
dia tumbuh dengan kasih sayang berlimpah, dia menjadi fokus semua orang disekelilingnya, apapun yang dia inginkan harus di turuti, bahkan sang kakak yang hanya berbeda 7 menit lebih tua juga selalu mengabulkan keinginannya. dia adalah Zaafira Ivander, sosok paling muda di keluarga konglomerat, Ivander, dan mungkin karna status bungsunya itu membuatnya menjadi gadis kecil yang banyak drama, beruntungnya dramanya selalu di ladeni oleh orang-orang, sebab jika tidak suara anak itu akan hilang akibat menangis kejer.
"mami sama Jef pulang aja, biar Manda yang tunggu Fira disini" ucap Manda menatap tak enak pada Jefry dan Aline
ya, mereka berakhir di rumah sakit saat ini, si ratu drama cilik ngotot ingin diperiksa di rumah sakit terbaik di Jakarta. rumah sakit yang cukup jauh dari Bandara dan rumah mereka, tentu saja sebab rumah sakit yang ditunjuk Zaafira adalah rumah sakit yang sama saat ia mengunjungi sang papa seminggu lalu, beruntung nama rumah sakit itu masih terekam jelas diingatan batita perempuan itu
dan tentu dramanya tak sia-sia, karna nyatanya Marva memang kembali dirawat di rumah sakit yang sama setelah di rujuk oleh tuan Phelan
"nggak papa kan mami duluan?" tanya Aline memastikan, pasalnya wanita paru baya itu tak enak meninggalkan Manda namun ia juga butuh istirahat dan mandi untuk menyegarkan diri
"nggak papa mam" jawab Manda "Afi ikut pulang yah, biar Fira pulang sama mommy kalau udah bangun" ucap Manda beralih menatap putra sulungnya.
tidur? ya, setelah diperiksa dan diberi obat pereda nyeri oleh dokter anak, Zaafira langsung ketiduran diatas brangkar, memang kedua lutut anak itu lecet dan pasti menciptakan rasa perih disana, luka Zaafira baru kelihatan saat dokter menyuruh membuka langing tebalnya dan mereka cukup terkejut melihat kedua lutut Zaafira yang memang cukup serius, sepertinya Zaafira terjatuh cukup keras membentur lantai tadi.
"apa sebaiknya kamu juga ikut pulang? biar Fira aku gendong hati-hati agar tak terbangun" tanya Jefry memberi usulan agar mereka bisa pulang sama-sama.
Manda mendongak menatap Jefry, raut wajah lelaki itu seperti tengah menahan banyak beban, dan Manda yakin kedatangan Jefry tak jauh-jauh dari isi pesan yang Manda terima dari lelaki itu sebelum berangkat ke Indonesia
"kita pulang duluan saja Jef, kasihan Fira kalau tidurnya terusik" sahut Aline mewakili isi hati Manda. memang twins itu sangat berharga bagi mereka, tak akan tega jika sejengkal pun mereka membuat twins merasa tak nyaman
"iya Jef, sebaiknya kalian duluan saja. kamu juga butuh istirahat, nanti kita bicara di rumah" ucap Manda membuat Jefry mendesah kecil kemudian mengangguk setuju. sebenarnya Jefry sudah tak sabar mengatakan semuanya pada Manda tapi ia juga memang butuh istirahat dan mandi untuk menyegarkan diri agar bisa membahas masalah mereka dengan pikiran tenang nantinya
"Afi mau disini aja" sahut Zafier sambil menaiki pangkuan Manda kemudian menenggelamkan wajahnya di dada sang mommy yang spontan mendapat dekapan dan elusan lembut dari tangan hangat Manda
Jefry dan Aline beranjak keluar setelah berpamitan pada Manda, meninggalkan anak kembar dan ibu itu di dalam ruang perawatan
__ADS_1
namun saat hendak keluar lobi rumah sakit, bola mata Jefry membola, jantungnya memompa cepat melihat sosok wanita muda yang baru saja memasuki lobi dan berjalan cepat memasuki lorong kanan yang berseberangan dengan lorong ruang perawatan Zaafira
"maaf mami, Jefry ada urusan mendadak, nggak papa kan kalau mami pulang sendiri diantar sopir? pakai aja mobil nanti aku naik taxi" ucap Jefry tiba-tiba membuat Aline bingung, tapi karna melihat wajah Jefry yang kelimpungan Aline akhirnya mengangguk setuju
"hati-hati di jalan mami" ucap Jefry kemudian berjalan cepat mengikuti Rain sebelum kehilangan jejak
"mau ngapain wanita licik itu kesini?" monolog Jefry "apa dia mau menghilangkan janinnya lagi?" tanpa sadar tangan Jefry mengepal kuat, rahangnya mengetat
bruk
karna terlalu fokus pada sosok Raina yang melangkah semakin cepat membuat Jefry tak memerhatikan lorong kecil kanan kirinya hingga ia menabrak troli yang di bawa oleh seorang suster yang muncul dari lorong kecil
"maaf tuan, ma.. dokter Jefry? anda dokter Jefry kan?" ucap suster saat menyadari wajah lelaki di hadapannya sangat familiar dengan dokter kejiwaan yang memenuhi majalah-malajah kesehatan internasional
Jefry mengerjab, menoleh sebentar ke arah suster kemudian ke arah perginya Raina, wanita itu sudah tak terlihat
Jefry menghela napas panjang, ia berikan senyuman tipis dan membalas dengan sopan permintaan maaf suster itu kemudian berbalik arah dan pergi dari sana. rasa penasarannya pada Raina hilang begitu saja digantikan rasa kesal karna merasa buang-buang waktu mengejar Raina tadi
Ceklek
Manda yang tengah membaringkan Zafier yang sudah terlelap di dekat Zaafira terkesiap kala pintu terbuka.
