Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
Hadiah untuk Marva


__ADS_3

Djavu


ia pernah berada di situasi ini sebelumnya


Terbangun di dalam ruangan serba putih berbau obat-obatan dengan perasaan linglung juga tenggorokan kering


segera ia edarkan pandangannya ke sisi ruangan, bukan mencari seseorang, karna sudah jelas ruangan yang terbilang cukup luas itu tak berpenghuni selain dirinya, pandangannya berakhir pada sebuah air mineral di atas nakas samping ranjangnya, ia raih dan sekali putar tutup botol itu langsung terlepas, segera ia teguk hingga tandas. melempar botolnya ke tempat sampah yang lumayan jauh darinya dan ya, harus berakhir gagal masuk tong sampah


tak peduli akan sampah itu, Marva merenung mencoba memahami apa yang tengah dialaminya saat ini. seragam biru yang tengah melekat pada tubuhnya, seragam orang-orang pesakitan?


Apa yang terjadi padanya?


Ingatan demi ingatan coba ia urai, dan netranya langsung meredup kala mengingat kejadian dimana ia bertemu dengan twins, buah hatinya yang lahir tanpa sepengatahuannya karna dirinya terlalu brengsek, juga pertemuan tak terduganya dengan mantan kaki tangannya, Black yang mengungkapkan sebuah fakta yang sempat Marva lupa, lebih tepatnya sengaja ia kubur agar tak lagi mengingatnya, karna itu adalah kesalahan terbesarnya


anj*ng saja tak pantas disandingkan dengannya. lalu sebutan apa yang pas untuk ukuran pria biadab macam dirinya? dajjal kah? batin Marva miris


Ceklek


"sudah sadar?" tanya seseorang yang baru saja membuka pintu dan langsung menodongnya dengan pertanyaan dan tatapan sinis


Radit?


4 tahun lalu lelaki ini juga yang pertama kali ia lihat saat terbangun dari komanya


"berapa jam aku disini?" tanya Marva tanpa repot-repot menjawab pertanyaan Radit yang menurutnya sudah jelas akan jawabannya


"berapa jam? Kami bahkan sudah mendaftarkan namamu di TPU 2 hari lalu. jika saja hari ini kamu tidak sadar, kami akan mengkremasimu" sembur Radit melangkah kan kakinya menuju sofa tanpa berniat mendekat bahkan menanyakan bagaimana kabar bos sekaligus sahabatnya itu


"si*lan! Aku belum meninggal" desis Marva berang. Tentu saja ia tak terima. Dosanya masih banyak dan ia belum bertobat. Mana mau ia hidup di dunia menderita di akhirat-pun disiksa. Tidak! Selagi ia masih diberi kesempatan pada sang pemberi nafas, Marva berjanji akan meminta pengampunan pada semua orang yang pernah disakitinya termasuk Bila, kedua anaknya dan tentu kedua orang tuanya yang ia beri pengakuan palsu


Radit mengendikan bahunya acuh


"lo makin diberi angin makin ngelunjak yah, aku bisa saja mengirimu kembali mengurus proyek di tempat terpencil" ancam Marva yang muak akan sikap Radit


"oho santai boskuh. Rupanya pangeran tidur sudah benar-benar terbangun" ujar Radit sambil mengangkat kedua tangannya di sisi kepalanya


"mulutmu!"


"lo memang kecelakaan, tapi luka lo nggak parah, bahkan lo bisa pulang hari dimana lo kecelakaan, kalau lo nggak tertidur pulas. Mana tidurnya sampe 3 hari. Bisa masuk ajang pemecah rekor tidur terlama lo di dunia fana ini" cibir Radit panjang lebar semantara Marva tengah menelisik tubuhnya.


Bahkan luka-luka goresan dikulitnya sudah mulai berganti kulit baru.


"infus itu hanya untuk mengisi cairan tubuhmu selama kamu tertidur" kembali Radit menjelaskan saat melihat Marva melihat selang infus yang manempeli punggung tangannya.


