
~hidup enggan mati-pun segan. lagi-lagi sebuah pepatah yang dulu ku anggap remeh kini tengah mengejek kesombonganku, karna nyatanya sederet kata itu tengah mewakilkan perasaanku saat ini" Marva Phelan
**************
jiwa dan raganya serasa lumpuh ketika tubuh jangkungnya berdiri tepat di hadapan Bila, potongan-potongan perlakuannya di masalalu berputar bagaikan kaset rusak di kepalanya membuatnya merasa tak pantas berada dekat dengan wanita yang telah ia sia-siakan. berkedip-pun rasanya sangat sulit Marva lakukan. ya, dosanya sebesar itu sampai ia tak tahu harus berbuat apa menghadapi wanita yang telah mengambil penuh hatinya
Marva menyunggingkan senyum miris, mengejek diri sendiri. pantaskah ia memohon pengampunan pada wanita cantik itu? bukan, ia bukannya takut ditolak sebelum berjuang tapi ia sadar diri jika luka yang ia beri sangat dalam.
ia yang sebagai pelaku bisa sesakit itu jika mengingat perlakuannya, apalagi dengan Bila yang sebagai korban?
"terus, lo mau berhenti sampai di sini? lo ikhlas kehilangan mereka untuk selamanya?" Radit tak habis pikir akan mental kerupuk pria yang tengah terduduk menyedihkan di lantai dengan punggung bersandar di tepi ranjang. Marva bahkan belum melakukan apapun tapi sudah menyerah duluan, dan kini malah melampiaskan pada minuman har*m
"gue nggak pantas buat mereka, Dit. gue.. gue hanya... lebih baik twins tidak mengetahui siapa gue, gue nggak mau mereka tahu tapi malah ngebenci gue karna telah menelantarkan mereka sejak... bahkan sejak mereka baru mulai terbentuk di rahim mommy mereka" racau Marva terbata, lelaki dewasa itu terisak di akhir kalimatnya.
"ck! bodoh. baru menyesal sekarang kan? dulu-dulu kalau gue peringatkan kemana otak lo?" bukannya memberi semangat Radit malah mencibir yang tepat sasaran menohok jantung Marva
"jadi sekarang silahkan menikmatinya. dengan senang hati gue sebagai bawahan lo tidak akan ikut campur urusan pribadi bos" syukur Radit "oh ya, gue disini hanya mau menyampaikan bahwa besok lo siap tidak siap harus kembali ke perusahaan jika tak mau melihat seminggu kemudian perusahaan gulung tikar" lanjut Radit menyampaikan maksud kedatangannya di apartemen Marva malam ini
benar, ada masalah internal perusahaan milik Marva yang perlu ditangani segera dan hal itu Marva sebagai Ceo wajib terlibat, apalagi Marva telah absen seminggu lebih.
"gue pulang. sebaiknya lo pulang juga. anak lo nanyain keberadaan lo yang menghilang tanpa kabar" beritahu Radit, sebelum mencari Marva di apartemen, ia lebih dulu mencari Marva di rumah bosnya itu, dan disana bukannya menemukan keberadaan Marva, Radit hanya disambut oleh si kecil Vino dan suster anak kecil itu. Vino terus menanyakan keberadaan papanya yang telah lama tak ia temui, sebab sejak masuk rumah sakit, Vino tak pernah di izinkan untuk berkunjung, dan saat papanya pulang, Vino di sekolah, pulang dari sekolah bukannya menemukan sang papa anak kecil itu malah di sambut kesunyian.
Radit menghembuskan napas, ia terlihat lelah karna belakangan selalu lembur di kantor, bahkan Radit masih memakai pakaian kantornya. jika saja si bosnya yang penuh masalah itu berbaik hati mengangkat panggilan telponnya yang berpuluh-puluh kali itu, ia tak perlu repot-repot mencari keberadaan Marva, ia harusnya saat ini sudah bergelung di balik springbed empuknya.
hari ini Radit benar-benar kesal pada Marva. ia rela menanggung semua pekerjaan Marva yang katanya tengah berjuang memohon pengampunan pada Bila dan twins, tapi apa yang Radit lihat? sahabat bodohnya itu malah mengurung diri di apartemen dengan beberapa botol vodka menemani penyesalannya.
beruntungnya, Marva tak lagi menungunjugi club dan berakhir buat masalah baru disana. memang sejak 4 tahun belakangan, hanya terbilang hitungan jari Marva kembali ke tempat para penikmat kubangan dosa itu. hanya jika ditemani salah satu asistennya Marva berkunjung disana sekedar melepas penat, sekedar minum dan menikmati musik yang berdentum menghentak-hentak dadanya hingga rasa sesak disana bisa tersamarkan. 4 tahun ini, meski ia belum sepenuhnya bisa lepas dari minuman keras itu tapi untuk masalah wanita, Marva tak lagi memiliki selera. bukan sang anaconda yang mati rasa tapi karna minatnya yang mati rasa.
__ADS_1
kenangan terakhirnya jelas menjadi pemicunya. ia terakhir bermain dengan istrinya yang kala itu ia paksa hingga belakangan ia tahu jika hasil dari kebiad*bannya menghasilkan 2 bibit unggul sekaligus.
