
Marva melangkah lebar menuju ruangannya, jadwalnya harus ia undur akibat keisengan-nya terhadap 2 anak Manda yang sialnya belum sempat ia tanyai namanya karna anak itu keburu berlari kecil memasuki ruangan kelas kala bel berbunyi menandakan jam pelajaran pertama di mulai, ditambah ia harus terjebak macet di jalan.
"atur ulang jadwal saya" titahnya pada sang sekertaris. Setelah berucap Marva langsung memasuki ruangannya
"welcome pak bos, anda terlambat pagi ini" sapa suara bariton mengangetkan Marva sampai lelaki yang masih dengan perasaan dongkolnya itu terjengkit
"lo? Si4lan!" umpat Marva setelah tahu siapa orang yang beraninya memasuki ruangannya tanpa izin darinya
"aku juga merindukan mu, bos" balas Radit tak nyambung
"dih, najis" Marva pura-pura bergidik sambil berjalan menghampiri asisten sekaligus sahabatnya yang 4 tahun ini ia mutasi ke Bandung untuk menghendel pembangunan beberapa proyek besar di sana
"kenapa ngeliatin gue gitu amat" sewot Marva akan tatapan Radit yang menelisik tubuhnya
"seberat itu lo nahan rindu sama gue sampai lo kurusan gini?" tanya Radit dengan nada mencela yang dihadiahi tinju oleh Marva pada lengan lelaki berjas abu tua itu
"nggak guna rindu sama lo" sahut Marva kemudian mendudukan bokongnya di sofa depan Radit
"lo nggak tanya gimana pekerjaan gue selama di bandung nih?"
"laporan setiap bulan yang lo kirim via email udah jelas dan--makasih atas dedikasi lo sama perkembangan perusahaan gue" ucap Marva tulus
"udah bisa bilang makasih lo yah sekarang" sindir Radit memancing
Marva memutar bola mata malas menanggapi.
"selamat datang kembali di perusahaan, jabatan dan ruang kerja lo masih sama, jadi silahkan enyah dari ruangan gue" usir Marva kemudian beranjak menuju meja kerjanya
Ayah angkat Arvino itu meraih bingkai kecil di atas meja setelah ia mendudukan bokongnya di kursi kebesarannya. Ritual wajib setiap pagi saat ia hendak memulai bekerja, mengelus lembut sang wanita muda yang berada dalam figura. menyapa sang pujaan hati lewat sebuah potret
Dan semua pergerakan Marva nyatanya direkam baik-baik oleh netra Radit. Posisinya memang tak memungkinkan ia melihat depan figura yang tengah Marva belai tapi Radit tahu jika disana ada potret Bila remaja. Ia tahu sebab saat bosan menunggu kedatangan Marva, Radit sempat melihat-lihat isi ruangan bosnya yang baru ia masuki setelah 4 tahun berlalu
"Bila--" ucapan Radit berhasil membuat Marva mendongak dan menoleh ke arah sang asisten "--gimana kabarnya?" lanjut Radit bertanya
__ADS_1
Banyak hal yang masih menjadi teka teki di kepala Radit. Jika memang apa yang dikatakan Aksa adalah kebenaran, lalu mengapa Marva masih menyimpan bahkan memajang foto Bila di ruangan pribadinya?
"dia, dia pergi. Meninggalkan gue saat tengah koma di rumah sakit, dia kabur dengan selingkuhannya" dingin Marva berucap. Tatapannya yang tadinya sendu menatap figura kini berubah beringas. Jika saja ia masih Marva 4 tahun lalu, sudah dipastikan bahwa figura itu sudah berakhir mengenaskan di lantai. Tapi tidak, ia menjaga figura itu dengan segenap jiwa. Baginya itu adalah sosok Bila nyata, Bila remaja saat masih menjadi istrinya yang penurut, Bila yang bisa mengobati rasa kecewanya. jadi ia tak bisa menyakiti dan menghancurkan figura itu
Miris, memang kehidupan Marva sangat miris. 4 tahun mengarungi hari-hari pedih. Dunianya perih
"lo yakin Bila selingkuh?" tanya Radit membuat Marva berdecih sinis
"yakinlah, bahkan dia kumpul keb* dengan sekingkuhannya sampai membuahkan 2 anak haram" seru Marva mengebu
"bukannya yang kumpul kebo elo? Bahkan sekandang kebo elo tidurin" sindir Radit telak
"kasusnya beda. Dia itu masih istri gue dan udah punya anak dengan pria lain. Sedang gue emang pernah nidurin banyak wanita jal4ng tapi gue bermain aman dan nggak menghasilkan..."