Jika keadaannya begini, ia tidak meragukan ucapan Radit yang sepertinya benar adanya. Toh jika lukanya berat atau ia koma sampai baru bisa bangun setelah 3 hari tidak mungkin ditubuhnya hanya dibantu infus. lalu ada apa dengan jiwanya yang memilih tenggelam didunia mimpi hingga 3 hari lamanya?

__ADS_1


karna di alam mimpi ia hidup sebagai Marva remaja yang bertemu dengan Bila kecil. mereka terlihat akrab membuat Marva tak ingin mengakhiri mimpinya itu. di alam mimpinya ia dan Bila seperti sepasang kekasih yang tak terpisahkan.


"gue tebak ada alasan kenapa lo nyaman dalam tidur lo itu. Lo mau menghindar dari kenyataan bukan?" tajam Radit berucap yang membuat Marva tersentil


Marva akui, dalam tidurnya ia terus memohon agar tak kembali lagi. Ia tak siap harus menjalani kehidupannya lagi psetelah semua yang terjadi


"apa mereka tengah berada diluar kota saat ini?" tanya Marva mengalihkan pembicaraan agar sesak di dadanya tak terus menguhujamnya


"tuan phelan dan nyonya Reni tengah menghadiri undangan kolega bisnis" dusta Radit, sebab 2 hari ini baik Phelan maupun Reni sibuk sendiri dengan urusan mereka. terutama Reni yang lebih memilih berdiam diri di kamar dari pada menjenguk anaknya.


namun ucapan Radit sepertinya dipercayai Marva, terbukti lelaki menyedihkan itu mengangguk tipis


Marva tahu kedua orang tuanya adalah orang sibuk, tak heran jika untuk kedua kalinya ia terbangun di rumah sakit tanpa kehadiran keduanya, sama seperti 4 tahun lalu


"mmm.. Kalau... Kalau kabar twins, bagaimana mereka 3 hari ini, apa mereka baik-baik saja?" tanya Marva membrondong dengan gugup. Marva merasa malu pada Radit menanyakan itu. Pasalnya ia dan Radit sempat bertengkar sebelum kecelakaan terjadi saat lelaki itu membeberkan fakta tentang Bila dan twins


Marva merasa bodoh. dirinya yang menjadi pemeran tak tahu menahu apapun selain benci dan karna dibutakan ego


"kamu nggak usah khawatirin mereka. Twins punya daddy yang sayang lebih dari papa kandung mereka" telak Radit membuat jantung Marva seketika mencelos


\=\=\=\=\=


Beralih dari rumah sakit, di sebuah rumah mewah, seorang wanita paru baya terlihat membelalakan mata dengan tangan menutup mulutnya.


kenyataan macam apa ini? batinnya


"alihkan warisan atas nama Marva menjadi milik twins. Zafier dan Zaafira berhak mendapat haknya meski mereka tak akan mengenali siapa bapak kandungnya dalam hidup mereka" titah Phelan pada seseorang yang tengah mengetik di laptopnya. sepertinya mencatat apa yang baru saja Phelan katakan


*twins? Zafier dan Zaafira?* tanya Reni dalam hati. siapa mereka yang tengah menjadi topik penting 2 orang yang berada di ruang kerja suaminya


"kasihan sekali mereka. punya papa sebrengsek putraku. beruntung mereka memiliki mama sebaik dan setangguh Bila" perkataan dari suaminya sukses membuat Reni syok


Bila?


Zafier dan Zaafira?


Putra suaminya? Itu berarti Marva bukan?


anak Marva dan Bila? mereka memiliki anak? twins? jangan bilang 2 anak Bila yang ia katai anak haram kemarin adalah anak Marva hasil 2 kali pemerkosaan yang ia lakukan pada Bila 4 tahun lalu?


Deg


jantung Reni sudah memompa lebih laju dari detakan normal. itu berarti ia menyumpahi cucunya sendiri? darah dagingnya?


