Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
pulang


__ADS_3

"Nabila Amanda, ayok menikah"


"papa,, aaaa"


"kok diam aja sih? nggak lapar?" Marva tersentak dari lamunan saat suara Manda mengintrupsi lamunannya yang sedang meronta ingin mengutarakan apa yang tengah bergejolak di dadanya.


"la..lapar" jawab Marva gugup.


Nabila Amanda, ayok menikah. 4 kata yang sudah ia susun dengan susah payah karna hatinya berdebar tak karuan sungguh sulit untuk ia utarakan. sebuah kalimat ajakan mulia yang terdengar sangat sederhana tapi mampu membuat jantung Marva jedag jedug bahkan sebelum kalimat itu terlontar. lidahnya terlalu kelu untuk menyampaikan maksud hati.


"tuh dari tadi tangan Fira menggantung di depan mulut kamu" beritahu Manda. Marva langsung mangap lalu menerima suapan dari anak bungsunya


"aaaa" setelah menyuapkan sang papa Zaafira juga mangap dan menerima suapan dari sang mommy


sedangkan Zafier makan sendiri dengan lahap


jika dilihat dari kacamata biasa, tak ada yang menyangka jika mereka adalah keluarga broken.


_ _ _ _ _


"kalian nginap lagi kan?"


"malam ini keluargamu nggak datang?"


"datang"


"yaudah aku sama twins pulang"


"loh, kok gitu?"


"Kan ada keluarga kamu yang mau datang jagain"


"ya kalian"


"hah?"


"emm... maksud aku, twins. ya, twins keluargaku"


Manda menatap datar lelaki di depannya usai penuturan Marva "ribet banget. kenapa nggak bilang dari tadi" gumam Manda yang masih bisa didengar Marva


"maaf basa-basi, aku senang kamu membalas ucapanku. aku suka mendengar suaramu" tutur Marva memancing Manda memutar bola matanya


benar-benar Marva yang Manda kenal sudah mati. lelaki dingin nan kejam itu entah melayang kemana pada raga mantan suaminya. meski sosok yang ia cintai dulu berwujud lelaki brengsek tapi Manda lebih senang dengan sosok Marva yang sekarang. lebih manusiawi dan berkelakian walau masih terkadang kurang peka.


"Bila?" panggil Marva setelah cukup lama menunggu Manda untuk bersuara.


"Bil?"


"Manda?"

__ADS_1


"hm" Marva menghela napas mendengar jawaban berupa deheman dari wanita di sampingnya, lega sekaligus sedih. ia pikir kedekatan mereka seminggu ini bisa menyembuhkan luka sang mantan istri namun nyatanya ia salah, Manda belum bisa kembali menjadi Bila-nya. namun terlepas dari itu Marva lega karna Manda masih mau menjaganya.


"makasih"


"ya" jawab Manda, lalu wanita itu beranjak ke arah kedua buah hatinya yang tengah asik mewarnai gambar mereka tepat di depan sofa yang Manda dan Marva duduki. anak kembar itu terlihat fokus mewarnai dengan kertas masing-masing.


Tuk


"sshh"


"kamu mau kemana?" tanya Manda setelah menoleh ke belakang dan mendapati Marva tengah berdiri membungkuk sambil mengelus lututnya. lutut lelaki itu sepertinya baru saja kepentok meja


"ke kamar Mandi" jawab Marva tak percaya diri. ke kamar mandi saja ia sudah kerepotan gimana mau menjadi pelindung untuk kedua buah hati dan wanitanya?


"bial Fiya antalin papa" batita perempuan itu gercap melepas pewarnanya, namun saat hendak beranjak Manda mengintrupsinya


"selesaikan pekerjaan kalian, biar mommy yang temani papa"


"baiklah" ucap Zaafira mengalah dan kembali melanjutkan kegiatan kesukaannya. mengambar dan mewarnai.


"sini aku bantuin" ujar Manda setelah berdiri di dekat Marva, lalu wanita itu meraih lengan lelaki itu untuk mengikuti langkahnya


"maaf"


"Bukankah harusnya orang berterimakasih jika dibantu?"


"terimakasih dan maaf merepotkanmu. aku bukan lelaki..."


"kamu dingin banget"


"nggak tuh" balas Manda setelah menaruh telapak tangan di pipinya untuk mengecek perkataan Marva


"bukan tubuhmu, tapi sikapmu"


"kalau kamu lupa nih yah, kamu dulu bukan lagi dingin tapi..."