*kecocokan dna adalah 99,999%. Zafier dan Zaafira, umur 3 tahun adalah anak biologis dari Marva Phelan*
Ucapan Marva terpotong kala ingatan akan teror DNA kemarin. nyatanya sebagaimana pun ia menyangkal tapi bukti itu membuktikan bahwa dia memiliki anak kandung yang bahkan ia tak tahu tengah berada dimana saat ini, anak yang lahir tanpa keinginannya
"nggak menghasilkan?" tuntut Radit meminta kelanjutan, kemudian mata hitamnya membulat kala menangkap gelagat aneh dari ekspresi bos sekaligus teman seperjuangan sedari bangku smp itu
"itu-- masih gue selidiki. Tapi gue yakin gue nggak pernah main teledor. Lo tau sendiri bukan, gue aja ngelakuin itu dengan perasaan jijik" jelas Marva risau
"jijik tapi hampir setiap hari" cercah Radit sinis
"itu karna gue punya alasan" seru Marva membela kelakuannya 4 tahun lalu
"dan yah, alasannya telah tercapai sekarang. Bila pergi juga kan" timpal Radit santai
"terus kalau tujuan lo 4 tahun lalu sudah terkabul, kenapa lo bersikap menjadi sadboy, seolah disini elo yang jadi korban? Dan apa itu? Kenapa foto wanita yang ingin lo singkirkan dari kehidupanmu malah lo pajang di ruangan lo ini, di meja kerja yang setiap hari lo tempati. Bukanya elo membencinya?" cercah Radit panjang lebar. Ia perlu menyadari bosnya ini
"gue nggak membencinya. Gue cuman lambat menyadari kalau kehadirannya berarti buat gue" elak Marva
"gue sadar, gue dibutakan cinta sampai berperilaku buruk padanya bahkan sampai menodai harga diri gue sendiri dengan bermain wanita" sesal Marva yang tak lagi ada gunanya
__ADS_1
"dan bodohnya, gue masih mengharapakan dia yang jelas-jelas sudah gue lukai tanpa ampun. Mana ada wanita yang masih ingin kembali dengan lelaki biadap seperti gue ini" racau Marva miris membuat Radit sedikit terenyuh melihat dan mendengar cerita duka mantan pemain wanita itu
"tapi terlepas dari itu, dia juga bersalah. Kita impas. Dia juga berselingkuh bahkan menghasilkan anak dengan pria lain saat statusnya masih sah istri gue" nah untuk bagian ini Radit menyesal telah menaruh kasihan pada bos bodohnya ini
"gue rasa Bila bukan tipe wanita seperti itu" sahut Radit datar
"jika yang lo maksud 2 anak kembar Bila adalah anak orang lain, maka gue saranin elo ke psikiater dulu sebelum menerima kenyataan" lanjut Radit tersenyum mengejek
"umur mereka 3 tahun lebih, dan kalian menikah 4 tahun lalu" Radit kembali bersuara saat melihat raut wajah Marva yang kebingungan menagkap maksudnya
"jangan bilang masud lo anak-anak Bila anak gue?" tanya Marva mencoba menebak maksud ucapan Radit
"lo udah ketemu mereka kan?" bukannya menjawab, Radit malah melemparkan bertanyaan balik, yang diangguki Marva
"bodoh!" umpat Radit menghilangkan rasa sopannya pada bosnya itu
"gue aja orang lain bisa ngeliat kalian mirip. Kenapa lo bisa buta begini sih, tidak cukup kah 4 tahun lalu lo dibutakan cinta sama mantan lo yang jal4ng itu?" lanjut Radit kesal
Marva menggeleng, jelas ia menolak asumsi Radit
"nggak! Mereka bukan anak-anak gue. Waktu gue main sama Bila, dia sudah nggak perawan. Dia sudah sering main dengan selingkuhannya dan pasti anak itu anak dari..."
"MARVA ANJ*NG !!!" teriak Radit memotong racauan Marva, Radit benar benar dibuat hilang kendali oleh ucapan Marva.
Bersambunggg
#####
jangan jadi silent readers guys!!
dukung autor dengan cara like, komen dan vote. yaksh
Salam Mickey Mouse 24
__ADS_1
Dari Dunia Halu