Duaarr

__ADS_1


Reni pias. sesuatu seperti menonjok kuat pas jantungnya. rasa bersalah yang menyerangnya 3 hari ini makin membumbung tinggi setelah fakta lainnya terkuak.


Bila, wanita muda itu hanya korban atas kebrengsekan putranya, malah Reni benci atas kekecewaan karna bukti palsu dari Marva.


"oh iya rahasiakan ini dari siapa pun, termasuk istriku" kembali suara Phelan terdengar


"tapi tuan, apa sebaiknya nyonya Reni diberi tahu keberadaan mereka? nyonya Reni berhak.."


"tidak. Jangan beritahu siapapun. saya tak mau kehidupan bahagia Zafier dan Zaafira direcoki jika istriku mengetahuinya. Reni masih kecewa pada Bila yang memilih pergi tanpa tahu alasan dibalik kepergiannya. Biar saya yang akan menjelaskannya secara perlahan nanti. Tapi tidak sekarang. Mood istriku akhir-akhir ini kacau. dia memiliki rencananya untuk bertemu Bila entah untuk apa, yang jelas istriku menaruh kecewa mendalam pada Bila. Saya tidak mau jika sekarang diberi tahu akan keberadaan twins, Reni akan meragukan kedua cucuku itu"


Deg


Cucu?


jadi sudah sejauh itu suaminya menyembunyikan fakta itu? kenapa harus di sembunyikan darinya? ia juga berhak tahu. jika saja ia tahu lebih awal ia tak akan melakukan kesalahan besar, seperti 4 hari lalu saat ia bertemu Bila di sebuah restoran. mengatai wanita cantik itu sedemikian kejam. bahkan twins tak luput dari olokannya


kejadian direstoran terjadi sehari sebelum ia menemukan buku diari Bila. ya, 3 hari ini Reni diliputi rasa bersalah. dan 3 hari ini juga ia mencari tahu jadwal Bila dan mengatur janji temu pada wanita sibuk itu, dan yah, Bila tak memiliki waktu. ia tahu Bila menghindarinya, dan Reni tak marah ataupun berkecil hati, Bila pantas bersikap demikian mengingat bagaimana terakhir kali mereka bertemu. meski tahu Bila tak ingin menemuinya tapi Reni tak putus asa, ia tetap keukeh ingin bertemu untuk menyampaikan permohonan maaf


sampai ia pun meminta bantuan Phelan. Reni bisa melihat jelas ekspresi terkejut suaminya akan permintaannya saat ia mengutarakannya tadi pagi, namun Phelan tetap menyetujui permintaannya walau seperti ogah-ogahan.


Reni menilai jika Phelan bersikap demikian karna masih kecewa dengan Bila karna adu domba yang Marva lakukan. sebab reni belum mengatakan perihal buku ping itu.


tapi apa yang ia dengar sekarang? nyatanya suaminya sudah tahu tanpa buku ping itu yang tengah dipegangnya saat ini, tujuannya kesini karna ingin menunjukan buku itu pada suaminya sebagai bukti kejahatan anaknya agar Bila tak lagi disalahkan. nyatanya suaminya selangkah lebih cerdas darinya, bahkan Phela mengetahui keberadaan cucu mereka yang sama sekali tak terpikirkan oleh Reni


"mama?!" Seru Phelan saat tak sengaja menoleh dan mendapati istrinya tengah berdiri diam di ambang pintu dengan berderai air mata.


Phelan segera beranjak kala melihat Reni berlari dan pergi dari sana


"ma, tunggu ma" seru Phelan yang diabaikan Reni


"arg" Phelan menendang udara melampiaskan emosinya kala mobil yang dikemudikan Reni melaju meninggalkannya


tujuan Reni saat ini adalah tempat dimana pelaku utama dari semua masalah berada. Reni segera memasuki rumah sakit dengan langkah lebarnya, tujuannya tentu ke ruangan Marva


Ceklek


"mama?"


"nyonya?"


"mama datang sama si..."


PLAK!!


PLAK!!

__ADS_1


bersambunggg...


__ADS_2