanya meninggalkan mereka karna lelaki lain. apakah mamanya masih hidup? entahlah...


"mamamu selingkuh karna papa" lanjut Narendra membuat Manda langsung membelalakan matanya. setelah belasan tahun berlalu, Narendra baru mengungkit lagi penghianatan itu


"selama ini kamu tahunya mamamu pergi karna tidak mau lagi hidup susah bareng kita, memang itu benar, tapi alasan lainnya adalah mamamu pergi karena tak mendapat nafkah batin dari papa. papa terlalu sibuk bekerja agar bisa mencukupi kalian. dulu papa hanya seorang buruh yang gajinya hanya pas untuk makan dan sedikit menyisihkan untuk keperluan sekolahmu. papa juga mengambil pekerjaan sampingan demi menambah pemasukan. tapi karna kesibukan papa itu membuat mamamu kesepian. nyatanya dalam hubungan suami istri tak melulu mengenai status, uang dan perut kenyang. tapi ada sesuatu kebutuhan lain yang lebih penting dari itu, yakni komunikasi dan keintiman. dan karna alasan itu mamamu selingkuh dengan pria lain yang jauh lebih mapan yang tidak hanya memberi nafkah lahir tapi juga mampu memberi nafkah batin pada mamamu setiap saat" jelas Narendra panjang lebar. nada lelaki itu terdengar miris tapi ekpresi wajahnya biasa saja.

__ADS_1


sedang Manda hanya mampu terdiam mendengar cerita sesungguhnya mengenai perselingkuhan ibunya. pikirannya berkecamuk.


"kamu mengerti maksud papa kan, Bil?" tanya Narendra memecah keheningan


"hargai suamimu nak, terlepas dari kesalahan masalalu tapi lihat bagaimana dia berubah. papa saja sebagai pria bisa melihat ketulusannya" tutur Narendra. melihat bagaimana perubahan Marva belakangan ini, melihat bagaimana Marva memperlakukan Manda saat mengunjungi rumahnya, dan tentunya Narendra tak akan mungkin lupa akan perjuangan Marva selama satu bulan mengabdi padanya hanya untuk mendapat restu darinya.


"satu hal yang perlu kamu tahu Bil, secinta-cintanya seseorang, akan ada saatnya dimana ia akan menyerah karna merasa perjuangannya tak dihargai, menyerah karna harapannya terlalu tinggi untuk tergapai, dan itulah awal mengapa orang itu bisa berpaling pada yang lainnya yang bisa mengerti dirinya meski tak mengikutsertakan hati dalam hubungan itu" dan pesan tersirat yang Narendra ucapkan memang Manda setujui, sebab ia pernah berada di posisi berjuang tapi tak dilihat sama sekali. rasanya capek dan ingin lari.


jadi apakah sikap dinginnya pada Marva selama ini seperti yang ia alami di masalalu? apakah terlihat seperti balas dendam? tidak, Manda tidak ada niatan untuk itu. sama sekali. dia hanya masih butuh waktu menata hatinya yang sudah hancur tak terbentuk. ya, ia ingin menata hatinya agar bisa pulih dan bisa menerima kembali Marva seutuhnya di hidupnya, bukan hanya karna demi twins. sekali lagi ia masih berproses untuk ikhlas sepenuhnya.


"kamu ada jadwal konsul lagi ke psikolog hari ini bukan?" tanya Narendra yang diangguki Manda.


"apa yang konselor katakan sudah kamu praktekan?" tanya Narendra yang dijawab gelengan kecil oleh Manda


"tiga minggu kamu menjalani konseling itu, tapi tak ada kemajuan karna kamu tak berani bertindak" ucap Narendra lalu menghela napas panjang. cukup gemas dengan putrinya.


sebenarnya ia tak ingin ikut campur masalah pernikahan putrinya, Narendra ingin Manda dan Marva yang menemukan sendiri jalan keluarnya, hanya saja Narendra merasa perlu ikut memberi masukan melihat tak ada perkembangan dihubungan yang sudah berjalan satu bulan lebih itu.


sedang Manda kembali merenung memikirkan perkataan papanya. sekelebat ingatan akan masukan konselor beberapa minggu ini juga melintasi kepalanya. jadi haruskah Manda melakukan apa yang konselor pernikahan itu usulkan?


_ _ _ _ _


pukul 23:58


Manda masih terlihat duduk di sofa ruang keluarga. tak ada yang ia kerja selain setiap menit mengecek ponselnya.


menunggu kabar seseorang yang dari siang tak ia dapatkan seperti biasanya. biasanya ponselnya selalu direcoki dengan pesan dari suaminya. bahkan jika lelaki itu akan pulang laru, Manda selalu mendapat pesan. tapi kenapa hari ini tidak?


kemana Marva? apakah lelaki itu sudah mulai lelah mengabarinya? lelah pulang balik Jakarta Bali? atau...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2