"Jef?"
ya, Jefry kembali ke ruang rawat Zaafira
__ADS_1
"ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu" ucap Jef pelan sambil melangkah mendekati brangkar
"apa sebaiknya kita bicara di rumah saja?" tanya Manda menatap Jefry kemudian twins yang terlelap
"tolong dengarkan aku, ini sangat penting" pinta Jefry memohon "aku nggak bisa nahan lagi semua ini" lanjutnya tegas tapi dengan suara pelan agar suaranya tak mengusik tidur twins
"kita bicara di sofa, kamu hanya perlu dengarkan fakta yang aku sampaikan" ucap Jefry sambil menuntun Manda menuju sofa
dengan tenang Manda mendengar penjelasan Jefry yang bercerita menggebu-gebu penuh emosi mengenai hubungan Raina dan Marva
"Mereka itu bersaudara Manda, bersaudara. mereka sengaja menciptakan drama murahan ini agar merusak hubungan kita" tuduh Jefry diakhir ceritanya untuk meyakinkan Manda
"jika apa yang kamu pikirkan adalah kebenaran aku tidak akan memaafkan mereka..." ucap Manda setelah lama terdiam "...untuk saat ini aku ingin memastikan satu hal, karna apa yang terlihat tak selalu apa yang terjadi, aku udah belajar banyak hal mengenai dunia ini Jef, kita harus memastikan secara detail sebelum mengklaim bahwa kecurigaan kita benar adanya" lanjut Manda bijak. ya, ia percaya pada Jefry tapi ia juga tak bisa menutup mata dan telinga dengan apa yang ia lihat dan dengar kemarin di Villa Marva.
logikanya, jika Marva dan adiknya ingin menghancurkan hubungannya dengan Jefry pasti Marva dan Raina menuntut pertanggungjawaban dari Jefry, bukan? tapi apa yang terjadi, dua bersaudara itu malah tak mau melibatkannya begitu juga dengan Jefry. tapi ia tak boleh percaya begitu saja, toh dunia sekarang penuh tipu daya, bisa saja itu starategi mereka? pikir Manda yang mulai bimbang dengan cerita Jefry
tapi yang terjadi kemarin kenapa rasanya itu sangat mustahil jika hanya rekayasa? Marva memang banyak menunjukan penyesalan tapi luka yang Manda terima di masalalu tidak bisa hilang dalam ingatan begitu saja, hingga ia tak bisa mempercayai sepenuhnya perubahan Marva, Manda memejamkan matanya sambil menghela napas panjang. kehadiran Jefry mampu menambah keraguannya. tapi jujur ragu itu berbanding 70% dan 30%. hatinya lebih banyak menuntunnya untuk melihat kesungguhan mantan suaminya.
"apa sebenarnya tujuanmu ke Indonesia?" tanya Jefry menuntut, memang Jefry tak tahu tujuan Manda, ia hanya mengira bahwa Manda ada kunjungan bisnis "bisnis atau mencari kebenaran ini?" lanjut Jefry
"untuk tak menempatkan twins berada di hubungan salah" jawab Manda membungkam Jefry
Bersambunggg...
readers said : ahh bosan, kok lama banget sih ketemunya twins sama Marva thor?
__ADS_1
autor: emang siapa yang mau ketemui twins sama Marva?
sabarrrr,, kita sama-sama sabar aja nunggu, kalian nunggu bacanya, aku nunggu kapan ide datang menghampiri untuk aku olah kalimat per kalimatnya. oke sip