Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
S2- Papa bucin


__ADS_3

"Mas percaya sama ucapan kak Radit?" tanya Manda dengan ekspresi mencibir seolah menegaskan kalau Marva mudah percaya dengan cerita tanpa dasar


"dia memang belum menikah, tapi dia punya kakak perempuan yang pernah hamil dan tinggal serumah waktu itu. bukan hanya dari Radit, rekan kerja Mas yang namanya tuan Daniel juga hampir kehilangan calon bayi saat istrinya hamil dan tidak menyetop jatahnya" ujar Marva mencoba membela diri akan perjuangannya yang rela menahan diri demi tak menganggu ketenangan sang anak dalam perut istrinya


ya, setelah menenangkan sang istri yang menuduhnya main diluar karna ia tak pernah lagi meminta hal itu pada istrinya selama lima bulan belakangan ini. ayah twins itu menceritakan pada sang istri kalau ia tak pernah meminta jatahnya demi menjaga keselamatan sang calon anak yang masih berproses berkembang dalam perut istrinya


"lagian dokter pernah bilang kalau kandungan kamu itu lemah, dia menyarankan untuk tak berhubungan"


"waktu kapan?"


"pas awal kita periksa ke rumah sakit ngecek kamu beneran hamil"


"bukan lemah mas, tapi awal kehamilan itu masih rentan bukan berarti akan rentan dalam waktu lama"


"mas hanya ingin agar bayi kita sama kamu bisa nyaman, mas harus menjaga kalian. mengandung itu berat, mas tak mau egois dengan menuruti kepuasan mas kamunya sama bayi kita tidak nyaman"


bukannya terharu akan penuturan sang suami Manda malah makin dongkol.


"mas pernah sekolah kan? mas nggak belajar ipa waktu sekolah?"


"belajarlah. apa hubungannya dengan itu?" tanya balik Marva dengan wajah polosnya


"tau ah" Manda menyingkirkan tangan Marva yang melingkar di perutnya, lalu wanita itu beranjak berdiri


"mau kemana?"

__ADS_1


"nggak jawab suami dosa loh" celutuk Marva ketika Manda tak menghiraukannya


"mau nonton Drakor romantis" sahut Manda seadanya


Marva menyusul, lalu duduk di samping si istri yang sudah terduduk nyaman di atas sofa sambil menikmati sebuah drama korea yang Marva tidak tahu jalan ceritanya. seperti kebiasaannya ketika sang istri tengah menonton, Marva tanpa permisi langsung mengambil posisi berbaring dengan berbantalkan paha Manda. meski masih banyak yang ingin ia ceritakan tapi Marva mengalah sebab ia tahu jika Manda akan kesal jika ia mengeluarkan suara ketika wanitanya itu sedang menonton.


"ah romantis banget sih suaminya, mas lihat deh" Manda menolehkan paksa wajah suaminya dari perutnya ke arah televisi


"itu karna ada maunya sama istrinya. pasti ujung-ujungnya ajak ke ranjang" komentar Marva dengan cibiran ditujukan pada aktor dalam drama itu


"wajar dong, mereka suami istri" seru Manda membela


"kudoakan istrinya cepat hamil" kalimat itu terdengar seperti sebuah kutukan


"istrinya sudah hamil mas, dua bulan" ujar Manda menjawab kutukan Marva. Marva sontak menegakan tubuhnya


Manda menoleh dengan ekpresi tajamnya "kalau nggak tahu jalan ceritanya lebih baik diam"


"persetan dengan jalan ceritanya, intinya lelaki itu tega mencelakai istri dan calon anaknya" Marva masih saja tak habis pikir dengan aktor di layar yang terlihat sudah menuntun sang istri yang katanya tengah hamil ke sebuah ranjang


"ck! hanya film. di dunia nyata tak ada lelaki yang beneran sayang istri anaknya tega melakukan hubungan bad*n dengan istrinya yang hamil" imbuh Marva ketika sepersekian detik kemudian di layar televisi telah menampilkan sepasang suami istri yang beberapa detik lalu baru berada di atas ranjang dengan pakaian lengkap kini telah berada di balik selimut dengan keadaan terlelap


"mas benaran menganggap kalau berhubungan bad*n ketika hamil akan membahayakan bayi?" tanya Manda yang diangguki cepat oleh Marva


"mas mau bayi kita lahir sehat seperti twins" tutur Marva membuat Manda kebingungan

__ADS_1


"saat twins dalam kandungan kan kita tidak pernah bercinta..."


"itu karna kita tidak tinggal bareng mas" potong Manda cepat


"intinya mas sudah janji sama diri mas, demi kamu dan keselamatan bayi kita mas akan berpuasa selama sembilan bulan" ucap Marva keukeh dengan pikirannya bahwa kalau ia melakukan hubungan dengan Manda, senjatanya bisa mengenai anaknya di dalam sana. bukan hanya tak mau menganggu kenyamanan sang bayi, Marva juga malu barangnya akan di lihat oleh bayinya


"sepuluh bulan lebih"


"kok sepuluh bulan? kamu mau melihat burung mas jadi karatan"


"habis melahirkan ada nifas ya bapak Marva Phelan yang terhormat"


"apatuh?"


demi apa bapak dua anak eh calon tiga anak itu tidak tahu masa nifas? Marva dari planet manasih? sudah ada twin masa tidak mengerti... eh tapikan dia tidak ada kala itu makanya wajar tidak tahu. pikir Manda


"ya mas pikir aja. habis ngelahirin, dijahit, berdar*h m, terus menurut mas aku kuat?"


seolah waktu berjalan lambat seperti itu pikiran Marva, ia memikirkan kebenaran perkataan sang istri. mas iya harus bertambah sebulan lagi si burung berpuasa?


ketika ingatan akan kejadian dimana Rain melahirkan dulu sontak tubuh Marva melemas. ia lalu memeluk sang istri.


"sebelas bulan, lima belas bulan sekalipun mas tidak akan meminta itu, asalkan kamu dan bayi kita baik-baik saja, janji kamu akan baik-baik saja kan?"


Melihat wajah suaminya yang seketika mendung membuat Manda membalas pelukan suaminya. sebenarnya ia membahas persoalan jatah hanya karna takut suaminya kecantol jajanan luar. namun kenyataannya, Marva berusaha menyetop jatahnya hanya karna ketakutan akan membahayakan bayi mereka walau sebenarnya ketakutan lelaki itu tak harus sedramatis itu. Manda kuat, kandungannya kuat, bahkan Marva mengetahui itu karna setiap Manda periksa kandungan Marva selalu menemani.

__ADS_1


namanya ayah bucin pada anak-anaknya jadinya kek gitu, nyikasa diri sendiri demi kenyamanan sang anak


Bersambung...


__ADS_2