Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
S2 - +


__ADS_3

bagi pengusaha, mereka sebenarnya tak kenal hari libur, kecuali mereka yang berinisiatif meliburkan diri.


bagi mereka waktu adalah uang. sebagian dari mereka yang penuh ambisi menempatkan cuan diatas segala-galanya termasuk keluarga, namun ada beberapa juga yang menyetarakan keduanya, ada pula sebagian yang menganggap bahwa keluarga prioritas diatas segala-galanya. dan untuk persepsi ini, seorang Marva menganggap bahwa cuan dan keluarga adalah hal yang setara, dalam artian keluarganya bisa hidup damai dengan uangnya. ia harus tetap memiliki uang banyak agar istri dan anak-anaknya bisa hidup tanpa kekurangan apapun. ia rela kerja tak kenal waktu demi keluarga kecilnya.


sebuah proyek besar yang tengah Marva tekuni satu bulan belakangan ini membuat lelaki itu tak memiliki waktu untuk menikmati weekend. untung saja istri dan kedua anaknya sudah ikut tinggal bersamanya di Jakarta hingga tugas merindu Marva sedikit berkurang. walau demikian setitik rasa bersalah hinggap di dadanya kala tak bisa memaksimalkan waktu untuk menemani anak istrinya di hari minggu.


"pelan-pelan aja sih" celutuk Manda kala melihat suaminya terburu-buru menghabisi sarapannya. walau dirinya tak makan tapi ia tetap duduk di seberang meja untuk menemani suaminya sarapan


"mas buru-buru, sayang" ucap Marva dengan mulut penuh makanan, lelaki itu lalu meneguk secangkir teh hangat untuk membantu makanan di mulutnya agar segera lunak


"ck, lagian kenapa harus melakukan janji mendadak sih? mana di hari Minggu" dumel Manda, ekpresi wajahnya kentara enggan melepas suaminya pergi di hari yang harusnya waktu lelaki itu 24 jam bersamanya juga twins


"bukan mas yang buat sayang, tapi pak Andre" jelas Marva lembut pada sang istri agar tak menyalahi dirinya. Marva sebenarnya juga tengah dongkol. bagaimana tidak? pak Andre tiba-tiba melepon pagi-pagi buta saat Marva tengah menerima jatah paginya dari istri cantiknya. awalnya Marva mengabaikan dan tetap melanjutkan proses pembuatan adik untuk twins tapi telponnya terus berbunyi membuat Marva terpaksa mengangkatnya, belum kelar rasa kesalnya Marva dibuat mengeram tertahan kala pak Andre meminta waktu Marva untuk melakukan kunjungan rahasia pagi-pagi sekali di proyek mereka yang belum kelar-kelar padahal tempo waktunya sudah lewat. pak Andre curiga ada main curang dalam proyek yang terbilang cukup besar dan tentunya memakan dana besar pula. karna proyek itu sangat penting bagi Marva untuk menambah nilai perusahaannya akhirnya Marva setuju walau kegiatan menyenangkan dengan sang istri harus berakhir setelah ronde satu usai. ya, hanya satu ronde, dan bagi Marva segitu mana cukup! tapi ia juga tak boleh mengabaikan kelangsungan hidup perusahaannya


"lalu bagaimana sama anak-anak?"


"mas cuman sebentar. bilang sama twin, jalan-jalannya di undur, mas usahakan akan pulang sebelum siang" balas Marva sembari melihat pergelangan tangannya, mesin waktu mini yang melingkar disana menunjukan pukul 07:10


"mas mau mengkambing hitam-kan aku?" protes Manda tak terima. pertumbuhan twins bukan hanya soal kecerdasan dan badan tinggi, tapi sikap posesif kedua anak itu juga ikut tumbuh. mereka selalu protes jika dalam satu minggu mereka tak memiliki waktu liburan bersama kedua orang tuanya. apalagi jika sudah ada yang berjanji dan diingkari maka twins akan mogok bicara pada mommy dan papa mereka "pokoknya mas harus kasih tau mereka sendiri" imbuh Manda


Marva mendesah pelan, istrinya ini benar-benar cerewet, ah kemana Bilanya yang dulu sih. Bila-nya yang sekarang benar-benar memancing perdebatan. untung cinta mati!

__ADS_1


"twin masih tidur sayang" memang kedua anak kembar itu selalu memanfaatkan hari libur untuk menambah jam tidur mereka. persis seperti Marva yang selalu bangun kesiangan kalau hari minggunya free kecuali hari ini.


"nggak bisa apa nunggu bentar lagi?" lirih Manda bertanya


bibir Marva seketika berkedut, lelaki itu lalu beranjak dan menghampiri sang istri di seberang meja. mendaratkan kecupan di dahi istri tercintanya


"yang nggak mau di tinggal kamu atau twins sih?" goda Marva membuat Manda mendengus kasar


"udah sana pergi, aku udah biasa di tinggal" sarkas Manda membuat Marva meringis dalam hati


"sayang..."


"katanya buru-buru, udah berangkat sana" potong Manda cepat


"iya"


"kamu nggak marah kan?"


"nggak"


"yaudah mas berangkat ya" pamit Marva pada sang istri.

__ADS_1


selepas kepergian Marva, perasaan Manda tak enak, kepalanya pusing ditambah perutnya bergejolak, sontak ia berlari ke arah wastafel dapur ketika tenggorokannya terasa hendak mengeluarkan isi perutnya


"gara-gara si suami mesum nih, semalaman nggak dikasih pakai baju, masuk angin kan jadinya" dumel Manda setelah membasuh mulutnya yang baru saja mengeluarkan cairan bening. ya, hanya cairan bening sebab pagi ini belum ada yang masuk di lambungnya selain air putih.


_ _ _ _ _


tubuh Manda rasanya lemas, namun ia harus tetap kuat demi membujuk twin yang tengah mode bibir bebek, terlebih si bungsu


"papa mana sih?"


"mommy coba telpon lagi deh"


Manda mendesah pasrah, untuk kesekian kalinya ia mendial nomor Marva yang selalu di jawab operator.


"nggak di angkat nak"


"siangnya papa jam berapa sih? ini udah jam satu loh" protes Zaafira


"bilangnya sih sebelum siang" jawab Manda jujur, memancing kedua buah hatinya semakin kesal pada sang papa. sebenarnya ia juga kesal karna Marva tak kunjung pulang. entah mengapa hari ini ia ingin sekali bermanja-manja dengan lelaki sok sibuk itu.


tapi lihat, saat dirinya butuh perhatian lebih dari lelaki itu malah tak diberi kabar, jangankan diberi kabar mengangkat telponnya saja Marva tak punya waktu. ihh kesel banget sampai ubun-ubun!!

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2