"brengs*k dan baj*ngan"


Manda mendengus akan ucapan Marva yang seenak jidat memotong ucapannya dengan spekulasi lelaki itu tapi jika dipikir benar juga sih. namun maksud Manda tidaklah mengarah kesana, ia hanya ingin membalikan kata 'sikap dingin' yang Marva lontarkan untuk dirinya


klek


pintu terbuka. Marva menahan langkahnya juga lengan Manda


"kenapa?" tanya Manda heran sambil mendongak menatap sang mantan suami


"sampai disini saja, aku bisa sendiri di dalam"


"kamu malu?" goda Manda

__ADS_1


"iya eh enggak" jawab Marva gugup. lelaki itu kemudian menelan ludah kasar yang terekam jelas di netra Manda membuatnya menahan senyum geli "tapi..." ucapan Marva terpotong kala Manda langsung menariknya masuk ke dalam


"Bila!"


"nggak usah teriak-teriak. ganggu twins belajar" peringat Manda "lagian kalau kamu sendiri kamu akan lama untuk meraba semua ini" lanjut Manda setelah memposisikan tubuh Marva tepat di depan kloset kemudian meraih jet shower lalu diberikan pada Marva


"kamu tinggal duduk. aku tunggu di luar" ucap Manda lalu ngacir keluar


"jangan pergi jauh, aku cuman buang air kecil!" teriak Marva setelah mendengar suara pintu tertutup sedikit keras


_ _ _ _ _


"bagaimana dok?"


"ada beberapa obat yang ditolak oleh tubuhnya, itu yang membuat kami belum menemukan kemajuan atas terapi ini"


seketika tatapan penuh harap atas pertanyaan itu seketika meredup. Manda menghela napas kemudian menerima laporan perkembangan terapi yang disodorkan dokter


Manda keluar dari ruangan dokter setelah berpamitan, langkahnya tak bersemangat. bukannya melangkah menuju ruang perawatan Marva, tungkainya malah membawanya ke rooftop. pikirannya bercabang. dari hasil pengobatan anti mainstream yang Marva lakukan selama hampir dua minggu ini nyatanya tidak berbuah apa-apa, karna ternyata kerusakan itu sangat fatal. besar kemungkinan Marva bisa buta permanen.


"bukankah doa orang sakit hati selalu di dengar? walau aku membencinya tapi aku tidak pernah menyumpahinya, aku selalu mendoakan agar dia bahagia. tapi kenapa doaku tidak terkabul. kenapa dia malah menderita?" adu Manda pada sang pencipta


_ _ _ _ _


bagaimanapun akuratnya sebuah hasil dari benda canggih tapi bukankah kita tak boleh lupa jika Tuhan bisa menjadikan sesuatu yang mustahil menjadi bisa. begitu juga dengan keadaan Marva saat ini bukan? intinya terus berusaha dan berdoa.


"mommy kenapa lama banget" celotehan dari sang putri langsung menyambut Manda setelah ia membuka pintu ruang perawatan Marva


"katanya kamu habis ketemu dokter?" tanya wanita paru baya yang berdiri di samping ranjang Marva


sepertinya Reni dan Phelan baru saja tiba sebab sewaktu Manda ke ruangan dokter mantan mertuanya itu belum datang


Manda mengangguk sebagai jawaban, lalu menyodorkan laporan dari dokter ke arah Reni. kemudian Manda mengelus bergantian kepala kedua buah hatinya yang tengah memijat asal kaki Marva.


"jadi kapan kalian akan berangkat?" kali ini pertanyaan dari lelaki paruh baya yang berdiri di dekat jendela membuat Manda menoleh ke sana


"dua jam lagi, om" jawab Manda setelah melihat mesin waktu mini di pergelangan tangannya


Phelan mengangguk kecil, lalu berucap "hati-hati" yang di respon anggukan juga oleh Manda


lalu netra Manda beralih menatap papa anak-anaknya. lelaki itu tampak kehilangan semangatnya. sejak Manda memberitahunya bahwa ia harus pulang ke Amerika dikarenakan ada tanggung jawab besar yang sudah ia telantarkan selama 2 minggu ini. meski disini ia masih bisa mengontrol perusahaan namun ada beberapa hal penting yang harus melibatkan dirinya secara langsung, untung saja ada momma Caroline yang bisa menghendel beberapa hari ini, namun mengingat kesehatan Caroline yang terkadang drop membuat perusahaan terbengkalai, sebab mami Aline juga tak bisa mewakilkan.


"titip Marva om, tante" ucap Manda setelah keheningan yang cukup lama.


Bersambung


#######


halo guys, aku ada pertanyaan nih. aku rencana mau buat cerita Jefry, Raina dan Mario.

__ADS_1


menurut kalian aku lanjut disini untuk season 2 atau aku buat cerita baru dengan judul Merried by accident


atau aku lanjutin cerita lama yang sudah 2 tahun terbengkalai, Dendammu tak bertuan?


__ADS_2