"jika kamu sadar diri jika hadirmu tak berarti apa-apa buat mereka maka berhenti memikirkan mereka. karna kenyataan memang semenyakitkan itu, ada atau tidak adanya lo disisi mereka, mereka tetap bisa bahagia dengan mommy dan daddy baru mereka" gumam Radit meremehkan. namun jelas ia menyelipkan makna tersembunyi pada kalimatnya
dan yah, berhasil. ucapan Radit berhasil memancing emosi Marva. ia tak terima namun si*lnya ucapan Radit memang benar. dua buah hatinya memanggil pria lain dengan sebutan daddy yang harusnya untuknya sungguh membuat darah Marva mendidih seketika
"mereka anak-anak gue. sampai kapanpun darah gue mengalir di tubuh mereka. gue berhak atas mereka" desis Marva dengan penuh tekad
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
pertemuannya dengan Bila memang tak berjalan sesuai rencananya dan berhasil menghancurkan asanya, sempat menyerah jika saja ia tak tersulut ketidak relaan akan kehadiran pria yang mengantikan posisinya di hidup kedua anaknya. selain sang pemilik hati, ada 2 manusia mungil hasil kolaborasinya dengan pemilik hatinya yang perlu juga ja perjuangkan untuk mendapat maaf.
benar, ia tak boleh rendah diri jika tak mau berakhir kalah.
dan disinilah ia sekarang, berjongkok di hadapan 2 batita lucu yang baru saja ia traktir es krim.
Tak menemukan jalan untuk menghadapi wanitanya, Marva beralih menaklukan kedua anaknya lebih dulu. bukan maksud manfaatkan twins untuk meluluhkan Bila kelak, bukan, karna memang twins juga berhak mendapat perjuangannya
sekarang ini, satu hal yang ia pegang teguh jika takdir tak merestuinya kembali pada wanitanya. istri bisa jadi mantan, tapi anak? tidak. sampai kapanpun anak-anaknya akan selalu menjadi bagian dari dirinya bagaimana pun takdir bekerja kelak. anak kandung tidak akan pernah menjadi bekas kepemilikan.
"sama-sama sayang" Marva mengelus lembut surai halus milik Zaafira
"Afi tidak makan, sayang?" tanyanya beralih pada anak lelakinya yang hanya menatap es krim pemberiannya
"boleh om?" Zafier malah bertanya balik
"boleh sayang, inikan om beli untuk kalian berdua, untuk anak-anak pa.. cantik dan ganteng-nya om" balas Marva hampir keceplosan
__ADS_1
"Afi takut om, nanti kalau Vino liat gimana? kenapa om tidak membelikan Vino juga? nanti kalau Vino memalahi kami gimana? dikilanya nanti kita lebut om dali dia" jawab Zafier berhasil membuat pergerakan mulut Zaafira terhenti yang sedari tadi asik menikmati es krimnya. sepertinya Fira baru tersadar akan fakta itu, kedua manik bulat batita itu kini ikut menatap lelaki dewasa yang berjongkok di depan kursi yang tengah mereka duduki.
sedang yang di tatap tengah mematung di tempatnya. sederat pertanyaan putra kandungnya yang ketakutan akan keberadaan putra angkatnya menyentil jantung Marva
tak ingin memperlihatkan wajah piasnya di hadapan twins, Marva berusaha menyunggingkan senyum. kedua tangannya terulur ke arah wajah mungil putranya dan juga putrinya
"kenapa takut, hm? om belikan kalian memang untuk kalian. kalau abang Vino-nya lagi sakit sayang, jadi tidak boleh makan es krim dulu" jelas Marva tenang. sekaligus memberitahukan jika twins tak perlu takut pada Vino akan kedekatan mereka. mengenai alasannya yang mengatakan jika Vino sakit memang benar, putra angkatnya itu tidak masuk sekolah karna demam.
"abang?" beo Zaafira "abang tuh apa om?" lanjutnya penasaran
"abang itu sebutan lain dari kakak. abang Vino kan..."
"Jeal!!" teriak Zaafira sambil melambaikan tangan ke arah Jeal yang baru saja turun dari mobil dan memancing fokus Zaafira
"om kami pulang dulu yah" pamit Zafier. kedua anak itu berlari kecil sambil memegang es krim mereka menuju Jeal setelah mengucapkan terimakasih atas traktiran papa Vino itu.
Marva tersenyum sendu di tempatnya. jauh dalam hatinya ia masih ingin bersama dengan twins tapi ia tak bisa mencegah kepergian mereka.
dan yah, Marva hanya bisa berdiri diam menatap kepergian kedua buah hatinya. hari ini baru awal, setidaknya 15 menit bisa mengurangi rasa rindunya walau itu jelas tak cukup.
"selamat berjuang, masih ada hari esok" semangatnya pada diri sendiri
bersambunggg....
ada yang kangen aku nggak?
gombalin autornya dong supaya berbaik hati mau membukakan kesempatan kedua buat aku. aku udah berubah, sumpah ✌
__ADS_1